Sajadah Terakhir

Sajadah Terakhir
ICU - Mas Heru Kritis


__ADS_3

"Umi, abi kenapa nggak bangun-bangun?" tanya Aris padaku yang isak tangisnya masih terdengar.


Mendengar tanya Aris, lidah ini terasa kelu untuk menjawab. Aku hanya mengusap kepala Aris dengan lembut.


"Heru ... Maafin ibu. Maafin ibu. Maafin ibu ..."


Ibu mertuaku menciumi kening mas Heru. Raut wajahnya benar-benar sendu. Penuh harap. Seperti sangat merindukan sosok mas Heru.


"Heru ... Ibu menyesal! Sudah menyia-nyiakan waktu untuk bahagia bersama kamu, Heru. Ibu menyesal! Sadar Heru! Sembuhlah, nak. Agar ibu bisa menebus kesalahan ibu. Heru ..."


Tangis ibu mertuaku semakin kencang. Isaknya sangat terdengar. Sementara kulihat Aris seperti membisikkan sesuatu di telinga mas Heru. Aku tak tau apa yang Aris bisikan. Tak lama, ku rasakan jemari mas Heru yang ku genggam bergerak. Cepat-cepat ku tundukan wajahku untuk melihat langsung. Benar. Jemari mas Heru benar-benar bergerak. Masih sangat lemah gerakannya.


"Ya Allah, Alhamdulillah ... Bu, mas Heru bergerak tangannya."


"Kamu serius, Wulan? Alhamdulillah! Heru ... Ini ibu. Kamu dengar kan, Heru?"


"Aris ... Aris ..."


Mas Heru meracau memanggil nama Aris. Meski racauannya sangat pelan dan lemah, namun cukup jelas terdengar di telinga.


"Abi ... Aku di sini, abi. Abi ... Bangun, abi ... Buka mata abi. Lihat aku, abi. Aku di sini ... Abi ..."


"Aris ... Aris bisa doakan abi. Jangan nangis terus. Nanti abi makin sedih dengar Aris menangis"


Ku usap kepala Aris dengan tangan kiriku, sedangkan tangan kananku tetap menggenggam tangan mas Heru.


"Umi, boleh aku mengaji di sini, umi?"


Wajah Aris menoleh ke arahku. Memandang ku dengan raut yang penuh harap. Mata nya yang sembab membuat wajahnya berbingkai pedih.


"Boleh, nak. Justru itu akan sangat membantu kesembuhan abi. Aris mengaji saja, apa yang Aris bisa."


Aris memang belum mengenal huruf-huruf hijaiyah, tapi ia mampu melafalkan ayat-ayat Alquran. Mas Heru yang setiap hari mengajarkannya. Ia berharap, suatu saat Aris benar-benar menjadi hafis Qur'an. Bukan hanya mampu melafalkannya, tapi juga mampu mengamalkannya.

__ADS_1


Kudengar Aris melantunkan Surah Al Ikhlas, yang kemudian di lanjutkan Surah Yunus ayat ke 57, ayat ini yang ia bacakan hingga berulang-ulang.


"Yaa ayyuhan-naasu qad jaa'atkum mau'idzatum mir rabbikum wa syifaa'ul limaa fis-suduuri wa hudaw wa rahmatul lil-mu'miniin"


Suara Aris saat melantunkan Surah Yunus ayat ke 57 terasa bergetar. Aku tak percaya, mas Heru dengan segenap jiwa raga nya mampu membuat Aris begitu fasih melantunkan ayat Alquran. Aku benar-benar kagum dan bangga dengan mas Heru dan juga Aris. Tak terasa airmata ku kembali berlinang.


"Wulan, ibu bangga sekali dengan kamu. Aris sangat pintar, berkat didikan kamu. Selama ini, ibu benar-benar bodoh telah membutakan mata hati ibu karena tak merestuimu."


"Sudah, bu. Jangan terlalu sering menyalahkan diri. Kondisi mas Heru saat ini yang paling penting."


"Iya, Wulan. Tapi tetap saja, ibu merasa seperti orangtua yang bodoh. Mata hati ibu baru terbuka saat ini. Menantu sebaik dan se sholeha kamu sudah ibu sia-siakan."


"Ibu ... Sudah, jangan berlebihan. Aris seperti ini karena didikan mas Heru, bu. Mas Heru yang selama ini menjadikan Aris anak yang sangat sholeh. Ibu harusnya bangga dengan mas Heru, bukan aku."


"Ibu bangga dengan kalian. Ibu benar-benar bangga, Wulan."


Kemudian ibu mertuaku menunduk, mendekati wajah mas Heru. Ia mulai berbicara seperti berbisik, tapi masih sangat jelas terdengar.


