Rumput Tetangga

Rumput Tetangga
Bab 16


__ADS_3

“Hey, bisa kamu singkirkan barang-barangmu! Kami tidak bisa bergerak leluasa karena barang-barangmu!”


Seorang keluarga pasien di sebelah memprotes pada Aria karena barang-barangnya menghalangi mereka.


“Aku minta maaf, aku akan segera memindahkan barang-barangku.” Aria terus membungkuk meminta maaf berkali-kali pada keluarga pasien di sebelahnya.


Dia dengan cepat mengambil kopernya dan memindahkan barangnya dari ruang ranjang di sebelah Ramus.


Keluarga pasien itu menggerutu kesal sebelum menarik tirai pembatas guna menutup pandangan Aria.


Aria mengusap rambutnya dengan ekspresi muram. Dia memindahkan kopernya di bawah ranjang Ramus sebelum pergi ke kamar mandi ruang itu untuk mencuci mukanya.


Dia tidak sempat mencuci mukanya karena dibangunkan dengan tiba-tiba oleh protes keluarga pasien di sebelah.


Usai mencuci muka, Aria keluar dari kamar mandi dengan baskom berisi air di tangannya untuk mengelap tubuh adiknya.


Saat Aria kembali ke sisi ranjang Ramus, dia dikejutkan dengan tamu yang tak diharapkannya.


“Ha-Hanna ....” Tubuh Aria tegang melihat seorang gadis berpenampilan modis berdiri di sebelah ranjang Ramus.


Hanna tidak datang sendirian. Dia bersama seorang pria tampan di sampingnya.


Dario Clark, Aria berbisik dalam hatinya cemas ketika melihat Dario di sebelah Hanna.


Dario menoleh menatap Aria dengan wajah tanpa ekspresi. Namun sudut bibirnya melengkung membentuk senyum miring menatap Aria.


“Aria!” Hanna tersenyum cerah melihat Aria. Dia segera menghampirinya dan memeluknya.


Aria menjadi kaku di pelukan Hanna.


“Hanna, apa yang membuatmu datang ke sini?” Aria melepaskan pelukan Hanna pelan dan meletakkan baskom berisi air di atas meja samping ranjang Ramus.

__ADS_1


“Aku datang karena khawatir padamu. Apa yang terjadi padamu? Sudah dua hari kamu tidak masuk kampus,” ujar Hanna berdiri di sebelah Aria dengan ekspresi khawatir di wajahnya.


Aria menundukkan kepalanya berpura-pura merapikan ranjang Ramus.


“Ada masalah keluarga. Aku tidak bisa masuk kampus,” gumamnya pelan tanpa menatap sahabatnya.


Dia tidak ingin melihat tatapan prihatin di mata sahabatnya, terutama juga di pria di depannya.


Hanna terdiam dan menatapnya dengan tatapan simpati.


“Apa ini berhubungan dengan adikmu yang dipindahkan dari kamar rawat VIP? Keluargamu mencabut semua biaya perawatan Ramus?”


Aria langsung menoleh menatap Hanna terkejut.


“Bagaimana kamu tahu?”


Hanna menunjuk Dario.


Aria langsung menatap Dario. Dia ingat rumah sakit salah satu usaha yang dimiliki keluarga Clark. Perusahaan Dario berkembang di berbagai bidang industri. Kehadiran Dario membuat perusahaan keluarga Clark semakin sukses dan berkembang pesat.


Dario balik menatapnya dengan ekspresi acuh tak acuh seolah dia tidak tertarik pada Aria.


Aria mengerutkan keningnya cemberut dan menundukkan kepalanya tidak ingin melihat pria itu.


Dia tidak ingin masalah keluarganya sampai diketahui orang lain. Itu membuatnya terlihat menyedihkan di depan Hanna dan Dario. Ayahnya menelantarkannya dan Ramus, namun memanjakan saudari tirinya bukan sesuatu yang enak didengar.


“Maaf Aria, aku dan Dario tidak bermaksud mengusik privasimu. Tapi aku tidak bisa diam saja melihat kamu kesulitan.” Hanna meraih tangan Aria meminta maaf.


Aria mencoba tersenyum pada Hanna tanpa menatap Dario.


“Tidak apa-apa,” ujarnya kemudian mengalihkan pandangannya pada Ramus.

__ADS_1


“Apa itu benar ayahmu sudah mencabut semua biaya perawatan rumah sakit Ramus?” tanya Hanna.


Aria menganggukkan kepalanya.


“Ya.”


“Ini sangat keterlaluan. Bagaimana Ramus akan bertahan hidup jika tidak ada yang membayar biaya rumah sakitnya?! Rumah akan menarik peralatan medis di tubuhnya dan membiarkan Ramus meninggal jika tidak yang membayar biaya rumah sakit? Iya, kan?” Hanna berbalik bertanya pada kekasihnya.


Dario menganggukkan kepalanya.


“Jika biaya rumah sakitnya tidak segera dibayarkan, rumah sakit akan melepaskan alat-alat medis yang menopang hidup pasien,” ujarnya menatap Aria.


“Yah aku tahu tentang itu.”


Wajah Aria sangat muram, dia sudah mendengar penjelasan dari suster semalam. Dia harus membayar biaya perawatan Ramus dalam waktu dalam tiga hari.


Aria putus tidak tahu bagaimana dia akan mendapat uang untuk membayar biaya perawatan adiknya.


Dario menatapnya dengan ekspresi datar.


Hanna berbalik menarik lengan jas Dario.


“Sayang, ini rumah sakitmu kan, bisakah kamu membebaskan Aria dari membayar biaya perawatan adiknya demi aku? Aria sudah dianiaya oleh keluarganya, dia tidak bisa membayar biaya rumah sa—“


“Jangan!” Aria berseru tiba-tiba memotong ucapan Hanna.


Akan kah kelanjutan berikutnya semakin memanas atau bahkan cukup seperti ini. Baca dan dukung terus karya ini agar bisa berlanjut, sehingga bisa menghibur para pembaca semua. Apabila ada kritik dan saran silahkan hubungin nomor whatsapp di bawah.


Kosong delapan satu lima lima lima enam delapan enam enam enam sembilan


Bersambung !!!

__ADS_1


__ADS_2