SADEWA BIANTARA

SADEWA BIANTARA
BAB 12 Kenyataan Sesungguhnya


__ADS_3

Setelah pulang sekolah, Dewa dan keempat sahabatnya pun menyempatkan diri untuk ngumpul di cafe tempat biasa mereka nongkrong karena sudah lama juga mereka tidak kumpul bersama seperti ini.


Tapi disaat yang lain asik minum, Dewa malah asik dengan dunia nya sendiri di dalam lamunannya padahal jika soal minum- meminum Dewa yang paling gercep menghabisinya.


"Dewa, lu gak mau?" tawar Caka memberikan gelas berisi akohol pada Dewa.


"Enggak deh gua lagi gak nafsu," jawab Dewa.


"Tumben banget lu gak mau, lagi ada masalah? Kalo ada masalah lu bisa cerita kan ke gua," ujar Cika yang langsung mendekati Dewa.


"Enggak, gua baik-baik aja. Emang cuma lagi gak mau aja," jawab Dewa simple.


Cika fokus melihat kedua pipi Dewa yang memerah, Dewa pun tersentak ketika Cika tiba-tiba memegang kedua pipinya.


"Pipi lu ini kenapa, kok merah gini?" tanya Cika yang terperangah melihat kedua pipi Dewa yang memerah.


"Paling abis berantem," sambung Bimo ketus.


"Gapapa. Cuma abis ditampar Jasmine aja tadi di sekolah," ucap Dewa berusaha melepaskan tangan Cika dari pipinya.


"Apa!! Lu ditampar Jasmine? Berani banget cewek belagu itu nampar lu. Pokoknya lu tenang aja biar besok gua yang kasih pelajaran sama dia," ujar Cika.


"Apaan si Cik, gak usah lebay deh. Gua gapapa kok lagian kalo Jasmine yang nampar, gua juga gak bakalan marah karena gua anggap ini tamparan cinta dia buat gua."


"Lu tuh dibelain Cika karena Cika sayang sama lu tapi lu nya malah lebih ngebela cewek gak jelas itu. Lagian gua bingung sama lu, cewek cupu kea gitu lu demenin sadar dong, Bro!" Cercah Bimo menatap tajam Dewa, karena sejujurnya Bimo tak terima Cika diketuskan apalagi cuma karena Dewa membela Jasmine.


Cika dan yang lainnya pun kaget ketika Dewa berdiri dari kursinya dan menggebrak meja dengan kasar.


"Jaga omongan lu ya Bim, lu gak tau apa-apa soal Jasmine jadi mending lu gak usah banyak bacot apalagi sampe ngatain dia. Kalo sekali lagi gua denger lu atau yang lain ngehina Jasmine, gua yang bakal maju pertama kali buat ngehajar orang itu meskipun orang itu sahabat gua sendiri." Dewa sepertinya tidak main-main dengan ucapannya terlihat Dewa yang sangat tidak terima jika Jasmine dihina.


"Sabar Dewa," Cika mencoba menahan tubuh Dewa untuk tidak mendekat ke arah Bimo karena Cika takut jika Dewa akan hilang kendali dan berakhir baku hantam dengan Bimo di tempat ini.


"Ohh, gua ngerti. Jadi sekarang lu lebih milih ngebelain cewek aneh itu dari pada gua sahabat lu sendiri? Oke, gua keanya tau kalo lu emang udah kena peletnya dia sampe lu jadi pemujanya banget." Tak kapok Bimo terus membuat emosi Dewa semakin memuncak


Dewa dan Bimo pun saling menarik diri untuk sama-sama berkelahi sampai Caka, Cika dan Jeni pun tidak sanggup lagi untuk melerai mereka berdua. Akibat dari kegaduhan itu pun pelayan cafe datang dan mencoba memberhentikan Dewa juga Bimo.


"Tolong!! Kalo mau berkelahi jangan disini, ini cafe bukan arena tinju. Kalian ini sudah mengganggu kenyamanan pengunjung yang lainnya, apa kalian mau saya laporkan ke polisi?" ucap pelayan yang ikut memisahkan mereka berdua.


"Maafin temen kita ya Mas, mereka cuma salah paham aja gak perlu dilaporin ke kantor polisi," ujar Caka yang diangguki oleh Jeni dan Cika.


"Bener, ini cuma salah paham aja kok jadi jangan dilaporin ke polisi, ya? Kita janji gak akan lagi buat kegaduhan disini," ucap Jeni memohon.

