
Karena Dewa merasa sudah resmi menjadi calon suami Jasmine jadi Dewa mau jika dirinyalah yang akan menjemput dan mengantarkan Jasmine pulang tiap harinya.
Seperti sekarang ini, Dewa tengah menunggu Jasmine di luar gerbang rumahnya. Lalu Dewa mengirim pesan singkat pada nomor ponsel Jasmine. Untung saja ponsel yang malam itu Dewa banting ternyata masih bisa digunakan jadi tak mengharuskannya membeli yang baru.
.
.
.
Dilain sisi, suara notif dari What*App membuat Jasmine yang tengah bersiap-siap berangkat sekolah pun membuka ponselnya terlebih dahulu dan Jasmine sedikit terengah ketika ada pesan masuk yang bernamakan "Calon Suami" dugaanya pasti ini kerjaannya Dewa yang menamai dirinya sendiri di ponselnya semalam.
Calon Suami ♡
Jasmine aku jemput kamu sekarang, aku udah di luar gerbang rumah kamu nih.
Jasmine
Kamu di luar?
Calon Suami ♡
Iya, cepet kesini. Aku capek digodain terus sama Ibu-ibu yang lewat.
Pesan yang terakhir Dewa kirimkan membuat Jasmine tau, bukan hanya tukang gombal ternyata Dewa juga tukang geer. Tanpa berlama-lama lagi, Jasmine pun langsung bergegas turun dari kamarnya menuju meja makan untuk menghampiri Ayah dan ibunya yang tengah sarapan.
"Jasmine pamit Yah, Bu?" ucap Jasmine menyalimi tangan kedua orang tuanya.
"Gak makan dulu?" tanya Ibu.
"Iya, kamu gak mau makan dulu. Tumben banget berangkat pagi?" tanya Ayah.
"Dewa udah di luar gerbang, mau jemput Jasmine katanya," jawab Jasmine.
"Loh, kok Dewa gak diajak masuk?" tanya Ayah.
"Jasmine juga gak tau Yah, tiba-tiba aja, Dewa ngirim pesan ke Jasmine dan bilang udah di luar. Yaudah ya, Jasmine berangkat dulu. Dadah ..., " pamit Jasmine beranjak pergi.
"Ada-ada aja ya, Yah tingkah mereka itu," ucap Ibu seraya tertawa kecil.
"Ayah cuma berharap kalo Dewa nanti bisa jaga Jasmine dengan baik setelah kita pergi, Bu."
"Iya Yah, semoga," jawab Ibu mengulum senyum manisnya.
☁️☁️☁️
Selepas Jasmine keluar dari rumahnya, Jasmine pun meminta Pak Dedi, yaitu satpamnya untuk membukakan gerbangnya.
"Non, mau berangkat, ya?" tanya Pak Dedi.
"Iya Pak."
Sesudahnya mengambil kunci di pos satpam, Pak Dedi segera membuka pintu gerbangnya. Dan Pak Dedi sedikit terengah ketika Dewa sudah berdiri di balik gerbang itu bersama motornya.
"Loh, kamu lagi?" tanya Pak Dedi menunjuk Dewa.
"Pak Dedi kenal sama Dewa?" tanya Jasmine.
"Iya Non, waktu semalem orang tuanya kesini saya gak sengaja nuduh dia maling, lagian dia ngintip ngintip di gerbang. Ya, saya kira kan maling, dia marah sama saya padahal saya udah minta maaf malah saya hampir pengen ditonjok, Non," jawab Pak Dedi yang membuat Dewa mati kutu.
"E-e enggak kok, siapa namanya tadi Bapak ini?" tanya Dewa.
"Pak Dedi," jawab Jasmine.
"Nah iya Pak Dedi, kita kan udah bertemen behhh udah klop banget malah. Mana ada saya mau nonjok bapak kalo soal semalem mah bercanda pak, jangan dibawa serius atuh," jawab Dewa sambil merangkul pundak Pak Dedi yang membuat Jasmine tersenyum.
"Beneran?" Tanya Pak Dedi memastikan.
"Iya, nih bukti kalo saya aslinya baik," Dewa tiba-tiba saja mengeluarkan 2 lembar 100 ribuan dari saku baju seragamnya, "ini duit semuanya buat Bapak beli gorengan seminggu."
"Wahh, alhamdulillah kalo begini mah," jawab Pak Dedi tertawa.
"Berarti sekarang kita udah temenan kan?"
"Sipp lah kalo kea gini mah. Kan jadi sama-sama enak. Masalah yang lalu kita lupain, sekarang kan kita udah berteman," jawab Pak Dedi bersalaman dengan Dewa.
