
Keesokan harinya Dewa sengaja datang ke kelas Jasmine berharap dapat mengajak gadis itu ke kantin bersama dan mengobrol banyak pada jam istirahat tapi nyatanya Jasmine malah tidak ada di kelas.
"Eh sini lu!" perintah Dewa pada Yora yang Dewa tau dia adalah teman dekat Jasmine.
"Kenapa?" tanya Yora sambil menunduk karena ia sangat takut dengan Dewa.
"Gak usah nunduk juga kali, gua gak bakal ngapa-ngapain lu. Gua cuma mau nanya Jasmine dimana?" tanya Dewa menatap tajam Yora.
"E--Jasmine di- itu- di--" jawab Yora terbata bata.
Amarah Dewa memuncak karena Yora tak kunjung juga memberi tahu keberadaan Jasmine. Dengan cepat, Dewa langsung menepuk pundak Yora dengan keras dan berhasil untuk membuat Yora berbicara.
"Di perpus, Jasmine di perpus!" jawab Yora dengan lantang.
"Ohh, di perpus. Bilang kek dari tadi bikin lama aja," kata Dewa seraya pergi meninggalkan Yora.
Sebenernya Yora tidak berniat untuk memberitahu keberadaan Jasmine pada Dewa tapi apa daya, Yora sangat takut pada Dewa jadi Yora terpaksa memberitahu Dewa dimana Jasmine berada karena tidak ingin Dewa melakukan hal gila padanya.
☁️☁️☁️
Sebelum Dewa melangkah ke perpustakaan untuk menemui Jasmine, terlebih dahulu Dewa membeli 2 kaleng minuman dingin untuk ia minum dan satunya ia berikan pada Jasmine, siapa tau sehabis membaca buku, Jasmine menjadi haus.
Murid-murid yang ada di perpustakaan pun sontak keheranan saat seorang Sadewa Biantara, anak yang terkenal dengan kebiang rusuhnya mau masuk ke dalam perpustakaan yang tidak ada dalam kamusnya.
"Apa lu semua ngeliatin gua? Belom pernah liat orang ganteng masuk perpustakaan?" tanya Dewa kepada semua murid yang melihatnya dengan tatapan aneh. Mendapat pertanyaan itu dari Dewa semua murid pun serentak menggeleng dan kembali melanjutkan membaca buku mereka masing-masing.
Dewa segera mencari dimana keberadaan Jasmine sampai matanya menangkap seorang gadis yang tengah terlelap tidur dengan tangannya sebagai bantal di atas meja sementara bukunya bertenger manis di sampingnya. Bukanya ke perpus buat baca buku malah tidur ya bocah. 🤓🤓
Dewa menghampiri gadis yang ia yakini adalah Jasmine. Kemudian duduk di sebelahnya seraya menaruh 2 kaleng minuman yang ia bawa di atas meja. Tak sadar Dewa juga menidurkan kepalanya ke arah Jasmine dengan tangannya ia jadikan sebagai bantal.
Dewa menyelipkan rambut yang menutupi wajah cantik Jasmine ke belakang telinga gadis itu, jika seperti ini tidak ada halangan untuknya bisa berlama-lama menatap wajah cantik nan manis jasmine karena pasti dalam dunia nyata Jasmine sudah menunduk atau malah menghindar dari tatapannya, Dewa sendiri bingung walaupun Jasmine sedang tertidur entah mengapa tetap saja akan terlihat cantik dimatanya.
Sedang asik asiknya menelusuri khayalannya ketika menatap wajah teduh jasmine tiba- tiba saja Jasmine membuka matanya perlahan dan terbangun. Jasmine pun terkejut ketika wajah Dewa yang ia lihat pertama kali.
"Pasti ini cuma mimpi, gak mungkin aku bangun terus ada Dewa di sebelah aku sambil ngeliatin aku gini. Pasti ini gara gara aku sering mikirin dia makanya bayangannya Dewa jadi halusinasi aku," batin Jasmine yang masih berada di posisinya sebelumnya.
