SADEWA BIANTARA

SADEWA BIANTARA
BAB 6 Menghilang


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian, Dewa selalu datang ke halte tempat penungguan bis berharap bertemu kembali dengan gadis yang telah menolongnya beberapa waktu lalu tapi nihil rasanya ia temukan.


Hari ini adalah hari pertama Dewa masuk sekolah setelah seminggu kemarin dirinya masih dalam masa pemulihan. Sebelum Dewa menuju sekolahnya, Dewa berhenti sejenak di halte bus untuk melihat apakah gadis itu ada diantara para calon penumpang bus tapi lagi-lagi gadis itu tidak dapat Dewa temukan, setelah Dewa sudah cukup detail melihat semuanya dan tidak menunjukan tanda-tanda keberadaan gadis itu. Dewa pun kembali melajukan motornya menuju arah sekolah.


.


.


.


Saat di kelas, Bimo dan Cika menyambut kembalinya Dewa yang telah seminggu ini absen dari sekolah. Jangan tanya dimana Caka dan Jeni yang pastinya mereka sedang asik pacaran. Bikin para jomblo ae.


Saat hari pertamanya masuk, Dewa harus menerima banyak pertanyaan dari keduanya. Karena mereka pasti bingung kenapa Dewa tidak masuk selama seminggu full dan tak mengabari mereka apa-apa dan setelah Dewa kembali masuk, mereka harus melihat wajah Dewa yang masih terlihat lebam seperti habis dipukuli.


Akhirnya Dewa pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya malam itu akibat pertengkaran orang tuanya kepada Bimo dan Cika.


"Tapi lu gapapa kan? Ini kening lu gimana?" tanya Cika yang langsung meraba kening Dewa.


"Modus aja deh lu, Cik." ucap Bimo yang tidak dimana-mana selalu menjadi perusak momen bahagia Cika dan Dewa. maklum dia kan jomblo.


"Berisik lu!!" balas Cika dengan tatapan tajam ke arah Bimo.


"Gue udah gapapa kok Cik, untung aja pas malam gua dikeroyok ada cewek itu." Cika dan Bimo bingung karena tiba-tiba Dewa jadi senyum-senyum sendiri sambil menyebut kata "Cewek itu"


"Cewek siapa?" tanya Bimo dan Cika.


"Jadi pas gua dikeroyok tiba-tiba aja ada cewek cantik yang nolongin gua. Lu berdua tau gak, dia yang ngobatin luka gua dan plester ini" unjuk Dewa ke keningnya "dia juga yang tempel di kening gua. Rasanya sakit di luka gua tiba-tiba ilang tau gak gara-gara dia. Gua rasa Tuhan ngirim dia emang buat jadi penolong gua sekaligus jodoh gua."


Wajah Cika pun seketika langsung berubah menjadi masam karena Dewa secara tidak langsung memuji gadis lain di depannya apalagi sampai mengatakan bahwa gadis itu adalah jodohnya. Bimo yang tau perubahan raut wajah Cika langsung mengganti topik karena ia juga tak mau Cika akan sakit hati karena Dewa memuji-muji gadis lain di depannya.


"Ohh, syukur deh kalo lu gapapa. Oh iya, mending kita ke kantin aja mumpung belum bel. Kita susulin Caka sama Jeni, gimana?"


"Boleh juga kebetulan gua laper banget belom makan setahun." jawab Dewa dengan gurauan.


"Ngelawak aja lu upil marmut." ucap Bimo sambil memukul lengan Dewa.


"Ck! udah gak usah kebanyakan ngomong deh kita, ayo cepet! Gua udah laper."


Tanpa mau berlama-lama lagi, Dewa langsung beranjak dari kursinya dengan disusul Bimo tapi rasanya seperti ada yang kurang. Lalu ketika Dewa menengok kembali ke belakang ternyata Cika masih belum juga beranjak dari kursinya dan malah asik melamun.


"Cik, ayo!" Lamunan Cika terhenti ketika Dewa menggenggam tangannya dan menariknya agar tak membuang-buang waktu untuk segera ke kantin. Jangan sampe mereka terlambat masuk kelas bukan apa-apa karena pelajaran pertama adalah pelajaran Matematika yang diajar oleh si kumis lele alias Pak Beni yang kalo udah marah kayak lele yang mau matil umpannya apalagi kumisnya yang panjangnya 3 meter bisa berterbangan buat nampol anak muridnya hehehehe bercanda kok pak piss.


☁️☁️☁️


Jeni sepertinya merasa ada yang tidak beres dengan Cika sehabis balik dari kantin tadi, ketika di kelas pun Cika jadi pendiam seperti sedang memikirkan suatu hal yang Jeni sendiri tidak ketahui. Jeni pun berinisiatif menyeret Cika ke toilet agar lebih bebas mengintrogasi Cika tanpa didengar oleh Bimo, Caka dan Dewa.


