
Ketika Aria sampai di rumah sakit. Dia melihat kamar rawat Ramus VIP di pindahkan ke bangsal biasa.
Aria bersyukur rumah sakit tidak segera mencabut peralatan medis dari tubuh Ramus dan tidak menyebabkannya meninggal.
“Terima kasih suster.” Aria berterima kasih pada suster yang bertugas jaga merawat bangsal adiknya.
“Apa kamu keluarga dari pasien ini?” Suster itu bertanya sambil memegang papan grafik di tangannya.
Aria menganggukkan kepalanya.
“Benar suster, saya kakak Ramus.”
“Keluargamu sudah mencabut biaya perawatan pasien. Kami tidak bisa merawat pasien ini lagi dan harus mencabut peralatan medis di tubuh pasien.
Jika Anda ingin melanjutkan perawatan pasien, mohon untuk segera membayar biaya rumah sakit atau kami harus dengan terpaksa mencabut peralatan medis di tubuh pasien,” ujar Suster itu membaca catatan medis Ramus di tangannya.
Aria meraih tangan suster itu dengan cemas.
“Suster tolong beri aku waktu, aku pasti akan membayar biaya rumah sakit Ramus. Tolong jangan mencabut alat-alat medis di tubuhnya, Ramus akan meninggal.” Aria menatap suste itu dengan tatapan memelas.
Suster itu tidak tahu harus berbuat apa dan hanya menatap Aria iba.
“Maaf, saya tidak bisa membantu apa-apa. Namun rumah sakit memberi waktu tiga hari untuk segera membayar biaya rumah sakit.”
__ADS_1
Aria menganggukkan kepalanya cepat.
“Tiga hari? Itu cukup, terima kasih suster.” Aria menggenggam tangan suster dengan penuh terima kasih.
Suster itu tidak berkata-kata dan hanya menatap Aria prihatin. Dia melirik koper dan barang-barang Aria di samping ranjang Ramus yang hampir memakan ruang pasien di sebelah. Itu terlihat mengganggu.
“Bisakah Anda memindahkan barang-barang Anda? Itu akan mengganggu pasien di sebelah.”
Aria melihat barang-barang dan kopernya hampir menghabiskan tempat di sebelah ranjang ramus. Dia menunduk merasa malu dan bersalah pada suster di depannya.
“Maafkan aku, aku akan segera memindahkan barang-barangku. Tapi bisa beri aku waktu malam ini untuk menyimpan barang-barangku,” pintanya menatap suster di depannya dengan tatapan sedikit memohon. Dia merasa malu telah merepotkan suster itu.
Suster itu hanya menggelengkan kepalanya. Tanpa berkata-kata dia pergi meninggalkan bangsal itu.
Aria mengelus dadanya merasa lega. Dia dengan lesu duduk di samping ranjang Ramus. Dia menatap bocah yang terbaring di tempat tidur.
Dia memiliki jantung lemah bawaan. Karena kecelakaan di masa kecilnya saat dia berusia enam tahun, Ramus terpaksa terbaring koma di ranjang rumah sakit dan tidak pernah sadar selama bertahun-tahun.
Dalam sekejap dia sudah berusia 12 tahun. Namun karena sudah lama berbaring dan hanya diberi infus, tubuh bocah itu seperti anak berusia sepuluh tahun.
Bocah itu sangat kurus dan kecil. Dia seharusnya menikmati masa anak-anak, namun karena kecelakaan itu dia terbaring koma dan tidak pernah sadar selama bertahun-tahun.
Hati Aria sakit menatap sang adik yang tidak pernah membuka matanya. Dia tidak pernah lupa bagaimana Ramus menjadi seperti ini.
__ADS_1
Semua karena Melissa mendorong Ramus jatuh dari lantai tiga hingga menyebabkan kepalannya terbentur lantai dengan keras.
Bukannya merasa bersalah, Emil dan Melissa menyalahkan Ramus karena sangat nakal mengganggu Melissa. Ayahnya bahkan tidak marah, malah sangat tidak peduli atas musibah yang menimpa Ramus.
Mereka berani menghentikan perawatan rumah sakit Ramus dan menunggunya mati.
Aria meraih tangan kurus Ramus sambil mengusap wajah adiknya.
“Ramus, maafkan kakak tidak bisa melindungimu,” bisiknya lirih menatap wajah Ramus yang tertidur damai.
Hatinya sakit dan putus asa. Ramus adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Dia tidak kehilangan adik laki-lakinya.
Tangannya mengepal erat, dia akan mengingat semua kata-kata dan perlakuan Stefan, Emily dan Melissa hari ini dalam hatinya.
Matanya memerah menatap wajah kecil Ramus yang pucat.
“Ramus, kakak mohon bertahanlah. Kakak bekerja keras dan akan membalas mereka atas apa yang mereka lakukan padamu. Jadi kakak mohon bertahanlah.” Dia membawa tangan adiknya ke wajahnya. Air matanya mengalir di wajahnya.
Aria terus tinggal di bangsal itu karena dia tidak memiliki tempat tujuan lain.
....
Akan kah kelanjutan berikutnya semakin memanas atau bahkan cukup seperti ini. Baca dan dukung terus karya ini agar bisa berlanjut, sehingga bisa menghibur para pembaca semua. Apabila ada kritik dan saran silahkan hubungin nomor whatsapp di bawah.
__ADS_1
Kosong delapan satu lima lima lima enam delapan enam enam enam sembilan
Bersambung !!!