SADEWA BIANTARA

SADEWA BIANTARA
BAB 4 Hari Sial {2}


__ADS_3

Selepas pulang sekolah, Dewa langsung berpamitan kepada keempat sahabatnya itu. Padahal mereka semua ingin mengajak Dewa nongkrong di cafe. Yaitu, tempat biasa mereka kumpul tapi mungkin mood Dewa sedang tidak baik hari ini dan mereka semua mengerti terutama Cika.


"Dewa, kalo lu butuh seseorang buat jadi temen cerita, gua bisa kok jadi orang yang tepat. Gua janji bakalan jadi pendengar yang baik." Dewa yang sadar bahwa tangan Cika sudah berada dipundaknya langsung menyingkirkannya.


"Makasih ya Cik, tapi gua rasa gak perlu deh. Yaudah kalo gitu gua balik duluan ya, semua." Kini Dewa sudah siap melajukan motornya.


"Hati-hati, Bro! Jangan keluyuran mulu nanti bikin anak orang babak belur lagi." Disituasi seperti ini Caka selalu bisa menjadi pencair suasana.


"Gak lucu lu cicak." timpal Bimo.


"Biarin yang penting gua ganteng dari pada lu jomblo." jawab Caka dengan pedenya.


"Heh cicak kadal, si Jeni mau sama lu juga kepaksa gara-gara kagak dapet kakak kelas cogan itu, iya kan Jen??"


Waduhh!! Kok malah jadi gini? Bisa-bisa Jeni diamuk Caka kalo emang bener begitu kenyataanya.


"Bener yang dibilang si marmut ini?" tanya Caka dengan tatapan maut ke arah Jeni.


"Ihh! Apaan si Bimo, gak kok Caka cuma Caka yang ada di hati Jeni gak ada yang lain." jawab jeni sambil melotot ke arah Bimo.


"Tuh dengerin... Jeni itu sayangnya cuma sama gua bukan sama yang lain." sambung Caka.


"Jangan percaya, boong itu." jawab Bimo tidak terima.


Dewa yang sudah malas mendengar perdebatan si 2 hewan ini lebih memilih untuk pergi meninggalkan mereka dan segera pulang karena hari ini ia benar-benar lelah.


"Ihh, stop!! kalian semua apa-apaan si, liat kan gara-gara kalian, Dewa jadi langsung pergi." Kini Cika yang turun tangan memisahkan mereka ber 3, memang pusing jika harus berteman dengan kucing dan anjing yang setiap hari ribut karena hal yang tidak jelas.


☁️☁️☁️


Setelah Dewa sampai di halaman rumahnya, Dewa berniat masuk ke dalam rumah tapi langkah Dewa terhenti ketika mendengar Papah dan Mamahnya ribut di ruang tamu sambil memegang sebuah kertas yang membuat Dewa harus menguping pembicaraan mereka terlebih dahulu.

__ADS_1


"Mah, ini tuh gara-gara kamu. Kamu kan Ibunya seharusnya kamu bisa lebih didik anak kamu itu dan mungkin kalo kamu gak selalu sibuk sama kerjaan kamu, Dewa gak akan jadi anak sebandel ini." Papah marah dan menunjuk Mamah seakan-akan ini semua adalah salah istrinya.


"Pah, kamu harusnya sadar kamu sebagai Papahnya juga sama. Kemana kamu, apa kamu pernah perhatian sama Dewa? Gak!! Kamu juga sibuk sama kerjaan kamu. Jadi sekarang aku mau tanya, bedanya kamu sama aku itu apa?" Mamah yang tidak terima membela dirinya dengan alibi bahwa ini bukan hanya kesalahannya tapi juga kesalahan suaminya.


"Pokoknya aku gak mau tau, kamu urusin anak kesayangan kamu itu, aku capek. Di kantor banyak kerjaan dan di rumah juga harus dibebanin sama masalah anak kamu itu." kata Papah seraya menaruh kertas itu di atas meja dan pergi ke kamarnya.


"Pah, kamu gak bisa gitu dong. Dewa itu kan juga anak kamu bukan anak aku doang, kamu juga harus ikut tanggung jawab." jawab Mamah mengikuti Papah.


"Berisik!! Aku pusing!!"


Bahkan orang tuanya sendiri pun saling melemparkan kesalahan demi membela diri mereka masing-masing. Lalu apa artinya Dewa di mata mereka? Dewa tau jika mereka menikah karena dijodohkan bahkan tanpa didasari cinta karena alasan kerja sama perusahaan lalu melahirkan dirinya hanya untuk sebagai bahan rebutan agar menjadi penerus perusahaan mereka.


Sekarang pertanyaan Dewa adalah, apakah keluarganya harus sehancur ini??


Dewa masuk dan mengambil kertas yang sedari tadi mereka ributkan. Ternyata isi dari kertas itu adalah surat panggilan orang tua dari pihak sekolah soal kasus pemukulan yang Dewa lakukan kepada anak sekolah lain.


