SADEWA BIANTARA

SADEWA BIANTARA
BAB 3 Hari Sial {1}


__ADS_3

Saking terburu-burunya, Dewa sampai tak menyempatkan sarapan paginya padahal Bi Ayu sudah menyiapkan menu makanan yang banyak di atas meja makan.


Ketika Dewa berlari ke pintu, namun langkahnya harus terhenti ketika Bi Ayu memanggilnya.


"Den Dewa" panggilan Bi Ayu yang membuat Dewa terpaksa harus berhenti dan berbalik arah menghadap Bibi nya itu.


"Kenapa, Bi?''


"Maafin Bibi ya, tadi gak bangunin Aden. Soalnya Bibi lihat, Aden masih nyenyak tidurnya gara-gara semalam Den Dewa pulang larut malam" Dapat Dewa lihat dari raut wajah sedih Bi Ayu yang merasa bersalah karna sudah membuatnya telat.


"Ini semua bukan salahnya Bibi kok, harusnya Mamah yang bangunin Dewa setiap pagi tapi sayangnya Mamah gak pernah ngelakuin hal itu buat Dewa"


Apa yang Dewa katakan memang benar, 24 jam dalam sehari namun jarang sekali Dewa bisa bertatap muka dengan kedua orang tuanya. Seakan waktunya hanya mereka gunakan untuk pekerjaan mereka masing-masing tanpa mereka sadari bukan hanya sebuah pekerjaan yang harus diperhatikan melainkan juga Dewa.


"Semuanya akan berjalan sesuai rencana Tuhan, jadi Den Dewa anggap aja ini adalah skenario yang Tuhan berikan untuk peran utama agar bahagia nantinya" ucap Bi Ayu yang membuat Dewa tersenyum dan melupakan kesedihannya.


"Yaudah, minum dulu susunya. Sayang-sayang kan kalo dianggurin'' Bibi pun mengangkat gelas susu itu sejajar dengan wajah Dewa.


Setelah menenggak habis segelas susu itu, Dewa pun segera berpamitan kepada Bi Ayu untuk bergegas menuju sekolahnya karena Dewa tau guru tak akan mungkin menunda ulangan hanya karena menunggunya.


☁️☁️☁️


Sekarang ini Dewa merupakan anak SMA kelas XI jurusan IPS. Mungkin tidak dapat dipungkiri jika sesungguhnya Dewa adalah anak yang cerdas namun entah mengapa kecerdasannya tertutupi dengan ulahnya yang urakan. Sedari Sekolah Dasar, Dewa sudah mendapat julukan sebagai siswa yang berprestasi, bahkan Dewa selalu menjadi siswa unggulan sekolah untuk mengikuti cerdas cermat yang diadakan tingkat sekolah, kabupaten maupun provinsi dan selalu berhasil keluar menjadi juara pertama.


Itu semua Dewa dapatkan tentunya dengan perjuangan yang melelahkan. Tiap harinya harus belajar siang malam tanpa henti dan mengorbankan masa kecilnya untuk bermain dengan teman sebayanya, itu semua Dewa lakukan agar dipandang sebagai anak yang cerdas oleh kedua orang namun itu semua ternyata tak pernah terjadi. Orang tuanya seperti tak memperdulikan apa yang Dewa raih dan itu membuat Dewa jengah. Dewa merasa apa yang selama ini diperjuangkannya sia-sia dan tidak dipandang baik oleh kedua orang tuanya, maka semenjak masuk SMA, Dewa berubah total yang tadinya menjadi anak yang baik dan pintar menjadi anak yang pemalas dan biang masalah di sekolah.


☁️☁️☁️


Kembali dalam cerita, usaha Dewa untuk sampai di sekolah tepat waktu malah berakhir di ruang BK. Lagi, lagi dan lagi Dewa harus masuk ke ruangan yang lebih mistis dari ruang mayat apalagi jika Dewa harus berhadapan dengan Bu Mia yang mempunyai perawakan ganas dan menyeramkan dengan penggaris besi yang biasa dubawanya kemana-mana. Dewa merupakan salah satu saksi bagaimana penggaris itu berhasil membuat tubuh siswa yang bermasalah menjadi lebam di keesokan harinya.