"Mau ngapain sih lu bawa gua kesini?" tanya Cika yang masih tidak mengerti.


"Lu kenapa sih Cik, gua perhatiin dari tadi lu diem aja? Kalo emang lu ada masalah bilang sama gua." tanya Jeni memegang pundak Cika.

__ADS_1


"Gue gak kenapa-napa kok," jawab Cika dengan nada berbohong.


"Cik, kita ini sahabatan udah dari lama dan gua tau sikap lu kea gimana, gak mungkin tiba tiba lu jadi pendiem gini. Coba lu cerita sama gue siapa tau kan gua bisa bantu masalah lu."


Tidak ada pilihan lain selain bercerita pada Jeni, karena selama ini Jeni adalah sahabat yang Cika percaya untuk menjadi tempat berbagi cerita.


"Semalem Dewa kabur dari rumah gara-gara ngedenger nyokap bokapnya berantem, dia dikeroyok sama anak sekolah lain yang waktu itu salah satu temen mereka dihajar abis sama Dewa."


Di kantin tadi pun Dewa juga sudah menceritakan kembali kejadian semalam pada Caka dan jeni dan pasti Jeni sudah tau akan hal ini.


"Semuanya kan udah beres Cik, tadi Dewa juga udah cerita kejadian itu di kantin sama gua dan Caka kalo lu khawatir sama Dewa, sekarang kan dia baik-baik aja terus apa yang ngebuat lu jadi kepikiran?''


"Dewa emang ceritain semuanya tapi ada satu cerita yang gak dia bilang sama lu berdua."


"Maksud lu?" Jeni tak mengerti kearah mana sebenernya Cika berbicara karena menurutnya semua masalah sudah jelas.


"Dewa dikeroyok dan ditolongin sama seorang cewek dan setelah cewek itu nolongin dia, Dewa jadi merasa kalo cewek itu jodohnya Jen, karena Dewa nganggep cewek itu penolong yang Tuhan kirim buat dia. Lu tau kan, gua udah lama suka sama Dewa? Gimana rasanya kalo orang yang lu suka muji-muji cewek lain dan bilang kalo cewek itu jodohnya di depan lu? Sakit hati gue Jen!"


"Sorry Cik, gua bener-bener gak tau kalo Dewa bakalan ngomong kayak gitu." Jeni memeluk Cika dan mencoba menenangkan sahabatnya itu, Jeni sangat tau betapa besarnya rasa sayangnya Cika pada Dewa dan berapa banyak cowok yang Cika tolak hanya karena dia mencintai Dewa. "Lu yang sabar ya, semoga aja kata-kata Dewa gak bener kejadian."


Cika mengusap air matanya dan berusaha tersenyum devil.


"Mereka gak mungkin berjodoh karena satu satunya yang berhak milikin Dewa cuma gua dan kalo ada satupun orang yang berani ngedeketin Dewa, gua bakalan jadi orang pertama yang ngebuat orang itu menderita."


Cika sepertinya tidak main main dengan perkataannya karena terlihat dari kilat matanya yang menunjukan amarah yang terpendam bahkan kini tangannya mengepal seakan akan siap meninju Jeni yang ada dihadapannya.


☁️☁️☁️


"Dewa, lu mau kemana sih buru-buru amat." ucap Bimo yang mengejar Dewa.


"Gua ada urusan penting, Bim."


"Berarti lu gak jadi ikut ke rumah Caka hari ini, dia kan ngundang kita buat main di rumahnya, lu lupa?"


"Lain kali aja ya, gua bener-bener harus pergi. Yaudah gua duluan ya," ucap Dewa dan beranjak pergi.


"Sepenting apasih urusan lu sampe-sampe ngelebihin pentingnya ngumpul sama sahabat lu sendiri?" sindir Bimo pada Dewa.


Dewa menghentikan langkahnya dan langsung menatap Bimo dengan tajam.


"Lu gak bakalan ngerti apa yang gua rasa Bim, ini soal hati gua."


"Oh gua ngerti, lu pasti mau cari cewek itu kan, cewek yang lu anggap malaikat itu?"


Dewa memang dekat dengan Bimo dari pada yang lain dan soal gadis itu Dewa memang menceritakan pada Bimo bahwa ia akan mencari gadis itu sampai ketemu. Bimo bukannya tidak mendukung Dewa tapi andai Dewa tau jika Cika sedih karena Dewa membahas perempuan itu. Lalu bagaimana jika Cika mendengar bahwa Dewa berniat pergi ingin mencari gadis itu lagi.


