
Langit malam terlihat dipenuhi awan tebal, ketika dua orang yang berseteru itu meninggalkan tempat. Tangan gue serasa ingin menghantam kedua orang itu, dan memaksanya untuk membuka mulut, jika saja kyai Hasan gak menahan gue.
Gue memandang kyai, ada rasa kesal karena kyai melarang gue, untuk menangkap basah mereka. Dada gue serasa dipenuhi amarah yang bergejolak...geram dan kesal, hingga tiba-tiba gue dikejutkan oleh pekikan kecil.
awww, aduh...sakittt
"Kenapa ?," tanya yg satunya
"Kaki aku kena sesuatu, berdarah...aduh...sakit."
"Yasudah pelan-pelan saja jalannya."
"Ayo cepat kita pergi, sebelum ada yang menangkap basah kita. Bisa celaka kita."
Gue enggak mendengar jawaban dari yang satunya, hanya langkah kaki mereka yg semakin menjauh
Tak lama suara merekapun menghilang di kegelapan malam.
*********
Kyai memandang gue yang sedang kesal. Digamitnya lengan gue perlahan.
"Nak Linggar, kenapa saya tidak mengijinkan nak Linggar tadi melabrak kedua orang tadi?."
__ADS_1
"Saya tidak tau kyai, kenapa kyai menahan saya," ujar gue masih dengan nada kesal.
Kyai Hasan tersenyum dan berkata dengan bijak.
"Itu saya lakukan karena, saya ingin agar otak dari misteri ini bisa terungkap. Biar semua menjadi terang benderang, biar kita semua tau apa motivasi orang itu melakukan semua ini."
"Tapi sampai kapan kyai ?, saya sudah tidak sabar lagi."
Kyai Hasan menepuk bahu, dan menenangkan hati gue. Hingga akhirnya gue menyadari kekeliruan gue, dan bisa menerima keputusan kyai.
**********
Gue berjalan menyusuri kebun, udara pagi terasa begitu segar hingga membuat paru-paru gue terasa begitu segar dan nyaman. Kupu-kupu yang beterbangan dengan sayapnya yang indah, membuat gue tak ingin beranjak dari tempat ini.
Saat kaki gue hendak melangkah, suara teriakan bi Inah terdengar lantang menyebut nama gue.
"Den..den Linggar!, makan dulu den," teriak bi Inah.
"Iya bi."
Gue bergegas menghampiri bi Inah. Saat gue tengah berjalan, gue berpapasan dan nyaris menabrak mbak Karina.
"Awww...hati-hati toh dek, sakit tau."
__ADS_1
Gue menatap mbak Karina, dan melihat kearah kakinya yang terluka.
"Kenapa kakinya mbak ?."
"Semalam kena sesuatu di dapur dek."
"Coba aku lihat mbak."
"Gak usah dek, udah gak apa-apa koq. Ayo kita makan, tuh bi Inah udah manggil."
Gue melangkah mengikuti langkah mbak Karina dengan sejuta tanya berkecamuk di dada.
**********
Malam ini, aku putuskan untuk istirahat lebih awal, tapi ternyata gue gak bisa memejamkan mata. Kejadian kemarin malam terus membayang bayangi kelopak mata gue, begitu juga dengan kaki mbak Karina yang sakit.
"Apa ada kaitannya ya ?, atau cuma kebetulan saja," gumam gue.
Akhirnya karena gak bisa juga memejamkan mata, gue putuskan untuk keluar lagi malam ini.
Dengan mengendap-endap gue keluar. Diluar sudah sepi, gak ada siapapun, kelihatannya semua sudah tidur. Ketika gue mencoba membuka pintu, ternyata pintunya tidak terkunci.
"Ya ampun, siapa yang ceroboh kayak gini sih, pintu gak dikunci, kalau ada orang jahat masuk, bagaimana ini." gerutu gue.
__ADS_1
Gue melangkah keluar. Belum lagi gue menutup pintu, rungu gue mendengar, seperti ada langkah orang yang menginjak ranting...krekkk, cepat-cepat gue tutup pintu dengan hati-hati, dan gue ikuti suara tadi. Gue yakin sekali kalau ada orang ditengah gelapnya malam.