"Udah tidurnya? Kamu capek ya sampe pules gitu tidurnya padahal lagi baca buku," tanya Dewa yang menormalkan posisi duduknya.
Jasmine merasa dirinya sudah gila jika ia mendengar bayangan Dewa dapat berbicara. Jasmine pun memegang pipi Dewa dengan kedua tangannya untuk memastikan jika yang ada di hadapannya kini bukanlah halusinasinya.
"Aaaa... demi apa Jasmine megang pipi gua?" batin Dewa yang sudah kesenengan kayak ikan mujair yang klepek-klepek.
Tapi kebahagiaannya berakhir ketika Jasmine tiba-tiba menampar pipinya dengan kedua tangannya.
"Aaaa!!" teriak Dewa yang membuat seisi ruangan menoleh padanya.
Jasmine pun terkejut saat Dewa kesakitan terkena tamparannya. Notabennya jika Dewa adalah halusinasinya tak mungkin Dewa akan berteriak dan jika Dewa teriak berarti....
"Kamu beneran Dewa?" tanya Jasmine dengan wajah polosnya.
"Ya beneran lah masa boong. Kenapa sih pake tampar-tampar segala? Sakit tau," rancau Dewa sambil mengelus kedua pipinya yang ditampar Jasmine.
Jika bukan Jasmine yang menamparnya sudah sangat dipastikan sudah dari tadi Dewa melayangkan bogemannya. Seumur umur belum pernah ada yang berani menamparnya seperti ini dan seumur umur belum pernah Dewa selemah ini hanya karena seorang perempuan.
"Untung cinta," gumam Dewa menatap Jasmine sambil mengusap kedua pipinya yang memerah.
"Maaf ya Dewa, aku bener-bener gak sengaja nampar kamu karena tadi aku kira kamu cuma halusinasi yang ada fikiran aku aja."
"Jasmine bilang dia nampar gua karena dia kira gua cuma bayangan dia aja, berarti Jasmine sering mikirin gua dong sampe kebayang-bayang wajah gua gitu? Aseek!! Ternyata bukan cuma gua yang selama ini mikirin dia tapi dia juga sama mikirin gua," batin Dewa bersorak gembira.
__ADS_1
"Jadi kamu sering mikirin aku sampe kebayang bayang aku gitu?" tanya Dewa dengan senyuman pepsodentnya.
Waduh!! Kayaknya Jasmine sudah secara tak langsung mengatakan bahwa ia sering memikirkan Dewa nih 😂😂😂
Untuk menghindari pertanyaan Dewa, Jasmine pun memilih untuk langsung membereskan buku bukunya dan bergegas pergi.
"Kayaknya aku lupa kalo ada PR yang belum aku kerjain. Yaudah aku permisi ke kelas dulu, ya," pamit Jasmine seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Kok malah pergi? Jasmine ... Jasmine tunggu!"
Setelah mengambil kaleng minumannya di meja dengan langkah seribu Dewa langsung segera mengejar Jasmine, Dewa berhasil menahan lengan Jasmine untuk kembali berbalik padanya.
"Apa lagi!?" Karena rasa malunya pada Dewa Jasmine sampai tak sadar jika ia sudah berbicara dengan nada tinggi sampai membuat Dewa terkejut.
Tetapi bukannya marah, Dewa malah memberikan kaleng minuman yang sudah ia bawa dari tadi pada Jasmine, sekilas Jasmine menatap kaleng minuman yang Dewa sodorkan padanya.
"Tadi aku fikir kamu haus habis baca buku makanya aku beliin ini buat kamu. Diminum, ya?"
Terbesit rasa bersalah ketika Jasmine tadi sudah berbicara dengan nada yang tak enak pada Dewa padahal Dewa hanya ingin memberinya minuman ini.
"Makasih," jawab Jasmine menerima kaleng minuman itu dan berlalu pergi.