__ADS_1


Dewa yang sudah muak melihat wajah Bimo yang belagu itu pun langsung mengeluarkan 5 lembar uang 100 ribuan dari dalam dompetnya dan menarunya di atas meja.


"Ini duit buat bayar semuanya, sekalian bayarin temen kalian yang gak bisa jaga omongannya itu," ucap Dewa dan langsung beranjak pergi dari dalam Cafe.


"Woy!!! lu kira gua mau dibayarin sama temen laknat kayak lu! Gak sudi gua, asal lu tau gua bisa lebih kaya dari pada lu!!" teriak Bimo yang tak terima Dewa meremehkannya.


"Bim, lu apa-apaan sih bikin malu aja," tegur Caka yang ada di sampingnya.


"Salahin tuh temen laknat lu yang kepelet sama cewek gak jelas itu," jawab Bimo dengan kasar.


"Dewa, lu mau kemana?? Dewa!!" panggil Cika yang tak ditanggapi Dewa.


☁️☁️☁️


Setelah cabut dari Cafe tepat pada pukul 7 malam, Dewa langsung melajukan motornya menuju rumah namun niatnya harus terhalang ketika melihat seorang gadis yang masih duduk di halte seorang diri dengan masih memakai lengkap seragam sekolahnya. karena penasaran, Dewa pun berhenti tepat di depan gadis itu. Tak Dewa sangka jika ternyata gadis yang ia lihat tadi adalah Jasmine.


"Jasmine?" setelah mengetahui itu adalah Jasmine, Dewa pun langsung turun dari motornya untuk menghampiri Jasmine yang tengah duduk seorang diri.


"Kamu belum pulang?" Jasmine pun menggeser duduknya saat Dewa mendaratkan bokongnya di sampingnya.


Dewa sedikit kecewa ketika Jasmine mengabaikannya dan malah membuang tatapan ke arah lain seperti tak sudi melihatnya. Tanpa basa-basi lagi langsung saja Dewa mengutarakan niat baiknya untuk mengantarkan Jasmine pulang.


"Yaudah aku anter kamu pulang, ya?" Tawar Dewa seraya memegang pundak Jasmine namun langsung ditepis kasar olehnya.


Dewa tidak mengerti kenapa Jasmine jadi berubah ketus seperti ini padanya, karena seingatnya, ia tidak pernah sekalipun berbuat salah apalagi sampai menyakiti Jasmine. Lalu dengan dasar apa Jasmine menjadi berubah dingin seperti ini?


"Jasmine ... percuma kalo kamu nunggu bus sampai malam pun gak akan datang karena batas jam bus sekolah beroperasi itu sampe jam 5 sore dan sekarang udah jam 7 malem," ucap Dewa untuk membuat Jasmine mengerti


"Aku bisa kok jalan kaki asal aku bisa pulang."


"Jasmine, ini udah malem. Aku gak mau kalo sampe ada apa-apa sama kamu di jalan apalagi kamu liat kan, sekarang udah pengen hujan kalo nanti kamu kehujanan di jalan gimana, terus kalo kamu sakit gimana?"


Dewa meruntuki dirinya sendiri yang tidak bisa marah sedikitpun dengan Jasmine padahal sedari tadi Jasmine selalu memancing emosinya. Apa sebegitu besar rasa sayangnya pada Jasmine sehingga ia tak mampu melakukan itu?


Namun kemudian ucapan Dewa menjadi nyata karena tiba tiba saja suara petir langsung bergemuruh dengan kencang, Jasmine yang ternyata sangat takut dengan petir tanpa sadar langsung memeluk Dewa saat itu juga.


"Kamu tenang aja ya, asal kamu mau pulang sama aku pasti semuanya bakalan aman. Kamu gak mau kan disini sendirian apalagi kamu takut sama suara petir," ucap Dewa seraya mengeratkan pelukannya pada Jasmine.


"Iya aku mau pulang sama kamu, aku beneran takut."


"Yaudah kita pulang ya sebelum ujannya deres," ucap Dewa ketika Jasmine sudah melepas pelukannya, sejujurnya Jasmine sedikit kecewa ketika niatnya ingin menjauh dari Dewa namun kenapa waktu seakan tak mendukungnya dan harus memaksanya kembali dekat dengan Dewa.

__ADS_1


Dengan ragu Jasmine pun perlahan tapi pasti menaiki motor Dewa, ini adalah pengalaman pertama kalinya bisa diboncengin oleh seorang Sadewa.


