
Bi Inah memegang tangan gue.
"Alhamdulillah den, alhamdulillah aden selamat."
"Bagaimana dengan laki-laki itu bi ?."
Bi Inah memandang ke arah mas Tono. Mas Tono terdiam, wajahnya menunduk.
"Maafkan saya mas."
"Kenapa mas Tono meminta maaf pada saya ?."
"Karena saya tidak menceritakan sesuatu yang sangat penting,...saya pikir, itu masa lalu dan tidak akan menimbulkan kejadian yang sehebat ini."
"Maksud mas Tono,"..aarkkhh, gue merasakan sakit yang teramat sangat di punggung gue, bekas luka tikaman laki-laki itu.
"Begini mas...ehm," mas Tono berdehem mengatur nafasnya, dan hendak mulai bercerita, ketika tiba-tiba suara Fatimah menghentikannya.
"Mas...maaf, apa tidak sebaiknya ceritanya nanti saja, karena kondisi mas Linggar kan masih belum begitu pulih. Saya takut nanti mas Linggar lelah. Jadi lebih baik, kita biarkan mas Linggar istirahat dulu."
"Maaf neng Fatimah, saya lupa," ujar mas Tono merasa bersalah.
"Nggak apa-apa Fatimah, aku kuat koq," ujar gue sambil meringis, menahan sakit.
__ADS_1
"Mas...Imah minta tolong, sekali ini saja, mas Linggar dengarkan kata Imah," ujar Fatimah dengan wajah menghiba.
Melihat wajahnya yang terlihat sangat cemas, serta kondisi luka gue yang terasa sakit, akhirnya gue mengalah.
Dengan berat hati, gue turuti permintaan Fatimah.
Mas Tono lalu menolong Fatimah membaringkan gue kembali di tempat tidur.
"Istirahat dulu ya mas, saya janji, kalo luka mas Linggar sudah sembuh saya akan ceritakan."
Gue mengangguk setuju.
*********
"Bu...bapaknya tolong jangan terlalu banyak gerak dulu ya, biar lukanya cepet sembuh," ujar salah satu perawat kepada Fatimah.
Fatimah mau menjawab, tapi sebelum dia bersuara, gue sudah menyambung.
"Iya suster, istri saya galak, tadi juga saya udah dimarahin."
Fatimah refleks mencubit lengan gue..aduhh...
"Ya Allah...maaf...maaf mas, saya gak sengaja."
__ADS_1
"Gak apa-apa koq istriku," ujar gue menggoda.
"Ih..mas apaan sih."
Kedua perawat itu tersenyum, sambil berlalu meninggalkan gue dan Fatimah yang tertunduk malu.
**********
Malam ini hari ketiga gue di rumah sakit, kondisi gue semakin pulih, dan mungkin besok gue sudah bisa pulang.
Gue gak bisa tidur, netra gue menjelajahi isi kamar rumah sakit, tempat gue dirawat. Di sofa gue melihat tubuh Fatimah yang tertidur dengan lelap. Dan dilantai yang beralaskan tikar ada bi Narti dan bi Inah. Gue tersenyum dan merasa bersyukur dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangi gue.
Malam yang semakin larut, akhirnya membuat gue terlelap. Antara sadar dan tidak gue melihat sosok wanita yang selalu ada di kamar ayah, tersenyum ke arah gue, seperti mengucapkan terima kasih. Tak lama setelah sosok itu menghilang, muncul mbak Kirana dan Melati, mereka melambaikan tangan ke arah gue, sambil berjalan menjauh, semakin jauh dan akhirnya menghilang.
Gue tersentak, saat ada jemari yang menepuk tangan gue lembut.
"Bangun mas..mas..bangun!!."
"Minumlah, tadi mas mengigau," ujar Fatimah.
"Tadi mas mimpi apa?."
Gue ceritakan yang gue alami barusan. Fatimah hanya tertunduk dan diam. Lalu dengan dalih hendak ke kamar mandi, ia mencoba menghindar dari pertanyaan gue. Gue yakin sudah terjadi sesuatu pada kedua putri bu Hanum. Tapi entahlah apa itu.
__ADS_1