
teet....teett...teett
Gawai gue berdering nyaring, saat gue tengah memandangi langit malam...bu Hanum.
"Assalamualaikum," suara bu Hanum terdengar gak terlalu jelas.
"Waalaikumusallam,"
"Bagaimana kabar nak Linggar ?, betah disana ?, ada gangguan nggak nak ?."
"Alhamdulillah bu, dibetah-betahin bu, soalnya jalannya masih belum diperbaiki. Gangguan apa ya bu ?,"
"Ya mungkin ada hantu atau apalah."
"Koq ibu bilang gitu sih."
"Nggak nak, soalnya rumah itukan sudah lama ndak ditempati, kosong, jadi kan bisa saja ada mahluk ghoib yang tinggal disana."
"Oh..gitu ya bu."
"Oh iya mang Asep masih jaga disana kan ?."
"Loh koq bu Hanum tau, yang jaga namanya mang Asep. Kan kata ibu, ibu gak tau tentang rumah ini."
"Kan kamu yang bilang, pasti kamu lupa ya."
__ADS_1
"Yasudah ya, jaga diri kamu, ibu mau tidur dulu."
tuut...tuttt, telpon terputus.
Sumpah gue bingung, darimana bu Hanum tau, kalau mang Asep yang jaga di rumah ini, katanya dia gak ngerti tentang rumah ini. Trus dia juga tanya tentang ghoib. Gue terus berfikir, seinget gue, gue gak pernah cerita tentang keadaan rumah ini, karena gue juga baru tau, setelah gue sampe disini. Sebenernya bu Hanum tau tidak sih tentang rumah ini, koq kayaknya dia ngerti banget.
"Den..tidur den sudah malam."
Suara bi Inah mengejutkanku.
"Iya bi, masih belum ngantuk. Oh iya bi, bagaimana keadaan Fatimah ?," ujarku khawatir.
"Gak apa-apa den. Eh den, bibi seneng loh, kalau aden sama neng Fatimah, serasi, kayak Tomy dan yulet."
"Romeo dan Juliet bi..haha..haha, bukan, Tomy dan Yelet," ujarku sambil tertawa.
"Ah bibi bisa aja, tapi entahlah apa bisa terwujud ya bi, aku koq jadi gak yakin."
"Den gak boleh ngomong gitu, minta sama gusti Allah, mudah-mudahan di qobul. Aamiin."
"Aamiin bi."
Gue berjalan masuk, disusul bi Inah, yang langsung mengunci pintu.
Suasana dalam ruang tamu sepi, saat aku keluar dari kamar, hendak mengambil minum, kulihat mas Parjo sedang menonton TV.
__ADS_1
"Weh, belom tidur mas ?, tumben berani sendiri," ujar gue, sambil terus berlalu mengambil air. Saat gue kembali mas Parjo masih duduk bersandar di depan TV.
"Barca ya mas ?, lawan mana nih ?," tanya gue, sambil duduk di dekatnya.
"Yailah...pantesan aja gak nyaut, tidur ternyata," ujar gue sambil mematikan TV.
Gue tinggalkan mas Parjo yang masih duduk bersandar di depan TV.
********
Malam ini berlalu dengan damai, mungkin ghoibnya capek kali seharian bikin rusuh rumah gue.
Gue bangun saat bi Inah membangunkanku untuk shalat subuh. Gue bergegas mandi dan menuju mushala. Kyai dan santrinya sudah ada disana begitu juga mas Parjo dan mas Tono.
Seusai shalat subuh, disaat kami menikmati kopi panas, gue nyeletuk kearah mas Parjo.
"Mas, semalem nonton TV gak dimatiin, malah tidur."
"Nonton TV, siapa yang nonton TV mas Linggar, wong aku masuk angin habis dikerik mas Tono, aku tidur. Tuh tanya saja sama mas Fajar," ujar mas Parjo, sambil menunjuk santri kyai Hasan.
Fajar yang ditunjuk mas Parjo, mengangguk membenarkan. Lah trus yang tadi malam gue ajak ngomong siapa ?.
Kyai Hasan berdehem.
"Ehm..ada yang coba ganggu nak Linggar ya, untung semalam sudah sedikit saya pagari, jadi gak sampai ganggu banget."
__ADS_1
Gue diem, gak memberikan reaksi. Ada rasa khawatir menyelinap dalam dada gue. Gangguan ghoib yang membawa gue dalam belenggu ketakutan.