Rumah Warisan Atas Bukit

Rumah Warisan Atas Bukit
LINGGAR KERASUKAN


__ADS_3

Mbak Karina memandang wajahku.


"Dek, meski kamu bukan adikku, dan awalnya aku benci sama kamu, tapi melihat penderitaan yang kamu alami, mbak sangat sedih. Mbak gak tahan lihat kamu terus menerus dalam masalah. Dari semenjak ayah meninggal masalah datang silih berganti, dan mbak yakin pasti kamu sangat lelah dan putus asa. Tapi mbak salut sama kamu dek, karena kamu begitu tegar, tabah dan selalu membuat kami merasa nyaman berada di dekat kamu."


Gue hanya diam.


"Kamu itu baik dek, bahkan teramat baik, mengapa Allah memberi begitu berat cobaan hidup buat kamu."


Gue menarik nafas.


"Hhh...entahlah mbak, mungkin Allah ingin aku semakin kuat, makanya aku diberi ujian. Jujur sebagai manusia, aku juga terkadang dihinggapi rasa kecewa dan putus asa. Tapi saat aku ingat kalian, ada semangat yang muncul secara tiba-tiba, dan itu membuat aku bangkit dan bersemangat lagi mbak. Doain aku mbak.. InsyaAllah aku kuat."


*********


"Sudah bangun bi ?," kulihat mbak Karina menyapa seseorang saat aku tengah tertunduk. Tapi yang disapa tak menjawab.


Gue menengadahkan kepala.


"Siapa mbak ?,"


"Bi Narti, sudah bangun, mungkin mau ke kamar mandi, disapa diam saja, gak denger kali," ujar mbak Karina.

__ADS_1


"Oh..," ujar gue ringan.


tiba-tiba...


cklek...krekk, pintu kamar dibuka orang. Bi Narti keluar bersama bi Inah.


"Loh itu bi Narti. Trus yang mbak sapa tadi siapa," gumam mbak Karina bingung.


Gue dan mbak Karina saling berpandangan. Lalu dengan penasaran gue berjalan ke belakang. Di dapur gue lihat seorang wanita sedang berdiri membelakangi gue. Dengan menekan rasa takut gue berjalan mendekat, hingga akhirnya...aaakkkhhh, gue berbalik arah, saat wanita itu menoleh dan menyeringai ke arah gue.


Mbak Karina, Melati, bi Inah dan bi Narti, tak berani menyusul gue, mereka berteriak-teriak histeris, memanggil mas Tono dan Parjo.


"Ada apa bu, kenapa berteriak-teriak.:


"Den Linggar mas, den Linggar di dapur."


Mas Tono mengambil tongkat, dan berlari ke dapur. Dilihatnya tubuh gue yang menggigil ketakutan.


"Mas...mas Linggar !, mas Linggar nggak apa-apa ?, ya Allah, kenapa badan mas Linggar dingin sekali."


"Bu !, kemari bu, bantu bapak, bawa mas Linggar ke kamar." teriak mas Tono.

__ADS_1


Melihat keadaan gue, semua panik. Mas Tono memapah tubuh gue, dan membawanya ke kamar.


Dia mengambil air rebusan bidara yang diberikan kyai Hasan, lalu dengan membaca bismillah, mas Tono membaluri air itu, keseluruh tubuh gue. Tubuh gue yang semula dingin, berubah menjadi panas. Gue berteriak tanpa kendali.


panas....panass....panass


Mas Tono, meminta mbak Karina dan Melati mengaji, juga meminta yang lain berdzikir.


Tak berapa lama, gue dengar alunan ayat suci, membuat ubuh gue semakin hilang kendali..


hhrrrrr.....panasss.....pergi kalian


Mas Tono, dengan berbekal ilmu dari kakeknya, mencoba menolong gue, mengeluarkan mahluk halus yang menyusup dalam tubuh gue.


"Istighfar mas...astaghfirullah...astaghfirullah."


hoarrrr.....hrrrrrrr, panasss....aakkkhhhh


Gue terus meronta, hingga akhirnya mas Tono, berhasil mengeluarkan penyusup yang masuk ke dalam tubuh gue. Gue merasakan tubuh gue seperti tak bisa digerakan, lemes dan letih yang teramat sangat.


Akhirnya setelah beberapa lama, guepun tertidur. Melihat kondisi gue yang seperti ini, akhirnya mereka memutuskan menjaga gue secara bergantian.

__ADS_1


__ADS_2