
Kevin membanting pintu dengan keras hingga menarik perhatian beberapa pengunjung yang lewat.
Mereka berbisik-bisik melihat seorang gadis duduk di lantai dengan menyedihkan.
Di ujung lorong seorang pria berjas hitam dengan jahitan khusus dan mewah berhenti sesaat. Dia mengernyit menatap gadis yang duduk di atas lantai rumah sakit. Tangannya di masukan ke dalam saku celananya menatap Aria dari kejauhan dengan ekspresi datar.
"Tuan Clark, ada apa?" Sekretaris di sebelahnya bertanya melihat Dario tiba-tiba berhenti.
Dario tidak menjawab, dia menatap lurus gadis yang masih duduk di lantai.
Aria menyadari pandangan para pengunjung pada dirinya. Dia dengan cepat.
Dia dengan cepat bangkit sambil menghapus air matanya. Pipinya terasa perih saat dia mengusap air matanya. Aria meraba pipinya dengan ekspresi muram. Bayangan saat Kate menamparnya terbayang-bayang dalam benaknya. Baik ayahnya dan Kevin hanya menatapnya dengan mata dingin saat dia diinjak-injak. Hatinya teramat sakit.
Aria tersenyum pahit. Andai ibunya masih hidup, dia tidak akan diinjak-injak seperti hari ini.
Aria menggelengkan kepalanya menghentikan dirinya untuk berhenti memikirkan hal itu. Aria menatap pintu kamar Marissa, bahkan dari luar dia bisa mendengar suara obrolan dan tawa bahagia dari dalam. Tidak ada memikirkan dirinya yang diusir dengan menyedihkan.
Aria tersenyum pahit dan berbalik lesu berjalan meninggalkan tempat itu dengan kepala tertunduk. Aria tidak memperhatikan jalan, hingga dia tidak melihat sosok pria di depannya. Dia menabrak dadanya dengan keras.
"Aduh!" Aria tersadar sambil memegang jidat. Dia buru-buru membungkuk meminta maaf dan mendongak.
"Maaf, maafkan aku, aku tidak melihat jala ....." Dia tiba-tiba membeku menatap pria di depannya.
Mata gelap dan dingin pria itu balik menatap Aria dengan wajah tanpa ekspresi.
"Aria Crowen ...." pria itu menyebut namanya dengan suara rendah nan magnetis, sorot matanya menatap Aria dengan tatapan intens.
Wajah Aria memucat menatap pria itu.
Dario Clark?! Sejak kapan dia ada di sini?
Dario balik menatapnya dengan ekspresi tenang. Matanya menyipit menatap wajah gadis itu. Pipinya bengkak dan memar mengerikan tercetak di pipinya yang mulus. Dia mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah gadis itu.
__ADS_1
"Ada apa dengan wajahmu?"
Wajah Aria memerah. Ingatan akan kejadian semalam berputar di kepalanya. Dia memundurkan wajahnya dari sentuhan tangan pria itu.
Dia panik dan gelisah.
Dia tidak siap bertemu dengan pria itu.
"Tuan Clark, maafkan aku!"
Aria dengan cepat menundukkan kepalanya dan berbalik melarikan diri.
"Kamu-" Dario hendak menahan tangannya namun gadis itu sudah melarikan diri dengan cepat.
Matanya menyipit menatap punggung mungil gadis itu yang melarikan diri. Dia menyaksikan sampai gadis itu menghilang di belokan lorong tanpa berkata apa-apa. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring.
"Selalu melarikan diri eh ...."
Senyum di wajah Dario tiba-tiba hilang digantikan raut wajah acuh tak acuh yang biasa. Dia menatap pintu kamar VIIP tak jauh darinya.
Matanya menyipit tajam saat mengingat wajah bengkak dan memar mengerikan di wajah cantik Aria. Ekspresi wajahnya sangat suram.
Meski dia tidak tahu apa yang terjadi, wajah memar Aria sudah menjelaskan banyak hal. Dia ingat rumor yang dibicarakan Hanna, pacarnya, bahwa Aria dianiaya keluarganya sendiri.
"Tuan Clark ...." Asisten di belakangnya bingung melihat tuannya tersenyum aneh, lalu tiba-tiba berubah suram.
"Herbet, kamar VIIP itu, pastikan tagihan kamar ini dinaikkan sepuluh kali lipat," perintah pria itu acu tak acuh membuat sekretarisnya tersentak kaget.
"Tuan, apa Anda serius?"
Harga kamar VIIP sudah cukup mahal. Menambah sepuluh kali lipat sangat tidak masuk akal. Bahkan orang paling kaya pun tidak akan menerima ini.
Dario menatap sekretarisnya dingin.
__ADS_1
"Jika mereka tidak sanggup membayar, usir saja dari rumah sakitku," balasnya acuh tak acuh dan berbalik meninggalkan sekretarisnya yang meradang.
"Tuan Clark!"
.....
Aria menunggu di halte bus dekat rumah sakit. kepalanya pusing dan dia belum sarapan dari tadi pagi sampai malam. Sayang tidak membawa banyak uang. Uangnya cukup untuk ongkos bis.
Aria sudah melewatkan kuliahnya hari ini. Ponselnya terus berdering, banyak telepon dari teman sekelasnya dan Hanna, sahabatnya.
Aria tidak berani menjawab panggilan telepon dari Hanna setelah apa yang terjadi antara dia dan Dario semalam. Perasaan bersalah membuatnya tidak berani menghadapi Hanna.
Aria terus menatap layar ponselnya, nama Hanna muncul meneleponnya terus. Namun dia tidak bisa menjawab. Bahkan orang-orang di sekitarnya mengerutkan keningnya karena terganggu dengan dering ponsel Aria.
Namun gadis itu tidak peduli. Tatapannya kosong menatap nama Hanna di layar ponselnya.
Setelah beberapa saat, Hanna sudah berhenti meneleponnya. Aria baru mengalihkan pandangannya dari ponselnya, menatap lurus ke depan.
Sudah dua jam dia menunggu bis di halte.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, orang-orang di sekitarnya sudah mulai sepi naik ke bus tujuan mereka masing-masing. Namun Aria tidak ingin beranjak dari tempat duduknya. Dia terlalu berat untuk kembali ke kediaman Crowen dan menghadapi sesi penyiksaan ibu tirinya lagi.
Sementara itu, sebuah mobil ferari mewah baru keluar dari parkiran rumah sakit.
Kevin melihat sosok Aria dari kejauhan duduk halte bis yang sepi. Dia mengerutkan keningnya dan melambatkan mobilnya tanpa sadar.
Wanita di sebelahnya menyadari Kevin melambatkan mobilnya. Dia menoleh menatap Kevin, namun Kevin tengah menatap ke arah lain.
Akan kah kelanjutan berikutnya semakin memanas atau bahkan cukup seperti ini. Baca dan dukung terus karya ini agar bisa berlanjut, sehingga bisa menghibur para pembaca semua. Apabila ada kritik dan saran silahkan hubungin nomor whatsapp di bawah.
Kosong delapan satu lima lima lima enam delapan enam enam enam sembilan
Bersambung !!!
__ADS_1