"Nah udah selesaikan, kalo gitu saya sama Jasmine mau berangkat sekolah dulu pak, oke?"
"Oke, Den."
__ADS_1
"Assalamualaikum ..., " ucap Dewa yang menarik tangan Jasmine untuk melangkah ke arah motornya.
"Waalaikumussalam. Hati-hati atuh di jalan!"
"Sipp!" jawab Dewa yang sudah menaiki motornya bersama Jasmine.
Dewa sangat bersyukur dalam hatinya karena Pak Dedi tidak membesar-besarkan masalah semalam. Coba kalo iya, mungkin saja Jasmine akan marah dan kembali membencinya lagi karena ia sudah bermain kasar pada Pak Dedi malam itu. Walaupun uang jajannya harus habis karena ia berikan semua pada Pak Dedi tapi tak apa asalkan Jasmine tidak berfikir buruk tentangnya.
"Kamu kenapa jemput aku?" tanya Jasmine saat Dewa sudah melajukan motornya.
"Sekarang kan aku ini pacar sekaligus calon suami kamu berarti itu udah tugas aku buat anter jemput kamu setiap hari."
"Tapi kan rumah aku cukup jauh dari sekolah pasti kamu berangkat pagi banget kan ke rumah aku, atau jangan-jangan kamu juga belum sarapan demi jemput aku?"
"Rumah kamu di ujung dunia pun pasti aku jemput yang penting aku bisa terus sama kamu. Dan kalo soal aku yang gak sempet sarapan mah gampang, kan bisa sarapan di sekolah nanti," jawab Dewa dengan gombal.
"Makasih ya, Dewa."
"Untuk?"
"Kamu udah baik sama aku."
"Gak perlu terima kasih lagi, kan aku ini__"
"Calon suami," potong Jasmine yang membuat mereka berdua tertawa lepas setelah itu.
Rasanya pagi ini sangat membahagiakan bagi Dewa. Hanya dengan bersama Jasmine, Dewa bisa merasakan bahagia yang selama ini tak Dewa dapatkan dari siapapun. Mungkin berjuta katapun tidak akan bisa mengungkapkan betapa bahagianya Dewa hari ini.
☁️☁️☁️
Semua penglihatan seluruh murid pagi ini hanya tertuju pada Dewa yang menggandeng mesra tangan Jasmine sambil terus melangkan kakinya di koridor kelas. Pasti melihat Dewa memperlakukan Jasmine sebegitu mesranya langsung membuat seluruh murid menatapnya dengan heran karena ini kali pertama ada seorang gadis yang mendapat perlakuan manis dari Dewa, apalagi notabennya Jasmine adalah anak baru.
Jasmine yang merasa risih menjadi pusat perhatian pun langsung segera melepaskan tangannya yang berada dalam gandengan Dewa, dan mulai berjalan mendahului Dewa.
"Kamu kok malah ninggalin aku sih?" Dewa pun berhasil mensejajarkan kembali langkah kakinya setelah mengejar Jasmine yang begitu cepat mendahuluinya.
"Kamu tau gak sih, aku tuh risih diliatin semua murid sekolah ini. Pasti sekarang mereka lagi mikir yang aneh-aneh tentang kita," jawab Jasmine menundukan kepalanya.
"Bagus lah kalo mereka mikir yang aneh-aneh tentang kita, emang begitu kan kenyataannya? Biar aja mereka tau kalo kamu sekarang pacar aku," Ucap Dewa mengarahkan tubuh Jasmine untuk menghadapnya.
"Tapi Dewa__"
"ASAL KALIAN SEMUA TAU, MULAI HARI INI GUA SAMA JASMINE SAH JADIAN ..., " teriak Dewa yang terdengar ke semua penjuru sekolah.
"Cieeeee!!"
"Dewa!" hentak Jasmine yang membuat Dewa tertawa.
"Gapapa dong aku kasih tau ke semua murid disini kalo kita udah jadian. Soalnya aku gak mau ada orang yang ngaku-ngaku pacar aku lagi sama kamu."
"Terserah kamu deh, aku capek kalo harus berdebat sama kamu," Jasmine pun langsung kembali melenggang pergi meninggalkan Dewa.
"Mau kemana lagi?" Tanya Dewa yang kembali mengejar Jasmine.
"Mau ke toilet, emangnya kamu mau ikut?"
"Yaudah aku ikut," Mendengar jawaban Dewa yang lancang membuat Jasmine sontak memukul bahu Dewa.
"Auuu sakitt! Kok aku dipukul sih?" tanya Dewa sembari mengelus bahunya yang kena pukul Jasmine.
"Abisnya kamu mesum mau ikut aku ke toilet segala. Kamu kan laki-laki mana boleh masuk toilet perempuan," jawab Jasmine dengan kesal.
