
Fatimah tak bisa tidur, fikirannya galau, entahlah ia merasakan jantungnya berdegup kencang, setiap kali bertatapan dengan Linggar. Ia tak ingin membuat Abinya mendapat dosa karenanya. Satu sentuhan membuat ia terhenyak kaget.
"Abi..!!."
"Sedang apa neng ?, kenapa belum tidur ?, kamu sedang mikirin apa ? nak Linggar ya ?."
"Koq Abi tau ?," ujar Fatimah tersipu.
"Abi juga pernah muda neng, jadi..abi taulah perasaan anak gadis abi."
"Abi..apakah berdosa, jika rasa cinta muncul dalam hati kita."
"Enggak neng, sama sekali tidak berdosa, karena itu fitrah manusia. Cuma kalau hubungan itu terus terbina, tanpa ada ikatan suci pernikahan, itu bisa jadi dosa neng."
"Jadi eneng harus apa abi ?."
Kyai Hasan menghela nafas dalam.
"Sudahlah sekarang neng tidur, jangan lupa berdoa, dan minta yang terbaik sama Allah."
Fatimah mengangguk, lalu pergi meninggalkan kyai Hasan.
*******
__ADS_1
Malam semakin larut, suara serangga malam semakin riuh terdengar, kyai Hasan merasakan ada sesuatu yang ganjil sedang terjadi di paviliun.
Perlahan ia berjalan mendekati paviliun. Aura mistis semakin terasa, dan semakin kencang. Kyai Hasan mencium bau danur di area paviliun yang membuat isi lambungnya seperti hendak keluar.
Tiba-tiba, saat dirinya hendak melangkah mendekat, ia merasakan ada orang yang sedang membuntutinya, dengan sigap di raihnya tangan itu dan hendak dipukulnya.
"Ampun kyai, ini aku."
"Nak Linggar, sedang apa disini ?."
"Tadi saya lihat, kyai keluar dan mengendap-endap kesini, makanya saya menyusul."
Kyai Hasan menarik tubuh Gue, saat ada seseorang melintas masuk kedalam paviliun.
Gue mengintip dari celah gorden, tak ada siapapun disana, selain mang Asep.
"Kelamaan jomblo ternyata bikin dia gak waras," batin gue dalam hati.
Gue menatap kearah kyai Hasan, kyai Hasan memberi isyarat dengan tangannya. Kyai Hasan mengajak gue kembali ke ruang utama. Belum lagi kaki ini melangkah, gue denger mang Asep berteriak-teriak histeris sambil merapalkan mantera. Gue berlari kearah pintu.
"Mang...mang Asep!, mang Asep ! mang Asep!!, buka pintunya mang !!."
Pintu terbuka, dan wajah mang Asep muncul dari balik pintu, ia sedikit gugup melihat kehadiran gue di paviliun. Dengan wajah kaget yang gak bisa disembunyikan dari netra gue.
__ADS_1
"A..a..ada apa den ?."
"Mang Asep nggak apa-apa ?, tadi saya dengar teriakan mamang, makanya saya langsung lari kemari."
"Gak apa-apa den, saya hanya mengigau."
"Ya ampun mang, sore-sore sudah mengigau, makanya kalau mau tidur shalat dulu."
"Iya den..tadi saya ketiduran."
"Oh yasudah kalau begitu. Hati-hati mang, jangan lupa pintu dikunci."
"Baik den. Aden belum tidur ?."
"Belum mang, saya lagi cari angin, udara di luar sejuk. Yasudah mang, saya tinggal dulu ya, dilanjut deh tidurnya, tapi inget !!...shalat dulu, biar gak ngigau lagi."
"Baik den."
Gue menghampiri kyai Hasan dan menceritakan percakapan gue dengan mang Asep.
"Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu kyai, tapi entah apa, saya gak ngerti. Dia gugup sekali waktu melihat saya datang. Dia sepertinya gak nyangka kalau tiba-tiba saya ada di depannya."
Kyai Hasan tersenyum, lalu mengajak gue kembali ke rumah utama.
__ADS_1