Rumah Warisan Atas Bukit

Rumah Warisan Atas Bukit
LOLOS DARI MAUT


__ADS_3

Hujan masih turun dengan derasnya, disertai kilatan petir yang sambung menyambung. Gue merasa malam ini adalah malam terakhir gue, semua impian yang selama ini terbentang indah, sepertinya harus pupus dan hanya menjadi sepenggal cerita dari orang-orang yang tau tentang kehidupan dan cinta gue. Gue pejamkan mata, dan coba merasakan indahnya hari-hari yang sudah gue lewati, sebelum lempeng baja itu, menuntaskan hidup gue dalam beberapa detik ke depan. Gue dengar langkah itu semakin dekat, kian dekat dan bertambah dekat. Nafas hidup gue seakan sudah harus berakhir...Laa ilaa haillallah, gue terus melafalkan tahlil.


Gue bisa merasakan hembusan nafas kebencian dari laki-laki itu, dan tawa kemenangan dari bibirnya...hahahah....hahahaha.....hahahaha, tamat sudah riwayatmu tuan muda...hahahaha....hahahaha...hahahaha.


Gue semakin kuat melafalkan tahlil, satu hentakan, dan gue akan menjadi jasad tanpa nyawa. Hingga akhirnya satu teriakan, dibarengi dengan jatuhnya benda logam yang sangat keras....tranggggg....brakkk membuat gue harus membuka mata, "Fatimah !!," gue melihat perempuan itu menghunuskan goloknya kearah laki-laki yang kini sudah tergeletak dilantai. Fatimah berpaling ke arah gue, disaat itulah laki-laki itu berkelit dan kembali berdiri. Tangannya dengan sigap meraih pisau dan ...


"Fatimah !! awasss!!."


Fatimah tak sempat mengelak, pisau itu menggores lengan Fatimah, darah bersimbah mengenai wajah gue. Dengan sekuat tenaga, gue bangkit berdiri, meski dengan terhuyung gue coba mendekati tubuh Fatimah.


"Menjauhlah mas...!, awass !...mass!!"


Gue gak menghiraukan teriakan Fatimah, hingga satu tebasan membuat gue roboh bersimbah darah.


aaakkkhhhh......


"Mas ...mas Linggar !!, kurang ajar...bi**ab, kau melukai calon suamiku."


Gue masih bisa mendengar teriakan Fatimah.

__ADS_1


hiyaaaa..mati kau penjahat laknat, kukirim kau ke neraka. Bersamaan dengan teriakan Fatimah, gue merasakan adanya tubuh yang terhempas jatuh. Fatimah berlari mendekati gue, dipeluknya tubuh gue yang bersimbah darah.


Mas Linggar!! Mas ...bangun mas !, tolonggg !!


Gue pandangi wajah manis Fatimah yang sedang menangis.


"Aku mencintaimu Fatimah, aku sungguh mencintaimu."


"Bertahanlah mas, bertahanlah untuk aku, aku mohon."


Gue gak bisa merasakan apa-apa lagi, saat itu gue merasa mungkin malaikat maut sudah datang menjemput gue. Tak lama gue melihat ada cahaya menerobos masuk. Kyai Hasan, mas Tono dan bi Narti masuk dengan tergopoh gopoh.


Sesudah itu gue gak merasakan apa-apa lagi, semua gelap...ah mungkinkah gue sudah mati.


**********


Gue membuaka mata, gue melihat sekeliling. Netra gue menjelajahi seluruh ruangan yang didominasi warna putih.


"Apa gue udah ada di Surga sekarang ?," bathin gue.

__ADS_1


Aduhhhh...


Tiba-tiba gue merasakan sakit yang tak terkira.


"Dimana aku ?, apa aku sudah mati ?,"


"Mas !, ya Allah mas Linggar sudah sadar. Alhamdulillah..alhamdulillah ya Allah."


"Abi...!!..Abii...mas Linggar Abi."


Gue mendengar suara Fatimah berteriak memanggil ayahnya sambil berlari.


Tak lama kemudian, gue melihat kyai Hasan disusul mas Tono, bi Inah dan bi Narti berlari tergopoh-gopoh menghampiri Fatimah.


Bi Inah gue lihat menangis sambil memegang tangan gue, begitu juga dengan bi Narti dan mas Tono. Kyai Hasan memekuk Fatimah yang menangis terisak isak.


**************


Dokter memeriksa keadaan gue, dan gue lihat dokter menarik nafas lega saat mengetahui kondisi gue.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Saya gak menyangka mas Linggar bisa melampaui masa kritis. Alhamdulillah."


__ADS_2