Rumah Warisan Atas Bukit

Rumah Warisan Atas Bukit
TEKA TEKI KOTAK PANJANG KAMAR AYAH


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, gue melihat kyai Hasan, sudah rapi, dan bersiap-siap untuk pergi. Begitu halnya dengan Fatimah dan dua santrinya.


Mata Fatimah, terlihat sembab dan sayu sepertinya dia habis menangis, wajahnya terlihat kuyu dan tak bersemangat. Wajahnya terus menunduk dan seperti menghindari dari tatapan gue. Buru-buru gue hampiri kyai Hasan dan menghujaninya dengan pertanyaan.


"Loh..kyai mau kemana ?, bukankah kyai sudah berjanji, akan kembali setelah saya kembali ke kota. Ada apa kyai ?."


"Maaf nak Linggar, barusan saya dapat telpon, kemarin ada beberapa santri dan santriwati yang kerasukan. Saya khawatir hari ini akan terjadi lagi, sementara disana, tidak ada saya."


"Oh begitu kyai. Kalau memang seperti itu, saya gak bisa menahan kyai. Terimakasih kyai sudah menolong saya. Oh iya kyai, ini ada sedikit bantuan untuk pondok."


Pandangan gue, tertuju pada Fatimah.


"Fatimah, mas minta maaf belum bisa memenuhi apa yang Allah perintahkan, menyegerakan menghalalkan Fatimah, tapi mas janji, begitu masalah ini selesai, mas akan datang untuk janji suci pernikahan. Apa Fatimah mau menunggu mas ?."


Fatimah gak menjawab pertanyaan gue, matanya berkaca-kaca, ia mengalihkan pandangannya dari gue, akhirnya dengan suara parau, ia menjawab.


"Mas...aku tidak bisa berjanji, meski ada rasa yang tak bisa aku hindari, tapi saat abi menerima pinangan seseorang, aku tak akan bisa menolaknya, aku gak sanggup menyakiti hati abi."

__ADS_1


Fatimah mengucapkan kata-kata itu sambil terisak, membuat gue menjadi orang yang merasa paling bersalah. Gua mengangguk sambil tersenyum.


"Tunggulah..aku akan datang, aku janji."


Dengan berat hati, akhirnya Fatimah pamit pulang bersama abinya.


"Fatimah !!, hati-hati ya, tunggu aku."


Fatimah terus berjalan tanpa berpaling. Kyai Hasan, berjalan perlahan. Sampai di pintu gerbang, terlihat kyai Hasan diam sejenak, mulutnya bergerak-gerak membaca doa, entah apa yang sedang dilakukannya. Tapi gue yakin, apapun itu, kyai pasti berusaha ngelindungin gue.


*********


"Dek....mbak mau tanya, kotak panjang dibawah kursi ayah itu isinya apa ya. Semalem mbak gak bisa tidur, mbak seperti mendengar suara rintihan dan ketukan, tapi karena mbak ngantuk ya mbak biarin aja."


"Aku juga nggak tau mbak, kemarin waktu aku dateng, aku mau buka laci itu, tapi ternyata kuncinya gak ada. Aku juga mendengar suara ketukan dan rintihan, sama seperti yang mbak Karina denger, bahkan lebih hebat lagi."


"Ish...serrem banget dek, aku gak mau ah tidur di kamar ayah."

__ADS_1


"Yaudah mbak, nanti malam mbak tidur di kamar aku aja, biar aku yang tidur di kamar ayah."


Karina mengangguk.


"Udah yu kita makan dulu, mbak lapar nih. Dek...woiii, waduh mbak dikacangin. Lagi mikir apa sih dek ?, mbak tau pasti lagi mikirin cewek cantik berhijab."


"Fatimah namanya mbak."


"Itu dia, mbak suka, anaknya baik pintar masak dan sopan, mbak setuju deh kalo kamu sama dia."


"Kemarin aku sudah mau nikah dengan dia, tapi semuanya berantakan gara-gara bi Narti kesurupan, hingga mas Tono terluka."


Kronologisnya gue ceritain, mbak Kirana dengan antusias mendengarkan.


"Gila...serem banget dek. Mbak jadi takut. Kamu yang sabar ya dek mudah-mudahan semua cepet berlalu. Aamiin."


"Aamiin."

__ADS_1


Gue dan mbak Kirana, berjalan menuju meja makan, setelah berkali kali bi Inah memanggil kami.


__ADS_2