Dewa menatap punggung Jasmine yang mulai pergi menjauh darinya. Ternyata tak semudah itu membuat Jasmine luluh tapi sampai kapanpun Dewa bertekad tidak akan menyerah membuat Jasmine menjadi miliknya.
☁️☁️☁️
Jasmine agaknya harus sedikit berlari untuk sampai di kelas sesekali Jasmine menoleh ke belakang karena siapa tau jika Dewa akan mengejarnya.
"Kamu kenapa sih Jasmine lari-lari kea dikejar-kejar setan aja?" tanya Yora saat Jasmine sudah duduk di sebelah kursinya.
"Gawat Yora!"
"Tadi pas di Perpus aku ketiduran dan pas aku bangun tiba-tiba aja Dewa udah ada di samping aku," ucap Jasmine yang membuat perubahan raut wajah pada Yora.
"Iyaa, tadi Dewa dateng ke kelas buat nyari kamu tapi kamunya gak ada terus dia nanya sama aku, kamu dimana ya terpaksa aku kasih tau kalo kamu di perpus dari pada aku diapa-apain sama Dewa. Maafin aku, ya."
"Tapi Yora, ada yang lebih parah dari itu. Aku gak sengaja nampar dia," ucap Jasmine dengan berbisik.
"Apa!!?? Kamu nampar seorang Sadewa?" Jasmine pun langsung membekap mulut Yora yang bersuara keras menyebutkan nama Dewa yang membuat murid lain menoleh ke arah mereka berdua.
"Jangan keras keras Yora."
"Iya-iya maaf, kamu bisa dalam masalah tau gak gara-gara nampar Dewa."
"Aku gak sengaja nampar dia Yora, lagian aku kira dia itu cuma halusinasi yang ada di pikiran aku aja eh gak taunya itu beneran Dewa," ucap Jasmine.
"Halusinasi? Berarti kamu sering mikirin Dewa? Apa jangan jangan kamu suka ya sama Dewa?"
****** aja Jasmine! Keceplosan lagi kan bisa gawat kalo Yora tau jika ia memamg sering memikirkan Dewa.
"Enggak!! Aku gak pernah mikirin dia aplagi suka sama dia lagian tadi cuma kebetulan aja aku mikirin dia," jawab Jasmine berbohong.
"Dia marah sama kamu?" tanya Yora yang Jasmine jawab dengan gelengan.
"Dia malah ngasih kaleng minuman ini sama aku," ucap Jasmine menunjukan keleng pemberian Dewa.
"Kok bisa ya, Dewa gak marah setelah kamu tampar padahal pas aku gak sengaja nyentuh badannya aja aku udah dimarahin abis-abisan. Apa dia beneran suka ya sama kamu?"
"Mana aku tau Yora."
"Tapi kamu beneran gak suka sama Dewa?"
__ADS_1
"Enggak!! Gak usah bahas dia lagi deh aku pusing, mending aku ngerjain PR Biologi aja yang belum aku selesain abis istirahat kan pelajarannya?" tanya Jasmine mengeluarkan bukunya.
Jasmine menghela nafasnya ketika ia berhasil menghindari pertanyaan Yora yang semakin lama semakin menyudutkannya.
"Huftt."
☁️☁️☁️
Saat pelajaran terakhir yaitu Biologi entah kenapa rasanya Jasmine masih mengantuk walaupun sudah tidur di perpus tadi. Sekali saja menutup mata maka dapat Jasmine pastikan jika ia akan langsung tertidur pulas. Tadi saja saat di perpus ia sampai bisa ketiduran seperti itu jangan sampe dipelajaran Bu Sekar yang terkenal galak ia ketiduran juga.
"Kamu ngantuk Jasmine?" tanya Yora
"Iya, aku masih ngantuk banget pasti ini gara-gara aku gak bisa tidur semalam."
"Yaudah mendingan kamu ke toilet buat basuh wajah kamu siapa tau kamu bisa lebih seger. Udah sana, kalo kamu ketauan tidur sama Bu Sekar bisa kena hukum nanti," bisik Yora di samping Jasmine.
