
Setelah pulang dari rumah Jasmine Dewa malah mengurung dirinya di kamar. Dewa terus bertanya-tanya dalam hatinya, apakah sekarang Jasmine sudah membencinya? Apa sudah tidak ada lagi kesempatan untuk dirinya dapat bersama Jasmine? Dewa begitu merutuki nasib buruknya ketika dirinya sudah menemukan orang yang tepat untuk dicintainya namun malah harus serumit ini perjalanan cintanya.
Sekarang hanya derasnya hujan serta suara petir yang bergemuruh yang menjadi satu-satunya teman yang menemani Dewa dalam merasakan kesedihannya.
"Den Dewa... ayo makan dulu. Dari tadi pulang kan, Den Dewa belum makan," ujar Bibi sambil mengetuk pintu kamar Dewa yang dikunci.
Dewa sepertinya tidak nafsu untuk makan dalam keadaan seperti ini, lebih baik ia tidak usah menjawab panggilan Bibi, agar Bibi mengiranya sudah tertidur.
"Kok tumben sih den Dewa pintunya dikunci? Masa iya, Den Dewa udah tidur jam segini?" tanya Bibi pada dirinya sendiri dari luar pintu kamar Dewa.
"Yaudah, kalo Aden lapar makanannya Bibi taruh di meja makan ya, Den?" tanya Bibi yang masih tak ada jawaban dari Dewa.
Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Dewa, Bibi pun akhirnya pasrah dan beranjak pergi meninggalkan kamar Dewa.
☁️☁️☁️
Keesokan harinya, Dewa segera menghampiri papan mading karena ingin memastikan apa benar yang dikatakan Jasmine tentang semua kasusnya. Dan ternyata memang begitu adanya jika pihak sekolah memasang foto dirinya di mading beserta semua kasus yang pernah ia lakukan sebagai contoh murid yang tidak patut untuk ditiru.
Dewa pun langsung merobek kertas yang berisikan foto dan juga semua kasus dirinya, mungkin ini salah satunya yang membuat Jasmine jadi membenci dirinya. Semua siswa yang sedang berada disana untuk melihat papan mading pun langsung menatap nanar Dewa.
"Ngapain lu semua ngeliatin gua, mau gua hajar?!" tanya Dewa yang sudah mengepalkan tangannya.
"Kabur kabur!!" seru salah satu dari mereka yang sontak membuat semua yang ada disitu berlari ketakutan melihat kemarahan Dewa.
"Aaaaaaa!! Begooo!!!! "teriak Dewa meninju papan mading itu dengan tangannya.
Dewa menyesal karena tidak tau dari awal jika foto dan semua kasusnya ternyata terpajang manis di mading. Mungkin ini juga salahnya yang tidak pernah tau apalagi mau tau isi dari mading yang menurutnya hanya penuh dengan puisi dan juga cerita-cerita alay. Bahkan disaat ada informasi penting di mading pun, Dewa tidak pernah mau mencari tau karena pasti dirinya akan tau dengan sendirinya dari anak-anak yang lain.
Dewa pun langsung bergegas menuju kelas Jasmine namun langkahnya terhenti ketika tak sengaja bertemu.dan berpapasan dengan Caka, Cika, Bimo dan juga Jeni di koridor dari berlawanan arah.
"Dewa, tangan kamu kenapa?" tanya Cika yang melihat tangan Dewa yang memerah.
Tatapan mata Dewa terus menatap nilik wajah Bimo yang terlihat belagu. Jika mengingat Bimo yang telah menghina Jasmine seenaknya kemarin malam membuat emosi Dewa kembali tersulut. Namun sebisa mungkin Dewa menahannya karena Dewa sendiri tak ingin kasusnya akan bertambah lagi karena berkelahi dengan sahabatnya sendiri.
"Gua lagi gak mau diganggu jadi mendingan lu pergi Cik," ucap Dewa.
"Tapi Dewa__"
"Pergi!!" bentak Dewa pada Cika.
"Ehh! Lu bisa biasa aja gak sama Cika?! Bener-bener ngajak ribut ya, lu!" Dewa hanya bisa tersenyum samar ketika Bimo malah kembali memancing emosinya.
Caka dan Jeni yang ada di samping Bimo pun menahan tubuh Bimo agar tidak menyerang Dewa dengan pukulannya.
"Udah Bim!!" tegur Caka.
"Gua gak terima Cak, dia ngebentak Cika kayak gitu. Emang dasar gak tau terima kasih noh temen lu, udah di perhatiin malah ngelunjak" ucap Bimo dengan sarkastik.