"Lu gak tau apa-apa soal dia Bim, mending lu diem dah dari pada mulut lu kena bogeman gua" Bimo bahkan tidak menyangka Dewa sahabatnya berani menyakitinya hanya karena membela gadis yang belum sama sekali Dewa kenal, pengaruh apa yang membuat Dewa yang dikenal dingin dengan perempuan jadi mengejar-ngejar gadis yang entah apa bentukannya.


"Oke Fine, gak ada gunanya juga gua ngebujuk lu yang kekeh buat lebih milih nyari cewek itu dari pada kumpul sama sahabat lu sendiri. Semoga berhasil!!" Bimo pergi setelah menepuk bahu Dewa dengan keras menandakan bahwa dia benar-benar kecewa pada Dewa.

__ADS_1


☁️☁️☁️


Bimo kembali ke kelas dengan wajah yang muram dan langsung bergegas membereskan buku bukunya yang masih berserakan di atas meja.


"Heh marmut! Kenapa lu dateng dateng malah merengut? Itu si Dewa mana, jadi kan main ke rumah gua?" tanya Caka yang tak mendapat jawaban dari Bimo yang lagi sibuk memasukan bukunya kedalam tasnya.


"Bim.. jawab dong, Caka nanya itu" sambung Jeni.


"Dewa bilang dia ada urusan tadi jadi dia gak bisa ngumpul sama kita, lagian kita masih bisa ngumpul tanpa dia jadi gak usah dipikirin," jawab Bimo dengan nada yang tak enak didengar.


"Dewa mana, Bim?" tanya Cika yang baru datang dari kelasnya.


"Udah pulang, Cik" jawab Jeni.


"Kok pulang sih, bukannya kita mau ke rumah Caka?" tanya Cika.


"Dewa ada urusan jadi dia gak bisa ikut, lagipula agenda kita tetep bisa berjalan kan tanpa kehadiran dia," jawab Bimo ketus.


"Tapi kan gua masih kangen sama dia, kenapa sih Dewa pake ada acara urusan segala," hentak Cika sebal.


"Udah deh Cik jangan mikirin Dewa terus belum tentu juga dia mikirin lu apalagi mikirin hati lu" jawab Bimo dan langsung bergegas keluar kelas.


"Si Bimo kenapa sih tiba-tiba jadi sensi banget sama Dewa?" tanya Cika yang dijawab gelengan oleh Caka dan Jeni.


☁️☁️☁️


Sebelum pulang ke rumah, Dewa menyempatkan dirinya untuk mampir ke halte lagi. Tapi sepertinya gadis itu tidak ada, jadi Dewa memutuskan untuk pulang. Tapi tak menyerah sampai disitu, malamnya Dewa kembali datang ke halte itu berharap gadis itu sedang menunggu bis seperti kejadian malam itu.


Tak terasa sudah 2 jam Dewa duduk di halte ini namun gadis itu belum juga terlihat. Dewa sempat berfikir, mungkin kejadian kemarin hanya menjadi pertemuan pertama dan terakhir baginya dengan gadis manis itu.


Jam sudah menunjukan pukul 9 malam namun Dewa masih terjebak di halte ini karena hujan deras yang tiba-tiba turun membasahi seluruh jalan dan juga membasahi motor Kawasaki bewarna merahnya yang terparkir di depan halte. Entah kenapa, Dewa kembali mengingat kejadian malam itu dimana ketika gadis itu menjadi penolong hati dan jiwanya.


Akh, ia rindu gadis manis itu.


Setelah hujan sedikit reda, Dewa memutuskan untuk kembali pulang. Namun sial, saat di tengah jalan hujan malah kembali deras dan membuat Dewa terpaksa harus hujan-hujanan di jalan saat menunuju rumahnya.


Tak mau berlama-lama basah kuyup seperti ini. Sehabis pulang, Dewa langsung bergegas mandi. Dewa hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk membasuh kembali tubuhnya dan ketika Dewa sudah memakai pakaian hangat, Dewa pun menduduki kursi yang ada meja belajarnya.


Dewa beralih mengambil secarik kertas dan juga pensil lalu dengan lihainya Dewa mulai menggerakan pensil itu dengan tangannya untuk melukis wajah gadis manis yang ia ingat. Mungkin dengan ini, bisa sedikit mengobati rasa rindunya dan berharap suatu saat nanti mereka akan dipertemukan kembali.



"Aku udah coba buat cari kamu tapi ternyata aku gak berhasil nemuin kamu. Aku berharap kalo keadaan kamu baik baik aja, ya? Dan aku juga berharap semoga Tuhan mempertemukan kita lagi bahkan menakdirkan kita untuk bersama suatu saat nanti." ucap Dewa mengusap lembut wajah gadis itu dalam gambarnya.


 


☁️Sadewa Biantara BAB 6☁️


 

__ADS_1


__ADS_2