"Yaudah deh aku ke toilet dulu."
Jasmine pun pergi ke toilet tanpa ditemani Yora, saat selesai membasuh wajahnya dan sudah merasa jauh lebih segar, Jasmine pun beranjak untuk kembali ke kelas namun saat di pintu keluar toilet tiba tiba saja ada 2 orang perempuan yang menghalanginya untuk lewat dan yang pasti Jasmine tidak mengenal siapa mereka. Namun dapat Jasmine ingat bahwa mereka adalah teman satu geng Dewa yang saat itu ia lihat bersama Yora di kantin. Siapa lagi jika bukan Cika dan Jeni.
"Permisi aku mau lewat." ucap Jasmine
"Eitss tunggu-tunggu! Lu yang namanya Jasmine?" tanya Cika dengan nada sombong.
"Iya, kalian kenal sama aku sebelumnya?" tanya Jasmine.
"Kita kenal sama lu? Gak mungkin lah dan gak akan pernah mungkin lu tuh beda level sama kita," timpal Jeni.
"Kalo lu belum tau gua, gua Cika, pacarnya Dewa," ucap Cika menekankan kata "pacarnya Dewa" pada Jasmine.
"Gua Jeni, temennya Cika sama Dewa."
"jadi langsung to the point aja ya gua ingetin sama lu, jangan sok kecakepan deh di depan Dewa. Asal lu tau gua aja jijik liat lu apalagi Dewa. Jadi jangan pernah berharap buat Dewa bisa suka sama lu karena itu gak akan mungkin terjadi, karena apa? Dewa itu cuma milik gua!" cercah Cika sambil menunjuk wajah Jasmine.
"Apa yang Cika bilang itu bener, jadi jangan kepedean kalo Dewa itu emang beneran suka sama lu. Kalo lu mau tau kenapa Dewa baik sama lu, itu cuma balas budi dia aja karena lu pernah nolongin dia waktu itu gak lebih." sambung Jeni.
"Makanya selagi masih awal gua ingetin aja sama lu jangan berharap lebih sama Dewa, lu harusnya sadar diri lu itu siapa, lu sama Dewa itu bagaikan air dan minyak yang gak akan pernah bisa bersatu," ucap Cika yang menohok.
"Asal kalian tau, yang pertama aku gak pernah sekalipun berniat buat sok kecakepan di depan Dewa karena aku juga sadar aku gak akan mungkin sebanding sama Dewa. Dan yang kedua, kalo Dewa emang sayang sama kamu dan nganggap kamu pacarnya dia gak bakalan mungkin deketin cewek manapun termasuk aku."
"Ohh, jadi lu fikir Dewa gak sayang gitu sama gua makanya Dewa ngedeketin lu?" tanya Cika dengan wajah yang memerah karena menahan amarahnya.
"Itu pemikiran kamu sendiri, aku gak pernah bilang seperti itu. Kalo kamu emang sayang sama Dewa kamu harus belajar percaya sama dia, dan kalo kamu merasa aku ini mengganggu dalam hubungan kalian, kamu tenang aja aku bakalan ngejauh dari Dewa. Puas!?"
Cika terdiam seperti kehabisan kata kata sedangkan Jeni hanya dapat memandang Jasmine dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kalo kalian udah gak ada urusan sama aku, aku mau kembali ke kelas. Permisi!"
Jasmine harus sedikit mendorong tubuh mereka berdua agar mereka dapat menyingkir dari jalannya.
"Dasar cewe belagu!" caci Cika saat Jasmine melangkah pergi.
Rasanya Jasmine sudah tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tumpah, jika Dewa sudah mempunyai pacar lalu untuk apa Dewa mendekatinya? Dan apa benar semua kebaikan Dewa hanya sekedar untuk balas budi padanya?
Entahlah rasanya semua semakin rumit Jasmine hadapi. Harusnya ia sadar dari awal jika tidak seharusnya perasaan ini ada.
☁️ Sadewa Biantara BAB 11 ☁️
__ADS_1