Rumah Warisan Atas Bukit

Rumah Warisan Atas Bukit
MELATI HILANG


__ADS_3

Melati berlari , dia sudah tidak perduli dengan dingin air hujan dan gelapnya malam.


jangan!!....aku gak mau...jangan paksa aku.....tolonggg...aku gak mau...huhuhuhu


Suara teriakan Melati, tersamarkan oleh derasnya hujan, dan suara angin yang menderu-deru. Melati tersungkur, dan sosok itu memukul wajahnya berkali-kali, hingga akhirnya ia terkapar tak berdaya. Lalu sosok itu membopong tubuh Melati, dan membawanya kesuatu tempat. Tangan dan kaki, cewek malang yang sudah tak berdaya itu diikat dengan kuat, sementara mulutnya dibekap dengan selembar kain. Darah mengalir dari pelipis dan dahinya yang terluka. Tetesan darah yang terus mengucur berbaur dengan air hujan yang jatuh menerpa. Sosok itu terus melangkah dalam hujan, hingga sampai disebuah pintu kecil. perlahan sosok itu membuka pintu dan membawa gadis malang itu kedalam.


*********


Sosok berpenutup wajah dan berjubah selang beberapa saat keluar dan menutup pintu serta menimbunnya dengan ilalang dan kayu-kayu. Wajah dinginnya terus berjalan menembus derasnya hujan dan hilang di gelapnya malam


*********


Raga gue tertidur, tapi jiwa gue seperti berkelana. Gue seperti melihat semua kejadian itu dengan jelas, tapi gue gak bisa melihat dengan jelas siapa sosok yang sedang mengeksekusi dan siapa yang diekseskusi, dan saat sosok itu membopong tubuh si cewek malang, semua bayang itu semakin kabur, kabur, kabur dan akhirnya gak bisa gue lihat sama sekali. Gue terbangun saat gue merasa ada yang sedang memperhatikan gue.

__ADS_1


Gue membuka mata, dan sumpah saat itu gue takut banget, karena pintu kamar gue, dalam keadaan terbuka lebar dan gue melihat banyak tetesan air di depan pintu dan di dekat tempat tidur gue.


"Gila...siapa yang masuk kamar gue dan kenapa dia bisa buka kamar gue ?, padahal gue yakin banget, tadi malam selepas shalat Isya, pintu itu udah gue tutup," batin gue.


Tanpa ba bi bu lagi, gue langsung menutup pintu, gue nyalakan lampu kamar, dan memperhatikan semua sudutnya. Alhamdulillah gak ada siapapun, gue menarik nafas lega. Gue lihat gak ada genangan air atau sisa tetesan air, padahal gue yakin banget tadi ubin di dekat tempat tidur gue ada genangan air. Sedikit bingung gue duduk di sisi tempat tidur.


"Apa tadi gue cuma halusinasi aja kali ya," gumam gue


"Tapi kok kayak nyata banget ya."


***********


Suara muadzin membangunkan gue. Ah..gue merasa seluruh badan gue terasa sakit.

__ADS_1


Perlahan gue bangkit, dan berjalan ke mushala, semua terlihat sedang melaksanakan shalat, aku bergabung dengan mereka, berjamaah.


Usai shalat, gue duduk bersandar, tapi kemana Melati ? kenapa gue gak melihat sosok Melati diantara mereka ?.


"Dek Melati dimana mbak ?," reflek gue bertanya ke mbak Kirana.


Mbak Kirana menceritakan, bahwa tadi malam, Melati minta diantar pergi ke kamar mandi. Karena mengantuk, ia gak bisa nganter. Fatimah juga gak bisa nganter, karena sedang demam. Akhirnya meski takut dek Melati melangkah juga ke kamar mandi


"Trus..."


"Ia dek pas aku bangun, aku gak ngelihat dek Melati, hingga sekarang dia belom balik."


Gue terhenyak mendengar cerita mbak Kirana.

__ADS_1


"Apa mungkin apa yg gue alami semalam bukan halusinasi ?."


Gue melompat keluar, gue berteriak-teriak mencari keberadaan Melati. Melihat ulah gue, semua ikut mencari dan memanggil nama Melati.


__ADS_2