
Bagaimana bisa ada seorang ayah yang tidak berperasaan seperti Stefan tidak peduli dengan hidup dan mati putranya.
“Aria, kamu harusnya tahu diri deh. Kami sudah menghabiskan banyak uang untuk membuat adikmu sembuh. Tapi liat dia tidak pernah sembuh dan membebani kami untuk terus membayar biasa rumah sakitnya yang mahal. Mengapa kami harus membuang lagi untuk mengobatinya?!” Emily berkata tidak sabar dan memarahi Aria.
“Jika kamu ingin menyalahkan seseorang, salahkan ibumu yang tidak becus melahirkan anak yang sakit-sakitan! Kamu dan adikmu sungguh membuang-buang uang kami!” cibirnya keji pada gadis itu.
Air mata mengalir di pipi Aria. Dia menatap ketiga orang di depannya sangat tidak berperasaan dan keji mengatakan hal seperti pada seorang anak yang berjuang untuk hidup.
Ayahnya bahkan tidak menegur Emily karena kata-katanya sangat kejam tentang putranya sendiri.
Aria tidak tahu bahwa Stefan sangat takut Ramus sembuh dari penyakitnya dan menjadi ahli waris dari perusahaan Quin yang dibangun Delia. Karena itu tidak peduli Ramus mati atau hidup.
“Sudah jangan membuang waktu kami, cepat pergi dari sini!” Stefan berkata dengan ekspresi muram mendorong Aria dan menutup pintu tepat di depan wajah gadis itu.
Aria terhuyung jatuh ke tanah. Dia mendongak menatap pintu yang tertutup di depannya. Dia bangkit dan memukul-mukul pintu dengan keras.
“Ayah! Kumohon jangan memperlakukan Ramus seperti ini. Dia anak ayah juga! Kumohon selamatkan dia!” isaknya memukul-mukul pintu keras dan panik.
“Ayah, jangan hentikan perawatan Ramus! Dia masih kecil ayah! Kumohon ayah!”
__ADS_1
Namun tidak peduli seberapa keras Aria berteriak, orang-orang di dalam rumah itu tidak peduli dan sebaliknya menelepon satpam untuk mengusir Aria.
“Ayah!” Aria terus mengedor-gedor pintu rumah keras. Dia tidak bisa berhenti menangis sambil terus memohon pada Stefan.
“Nona Aria ....”
Aria berbalik melihat seorang satpam bertampang tegas menghampirinya.
“Tolong berhenti dan pergi dari sini. Kamu sangat mengganggu ketenteraman rumah ini,” tegur Satpam itu kasar.
Aria menggelengkan kepalanya sambil terus terisak.
“Nona, kusarankan kamu segera pergi sebelum saya yang menyeret Anda keluar dari sini!” Satpam itu menatap Aria dengan tatapan datar.
Tubuhnya tinggi dan tegap. Dia bisa menyeret Aria dengan mudah jika dia mau meski gadis itu memberontak.
Aria berhenti mengedor pintu, raut wajahnya sangat sedih.
“Mengapa kalian melakukan semua ini padaku? Apa salahku dan adikku?” Isaknya berjongkok memeluk lututnya.
__ADS_1
Wajah keras satpam itu melembut. Dia menatap kasihan gadis yang dianiaya oleh keluarganya sendiri. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantunya. Satpam itu hanya pekerja biasa yang bergantung pada majikannya. Dia tidak bisa membantu Aria.
“Nona tidak ada gunanya meratap. Lebih baik Anda menguatkan diri dan bertahan agar suatu saat Anda dapat membalas perbuatan mereka padamu.” Satpam itu memberi nasihat lembut.
Ucapan satpam itu membuat Aria tersadar. Dia bangkit dan menghapus air matanya. Benar, bukan saat menangis. Adiknya sekarang membutuhkannya.
Stefan sudah menghentikan biaya perawatan Ramus, dia harus menolong adiknya membayar biaya perawatan rumah sakit agar Ramus bertahan hidup. Dia tidak akan memohon belas kasihan dari ayahnya lagi.
Jika ingin membalas, dia harus membuat dirinya lebih baik dari keluarga Crowen agar bisa membalas perbuatan mereka.
“Terima kasih,” gumam Aria lesu mengambil koper dan barang-barang pribadinya sebelum melangkah menjauh dari pintu kediaman Crowen.
“Apa Anda perlu saya bantu?” tawar satpam melihat Aria membawa banyak barang.
Aria menggelengkan kepalanya dan terus berjalan menjauh. Dia tidak membeli tempat tinggal dengan uang pemberian Melissa. Uang itu tidak pernah cukup untuk membayar tempat tinggal sementara. Aria hanya bisa pergi ke rumah sakit, tempat adiknya di rawat dengan perasaan suram.
Akan kah kelanjutan berikutnya semakin memanas atau bahkan cukup seperti ini. Baca dan dukung terus karya ini agar bisa berlanjut, sehingga bisa menghibur para pembaca semua. Apabila ada kritik dan saran silahkan hubungin nomor whatsapp di bawah.
Kosong delapan satu lima lima lima enam delapan enam enam enam sembilan
__ADS_1
Bersambung !!!