"Dewa!!'' Bukanya diam saat Bu Mia membentaknya, Dewa malah tertawa cekikikan ketika melihat wajah Bu Mia yang memerah dan tubuh gendutnya yang terlihat kembang kempis karena deru napasnya yang memburu.


"Kamu ngetawain saya!" Kini Dewa langsung menutup mulutnya ketika penggaris besi itu berada tepat di depan tubuhnya.


''Enggak kok, Ibu itu kalo marah jadi makin cantik makanya tadi saya terpesona sama kecantikan Ibu" Apa kalian tau ini merupakan jurus andalan Dewa untuk meredakan amarah Bu Mia yang meletup-letup seperti popcron.


"Masa sih??" Bu Mia dengan pedenya malah membenarkan letak rambutnya yang sudah seperti sarang tawon itu.


Benar-benar sok cantik, fikir Dewa.

__ADS_1


"Iya bu gak bohong saya" ucap Dewa sambil mengangkat jari tangannya yang berbentuk piss ✌ "ibu itu kalo marah jadi tambah cantik"


"Baru tau kamu kalo saya cantik, Hehh!! Kamu jangan coba-coba ya ngegombalin saya. Kali ini saya gak akan kesemsem sama gombalan receh kamu itu. Jadi jangan kira saya bakal ngebebasin kamu karena kamu tau salah kamu apa??"


"Mana saya tau kalo Ibu gak bilang" Jawab Dewa dengan nada ngeledek.


"Ohh, pinter ya kamu ngeles kea knalpot bajaj"


"Tega banget sih Bu, ganteng-ganteng gini dimiripin sama knalpot bajaj" jawab Dewa dengan raut wajah yang ia buat melas.


"Iya ya, wajah kamu itu kan bukan kea knalpot bajaj"


''Tuh Ibu tau"


"Tapi lebih mirip PANTAT PANCI!!" ucap Bu Mia pakai Chapslok.


"Lebih parah Bu itu mah"


"Kamu tau gak sih salah kamu itu banyak banget, saya aja sampe bosen tiap hari harus ngurusin masalah kamu lagi kamu lagi. Seperti gak ada siswa lain aja yang berbuat masalah selain kamu" ucap Bu Mia emosi.


"Saya juga bosen liat muka Ibu setiap hari" gumam Dewa yang masih bisa didengar Bu Mia.


"Enggak kok Bu, saya gak bilang apa-apa. Ibu salah denger kali"


"Jadi kamu kira saya budek gitu?"


"Et dah, salah mulu saya dimata ibu. Tau akh" jawab Dewa berpura-pura merajuk.


"Belum pernah diajarin sopan santun kamu sama orang tua kamu kalo berbicara dengan yang lebih tua? Ini Ibu masih sabar kalo enggak udah dari tadi penggaris besi Ibu melayang ke wajah kamu"


"Iya Bu, maaf"


"Dasar anak sedeng, yaudah kalo kamu mau tau salah kamu apa akan Ibu rincikan supaya otak kamu yang gak ada isinya itu jadi inget. Salah kamu pertama yaitu, kamu ribut sama anak sekolah lain dan gara-gara berantem sama kamu, anak itu jadi patah tulang dan sekarang dirawat di rumah sakit. Dan kamu tau orang tuanya nuntut sekolah kita, itu semua karena kamu nama sekolah kita jadi jelek"


"Tapi Bu, itu salah dia sendiri, dia yang nantangin saya berantem. Ya, saya sebagai laki-laki sejati harus terima dong. Saya gak akan berantem kalo dia gak cari masalah duluan, Bu" Dewa yang tak mau terus disudutkan pun membela dirinya karena memang benar jika kemaren dirinya berantem dengan anak sekolah lain karna anak itu yang menantangnya duluan.


"Tapi kamu tau kan gara-gara ulah kamu pihak sekolah yang jadi sasarannya. Kalo sekolah kita sudah dipandang jelek kamu bisa apa??"


