
Seorang gadis manis yang tengah duduk di halte bus sambil menikmati semilir angin sore pun dikejudkan dengan kehadiran laki-laki yang entah dari mana asalnya yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Siapalagi jika bukan, Dewa.
"Hay," sapa Dewa yang terus memperhatikan gadis yang ada di sampingnya kini.
"Kamu nunggu bus juga?" tanya gadis itu.
"Enggak kok, aku bawa motor," jawab Dewa sambil menunjuk motornya yang bertengger manis di dekat halte.
"Terus ngapain kamu kesini bukanya langsung pulang?"
"Nungguin kamu," jawab Dewa tersenyum.
Gadis itu pun hanya tersenyum malu saat Dewa mengatakan hal itu, rasanya Dewa benar-benar dibuat meleleh dengan senyum memabukan yang gadis itu miliki. Ternyata memang benar jika bidadari tak bersayap itu ada dan nyata bahkan sekarang sosok bidadari itu telah menjelma menjadi sosok gadis manis di dekatnya. #Eaaaa
"Mau aku antar pulang?" tanya Dewa.
"Makasih atas tawarannya tapi aku udah biasa kok naik bus lagian rumah aku jauh dari sini".
"Sejauh apapun kalo sama kamu pasti bakalan terasa deket," ujar Dewa yang beralih menjadi tukang gombal dan hanya direspon dengan senyuman yang bersahabat dari gadis itu.
"Oh iya, kata orang kalo tak kenal maka tak sayang jika tak sayang maka tidak jadian jadi sebelum kita jadian nama kamu siapa?" tanya Dewa mengulurkan tangannya.
Gadis itu benar-benar tertawa karena tingkah lucu Dewa yang ingin mengajaknya berkenalan namun omongannya harus muter kemana-mana.
"Jasmine," tangan Dewa seakan disengat bervolt-volt listrik saat tangan gadis itu membalas uluran tangannya, Dewa rasa sehabis ini ia takkan mencuci tangan nya untuk seminggu kedepan.
"Jasmine, nama yang cantik secantik orangnya," gumam Dewa.
"Kalo nama kamu?"
"Sadewa Biantara panggil aja sayang eh maksudnya panggil aja Dewa hehehe 😂😂".
"Kamu ternyata lucu ya," ucap gadis yang sekarang Dewa tau bernama Jasmine itu.
"Kamu bilang tadi?"
"Kamu lucu".
Entah mengapa saat Jasmine mengatakan jika Dewa adalah orang yang lucu saat itu juga Dewa rasa pasokan oksigennya habis dan menipis. Sebenarnya Dewa sedikit bingung kemana hilangnya image dingin dan coolnya dihadapan gadis-gadis saat bersama Jasmine, kenapa begitu mudahnya ia bisa terbawa perasaan hanya mendapat perkataan yang sederhana dari bibir mungil gadis itu. Apa Dewa sudah gila jika saat ini merasa jantungnya sudah berdetak melebihi ritme kecepatan yang seharusnya?
"Bus nya udah dateng aku pulang dulu ya," Dewa mendesah pasrah ketika kebahagiaanya berniat pergi.
"Hati hati di jalan dan jangan lupa jaga hati kamu baik-baik buat aku," ucap Dewa ketika Jasmine menaiki tangga Bus itu dan menoleh sekejap kearahnya. Lagi dan lagi gadis itu hanya bisa tersenyum pada Dewa sebelum bus itu akhirnya membawa gadis itu pergi dari hadapannya.
Setelah gadis itu menghilang, Dewa kembali menciumi tangannya yang tadi mendapat uluran dari gadis itu saat mengajaknya berkenalam
"Wangi," gumam Dewa sambil terus menciumi tangannya yang membekas wangi gadis itu.
☁️☁️☁️
Dari kamarnya, Dewa terus saja memikirkan gadis yang bernama Jasmine itu. Ini pertama kalinya Dewa merasakan apa itu yang namanya jatuh cinta, Dewa ingin sekali waktu cepat-cepat berlalu agar ia bisa segera pergi ke sekolah besok untuk bertemu dengan Jasmine. Baru kali ini Dewa merasa se-semangat ini ingin pergi ke sekolah karena sepertinya kebahagiaanya seakan datang bersamaan dengan Jasmine yang mulai hadir menghiasi harinya.
__ADS_1
"Jasminee...." Ucap Dewa sambil mengecup bantal gulingnya berkali karena membayangkan wajah Jasmine yang sedang ia hujani dengan kecupan hangat.
"Den Dewa...." Panggil Bibi yang ternyata sudah sedari tadi berdiri melihat tingkah laku konyol Dewa yang menciumi gulingnya.
"Eh Bibi, sejak kapan Bibi disitu?" tanya Dewa yang panik saat aksinya tadi ketauan oleh Bi Ayu.
