Rumah Warisan Atas Bukit

Rumah Warisan Atas Bukit
GADIS DI KURSI TAMAN


__ADS_3

Gue masih asik dengan gawai, saat seseorang mengetuk pintu kamar.


tok...tok...tok


"Siapa ?."


Tak ada sahutan diluar sana. Gue cuek aja, mungkin kuping gue salah denger, gue terus asik dengan game pokemon, hingga akhirnya, ketukan itu terdengar lagi.


"Siapa sih..?, malam-malam gini masih ngetuk pintu," gumam gue setengah jengkel


"Oh bi Inah, ada apa bi ?."


Bi Inah diam dan tak menjawab. Tubuhnya malah berbalik dan melangkah pergi.


"Bi !..bi Inah, mau kemana ?,"


Bi Inah tak menjawab, tapi terus melanglah ke luar rumah. Karena khawatir gue mengikuti langkah bi Inah, yang menurut gue terlalu cepat dari biasanya, bahkan gue aja yang ngikutin dia, sampai ngos-ngosan. Bi Inah terus berjalan menembus gelapnya malam, hingga akhirnya gue kehilangan jejak.


"Loh bi Inah kemana ya ?,koq hilang ?, bi !!, bi Inah !!, haduh kemana nih gue harus nyari bi Inah, baiknya gue ke tempat mang Asep aja, biar gue suruh dia nyari bi Inah."


gak....gak....gak


Suara burung gagak hitam, sontak membuat jantung gue berdetak cepat. Gue mempercepat langkah gue, tapi gue heran, koq gue gak sampe-sampe, malah muter-muter ditempat yang sama. Saat gue dalam kebingungan, lamat-lamat rungu gue, seperti mendengar suara orang yang tengah menangis. Tangisannya terdengar sangat memilukan.

__ADS_1


Gue coba mendekati arah suara itu, yang semakin lama, semakin jelas terdengar. Ternyata suara itu berasal dari tangisan seorang cewek berbaju merah di kursi taman.


"Haii....kenapa kamu menangis."


"Cewek itu diam, wajahnya terlihat sangat pucat seperti tanpa darah, tapi jujur cewek itu sangat cantik, dan gue seperti pernah melihatnya."


"Nama gue Linggar," ujar gue sambil mengulurkan tangan.


Gadis itu menyambut uluran tangan gue, ya ampun tangannya dingin banget kaya es.


"Kamu kedinginan ya, nih pakai mantel aku,"


Gadis itu mengangguk. Gue membantunya memakai mantel dan saat itu gue melihat ada luka di lehernya.


Saat gue tanya masalah ini, cewek itu kembali menangis, bahkan kali ini bahunya sampai berguncang. Gue mencoba menenangkannya, sampai akhirnya tangisnya terhenti.


"Kalau kamu gak mau cerita, gak apa-apa, aku hanya khawatir, takut kamu sakit."


Cewek itu tetap terdiam, tapi kali ini dia tak lagi menangis. Saat gue mencoba menanyakan asal usulnya, tiba tiba, sinar senter menerpa wajahku.


"Mas Linggar ?, itu bener mas Linggar ?."


"Iya mas Parjo, ada apa ?."

__ADS_1


"Ya ampun mas, kita semua panik nyariin mas kesana kemari, taunya mas ada disini. Mas Linggar lagi ngapain disini ?, udaranya dingin loh mas, koq mantelnya malah dilepas ?."


"Iya..so...," gue terkejut saat gue menoleh, cewek itu sudah tidak ada lagi.


"Loh..kemana dia ?."


"Dia siapa mas ?, aku lihat mas Linggar dari tadi duduk sendiri. Mungkin mas kefikiran mbak Ayu kali ya," ujar mas Parjo menggoda.


Gue betul-betul bingung, jelas-jelas gue tadi menjabat tangan cewek itu, kenapa mas Parjo bilang gue duduk sendiri.


"Udah mas, ayo kita masuk !, dingin nih."


Gue akhirnya ngikutin langkah mas Parjo dan berjalan ke rumah utama. Sesampai disana, gue melihat bi Inah yang langsung berlari menghampiri gue.


"Den Linggar dari mana ?, tadi kita semua khawatir, karena den Linggar gak ada dikamar ?, ayo masuk den, udara sangat dingin."


"Bi Inah, tadi aku tuh ngikutin bi Inah. Bi Inah mau kemana tadi ?, aku ikutin jalannya cepet banget."


"Bi Inah, gak kemana-mana den, tuh tanya Narti, dari tadi kita dikamar, betul kan Ti."


"Iya den, bi Inah sama saya dari tadi," timpal bi Narti.


Gue semakin bingung dan terpaksa gue mengunci mulut gue rapat-rapat, agar semua orang gak semakin panik.

__ADS_1


__ADS_2