"Pegangan dong nanti kalo kamu jatuh gimana?" tanya Dewa sesaat sebelum melajukan motornya.


"Gapapa aku kayak gini aja," jawab Jasmine.


Namun sepertinya alam sedang berpihak pada Dewa karena tiba tiba saja petir kembali bergemuruh dan membuat Jasmine langsung memeluk Dewa dengan erat bahkan Jasmine menyenderkan kepalanya di punggung Dewa. Satu hal yang Dewa pinta, jika ia sangat ingin waktu bisa berhenti sebentar saja agar ia bisa lebih lama seperti ini bersama Jasmine.


Senyuman yang terukir di wajah Dewa mengisyaratkan jika Dewa bahagia sekarang. Walaupun di sepanjang perjalanan Jasmine terus mengabaikannya namun itu tak lantas membuat Dewa patah semangat, sampai kapanpun Dewa akan selalu menjadi pelindung bagi Jasmine.


☁️☁️☁️


Setelah melewati perjalanan yang panjang dan melelahkan akhirnya Dewa sampai di sebuah perkomplekan dan berhenti di salah satu rumah yang cukup besar menurutnya, jika dilihat dari rumahnya mungkin bisa dibilang Jasmine ini terlahir dari keluarga berada.


"Makasih ya, kamu udah nganterin aku pulang," ucap Jasmine dengan datar saat ia sudah turun dari motor Dewa.


"Gak usah makasih kali, kan sama calon pacar sendiri," jawab Dewa tertawa kecil.


"Aku harap ini pertama dan terakhir kalinya kamu nganterin aku pulang."


"Maksud kamu?" tanya Dewa mencoba mencerna apa yang Jasmine katakan.


"Mulai besok jangan pernah deketin aku lagi, kamu harus hargain pacar kamu. Jangan sampe dia ngira kalo kita ada hubungan. Kalau soal kamu yang selalu baik sama aku karena cuma untuk balas budi aku rasa gak perlu, waktu itu aku ikhlas kok nolongin kamu jadi gak usah sok baik sama aku karena aku tau siapa kamu."


Dewa sungguh tidak mengerti dengan apa yang yang barusan Jasmine katakan, kenapa Jasmine mengatakan jika ia harus menghargai pacarnya padahal sama sekali ia tidak mempunyai pacar lalu apa maksud Jasmine mengatakan jangan sampai pacarnya mengira jika mereka ada hubungan apa apa?


Lalu apa hubungannya dengan balas budi? Dewa baik pada Jasmine karena memang ia tulus sayang dan Cinta dengan Jasmine dari awal, jika ia hanya sekedar balas budi untuk apa ia mencari Jasmine dengan susah payah setelah kejadian itu sampai ia harus berantem dengan Bimo sahabatnya sendiri demi membela Jasmine.


"Selain itu, semua orang juga tau kok siapa kamu sebenernya. Walaupun aku belum lama kenal sama kamu tapi aku tau kamu kan predikat sebagai anak biang rusuh di sekolah? Itu salah satu alasan aku gak mau berteman sama orang yang suka cari masalah plus suka nyakitin orang lain kayak kamu. Aku liat kok dengan mata kepala aku sendiri kamu nyakitin siswa di kantin karena dia cupu dan berkuasa kayak kamu." Lanjut Jasmine tanpa memberi celah untuk Dewa membela dirinya.


"Siapa yang ngasih tau kamu kalo aku__"


"Gak ada yang ngasih tau aku, aku berterima kasih sama pihak sekolah yang udah masang foto kamu dan semua kasus-kasus kamu di papan mading jadi sekarang aku tau aku sedang berhadapan dengan siapa," potong Jasmine saat Dewa ingin berbicara.


"Jasmine dengerin aku dulu." Dewa pun turun dari motornya untuk mengejar dan menahan lengan Jasmine namun langsung ditepis kasar oleh Jasmine.


"Aku mohon jauhin aku, anggap aja kalo kamu sama aku gak pernah kenal sebelumnya!"


Kini Dewa tidak bisa menjawab semua argumen Jasmine yang menurutnya tak semuanya sesuai fakta karena Jasmine langsung segera masuk ke dalam rumahnya dan menutup rapat pagar rumahnya.


"Jasmine, aku cinta sama kamu!!" ucap Dewa dengan lantang sambil terisak dalam tangisnya. Dewa menyalurkan seluruh kekesalannya dengan memukul pagar rumah Jasmine berkali-kali.

__ADS_1


☁️ Sadewa Biantara BAB 12 ☁️


__ADS_2