"Baru kok Den, Bibi kesini karena disuruh Bapak sama Ibu buat manggil Aden katanya Aden diminta buat makan malem bersama," ucap Bibi.
Ada angin apa sampai Papah dan Mamahnya melakukan ini padanya? Pikiran Dewa dipenuhi dengan pertanyaan tentang Papah dan Mamahnya yang tiba-tiba mengajaknya makan malam bersama. Karena biasanya boro-boro mengajak makan bersama, Dewa makan atau tidak saja mereka tidak peduli.
"Kok malah diem sih? udah ditungguin loh" tegur Bibi.
"Iya Bi, nanti Dewa nyusul," jawab Dewa yang langsung menggeser gulingnya ke belakang.
"Yaudah pamit ya Den? " Dewa pun mengangguk dan mengiyakan ucapan Bi Ayu.
Beberapa saat kemudian, Dewa turun dari kamarnya menuju meja makan yang mendapati Papah dan Mamahnya yang masih terduduk manis menunggunya, Dewa segera mengambil tempat duduk yang agak jauh dari mereka supaya tidak terlalu dekat dengan salah satu dari mereka.
"Dewa bingung kenapa Papah sama Mamah ngajak Dewa makan malem kayak gini karena biasanya Dewa udah makan atau belum kalian juga gak ada yang perduli" ucap Dewa dengan raut wajah dinginnya.
"Kamu jangan berfikir seperti itu kan kamu tau Papah sama Mamah itu sibuk ngurusin___"
"Ngurusin perusahaan kalian kan? Dewa udah tau kok jadi gak usah dijelasin lagi," tanpa memberi celah untuk Papahnya berbicara, Dewa langsung saja menyambar perkataan Papahnya yang sudah sangat muak ia dengar berkali-kali.
Makan malam terjadi tanpa obrolan apapun, Dewa hanya merasa canggung dengan suasana seperti ini. Karena sebelumnya moment ini jarang Dewa rasakan mungkin hampir bisa dikatakan tidak pernah lagi. Dewa saja sudah lupa kapan terakhir kali makan bersama seperti ini dengan Papah Mamahnya.
"Dewa, jadi tujuan Papah sama Mamah ngajak kamu makan bersama sebenernya kami mau membicarakan soal penerus perusahaan. Papah dan Mamah mau setelah kamu lulus sekolah, kamu menjadi ahli waris perusahaan kami, lebih bagus jika kamu mau mengurus keduanya karena kamu adalah anak semata wayang kami," ucap Papah dengan tegas.
Dewa sekarang mengerti ternyata ajakan makan malam mereka bukan tanpa alasan, Papah dan Mamahnya mau menjadikannya sebagai penerus perusahaan mereka disaat ia masih duduk di kelas 2 SMA.
"Dewa, kamu itu anak Papah dan Mamah jadi mau tidak mau, suka atau tidak suka, kamu harus tetep menuruti perintah kami!" jawab Papah dengan nada tinggi.
"Seandainya Pah kalo Dewa bisa memutar waktu, Dewa gak akan mau terlahir dari keluarga ini," keduanya tersentak ketika Dewa membanting Sendok dan garpunya keatas piringnya dengan keras lalu kembali berlari ke atas kamarnya.
"Dewa!!! Papah belum selesai berbicara!" teriak Papah menatap geram Dewa.
"Pah, udah dong jangan terlalu keras sama Dewa mungkin Dewa juga belum siap kan?" bela Mamah.
"Belain aja terus anak kamu itu!". Setelah itu pun dengan keadaan emosi, Papah juga langsung beranjak pergi dari meja makannya meninggalkan istrinya itu sendiri.
☁️☁️☁️
Keesokan paginya, Jasmine menaiki bus yang biasa ia naiki menuju sekolah, namun saat bus ingin melaju tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang memberhentikan bus itu di tengah jalan alhasil membuat sang supir mengerem mendandak bus nya dan membuat seluruh penumpang termasuk Jasmine menubruk kursi penumpang di depannya.
Dengan tanpa rasa bersalah laki-laki itu pun langsung saja menaiki bus itu dan berjalan gontai seperti mencari sosok penumpang yang entah siapa. Tapi saat laki-laki itu melihat keberadaan Jasmine, laki-laki yang tak lain adalah Dewa langsung saja mendaratkan pantatnya tepat di samping kursi Jasmine.
Hari ini Dewa memang sengaja berjalan dari rumah pagi pagi sekali menuju halte bus agar bisa berangkat sekolah bersama Jasmine. Namun tadi hampir saja Dewa ketinggalan jika Dewa tidak segera menghadangnya bus itu di jalan. Ketika Dewa sudah berada dalan bus, matanya tak lepas dari semua penumpang yang ia yakini ada Jasmine disalah satu mereka semua dan benar saja, ada Jasmine yang tengah duduk seorang diri di salah satu kursi belakang bus.
