Rumah Warisan Atas Bukit

Rumah Warisan Atas Bukit
DUA MAYAT DALAM SATU MALAM


__ADS_3

Mang Asep terlihat sedang berbicara dengan seseorang di ujung sana.


"Iya juragan, wanita itu juga sudah, tadi malam juragan. Maaf waktu itu saya tidak tau kalau dia datang kesini. Baik juragan...iya....saya gak akan mengulanginya...maaf....tuut....tuut, telpon terputus.


********


Malam ini tak seperti biasanya Parjo mengurung diri di kamar, katanya badannya sakit semua. Gue sudah meminta bi Narti untuk memberikan obat.


Sedari sore cuaca sudah tidak bersahabat, angin kencang yang berputar putar, diiringi petir yang menyambar membuat dua saudara perempuan gue ketakutan, begitu juga dengan Fatimah. Gue meminta mereka untuk tetap berada dikamar ditemani bi Narti dan bi Inah.


duarrrf.....duarrrt


Berbarengan dengan terdengarnya suara halilintar, lampu tiba-tiba padam. Gue meminta mas Tono untuk menghidupkan genset yang ada di gudang.


"Mas, tolong gensetnya dihidupkan ya, yang ada digudang, bawah tanah."


"Baik mas."


Mas Tono mengambil senter dan turun ke gudang bawah tanah.


"Haduh....lampu pake mati lagi," gerutu mas Tono dengan kesal. Saat ia membuka pintu gudang dan mencari genset, tiba-tiba..

__ADS_1


Astagfirullah....astagfirullah...toloong....tolonggg


Mendengan teriakan mas Tono, gue dan kyai Hasan langsung turun. Kyai Hasan meminta gue agar jangan jauh-jauh darinya. Beliau menghunuskan goloknya, berjaga-jaga.


"Ada apa mas Tono ?." ujar gue dalam gelap.


Mas Tono terlihat ketakutan, ia menunjuk kesudut ruangan. Gue arahkan senter gue ketempat yang ditunjukan mas Tono. Sesosok tubuh terlihat terbujur kaku di sudut gudang, ditutupi selembar plastik. Gue dan kyai Hasan mendekati tubuh itu dan melihatnya dengan jelas.


"Rania ?."


"Nak Linggar mengenalnya ?,"


*********


Dengan susah payah, akhirnya genset bisa gue hidupkan.


Tubuh Rania yang sudah terbaring kaku, terlihat jelas. Wanita paruh baya, yang masih terlihat cantik dan sintal, terbaring tak bernyawa. Wajahnya sangat mirip dengan fhoto wanita yang gue lihat di paviliun.


"Jangan sentuh den !."


Kyai Hasan melarang gue dan Parjo menyentuhnya sebelum polisi datang.

__ADS_1


********


Gue berjalan dalam hujan, menuju paviliun, kyai Hasan yang khawatir dengan keselamatan gue, membuntuti dari belakang.


tok...tok...tok, mang !, mang Asep buka mang . Dor...dor...dor..mang Asep buka !!," teriak gue sambil menggedor pintu.


Tak ada jawaban, gue berjalan memutar ke belakang paviliun, pintu belakang seperti biasa tak terkunci. Dengan marah kutendang nampan saji, dupa yang masih membara, berserakan dilantai, gue gak perduli, yang ada dalam pikiran gue, hanya keinginan menyeret mang Asep keluar dari sini.


"Mang !!, mang Asep !!, keluar !!


Sepi..., gue berjalan ke arah kamar. Langkah gue melangkah surut..


astaghfirullah !!.


Kyai Hasan berlari mendekat, goloknya dihunus, untuk melindungi gue.


Tubuh mang Asep tergeletak di lantai, dengan busa dimulutnya.


"Cepat keluar dari sini nak !! Jangan sentuh apapun !."


Nafas gue turun naik, gue gak bisa bayangkan, dalam satu malam, gue menjumpai dua tubuh tak bernyawa. Ada apa ini ? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini ? Siapa dalang dari semua pembunuhan ini ? Mengapa ia melakukan semua ini ?. Pertanyaan demi pertanyaan menyesaki kepala dan hati gue. Gue gak bisa percaya semua itu terjadi secara beruntun dan membuat gue hanya terdiam dan gak bisa berkata-kata. Ya Allah...gue gak tahan lagi.

__ADS_1


__ADS_2