"Bimo udah!! Gak usah nyudutin Dewa kayak gitu" bela Cika pada Dewa.
Dari pada harus berlama-lama melihat wajah Bimo yang ia rasa sudah seperti musuh, Dewa lebih memilih untuk kembali melangkah pergi meninggalkan seluruh kekacauan yang ada pada sahabatnya.
"Belain aja terus Cik, belain terus orang yang gak pernah nganggap lu ada!" seru Bimo lalu beranjak pergi.
.
.
.
Dewa pun melangkah memasuki kelas Jasmine tapi matanya sama sekali tak menangkap dimana Jasmine berada bahkan kursinya terlihat kosong. Saat Dewa menanyakan keberadaa Jasmine pada Yora, nyatanya Yora memberitahunya bahwasannya hari ini Jasmine tidak masuk sekolah.
"Jasmine kenapa gak masuk, apa dia sakit?" tanya Dewa.
"Aku juga kurang tau, soalnya tadi pagi Jasmine gak ngabarin aku sama sekali kalo dia ternyata gak masuk," jawab Yora sambil menunduk.
''Ck!"
☁️☁️☁️
Sepulang sekolah, Dewa tak sengaja melihat seorang Ibu paruh baya yang sedang mencoba mempertahankan tasnya yang dijambret oleh 2 orang preman. Tanpa berlama-lama Dewa pun langsung turun dari motornya untuk menolong Ibu itu.
Satu serangan membuat Dewa berhasil menendang kedua tubuh preman itu hingga terjengkang ke tanah.
__ADS_1
"Heh anak kecil!! gak usah ikut campur lu sama urusan kita!" ucap preman itu dengan raut wajah marahnya.
"Kalo berani jangan sama Ibu-ibu doang, sini lawan gua!" seru Dewa mengepalkan tangannya yang bersiap untuk mendapat serangan.
"Wah, nantangin lu!!"
"Sikat Bro!"
Pertarungan berlalu sengit kala itu, walaupun Dewa mendapat beberapa pukulan namun tak membuat Dewa menyerah begitu saja. Dewa harus segera kembali bangkit dan membuktikan bahwa dia lebih hebat dari pada kedua preman jelek itu.
"Cuma segitu doang bisa lu?! Ayo sini hajar gua lagi," tantang Dewa dengan senyum devilnya.
Kedua preman itu kembali menyerang Dewa secara bersamaan tetapi Dewa berhasil memegang kedua tangan mereka dan mempelintirnya sekuat mungkin.
"Aaa!! Ampun sakit-sakit!!" kedua preman itu meringis kesakitan ketika Dewa mempelintir tangan mereka.
"Makanya jangan beraninya sama Ibu-ibu doang lu berdua, giliran diginiin minta ampun dah," jawab Dewa.
"Iya, gua janji gak akan ngejambret lagi apalagi sama Ibu-ibu."
"Gua juga, udah dong lepasin sakit nih."
"Bagus kalo lu berdua mau tobat."
Pertarungan pun selesai ketika Dewa mejulurkan kakinya untuk menendang bokong mereka hingga terguling ke tanah.
Tapi belum sempat preman itu pergi Dewa malah langsung berbalik badan untuk menghampiri Ibu-ibu itu.
"Ibu gapapa kan?"
"Ibu gapapa kok nak."
Dan alhasil kedua preman itu pun kembali menyerang dengan menendang punggung Dewa hingga terjatuh membentur aspal jalanan. Suasana semakin horor ketika salah satu dari mereka mengeluarkan sebilah pisau dari saku celananya lalu mengarahkannya ke arah Dewa.
"Awas nak!" teriak Ibu itu.
Dewa pun dengan sergap menahan pisau yang ingin preman itu tusukan padanya namun sayang pisau itu berhasil melukai pergelangan tangannya hingga mengeluarkan banyak darah.
Ibu itu pun berlari mencari bantuan untuk menolong Dewa, dan disaat Dewa sudah tidak bertenaga untuk melawan kedua preman itu, Ibu itu kembali datang dengan membawa sebuah balok kayu yang langsung dipukulkan ke arah 2 preman itu.
"Kabur kabur!!" titah salah satu dari mereka sambil pergi menaiki motor yang mereka bawa.
Setelah yakin jika kedua preman itu sudah pergi dan tak kembali, Ibu itu pun langsung membantu Dewa untuk bisa berdiri.
"Maafin Ibu ya? Gara-gara Ibu, kamu jadi babak belur gini. Mana tangan kamu berdarah lagi," ucap Ibu itu memegang tangan Dewa.
"Gapapa kok bu, kalo soal luka mah udah biasa. Nanti juga sembuh sendiri," jawab Dewa dengan senyuman.