Dewa yakin, pasti karena surat panggilan ini mereka berdua bertengkar. Mereka sama-sama tidak bersedia untuk datang ke sekolahnya karena alasan klasik yaitu, atas kesibukan mereka masing-masing dan berakhir dengan saling ungkit kesalahan yang dilakukan seperti tadi.


Dewa meremas jemarinya berusaha menahan amarahnya. Tanpa basa-basi lagi, Dewa langsung keluar dari rumahnya dengan menggunakan motornya.


☁️☁️☁️


Bi Ayu yang mendengar suara deru motor keluar dari luar halaman langsung mengecek keluar rumah dan ternyata Bi Ayu melihat Dewa yang sudah pergi.


"Apa Den Dewa denger pertengkaran kedua orang tuanya? Ya Allah, berilah Den Dewa kekuatan dan kesabaran. Jangan sampai Den Dewa berbuat yang aneh-aneh di luar sana."


Akhirnya Bi Ayu mengetuk pintu kamar Kedua orang tua Dewa bermaksud untuk memberi tau mereka bahwa Dewa pergi dari rumah.


"Permisi, Bu."


"Mau apa kamu kesini, saya ini lagi pusing. Mendingan kalo mau ngomong sesuatu besok aja."

__ADS_1


"Tapi Bu, tadi Bibi liat Den Dewa pergi sehabis Ibu bertengkar dengan Bapak. Bibi takut kalo Den Dewa denger pertengkaran Ibu dan Bapak tadi." ucap Bibi dengan raut wajah yang cemas.


"Apa!! Dewa pergi?? Ck! kemana lagi Dewa malam-malam seperti ini." Walaupun Mamah tidak pernah dekat dengan anak semata wayangnya itu bukan berarti Mamah tidak menghkawatirkan keberadaan anaknya itu. Apalagi jika Dewa memang benar-benar mendengar pertengkarannya tadi, pasti Dewa akan sangat amat kecewa dan ujung-ujungnya akan melakukan hal yang berbahaya.


"Bapak, Bu?" tanya Bibi, Mamah pun mengerti maksud Bibi yang mempertanyakan bagaimana dengan reaksi Papahnya Dewa setelah mendengar kabar bahwa Dewa pergi dari rumah.


Mamah yang melihat suaminya tertidur pulas tidak yakin bahwa suaminya akan perduli dan mau mencari keberadaan Dewa.


"Yasudah lebih baik Bibi balik ke kamar biar saya yang telfon Dewa."


"Baik Bu." Masih ada yang mengganjal di hati Bi Ayu, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Yang hanya bisa dilakukannya adalah berdoa yang terbaik semoga Dewa tidak dalam keadaan buruk.


Dewa terus melajukan motornya dengan air mata yang tak bisa lagi dibendungnya. Dewa tidak menyangka jika dirinya harus terlahir dan hidup di keluarga yang yang sama sekali tidak menginginkan kehadirannya. Semua sudah hancur, tidak ada lagi alasan Dewa untuk tetap hidup bahkan jika dirinya dihadang oleh sekelompok orang yang ingin membunuhnya, Dewa tidak akan melawan dan membiarkan mereka membunuhnya dengan sesuka hati karena memang itu yang Dewa inginkan.


Tanpa diduga, kejadian yang Dewa bayangankan benar-benar terjadi tepat di dekat halte bus. Di sana sudah berdiri sekelompok orang yang menghadangnya dengan jaket hitam serta wajah yang ditutup kain hitam. Dewa berhenti dan tanpa aba-aba sekelompok orang itu langsung menyeret Dewa ke pinggir halte dan mengeroyok Dewa.


Dewa tau, mereka semua merupakan anak-anak yang tidak terima jika teman mereka yang waktu itu menjadi korbannya. Dewa sudah tidak ada semangat lagi untuk melawan, Dewa sudah pasrah jika hidupnya akan berakhir menyedihkan seperti ini.


Salah satu dari mereka tanpa diduga mengambil sebuah batu sedang yang ada di dekatnya, tanpa aba-aba orang itu langsung mengarahkan batu itu ke arah wajah Dewa dan berhasil mengenai kening Dewa sampai mengeluarkan darah.


Mereka pun kembali berniat untuk menghabisi Dewa malam ini juga tapi tiba-tiba saja ada suara yang membuat mereka terkejud bukan main hingga tak memberi mereka pilihan, satu-satunya jalan adalah kabur dan menyelamatkan diri mereka masing-masing.


"Polisi... polisii ada polisi!!"


"Kabur, kabur woyy!!!" Ketua dari mereka pun menginstruksi yang lainnya untuk cepat kabur agar terhindar dari kejaran polisi.


Sampai akhirnya mereka semua kabur dengan motor yang mereka bawa masing-masing. Dan disaat mereka semua pergi, yang pertama kali Dewa lihat adalah sosok gadis cantik nan manis yang langsung berjongkok di hadapannya bahkan sentuhan lembut gadis itu sangat terasa di pipi Dewa.


"Kening kamu berdarah. Aku obatin, ya?" Tanpa meminta persetujuan Dewa, gadis itu langsung memapah Dewa untuk duduk di kursi halte.


☁️ Sadewa Biantara BAB 4☁️

__ADS_1


__ADS_2