"Maksud aku, aku ikut kamu itu aku tunggu di luar bukannya ikut kamu ke dalam toilet," ucap Dewa.
"Ohh gitu, aku kira kamu mau ikut ke dalem," jawab Jasmine cengengesan.
"Otak kamu nih yang mesum," ujar Dewa mengetuk kening Jasmine dengan jemarinya.
"Lagian ngapain sih kamu mau ikut aku segala ke toilet, aku bisa kali ke toilet sendiri."
"Gak ada bantahan kan aku ini__"
"Calon suami,'' jawab Jasmine memutar malas kedua bola matanya.
"Tuh tau, yaudah ayo aku temenin," tanpa mau berbasa-basi lagi, Dewa pun segera menarik tangan Jasmine menuju toilet.
☁️☁️☁️
Sambil menunggu Jasmine keluar dari dalam toilet, Dewa pun sejenak bersandar pada dinding toilet, menundukan kepalanya sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Tapi tiba-tiba saja Dewa dikejudkan dengan kedatangan Cika yang langsung merangkul lenjeh di lengannya.
__ADS_1
"Dewa ..., " ucap Cika tersenyum menatap Dewa.
Entah mengapa Dewa malah kesal ketika melihat Cika yang tersenyum manis padanya. Mungkin kekesalannya mencuat ketika mengingat bahwa Cika pernah mengaku-ngaku sebagai pacarnya pada Jasmine. Dan karena hal itu juga membuat Jasmine jadi menjauhinya waktu itu. Kalau saja semalam Jasmine tidak cerita, mungkin sampai kapanpun Dewa tidak akan pernah tau yang sebenarnya. Jika boleh, Dewa sangat ingin marah pada Cika namun sialnya Jasmine malah melarangnya untuk mengungkit hal itu dan berusaha bersikap biasa saja pada Cika.
"Lu kok di toilet perempuan?" tanya Cika yang heran melihat Dewa berdiri di toilet perempuan.
"Biasa, lagi nungguin pacar," jawab Dewa tersenyum devil.
"Pacar?"
"Iya."
Kebetulan kala itu Jasmine sudah keluar dari dalam toilet dan langsung menghampiri Dewa dan Cika yang ada di depan pintu keluar toilet.
"Ini pacar gua, Jasmine," ucap Dewa ketika menggenggam tangan Jasmine.
"Jadi lu berdua sekarang pacaran?" Saat itu Cika mencoba menahan tangisnya untuk tidak jatuh di hadapan Dewa dan Jasmine.
"Iya, baru jadian semalem."
Beberapa detik setelah Dewa mengucapkan hal itu, membuat Cika hanya bisa terdiam sembari menatap Dewa dan Jasmine secara bergantian. Cika masih terus mencerna perkataan Dewa yang mengatakan jika Jasmine sekarang adalah pacarnya. Apa mungkin Dewa membohonginya? Tapi tatapan penuh cinta Dewa pada Jasmine sudah sangat membuktikan jika Dewa tidak berbohong kali ini.
"Selamat ya," Hanya kata itu yang bisa Cika ucapkan dikala matanya sudah memanas menahan isak tangisnya.
"Makasih ucapannya, yaudah kalo gitu kita duluan ya, Cik," ucap Dewa menarik tangan Jasmine untuk mengikuti langkahnya.
Setelah kepergian Dewa, Cika pun langsung menangis sejadi-jadinya saat itu. Cika masih tak menyangka jika usahanya membuat Jasmine membenci dan menjauhi Dewa berakhir sia-sia dan karena nyatanya sekarang mereka berdua malah jadian.
"Apa kamu gak keterlaluan sama Cika tadi?" tanya Jasmine pada Dewa.
"Aku rasa dia emang harus digituin biar dia gak seenaknya ngaku-ngaku kalo aku pacarnya ke kamu."
"Tapi aku jadi gak enak sama Cika, dia keliatan sedih banget tadi pas kamu ngomong kalo aku pacar kamu."
"Kamu taukan kalo dia tega ngejauhin aku sama kamu? Dia aja gak perduli kok sama perasaan aku jadi jangan salahin aku, kalo aku juga gak perduli sama perasaan dia."
Jujur, bukan seperti ini yang Jasmine harapkan. Jasmine mengerti jika Dewa marah pada Cika namun bukan berarti Dewa bisa menyakiti perasaan Cika dengan mengatakan jika mereka berdua telah berpacaran.