"Ibu obatin ya di rumah ibu, kamu mau kan? Anggap aja sebagai balas budi Ibu sama kamu," tanya Ibu itu.
"Gak usah Bu, saya bisa kok ngobatin diri saya sendiri di rumah. Ibu sendiri kenapa sendirian disini?"
"Tadi Ibu abis dari arisan temen terus minta jemput disini sama supir, tapi tas Ibu malah dijambret. Untung aja ada kamu jadi Ibu sama tas Ibu selamat. Coba kalo gak ada kamu, gak tau lagi nasib Ibu akan kayak gimana nantinya," jelas Ibu itu tersenyum.
Jika Dewa perhatikan senyuman Ibu itu seperti mengingatkannya kepada seseorang, yaitu senyuman Jasmine yang begitu manis.
"Yaudah saya tungguin Ibu dijemput disini, soalnya saya takut preman jahat tadi balik lagi buat nyakitin Ibu," ucap Dewa.
"Terima Kasih ya nak, kamu baik sekali sama Ibu."
"Sama-sama, Bu."
Tak selang berapa lama, mobil yang Dewa yakini adalah mobil jemputan ibu itu pun akhirnya berhenti tepat di depan Ibu itu.
"Mobil jemputan Ibu udah datang, sekali lagi terima kasih ya karena kamu udah mau bantu Ibu tadi dan maaf kalo Ibu udah buat kamu terluka seperti ini."
"Saya juga seneng bisa bantu Ibu jadi Ibu gak usah merasa bersalah sama saya," ucap Dewa memberikan senyum terbaiknya.
Kemudian Ibu itu pun pergi setelah masuk ke dalam mobilnya, walaupun tangannya terasa perih tapi setidaknya Dewa masih bisa berbuat baik dan bermanfaat untuk orang lain walau Dewa di cap sebagai anak biang rusuh di sekolah.
☁️☁️☁️
Setelah sampai di rumah, Dewa langsung mengobati luka di lengannya yang terbeset cukup lebar karena pisau kedua preman jelek itu.
__ADS_1
"Den Dewa... ayo makan malam dulu, Ibu sama Bapak udah nungguin Aden loh di meja makan," ucap Bibi seraya mengetuk pintu kamar Dewa.
Ketika Dewa membuka pintu kamarnya, Bibi sontak terkejud karena melihat Dewa dengan keadaan babak belur seperti ini.
"Den Dewa kenapa? Aden berantem lagi, ya?" tanya Bibi mengusap lembut pipi Dewa.
"Dewa gak berantem kok Bi, tadi pas pulang sekolah Dewa nolongin Ibu-ibu yang lagi dijambret sama 2 preman," jawab Dewa.
"Tapi tangannya Aden luka, nanti bibi obatin, ya?" ucap Bibi yang Dewa angguki.
"Yaudah Den Dewa cepet turun ke bawah, udah ditunggu Ibu sama Bapak soalnya," ucap Bibi tersenyum.
"Pasti mereka ada maunya kalo ngajakin Dewa makan kea gini. Bilang sama mereka kalo Dewa gak akan mau lagi makan bareng sama mereka," jawab Dewa dengan kesal.
"Aden gak boleh gitu, mau gimana pun kan mereka tetap orang tuanya Aden. Lagian gak baik loh nolak perintah orang tua nanti Aden mau jadi anak durhaka terus dikutuk jadi batu?"
"Ihh! apa sih Bibi, emang aku malin kundang apa pake dikutuk jadi batu segala. Yaudah nanti aku ke bawah, Bibi duluan aja."
"Yaudah Bibi ke bawah, janji ya Aden bakal turun., ucap Bibi.
"Iya Bibi ku sayang," jawab Dewa dengan penuh tekanan ditiap katanya.
Mengingat janjinya pada Bibi membuat Dewa mau tak mau akhirnya turun dari kamarnya menuju meja makan. Dewa sudah dapat menduga bagaimana reaksi kedua orang tuanya setelah melihatnya babak belur seperti ini.
"Dewa, Kamu kenapa kok babak belur kayak gini?'' tanya Mamah yang sama sekali tak Dewa hiraukan.
"Berantem lagi kamu?" tanya Papah pada Dewa. "Kamu ini mau jadi berandalan atau apa? Tiap hari kerjaanya cari masalah terus!"
"Udah dong Pah, kasian Dewa dimarahin terus," bela mamah menatap raut wajah Dewa yang mulai kesal.
"Ngapain anak kayak gini kamu kasianin, Dewa ini kerjaanya kalo gak berantem ya buat masalah. Papah mau tanya sama kamu Dewa, sebenernya kamu ini bisanya apa sih selain cari masalah??" tanya Papah dengak ketus.