"Dewa? '' tanya Jasmine yang terkejut karena Dewa tiba tiba duduk disebelahnya.
"Aku duduk disini bareng kamu ya?" jawaban yang Dewa harapkan pun terkabul, Jasmine hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kok kamu naik bus, emangnya motor kamu kemana?"
Dewa bingung harus menjawab apa pertanyaan Jasmine karena tidak mungkin kan Dewa jujur jika ia menaiki bus hanya untuk bisa berangkat bersama Jasmine dan melancarkan aksinya mendekati Jasmine.
''E-ee i-tu motor aku di- bengkel soalnya ada masalah sama mesinnya, biasalah namanya juga motor tua jadi rusak-rusakan terus," ucap Dewa sambil menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal.
"Motor ninja kamu itu emangnya termasuk motor tua ya?"
"******!! Senjata makan tuan ini mah, lagian yang bener aja lu Dewa, motor begitu lu kata tua," batin Dewa yang terus merutuki kebodohannya sendiri.
"E-ee iya, motornya emang baru tapi mesinnya yang tua gitu maksud aku hehehe," jawab Dewa dengan asal.
"Oohh, gitu ya".
"Iya, hehehe" Dewa hanya cengengesan ketika Jasmine malah percaya dengan semua kebohonganya.
"Hufft... untung aja Jasmine percaya, coba kalo enggak, bisa di cap cowok pembohong gua. Tapi mah yang terpenting kan sekarang gua udah bisa berangkat bareng dia," batin Dewa saat memperhatiakan Jasmine yang tengah asik menatap pemandangan di luar jendela.
"Oh iya, sejak kapan kamu sekolah disitu kayaknya aku baru liat kamu sekarang?'' tanya Dewa yang membuat Jasmine menoleh ke arahnya.
"Aku murid pindahan jadi wajar kalo kamu baru liat aku, baru 2 minggu juga kok aku pindah kesana. Sebelum aku nolongin kamu waktu itu, aku tuh udah sekolah disana," jawab Jasmine.
Jadi Jasmine ini murid pindahan pantas saja Dewa belum pernah lihat Jasmine sebelumnya, tapi kenapa semenjak hari itu Jasmine menghilang jika memang benar mereka sudah satu sekolah sebelum kejadian pengeroyokan itu?
"Kamu tau gak setelah hari dimana kamu nolongin aku, aku tuh selalu nyari kamu dimana-mana bahkan aku selalu nungguin kamu dihalte berharap kamu lagi nunggu bis seperti malam itu, tapi sayang semenjak itu aku gak pernah lagi liat kamu," ungkap Dewa dengan wajah sedihnya.
"Aku minta maaf sama kamu tapi setelah aku nolongin kamu, besoknya aku dapet kabar kalo Nenek aku meninggal makanya aku izin beberapa hari buat gak sekolah karena harus ngurusin penguburan sampai pengajian Nenek. Jadi baru kemarin aku bisa masuk sekolah lagi," jawab Jasmine yang tak sadar sudah mengeluarkan air matanya kala mengingat Neneknya kembali.
"Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, aku bener-bener gak bermaksud buat ngingetin kamu sama Nenek kamu. Kamu jangan nangis lagi ya".
Jasmine pun hanya bisa mematung saat tangan Dewa terulur untuk menghapus air matanya yang terjatuh dari kedua bola matanya.
"Iya gapapa kok," jawab Jasmine yang ikut menghapus air matanya.
"E-ee makasih ya, Dewa".
"Untuk?"
"Kamu udah mau jadi temen aku padahal kan kita baru kenal kemarin".
Dewa sedikit terengah ketika Jasmine hanya menganggapnya seorang teman, mungkin Jasmine tidak akan pernah tau jika Dewa sudah mencintainya sejak malam pertemuan mereka.
"Simpel jawabannya karena aku sayang sama kamu," lagi dan lagi, Jasmine dibuat terkejud dengan perkataan Dewa.
"Maksudnya sayang sebagai teman," Dewa pun buru-buru meralat omongannya ketika melihat Jasmine yang dibuat risih olehnya.
"Aku juga mau bilang makasih karena malam itu kamu udah mau nolongin aku. Mungkin kalo gak ada kamu, aku udah abis sana mereka," ujar Dewa kembali yang mampu membuat Jasmine tersenyum senang.
"Sama-sama, udah seharusnya kan teman itu saling membantu".
Teman? Kenapa juga Dewa harus merasa kesal ketika Jasmine terus menyebut kata "teman" padanya. Apa mungkin suatu saat nanti Jasmine bisa menerima dan menganggapnya lebih dari sekedar teman?
__ADS_1
Entahlah hanya waktu yang bisa menjawabnya.
☁️ Sadewa Biantara BAB 9 ☁️