Rumah Warisan Atas Bukit

Rumah Warisan Atas Bukit
SERANGAN RAHASIA


__ADS_3

Gue berdiri diberanda. Malam ini gue jujur saja merasa takut. Gak kepikir dalam benak gue, seandainya orang-orang yang berada dekat dengan gue, mengalami kejadian yang bisa merenggut nyawa mereka.


Sebuah tepukan dibahu, membuat gue tersentak.


"Belum tidur nak Linggar ?."


"Oh..kyai. Belum kyai."


"Apa yang sedang nak Linggar pikirkan."


"Entahlah kyai, saya sedang bingung."


"Ada apa ?, mau berbagi cerita dengan saya," ujar kyai Hasan sambil tersenyum dan menyandarkan badannya dikursi.


"Kyai, apa kyai percaya kalau orang yang sudah meninggal dalam keadaan tidak wajar, terbunuh atau bunuh diri misalnya, ruhnya akan menjadi arwah penasaran?," tanya gue sambil mendaratkan pantat gue disebelah kyai Hasan.

__ADS_1


Kyai Hasan menatap gue lekat-lekat, lalu beliau tersenyum


“Kenapa nak Linggar bertanya seperti itu, apa nak Linggar selama ini sering melihat kejadian-kejadian atau fenomena ganjil dari mahluk-mahluk ghoib ?."


Gue mengangguk perlahan, lalu tanpa terasa gue menangis, gue seperti sedang melepaskan himpitan berat yang menindih dada gue.


“Hmm...nak Linggar menangislah, gak apa-apa, sesekali laki-laki sejati juga perlu untuk menangis. Mengenai pertanyaan nak Linggar, kalau jasad itu dimakamkan secara sempurna, saya rasa orang itu tidak akan mengganggu, karena dia sudah sibuk urusannya dengan siksa kubur."


Gue mengngguk-angguk.


"Kalau orang yang belum dimakamkan dengan baik, mungkin hal itu bisa terjadi. Walahu'a'lam, hanya Allah yang Maha Tau. Dahulu sekali pernah terjadi sebuah peristiwa pembunuhan terhadap sebuah keluarga, karena perebutan harta, akibanya seluruh anggota keluarga menjadi korban dan meninggal. Mayatnya dibuang disuatu tempat. Setelahnya, dirumah itu sering sekali terjadi kejadian kejadian yang tidak masuk akal, dan di luar nalar manusia, mulai dari terdengarnya suara jeritan dan tangisan, hingga penampakan sosok sosok yang dibunuh itu dalam tampilan sosok yang menyeramkan. Hingga kini rumah itu dibiarkan kosong. Media yang kosong, lembab dan dingin akan menjadi tempat tinggal yang nyaman buat mereka."


Aku menarik nafas dalam-dalam.


"Nak Linggar jangan takut, tapi juga jangan sombong. Kita pasrahkan saja semua pada Allah, sambil kita terus ikhtiar."

__ADS_1


*********


Malam semakin larut, kyai Hasan mengajak aku masuk ke dalam. Saat aku hendak menutup pintu, bayangan seorang wanita melintas dihadapanku.


"Astaghfirullah."


Kyai Hasan berbalik menghampiriku.


"Ada apa nak ?."


"Gak ada apa-apa kyai."


Kyai Hasan masuk ke kamar tamu. Sebelum masuk beliau mengingatkan gue untuk berwudhu. Gue mengangguk mengiyakan.


Cklek..., kreeek, handle pintu berderit saat gue buka....masih gelap. Ternyata dari tadi gue belum menyalakan lampu. Saat jemari tangan gue menyentuh saklar, gue merasakan satu sentuhan di tangan gue, sesuatu yang sangat dingin. Jantung gue saat itu seperti orang yang habis berlari ratusan kilometer, berdegup kencang, gue di tarik kesuatu tempat, dibenturkan, hingga gue merasakan cairan hangat mengalir di kepala gue.

__ADS_1


Kyai Hasan yang mendengar keributan itu, berlari mendekat dan mendapati tubuh gue terbaring dilantai, dengan luka menganga di kepala. Saat lampu dinyalakan, gue melihat jendela dalam keadaan terbuka. Kyai Hasan menghampiri jendela kamar dan melompat, beliau tak melihat seorangpun disana. Lama beliau menyusuri taman, tapi beliau tak menemukan seorangpun disana. Beliau kembali dengan tangan hampa. Beliau menolong gue yang masih terbaring lemah. Mbak Karina, Melati dan Fatimah tersentak melihat keadaan gue, mereka membalut luka gue, sambil memaki orang yang sudah menganiaya gue.


__ADS_2