Rumput Tetangga

Rumput Tetangga
Bab 17


__ADS_3

Mengutip kisah sebelum nya...


"Jangan!” Aria berseru tiba-tiba memotong ucapan Hanna.


Hanna menoleh menatapnya dengan tatapan bertanya. Sementara ekspresi Dario sangat datar.


“Jangan lakukan itu. Aku bisa membayar biaya rumah sakit adikku,” ujarnya dengan ekspresi tenang.


“Mengapa kamu menolak? Aku ingin membantumu mengurangi bebanmu. Aku tahu kondisimu lebih baik daripada orang lain. Kamu tidak bisa membayar biaya rumah sakit Ramus apalagi setelah ayahmu tidak peduli lagi pada Ramus,” ujar Hanna mengerucutkan bibirnya cemberut.


Aria menarik napas dan menatap sahabatnya dengan senyum dipaksakan.


“Aku tahu kamu bermaksud baik. Terima kasih. Tapi aku tidak ingin berutang budi padamu.”


Terutama Dario, lanjut Aria dalam hati.


Dia merasa bersalah pada Hannah karena tidur dengan pacarnya dan menerima bantuannya darinya untuk membayar biaya rumah sakit Ramus.


“Maaf Hanna, aku bisa mengurus adikku sendiri,” gumam Aria pelan sambil menundukkan kepalanya.


Hanna menghela napas. Dia melirik koper dan barang-barang Aria di samping ranjang Ramus, dia mengerutkan keningnya.


“Kenapa kamu membawa kopermu?” Dia menatap Aria dengan membelalak.


“Tidak mungkin kan kamu diusir dari kediaman Crowen?!”

__ADS_1


Dario juga melirik koper Aria sambil mengerutkan keningnya, namun dia tidak berkata apa-apa dan menatap Aria dengan tatapan gelap di matanya.


Aria mengusap kepalanya canggung.


“Ah ini ....” Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pada kejadian kemarin dan tadi malam pada Hanna.


“Mengapa kamu tidak meminta bantuan Kevin?”


Aria membuang muka tidak bisa menjawab pertanyaan Hanna. Dia teringat kejadian ruang rawat Hanna. Kevin berselingkuh darinya dan menghamili Melissa sungguh sangat menyakitinya.


Kesedihan di wajah Aria tidak luput dari mata Hanna dan Dario.


Hanna meraih pundak Aria membuatnya menghadapnya.


“Aria ada apa? Terjadi sesuatu antara kamu dan Kevin?” tanyanya dengan menuntut.


“Pertunangan kami sudah berakhir, itu saja,” bisiknya lirih sambil menundukkan kepalanya tidak bisa menceritakan alasan putus pertunangannya pada Hanna.


“Putus? Jadi semua itu benar?!” Hanna tiba-tiba berseru marah.


Aria menoleh menatap Hanna dengan ekspresi bertanya.


“Apa maksudmu?”


Hanna mengepalkan tinjunya marah.

__ADS_1


“Tadi pagi di kampus, semua orang melihat Kevin mengantar Melissa ke kampus. Mereka sangat terang-terangan dan tidak tahu malu memamerkan kemesraan di depan seluruh orang di kampus!”


Wajah Aria menegang. Baru sehari mereka memutuskan pertunangan, Kevin dan sudah tidak sabar memamerkan kemesraan mereka di depan semua orang.


Apa mereka tidak memikirkan perasaannya di depan orang lain?! Adiknya mengambil tunangannya dan hamil.


Aria mengepalkan tangannya dengan ekspresi pahit. Ekspresi wajahnya tidak luput dari perhatian Dario. Pria itu menatap Aria tenang, dia tidak pernah melepaskan pandangannya gadis itu.


Namun gadis itu selalu menghindari menatapnya dan hanya berbicara pada Hanna.


“Aria, katakan apa yang sebenarnya terjadi?” Hanna bertanya prihatin menatap Aria.


Aria tersenyum pahit.


“Melissa hamil anak Kevin. Jadi mereka memutuskan pertunangan kami,” jawabnya dengan ekspresi muram.


Hanna menutup mulutnya terkejut.


“Mereka sangat keterlaluan! Aria, aku memberi mereka pelajaran!” Dia berkata dengan penuh amarah hendak berbalik meninggalkan ruang rawat itu.


Aria buru-buru menahan lengannya dan menggelengkan kepalanya.


Akan kah kelanjutan berikutnya semakin memanas atau bahkan cukup seperti ini. Baca dan dukung terus karya ini agar bisa berlanjut, sehingga bisa menghibur para pembaca semua. Apabila ada kritik dan saran silahkan hubungin nomor whatsapp di bawah.


Kosong delapan satu lima lima lima enam delapan enam enam enam sembilan

__ADS_1


Bersambung !!!


__ADS_2