Rumah Warisan Atas Bukit

Rumah Warisan Atas Bukit
MENCARI MELATI


__ADS_3

Gue berlari seperti orang yang hilang akal, gue susuri setiap sudut rumah, sambil berteriak-teriak memanggil nama Melati. Karena melihat gue panik, semua ikut panik, dan berlari kesana kemari. Mas Parjo dan mas Tonopun ikut mencari sampai ke luar gerbang rumah.


"Melatiii.....dek Melatiiii, dimana kamu dek ?," ujar gue hampir putus asa.


"Ya Allah, apalagi ini ?, apa salah aku ya Allah ?...Melatii..dek Melatiii !!, kamu dimana dek ?...huhuhuhu."


Mas Tono menghampiri gue, sambil mencoba menenangkan.


"Mas...tenang mas, kita cari lagi, kita susuri semua tempat disini. Tenang ya mas."


Gue mengangguk. Dikejauhan gue melihat Fatimah dengan menggunakan mantelnya ikut mencari, wajahnya terlihat sangat pucat. Gue hampiri dia.


"Fatimah...istirahatlah !, kamu kan sedang sakit. Mas gak mau kamu kenapa napa."


"Enggak mas, aku gak apa-apa koq."


"Enggak gimana, wajah kamu pucat Fatimah. Sudah aku antar ke rumah."


Saat gue mengiringi langkah kakinya, tiba-tiba tubuhnya limbung, dan jatuh tepat di depan gue.


"Fatimah kamu kenapa ?, bangun Fatimah !!."


Gue menahan tubuhnya...astaga, badannya panas sekali.


Tanpa meminta ijin kyai Hasan, gue bopong tubuhnya masuk ke dalam rumah. Wangi aroma tubuhnya tercium sangat dekat di hidung gue. Gue pandangi wajahnya yang meski tanpa polesan make up terlihat sangat cantik dan rupawan. aaakkhh.....uuukkhhh, Fatimah terus meracau.

__ADS_1


Melihat gue membopong Fatimah, kyai Hasan berlari mendekat.


"Kenapa nak Linggar."


"Tadi Fatimah jatuh kyai, maafkan saya membopong tubuhnya."


Kyai bisa mengerti dan menerima alasan gue. Gue baringkan tubuh rupawan itu di kamar gue, tubuhnya terlihat sangat lemah.


mas Linggar...mas Linggar


"Aku disini Fatimah, aku disebelah kamu," gue remas jemarinya, dia masih terus mengigau, badannya sangat panas.


Mbak Karina mengambil termometer, 39,2.


"Ya Allah tinggi banget."


Karina berjalan ke kotak p3k, dicarinya obat penurun panas, dan dengan sigap dimasukkannya ke mulut Fatimah.


uhekkk....uhekkk, cairan putih membasahi celana dan baju gue.


Fatimah muntah. Obat yang sudah masuk dimuntahkan lagi. Mbak Karina memberikan lagi obat penurun panas, dan menyuruh gue membersihkan muntah yang mengotori baju dan celana gue. Fatimah terlihat lebih tenang.


********


Pencarian terhadap Melati diteruskan, tapi kyai Hasan, meminta gue tetap menjaga Fatimah.

__ADS_1


Hingga sore hari pencarian terhadap Melati tak membuahkan hasil. Gue yakin seyakin yakinnya, Melati masih ada disini dan dia membutuhkan gue, untuk menolongnya.


Menjelang malam dengan menggunakan senter gue susuri setiap sudut rumah. Gue sengaja tidak memberitahukan siapa-siapa. Gue hanya ingin pencarian gue tidak diketahui si penjahat.


*********


Gue terus menyusuri sisi kebun, hingga disuatu tempat, gue mendengar pembicaraan.


"Dimana kamu sembunyikan tubuh Melati."


"Dia sudah mati."


"Apa ?, bi**ab kamu, kenapa kamu sampai membunuhnya ?."


"Aku gak bisa apa-apa, dia terus memberontak. Dan dia mengancam akan membocorkan rahasia kita."


"Tapi kamu gak harus membunuhnya !,"


plak.....plakk


"Pstttt....diamlah....atau kamu akan mengalami hal serupa, seperti dia."


**********


Gue sudah tak sabar, ingin melangkah. Hingga ketika kaki gue mulai bergerak, ada sebuah tangan yang menahannya.

__ADS_1


"Sabarlah...kita lihat, apa yang mereka lakukan disini."


Gue menoleh dengan kaget, gue melihat kyai Hasan berjongkok disebelah gue. Sambil memegang bahu gue, dan isyarat agar gue tak memancing mereka.


__ADS_2