Rumput Tetangga

Rumput Tetangga
Bab 18


__ADS_3

“Jangan, itu tidak ada gunanya,” ujarnya lemah.


“Aria, kamu jangan lemah begini. Kamu akan semakin ditindas jika kamu terus mengalah! Lihat wajahmu sampai memar dan bengkak seperti ini karena mereka kan?!” kata Hanna gemas dan marah.


Aria hanya tersenyum masam dan mengalihkan pandangannya dari Hanna.


Bagaimana dia bisa melawan mereka sendirian, Melissa di dukung oleh Ayah dan Emily. Mereka tidak pernah peduli padanya. Sementara Kevin, keluarganya sangat berkuasa. Mereka bisa menginjaknya seperti menginjak semut di jalanan.


Aria terlalu lelah untuk menghadapi mereka.


“Tidak ada gunanya bertengkar dengan Melissa. Lagi pula, dia bisa menyadarkan aku betapa brengseknya Kevin,” ujarnya tersenyum pahit sambil mengalihkan pandangannya pada Ramus yang terbaring di ranjang pasien.


Jika bukan karena Melissa, dia tidak akan tahu wajah sebenarnya keluarga Derrick dan Kevin yang mengincar perusahaan Quin.


Cinta? Itu hanya omong kosong.


Ekspresi Aria perlahan berubah datar. Perasaannya pada Kevin menjadi dingin.


Hanna menatapnya dengan tatapan prihatin. Dia memeluk pundak Aria dan menghiburnya.


“Tidak apa-apa. Kamu masih memiliki aku. Aku sahabatmu, aku tidak akan meninggalkanmu seperti mereka. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, kamu bisa meminta bantuan padaku.”

__ADS_1


Wajah Aria menegang. Dia menundukkan kepalanya dengan ekspresi bersalah pada Hanna. Hanna sangat baik padanya, namun Aria malah tidur dengan pacarnya. Dia tidak ada bedanya dengan Melissa.


Hanna tidak seharusnya bersikap baik padanya dan memakinya karena tidur dengan pacarnya. Namun Aria tidak berani mengatakan apa yang terjadi antar dia dan Dario pada Hanna.


Dia takut akan menyakiti Hanna dan kehilangan sahabatnya.


Aria diam-diam melirik Dario. Tatapan keduanya bertemu. Dia tersentak melihat pria itu menatapnya. Aria buru-buru menundukkan kepalanya.


“Omong-omong Aria, kamu akan tinggal di mana?” Hanna melepaskan pelukannya dari Aria dan bertanya.


“Entalah, aku akan mencari tempat tinggal murah dulu dan bekerja,” jawab Aria.


Dia masih memiliki tabungan dari hasil pekerjaannya dulu bekerja di toko roti sepulang kuliah.


Aria menatap Hanna dengan pandangan berbinar. Matanya berkaca-kaca.


“Hanna, kamu terlalu baik padaku,” ujarnya sangat berterima kasih dan di saat bersamaan merasa bersalah.


“Hei, kita ini teman, sesama teman harus saling membantu,” ujar Hanna tersenyum.


Ucapan Hanna membuat Aria semakin merasa bersalah. Dia memeluk Hanna erat.

__ADS_1


“Hanna terima kasih.”


Dan maafkan aku, lanjutnya dalam hati. Dia tidak berani menatap Dario di belakang Hanna.


Dario hanya mendengus dan berbalik meninggalkan ruang rawat itu.


“Ah sayang kamu ke mana?” Hanna bertanya melihat kekasihnya pergi.


“Kembali bekerja,” jawab pria itu cuek dan dingin tanpa berbalik menatap pacarnya.


Hanna sepertinya tidak memedulikan sikap dingin dan cuek Dario.


“Tunggu aku!” serunya, lalu berbalik menatap Aria. Dia buru-buru mengeluarkan kunci apartemennya dari tas dan memberikan kunci itu pada Aria.


“Ini kunci apartemenku. Kamu bisa tinggal kapan saja, bye ....” Dia melambaikan tangannya pada Aria sebelum berbalik menyusul Dario.


Aria menghela napas menatap punggung Hanna.


Akan kah kelanjutan berikutnya semakin memanas atau bahkan cukup seperti ini. Baca dan dukung terus karya ini agar bisa berlanjut, sehingga bisa menghibur para pembaca semua. Apabila ada kritik dan saran silahkan hubungin nomor whatsapp di bawah.


Kosong delapan satu lima lima lima enam delapan enam enam enam sembilan

__ADS_1


Bersambung !!!


__ADS_2