
Melissa mengikuti arah pandang pria itu. Matanya langsung menyipit cemburu.
"Bukankah itu kak Aria? Mengapa dia di situ? Sudah berapa lama dia halte bus?" Dia berpura-pura bertanya prihatin, lalu menatap Kevin.
"Kevin, kenapa kita tidak memberi Aria tumpangan? Kami masih tinggal di rumah yang sama. Lagi pula Kak Aria masih tunanganmu." Dia berkata dengan lembut ingin menguji Kevin.
Namun wajah pria itu berubah suram. Dia berkata dengan sinis, "Dia sudah bukan tunanganku lagi."
Lalu tanpa berkata-kata lagi dia menginjak pedal gas melajukan mobilnya melewati Halte bus.
Melissa diam-diam tersenyum penuh kemenangan saat mereka melewati Aria.
Aria jelas melihat mobil Kevin melewatinya. Dia melihat sekilas Melissa berada di mobil Kevin. Dia tidak merasa apa-apa lagi. Hatinya sudah kebas untuk merasa luka lagi. Dia hanya menatap kosong ke depan.
Dia akhirnya pulang ke kediaman Crowen dengan bis terakhir. Aria membuka gerbang pintu rumah dengan hati-hati. Namun saat tiba di halaman rumah, dia melihat beberapa koper dan barang-barang pribadinya berada di luar pintu rumah.
Dia bingung dan mengumpulkan beberapa barang-barang pribadinya yang di lempar. Dia menatap pintu yang tertutup rapat da membuka pintu rumah dengan tergesa-gesa. Dia merasa firasat buruk.
Namun pintu rumah terkunci. Aria mengeluarkan kunci cadangan rumah yang selalu dia gunakan ketika pulang tengah malam.
Namun pintu tidak terbuka. Aria panik dan memukul-mukul pintu rumah panik.
Tok, tok, tok!
"Bibi! Bibi Merry, buka pintunya! Ini Aria" Dia mengetuk pintu rumah keras memanggil pengurus rumah dengan panik.
Namun tidak ada yang membuka pintu atau meresponsnya. Dia yakin orang-orang di dalam rumah belum tidur dan mendengar teriakannya.
"Bibi Merry! Buka pintunya! Ini Aria!" Aria terus memukul-mukul pintu rumah.
__ADS_1
"Ayah! Buka pintunya! Ayah!"
Setelah beberapa saat pintu rumah akhirnya dibuka dari dalam. Aria mundur beberapa langkah.
"Aduh, berisik banget sih!"
Namun bukan Bibi Merry mau pun Stefan yang membuka pintu, melainkan Melissa dan Emily. Mereka mengenakan gaun cantik menatap Aria dengan tatapan menghina sambil menyilangkan tangan di depan dada.
“Bibi Emily, Melissa ....” Aria menelan ludah susah payah dan berkata dengan suara bergetar menatap ke dalam rumah mencari ayahnya cemas.
“Di mana Ayah? Mengapa barang-barangku ada di luar?”
Melissa menyeringai menatapnya dengan senyum keji.
“Mengap? Tentu saja karena harus meninggalkan rumah ini.”
“A-apa? Tapi mengapa?!” Aria menatap mereka dengan mata membelalak. Tubuhnya tegang.
“Mengapa? Kamu masih bertanya?!” suarany keras membentak Aria.
“Hari ini kamu hampir membunuh Melissa dan anak di kandungannya! Gadis tidak tahu diri sepertimu masih berharap tinggal di rumah ini! Jika bukan karena kami kasihan dan membesarkan serta memberimu makan, kami sudah mengusirmu dari rumah ini sejak lama!”
Aria mengepalkan tangannya menatap mereka dengan mata memerah mendengar ucapan Emily.a
“Di mana Ayah? Aku tidak akan pergi dari rumah ini.” Dia dengan paksa menerobos masuk ke dalam.
“Iiihhh bandel banget sih!” Melissa mendorongnya kasar.
“Ayah tidak mau bertemu denganmu, ayah ingin kamu pergi dari rumah ini! Cepat pergi dari sini!” semburnya galak sambil berkacak pinggang di depan Aria.
__ADS_1
“Itu tidak mungkin. Ayah tidak akan mengusirku begitu saja!” Aria menggelengkan kepalanya tidak ingin mempercayai ucapan Melissa.
Dia sekali dengan paksa masuk ke dalam rumah. Namun Melissa dan Emilly tidak membiarkannya masuk dan mendorong Aria keras sampai gadiis itu terjatuh ke tanah dengan keras.
Aria meringis memegang sikutnya yang lecet, lalu mendongak menatap Emilly dan Melissa.
Kedua wanita memelototinya dengan tatapan benci dan merendahkan.
“Bandel banget sih nih anak! Hey, ayahmu sudah tidak menginginkan kamu! Cepat pergi dari sini sebelum kami memanggil satpam dan mengusirmu dengan paksa dari sini!” bentak Emily sinis.
“Ada apa ribut malam-malam begini.” Suara Stefan terdengar dari dalam, dan sosok pria paruh baya muncul dari belakang Emily.
Wajah Aria bersinar penuh harapan melihat ayahnya muncul. Dia dengan cepat bangun dari tanah,
“Ayah ....” Sebelum dia mengatakan sesuatu pada Stefan, Emily memotongnya.
“Sayang, gadis sialan ingin memaksa tinggal di sini. Melissa sampai ketakutan karena melihatnya.” Emily mengadu memegang lengan suaminya.
Melissa menganggukkan kepalanya berpura-pura ketakutan, namun wajahnya tampak mengejek.
“Benar, ayah. Dia mendorongku karena memaksa masuk.” Dia berkata cemberut memegang lengan Stefan satunya.
“Bagaimana kalau aku sampai keguguran lagi, bisa-bisa kita kehilangan pewaris keluarga Derrick karena dia!” ujarnya menunjuk Aria ganas.
Wajah Stefan berubah mendengar ucapan Melissa. dia memelototi Aria tajam.
Akan kah kelanjutan berikutnya semakin memanas atau bahkan cukup seperti ini. Baca dan dukung terus karya ini agar bisa berlanjut, sehingga bisa menghibur para pembaca semua. Apabila ada kritik dan saran silahkan hubungin nomor whatsapp di bawah.
Kosong delapan satu lima lima lima enam delapan enam enam enam sembilan
__ADS_1
Bersambung !!!