Rumah Warisan Atas Bukit

Rumah Warisan Atas Bukit
MISTERI KALUNG PUTUS


__ADS_3

Gue gak habis fikir sama mang Asep, semenjak gue dan pasukan gue dateng ke rumah ini, dia seperti orang yang ketakutan, wajahnya jelas banget menggambarkan rasa takut yang teramat dalam, meski dia berusaha nutupin itu semua dari gue. Seperti siang ini ketika gue dateng ke paviliun tempat dia tinggal selama ini, gue nemuin dia sedang melakukan semacam ritual yang gue gak ngerti apa maksudnya. Dan yang bikin gue tambah bingung, di ruang depan ada fhoto seorang gadis cantik, kayaknya umurnya sebaya dengan gue, pas gue tanya, dia cuma bilang itu pacarnya. Gue gak mau mikir negatif sama dia, toh jaman sekarangkan banyak hal-hal aneh dalam hubungan manusia, jadi kalo mang Asep pacaran dengan cewek seumuran gue, itu mah hal yang lumrah.


Sedang asiik memperhatikan fhoto ceweknya mang Asep, tiba-tiba gawaiku berdering...Anto.


"Hallo..."


"Hai Linggar, lu dimana ?, bos tanyain lu nih."


"Aduh To, gue gak bisa pulang. Lu inget gak cerita gue, tentang rumah warisan dari bokap gue, itu To, yang ada di atas bukit, inget gak ?,"


"Oh..rumah yang waktu itu lu liatin fhotonya ke gua ya. Anjiiir....tuh rumah bagus banget men, lu gak mau ?, udah hibahin ke gua aja..he..he..he."


"Dasar kuya !, bukan itu maksud gue. Kemarin gue dateng ke rumah itu sama pasukan gue, nah pas gue mau balik, eh tuh tanah yang kearah rumah gue longsor, jadi gue dan pasukan gue kejebak disini men, gue gak bisa balik. To..tolong lu bilang ke pak bos, gue masih gak bisa masuk, dan gak tau kapan gue bisa balik."


"Oh gitu, yaudah deh tar gua bilangin pak bos, gua bikin ijin cuti ajalah buat lu."


"Makasih ya To, gue utang budi sama lu."


"Sama-sama men. Yo wes gua kerja dulu ya, gua kan harus handle kerjaan lu."


"Ya To, sekali lagi thanks ya...met kerja...bye."


********


Ditengah derasnya hujan, netra gue menangkap sosok mang Asep sedang mendorong sepeda.


"Mang Asep mau kemana tuh, koq bawa sepeda hujan-hujan gini, makin aneh aja tuh orang."

__ADS_1


Gue bergerak hendak kembali ke ruamah utama, ketika gue dengar suara orang seperti memanggilku.


"Linggar......Linggar...Linggar."


Netra gue mencari kesana kemari, gue gak ngelihat seorangpun disana. Bulu kuduk gue seketika meremang, entahlah, udara ruang paviliun yang seharusnya dingin karena hujan, tiba-tiba terasa panas dan pengap.


"Apa ini ?, koq kaya bau bunga melati ?."


Gue hafal banget sama bau itu, karena beberapa bulan yang lalu, saat penyempurnaan jasad Lidia, pemakaman Dika dan ayah Ganjar, bunga inilah yang menghiasi keranda mereka. Gue yakin banget dan percaya kalau saat ini, pasti sedang ada roh seseorang yang sedang ngeliatin gue...hiyyyy.


Bergegas gue tinggalin paviliun mang Asep dan kembali ke rumah Utama.


********


Bi Inah dengan tergopoh-gopoh membawakan gue handuk kecil dan secangkir teh jahe hangat. Ia pun tak lupa membawakan gue baju ganti.


"Kenapa hujan-hujanan toh den, nanti kalo sakit bagaimana ?, disinikan jauh dari rumah sakit."


"Iya bi..aku tadi dari tempat mang Asep. Oh iya bi, aku mau tanya, bener gak sih, kalo kita nyium bau kembang melati, tandanya ada roh yang ngikutin kita."


Bi Inah mengerutkan dahinya sebelum menjawab.


"Aden nyium bau bunga itu lagi ?."


"Enggak bi, ha..ha..ha, cuma tanya, bibi khawatir banget."


Gue lihat bi Inah menarik nafas lega dan tersenyum.

__ADS_1


"Enggak den, bibi takut aja, soalnya kata orang-orang tua dulu, jika kita nyium bau bunga melati seperti itu, tandanya kita sedang diikuti ghoib. Syukurlah kalo aden cuma nanya," ujar bi Inah sambil tersenyum.


Tak lama kemudian bi Inah pamit kebelakang, mau nyuci baju katanya. Kembali aku sendiri di ruang besar ini. Mas Tono dan Parjo kulihat sedang membantu bi Narti memilah kayu untuk perapian nanti malam. Tanpa perapian bisa-bisa kita semua beku disini, karena kalau malam udaranya sangat dingin.


*********


Sedang asiknya gue membaca buku, tiba-tiba gue mendengar sedikit keributan dibelakang, tak lama kemudian mas Tono datang dan menyodorkan sesuatu ke tangan gue.


"Ini den."


"Apa itu mas ?."


"Sepertinya kalung mas, tapi putus. Sudah kita cari tapi gak ketemu putusannya mas."


"Kalung siapa ini ya ?."


Gue amati kalung itu.


"Waw !! Berlian ini mas. Udah dicari disudut-sudut belum mas Tono ?."


"Udah mas, bahkan bi Inah juga ikut nyari. Yang pake kalung itu mesti orangnya cantik mas, tapi siapa ya ?, kan disini gak ada perempuan," ujar bi Narti mencoba menganalisa.


Gue setuju apa kata bi Narti, cewek yang pake kalung ini pasti cantik dan berkelas, kelihatan dari pilihan kalungnya. Tapi siapa ?.


***********


JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMENTARNYA YA !!

__ADS_1


__ADS_2