"Kalo Papah ngajak aku makan cuma mau ngehina aku tanpa mau tau yang sebenernya terjadi mendingan gak usah Pah," ucap Dewa seraya beranjak dari kursinya.
"Dewa, duduk kamu!! Duduk Papah bilang!"
Dengan perasaan yang berkabut amarah, Dewa pun menuruti perintah Papahnya untuk kembali duduk walaupun rasanya kakinya sudah tidak betah lagi memijak lantai yang sama dengan mereka berdua.
"Papah mau ngejodohin kamu sama anaknya rekan bisnis Papah," ujar Papah saat Dewa kembali pada posisi duduknya.
"Apa!! Dijodohin?? Dewa gak suka, ya Papah ngejodohin Dewa seenaknya gitu aja. Pokoknya sampai kapanpun Dewa gak akan mau dijodohin!" jawab Dewa yang sudah tersulut emosi.
"Oke gini aja, Papah minta kamu buat ketemu dulu sama anaknya temen Papah itu karena Papah juga udah terlanjur janji mau mempertemukan kamu sama anaknya. Kalo kamu emang gak suka sama orangnya, kamu bisa nolak saat itu juga," ungkap Papah.
"Apasih alasan Papah mau ngejodohin Dewa? Dewa bukan anak kecil Pah yang kalo butuh mainan harus dicariin orang tuanya. Dewa punya jalan hidup Dewa sendiri termasuk Dewa berhak memilih gadis mana yang Dewa cinta."
"Dewa ... Papah ngejodohin kamu juga bukan tanpa alasan nak, itu semua Papah kamu lakukan karena amanat orang tua gadis itu. mereka mau hidup dan tinggal di Amerika karena mereka punya bisnis disana sedangkan mereka gak bisa mengajak anak gadis mereka yang bersekolah disini makanya mereka meminta kamu untuk menjaga anaknya selama mereka pergi jauh," timpal Mamah dengan lembut agar Dewa bisa mengerti.
Dewa tidak mungkin menerima perjodohan ini karena di hatinya hanya terukir nama Jasmine, jika nanti Dewa menikah dengan gadis pilihan Papahnya belum tentu juga Dewa akan bisa mencintai gadis itu seperti ia mencintai Jasmine.
"Pokoknya besok kamu harus ketemu sama anaknya temen Papah. Papah gak menerima bantahan dari kamu atau semua fasilitas kamu Papah cabut?" ancam Papah pada Dewa.
"Ck! Dasar egois!!'' tanpa basa-basi lagi Dewa pun langsung beranjak dari meja makannya dan berlari ke arah tangga kamarnya.
"Dewa, kamu belum makan nak," panggil Mamah.
"Gak nafsu!!" jawab Dewa tanpa menoleh kearah Mamahnya.
☁️☁️☁️
Saat berada di kamarnya, Dewa berusaha menghubungi nomor Jasmine yang Dewa dapat dari Yora di sekolah tadi, walaupun tertulis jelas bahwa panggilannya berdering namun kenapa Jasmine tak mau juga mengangkat telfon darinya.
"Ayo Jasmine, angkat telfon aku," mohon Dewa sambil menatap layar ponselnya.
Dewa yang emosi karena Jasmine tak kunjung mengangkat telfonnya pun langsung membanting ponselnya ke lantai. Dewa mengacak kasar rambutnya sebagai tanda bahwa Dewa benar benar sangat frustasi dengan semua masalah yang ia hadapi sekarang. Belum juga cinta berlayar bersama Jasmine namun harus kandas tenggelam karena perjodohan sial ini.
"Den Dewa, Aden gak kenapa-napa kan?" tanya Bibi dari luar pintu kamar Dewa setelah mendengar suara bantingan keras dari kamar Dewa.
"Pergi Bi!! Biarin Dewa sendiri!" jawab Dewa dari dalam kamarnya.
"Den, Bibi obatin, ya lukanya biar gak infeksi," bujuk Bibi.
"Gak!! Aku bilang pergi ya, pergi!!" ucap Dewa kembali membanting pot bunga yang ada di samping mejanya.
__ADS_1
Bi Ayu pun pergi meninggalkan kamar Dewa setelah itu karena Bi Ayu sadar jika Dewa butuh waktu sendiri untuk menerima semua kenyataan pahit ini. Dijodohkan secara tiba-tiba dengan gadis yang tak dikenalnya mungkin membuat Dewa begitu frustasi.
☁️ Sadewa Biantara BAB 13 ☁️