"Tapi Bu__" belum sempat Dewa melanjutkan omongannya, Bu Mia sudah memotongnya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Sttsss! Dan salah kamu yang kedua yaitu, karena kamu terlambat ke sekolah. Kamu tau kan hari ini ada ulangan kenapa masih terlambat juga? Kamu ini sebenernya niat gk sih sekolah apa cuma mau jadi jagoan?? Apa kamu gak diajarin disiplin waktu sama orang tua kamu hah!?"


Dewa sudah sedari tadi menahan emosi supaya tidak meluap apalagi menyakiti Bu Mia tapi semakin dibiarkan Bu Mia semakin berkata yang berhasil menyinggung hatinya. Bu Mia tidak tau apa apa tentang hidupnya dan Bu Mia tidak bisa seenaknya menjust nya begitu saja.


"Bu!! Asal Ibu tau yang pertama saya gak pernah cari masalah duluan sama siapapun, mereka mereka yang selalu ngebuat saya marah dan yang kedua kalo saya gak niat gak mungkin saya ada disini, saya telat karena peran orang tua bagi saya itu gak ada bu dan ketiga ibu emang bener saya gk pernah diajarin disiplin sama orang tua saya karena mereka emang gk pernah perduli sama hidup saya kalo ibu mau marah jangan sama saya, marah sama orang tua saya karena mereka gak pernah tau apalagi mau tau sama hidup saya Bu"


Setelah berdiri dan mengatakan hal itu Dewa langsung beranjak dari ruang BK tanpa pamit terlebih dahulu pada Bu Mia.


"Dewa!! Ibu belum selesai ngomong!" panggil Bu Mia dengan nada frustasi


☁️☁️☁️


Setelah jam istirahat berbunyi akhirnya Dewa menyelesaikan ulangannya walaupun diruang Guru, ini adalah hukuman untuknya karena kesalahan kesalahannya jadi selama seminggu ini Dewa harus mengerjakan soal soal ulangan di ruang guru sendirian.


Untung saja disaat Dewa sedang banyak tekanan ada sahabat sahabatnya yang selalu ada untuknya, menurutnya Bimo, Caka, Cika dan Jeni jauh lebih mengerti dirinya dari pada siapapun bahkan orang tuanya sendiri.


Bahkan sekarang mereka tengah menghibur Dewa di kantin dengan memesankan banyak makanan untuk Dewa, karena mereka tau pasti Dewa belum sarapan dari rumah.


"Makasih ya kalian udah mau Care sama gua" Dewa sangat menyayangi ke 4 sahabatnya ini, ia rela melakukan apapun untuk melindungi mereka.


"Lo tenang aja ya gue janji akan selalu ada buat lo" kini tangan Cika beralih menjadi diatas tangan Dewa, mengusap lembut tangan Dewa dengan tatapan yang penuh Cinta.


Mungkin hanya Dewa yang tidak mengetahui apalagi menyadari bahwa Cika sudah menyukainya sejak lama. Dan Cika yang notabennya adalah gadis yang banyak disukai para cowok-cowok di sekolahnya malah menyukai sahabatnya sendiri yaitu, Dewa.


"Ehemm... ada yang lagi PDKT nih" sindir Caka.


"Bener Cak ada yang lagi Ce'em-ce'eman" sambung Bimo.


"Enak aja manggil manggil gua Cak, nama gua Caka bukan Cak emangnya lu kira gua Cicak"


"Iya tau nih namanya itu Caka bukan Cak" bela Jeni yang mereka semua tau bahwa Jeni dan Caka adalah sepasang kekasih.


"Iya dah yang di belain, apa daya gua yang jomblo kaga ada yg belain'' jawab Bimo dengan memasang muka melas.


Dengan itu saja mampu membuat Dewa terhibur, memang benar ke 4 sahabatnya ini adalah penyemangatnya dikala sedihnya tanpa mereka, Dewa tidak yakin masih bisa tersenyum seperti ini atau tidak ketika banyak beban masalah yang harus ia tanggung.


 


☁️ ***Sadewa Biantara BAB 3*** ☁️

__ADS_1


 


__ADS_2