Rumput Tetangga

Rumput Tetangga
Bab 12


__ADS_3

“Aria, kamu masih belum kapok dari pelajaran di rumah sakit!” bentaknya keras memarahi Aria.


Emily dan Melissa tersenyum senang sambil menatap Aria dengan tatapan mengejek.


Aria tercekat.


“Ayah, bukan seperti itu. Aku hanya ingin masuk dan beristirahat. Namun Bibi Emily dan Melissa menahanku dan tidak membiarkan aku masuk.” Dia berkata terbata-bata menatap Stefan dengan tatapan memohon.


“Mengapa kamu ingin tinggal di rumah ini? Kamu sudah besar dan bisa hidup sendiri! Kamu sudah tidak bisa tinggal di rumah ini lagi setelah perbuatanmu pada Melissa. Kami tidak akan membiarkan kamu menyakiti Melisa dan kehilangan calon pewaris keluarga Derrick!” bentak Stefan keras dan kejam.


Dia tidak memedulikan Aria adalah putrinya. Yang dia inginkan adalah perusahaan Quin menjadi sepenuhnya dan cucunya akan menjadi pewaris keluarga Derrick.


Raut wajah Stefan sangat suram menatap Aria. Dia sama sekali tidak menyukai putrinya ini. Delia, almarhum istrinya menuliskan wasiat perusahaan Quin dan semua asetnya menjadi milik Aria dan putranya, Gerry, tanpa memberinya apa-apa.


Dia harus merendahkan diri mencuri aset yang seharusnya milik Aria dan putranya yang sakit-sakitan.


“Ayah ....” Mata Aria berkaca-kaca menatap Stefan.


Namun raut wajah Stefan keras memelototi Aria.

__ADS_1


“Apa yang kamu tunggu, cepat pergi dari sini sebelum kami memanggil satpam untuk mengusirmu!”


Aria mengepalkan tangannya. Dia tidak ingin berharap kasih sayang pada Stefan lagi. Dia menatap ayahnya dengan berani.


“Ini rumah ibuku, aku tidak akan pergi dari rumah ini!” serunya mengepalkannya.


“Yang seharusnya pergi dari rumah ibuku adalah kalian!”


Raut wajah Emily dan Stefan sontak berubah. Stefan mengangkat tangannya menampar Aria.


“Anak kurang ajar!”


Melissa dan Emily menutup mulut terkejut melihat Stefan menampar Aria untuk pertama kalinya. Namun raut wajah mereka berubah menjadi ekspresi puas dan mengejek pada Aria.


Aria membeku, kepalanya menoleh ke samping akibat tamparan keras Stefan. Wajahnya yang memar parah semakin memar dan bengkak karena tamparan ayahnya.


Aria memegang pipinya sambil menoleh menatap Stefan, matanya memanas. Air matanya mengalir di wajahnya.


“Ayah ... mengapa?” Dia menatap Stefan dengan mata yang penuh rasa sakit.

__ADS_1


Meski ayahnya acuh tak acuh, dia tidak pernah memukulnya seperti yang dilakukan Emily dan Melissa pada Aria.


Stefan menatapnya acuh tak acuh dan dingin.


“Aku seharusnya tidak membesarkan anak yang tidak tahu terima kasih sepertimu. Kamu dan ibumu sama-sama tidak tahu diri menganggap kalian lebih baik daripada aku.”


Stefan menatap Aria tajam, sorot matanya penuh kebencian terpendam melihat wajah Aria sangat mirip dengan Delia mengingatkannya saat dirinya diremehkan karena tidak bisa dibanding dengan Delia yang seorang wanita dan menjadi orang yang tidak berguna yang hanya bergantung pada istrinya.


Aria mengepalkan tangannya mendengar penghinaan Stefan pada ibunya. Pipinya sangat perih karena akibat tamparan ayahnya. Namun hatinya jauh lebih sakit.


Stefan menatapnya dingin.


“Aku tidak peduli apa yang kamu katakan tentang rumah ini. Ini rumah keluarga Crowen dan bukan Garrett. Jadi jangan sombong. Selagi aku masih kepala keluarga Crowen, kamu seharusnya tunduk pada ayahmu dan jangan meminta macam-macam. Aku tidak akan memberikan apa yang menjadi milik keluarga Crowen padamu atau pun pada adikmu!” kata Stefan kejam mendorong Aria kasar.


Akan kah kelanjutan berikutnya semakin memanas atau bahkan cukup seperti ini. Baca dan dukung terus karya ini agar bisa berlanjut, sehingga bisa menghibur para pembaca semua. Apabila ada kritik dan saran silahkan hubungin nomor whatsapp di bawah.


Kosong delapan satu lima lima lima enam delapan enam enam enam sembilan


Bersambung !!!

__ADS_1


__ADS_2