☁️☁️☁️
Cika berjalan gontai menuju kelasnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya dan langsung duduk di kursinya dengan isakan tangis yang begitu memilukan. Bagaimana bisa Cika harus menerima kenyataan jika bahwasannya orang yang dicintainya berpacaran dengan gadis lain. Hatinya begitu sakit ketika terus terngiang ucapan Dewa yang mengatakan jika Jasmine adalah kekasihnya. Selama ini Cika selalu berusaha memendam perasaanya pada Dewa karena Cika yakin jika suatu saat nanti Dewa akan sadar akan cintanya namun kini semuanya hancur saat Jasmine datang dalam kehidupan Dewa.
"Lu kenapa, Cik?" tanya Jeni yang datang untuk memeluk Cika.
Caka, Bimo dan Jeni sebenarnya tau alasan mengapa Cika menangis seperti ini. Mereka sudah menduga jika Cika sudah mengetahui bahwa Dewa dan Jasmine sudah berpacaran sekarang ini. Berita hot ini pun sudah menjadi trending topik dikalangan para siswa/i sekolah ini akibat Dewa sendiri yang berteriak memberitahu semuanya tadi.
"Lu nangis kea gini karena Dewa?" tanya Bimo yang Cika angguki dengan sesegukan.
"Gua gak terima kalo Dewa jadian sama cewek aneh itu!" ucap Cika.
"Lu tau dari mana kalo Dewa jadian?" tanya Caka.
"Dewa sendiri yang bilang sama gua, tadi niat gua emang mau pergi ke toilet tapi gua gak sengaja liat Dewa ada disana. Dewa bilang kalo dia lagi nungguin pacarnya tapi ternyata pacarnya yang dia maksud itu Jasmine," ucap Cika dengan tangisan yang semakin tersedu sedu.
"Gua yang selama ini sayang sama Dewa tapi dengan begonya, Dewa lebih milih Jasmine dari pada gua, sakit hati gua!"
"Tapi kok, Dewa jadian sama Jasmine gak bilang bilang sama kita, ya?" ujar Caka.
"Kan udah gua bilang, semenjak Dewa kenal sama tuh cewek, Dewa jadi ngelupain kita, Cak. lagian gua juga udah gak mau lagi bertemen sama Dewa setelah gua tau kalo Dewa lebih milih belain Jasmine dari pada gua sahabatnya sendiri di cafe waktu itu," jawab Bimo mengepalkan tanganya.
"Apa persahabatan kita bakalan hancur cuma gara gara cinta?" tanya Caka.
"Gua gak pengen persahabatan kita hancur tapi semuanya udah terjadi setelah tuh cewek masuk ke kehidupannya Dewa. Lu semua ngerasa gak sih, semenjak Dewa kenal sama tuh cewek, Dewa jadi berubah sama kita. Dia jadi ngejauh dari kita bahkan sekarang dia jadian aja kita gak tau, jadi buat apa kita masih nganggap dia sahabat?" jawab Bimo yang membuat Caka terdiam.
Caka pun menyiyakan apa yang Bimo katakan tentang Dewa yang mulai berubah semenjak kehadiran Jasmine tapi Caka mencoba untuk mengerti mengapa Dewa seperti itu. Fikir saja, baru kali ini Dewa merasakan apa itu jatuh cinta jadi anggap saja jika Dewa menjauh untuk memperjuangkan cintanya.
Kalaupun Dewa memang jadian dengan Jasmine tidak ada masalah juga asalkan mereka saling mencintai, mungkin ini semua juga salah Cika yang terlalu berharap pada Dewa yang tidak pernah menganggap hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat.
"Lu tenang aja ya, Cik. Nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama buat misahin hubungan mereka," ucap Jeni.
"Gak usah nangis lagi Cik, nanti gua yang bakalan ngomong sama Dewa," sambung Bimo.
"Gua gak suka kalian semua ngehancurin kebahagiaan Dewa demi keegoisan kalian masing-masing. Dewa itu sahabat kita dan harusnya kalo Dewa bahagia kita juga harus ikut bahagia bukannya malah ngerencanain buat ngehancurin kebahagiaan Dewa. Lagian lu Cik, kenapa gak lu coba buat ikhlasin Dewa sama Jasmine? Secara masih banyak kali cowok di luar sana yang sayang sama lu. Jadi Jangan terlalu berharap sama yang gak pasti kalo ujung ujungnya lu juga yang bakalan sakit hati," ujar Caka sambil beranjak pergi dari kelas meninggalkan semia sahabatnya.
"Cak kenapa sih lu malah berpihak sama Dewa?!!" teriak Bimo yang tak Caka hiraukan.
Cika pun kembali menangis ketika mendengar perkataan Caka yang secara tak langsung menyuruhnya mundur dan tak usah mengganggu kebahagiaan Dewa dan Jasmine.
__ADS_1
☁️ Sadewa Biantara BAB 16☁️