Jemari mas Heru yang ku genggam kini terasa mencengkeram erat di genggamanku. Ku lihat wajahnya, air mata nya semakin deras keluar dari ujung mata mas Heru yang sampai saat ini masih terpejam. Perasaan cemas kembali menyelimuti dada yang kian sesak.


'Ya Allah, kenapa dengan mas Heru? Tolong kuatkan dan selamatkan mas Heru ya, Allah. Aku mohon ya Allah ... Mas ... Bertahan, mas! Kamu pasti kuat! Bertahan, mas ..."


Tubuh mas Heru mengejang. Nafasnya makin terengal. Sangat berat terlihat ketika menarik nafas. Suara tarikan nafas yang berat dan sesak terdengar begitu sakit. Mas Heru seperti sedang berjuang melawan sulitnya bernafas yang kian tersendat.


"Mas ... Mas Heru! Mas ... Astagfirullah, mas ..."


"Heru! Yang kuat, nak. Kamu harus kuat, Heru ... Beri ibu kesempatan lagi untuk membahagiakan kamu, Heru. Heru ..."


"Abi ... Abi kenapa? Abi bangun, abi ... Abi bangun ... Umi, abi kenapa, umi ... Suruh abi bangun, umi ..."


"Wulan, cepat panggil dokter Maya! Cepat, Wulan!"


Keadaan di ruang ICU semakin memprihatinkan. Semua menangis, termasuk aku. Aku yang di suruh ibu memanggil dokter Maya, justru malah terpaku. Pikiran-pikiran buruk hinggap di kepala yang membuat aku semakin tak sadar.

__ADS_1


"Wulan! Cepat!"


Suara ibu membuatku tersadar dalam lamunan buruk tentang mas Heru. Ku lihat mas Heru yang masih terbaring dengan nafas terengal dan tubuh yang mengejang. Buru-buru ku panggil dokter Maya.


"Dokter. Tolong, dok. Suami saya kritis, dok!"


Dokter Maya yang saat itu tengah memeriksa berkas-berkas pasien, seketika berlari ke kamar rawat mas Heru.


"Dokter ... Anak saya kenapa, dok? Kenapa mengejang seperti ini?"


"Abi ... Bangun, abi ... Bangun ..."


Kulihat Aris masih memeluk erat tubuh mas Heru. Sungguh, membuatku semakin tak kuasa menahan tangis. Pedih sekali rasanya, melihat Aris menangisi keadaan mas Heru. Ia tak mau melepas pelukannya, meski dokter Maya menyuruh agak menjauh karena ingin memeriksa mas Heru lebih lanjut.


"Nggak mau! Aku nggak mau pergi. Aku mau sama abi. Aku mau temani abi di sini. Kasian abi, umi ... Aku mau sama abi!"


"Aris ... Nurut kata dokter ya, nak. Abi mau diperiksa dulu. Kasihan abi, nak. Abi harus diperiksa. Sini, Aris sama umi dulu, ya!"


"Tapi aku mau di sini, umi ... Aku nggak mau keluar. Aku mau di sini lihat abi. Abi ... Bangun, abi ..."


"Nak Aris ... Dokter nggak minta kamu untuk keluar, kamu bisa tetap di sini menemani abi kamu. Tapi, kamu agak jauhan sedikit, ya. Karena dokter mau periksa abi kamu. Aris nggak mau kan abi kenapa-kenapa? (Aris menggeleng pelan). Kalau begitu, Aris harus nurut. Ya?"


Perlahan Aris melepaskan pelukannya dari mas Heru. Melangkah menjauh dan menghampiriku yang tengah berdiri di ujung ranjang mas Heru yang terbaring.


"Umi ... Abi nggak akan kenapa-kenapa kan, umi?"


"InshaAllah abi nggak kenapa-kenapa. Aris doakan abi saja, ya! Abi butuh doa kita!"


"Iya, umi"


Dibantu dengan suster, dokter Maya memeriksa mas Heru dengan sigap. Kulihat mas Heru terus mengejang, nafasnya semakin tersengal, kondisinya kian memburuk. Bedside monitor mulai menunjukkan gelombang kurva yang tak beraturan. Suara dari monitor yang awalnya berjarak normal, kini kian cepat menderu. Membuat jantungku seakan ikut berdetak cepat. Tubuhku gemetar menyaksikan keadaan yang kulihat di depan mata. Ibu mertua semakin kencang menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangannya di sudut ruangan, meratapi kondisi mas Heru yang semakin kritis. Sementara Aris memeluk erat tubuhku sambil menangis.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2