SADEWA BIANTARA

SADEWA BIANTARA
BAB 2 Sadewa Biantara


__ADS_3

Cahaya matahari masuk melalui celah-celah gorden kamar seorang anak laki-laki yang masih asik dengan mimpinya, sampai ketika suara alarm menghancurkan mimpinya, ya dia adalah Sadewa Biantara.



"Ck! Berisik banget sih, gak tau apa gua lagi asik mimpi" umpat Dewa mematikan alarmnya yang tepat menunjukan pukul 7 pagi.


Dewa yang kembali berniat tidur pun gagal karena mengingat jika hari ini adalah hari pertamanya ulangan. Dengan cepat Dewa langsung membuka matanya lebar-lebar dan berlari ke kamar mandi.


"****** gua telat!" Dewa tak henti-henti merutuki kebodohannya sendiri yang tak ingat bahwa hari ini ada ulangan di sekolahnya.


Setelah mandi sekitar 5 menit, Dewa tak memperdulikan lagi bagaimana dirinya berpakaian. Dewa tak memasukan bajunya ke celananya, kancing kemejanya yang tak semuanya terkancing, dasinya yang tak ia pakai apalagi ikat pinggang yang Dewa sendiri lupa ia taruh dimana terakhir kali bahkan rambut basahnya yang tak disisir.


Di rumah semegah dan semewah ini, Dewa hanya tinggal bersama Papah, Mamahnya serta Bi Ayu yang ditugaskan oleh kedua orang tuanya mengurusnya selama mereka bekerja. Bagi Dewa, Bi Ayu bukan hanya sekedar pengasuh, beliau adalah Ibu bagi Dewa karena sedari kecil Bi Ayu lah yang mengurusnya ketika kedua orang tuanya lebih memilih sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

__ADS_1


Hubungan Dewa dengan kedua orang tuanya pun bisa dikatakan tidak akur karena Dewa yang memang bersikap dingin dan seolah-olah tak perduli kepada mereka, sebagaimana sikap mereka yang juga tak mau memperdulikannya sebagai anak kandung mereka.


Terkadang Dewa merasa sedih disaat yang lain mempunyai keluarga yang harmonis, mempunyai kedua orang tua yang menyanyangi anaknya dan mendukung anaknya dalam keadaan apapun tapi itu semua mustahil untuk Dewa miliki karena kedua orang tuanya hanya memikirkan diri mereka sendiri tanpa pernah merasakan apa yang ia rasakan.


Dewa hanya ingin kedua orang tuanya ada untuknya bukan uang dari mereka yang terus mengalir setiap bulannya. Apa itu sangat susah dilakukan oleh orang tuanya? Ia rasa tidak.


Dewa berdecak kesal, "Coba aja mereka lebih perhatian sama gue!"


Dewa jadi merasa dia adalah anak yang paling kekurangan kasih sayang dari orang tua. Anak yang paling tidak dibanggakan oleh orangtuanya sendiri.


Tapi setidaknya ia masih menghormati keduanyanya sebagaimana yang harus dilakukan oleh seorang anak. Itu tidak masalah.


Dan juga, ia masih beruntung memiliki teman yang begitu banyak disekolahnya yang bisa membuat Dewa lupa akan masalah rumahnya. Haha, pertemanan bahkan jauh lebih baik dibandingkan sebuah keluarga.

__ADS_1


 


☁️ Sadewa Biantara BAB 2 ☁️


 


Sadewa Biantara untuk Bab 2 sampai sini dulu yaa.


Jangan lupa beri Vote dan Komen juga Rating untuk cerita ini.


Krisa juga diperlukan agar penulisan berikutnya bisa jauh lebih baik.


Aku pamit undur diri dulu

__ADS_1


Sampai ketemu di Bab selanjutnya 🌛


Salam hangat dari Author °³°


__ADS_2