Sajadah Terakhir

Sajadah Terakhir
Diantara Kecemasan dan Kebahagiaan


__ADS_3

"Bu Wulan, bisa kita bicara berdua?"


Dokter Iksan yang telah selesai dengan beberapa serangkaian pemeriksaan pada Aris, kemudian memintaku untuk berbicara empat mata dengannya. Firasat ku langsung tak enak. Dokter Iksan terlihat begitu serius, membuat hatiku gusar seketika. Entah apa yang ingin dikatakannya mengenai kondisi Aris saat ini.


"Oh, iya, dok. Bisa!"


"Aris sama nenek boleh duluan keluar, ya. Biar dokter sama umi Aris bicara dulu sebentar soal obat apa saja yang akan diminum Aris nanti."


Aris mengangguk dengan langkah mengikuti tuntunan tangan ibu mertuaku, yang membawa tubuh mungilnya menghilang di balik pintu.


"Maaf, bu Wulan, kalau saya menyita sedikit waktu ibu untuk tetap di sini, mendengarkan apa yang ingin saya sampaikan dari hasil pemeriksaan yang baru saja saya lakukan pada Aris."


"Nggak papa, dok. Justru mendengarkan hal sepenting ini tak akan membuat waktu saya merasa tersita."


"Ok. Jadi, dari hasil pemeriksaan saya, Aris belum sepenuhnya sembuh. Hal ini bisa membuatnya suatu waktu akan kembali drop. Apalagi Aris masih kecil, ia masih sangat rentan untuk tetap melakukan aktivitas-aktivitas yang bisa membuatnya drop. Saat ini pun, saya tahu Aris sedang merasakan sakit di dadanya. Walaupun ia pintar menyembunyikannya, tapi saya tahu persis dengan melihat reaksi Aris saat tadi saya coba tekan bagian dada paska operasi. Paru-parunya sangat mengkhawatirkan. Luka kecil akibat sedikit goresan yang tertusuk dibagian paru-parunya saat ia terjatuh, dan kemudian batu besar menghantam tulang rusuknya yang masih begitu muda, menyebabkan paru-parunya infeksi."


Kata-kata dokter Iksan seperti tamparan telak yang mendarat di wajah cemasku. Rasa sesak kembali hinggap di dadaku. Perasaan takut yang menurutku berlebihan ini, begitu lekat menghujam benakku. Takut akan kehilangan lagi.


"Tapi, dok. Bukannya Aris sudah dioperasi? Seharusnya Aris akan sembuh 'kan, dok? Dokter sendiri yang bilang Aris akan berangsur pulih dan membaik. Kenapa justru sekarang paru-paru Aris malah infeksi?"


"Pemulihannya berangsur lambat, di samping itu, Aris memiliki daya imun yang sangat lemah. Seharusnya pas kontrol paska operasi, luka luarnya sudah mengering sehingga akan dilepas perban. Tapi, luka bekas operasi Aris saat ini, masih begitu basah dan justru mengeluarkan darah saat ditekan. Itu artinya paru-parunya infeksi."


"Astagfirullah ..."


Tubuhku gemetar mendengar dokter Iksan menjelaskan kondisi Aris yang masih jauh dari kata membaik, justru semakin parah hingga membuatnya infeksi. Saat wajah Aris yang meringis menahan sakit tiba-tiba berpangku manja pada netraku. Pipiku kembali dihujani airmata yang seakan tak mau kutahan lebih lama mengendap di kantung mata. Sakit yang ia rasakan mampu ia simpan sendiri. Aku tahu, Aris melakukannya hanya agar aku tak kembali sedih dan cemas karenanya.


"Aris bisa sembuh 'kan, dok? Aris pasti akan sembuh 'kan?"


"InshaAllah, bu Wulan. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Selebihnya, biarkan Allah yang mengatur."


"Aamiin ... InshaAllah Aris kuat ya, dok. InshaAllah Aris akan sembuh!"


"Aamiin! Bu Wulan yang sabar, ya. Di rutin obat dan kontrolnya. Seminggu kemudian, kembali kontrol lagi. Jika kondisi Aris masih tidak ada perkembangan, segera mungkin Aris kembali diopname agar mendapat perawatan yang intensif. Ini saya beri resep baru untuk obat luar. Yang lainnya masih sama seperti obat yang sebelumnya saya resepkan saat pulang paska operasi."


"Iya, dok. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi, ya, dok! Assalamualaikum."


"Baik, bu Wulan. Sama-sama. Waalaikumsalam."


Sebelum membuka pintu, aku terdiam dengan tubuh yang masih berdiri di depan pintu. Kuseka air mataku yang masih menyisakan basah di pipi. Tarikan nafas yang panjang dan berat, kuhembuskan dengan hentakan melalui mulutku. Berharap wajahku kembali datar. Aku tak mau, Aris sampai tahu kalau aku baru saja menangisi kondisinya. Menangisi kesakitannya yang ia tutup-tutupi.


"Ceklek."


"Umi ..."


Aris menyambutku dengan pelukan ketika matanya menangkap sosokku yang keluar saat pintu terbuka. Aku tersenyum, kemudian membalas pelukannya.


"Umi kok lama? Apa kata dokter, umi? Apa aku baik-baik saja?"

__ADS_1


"Aris baik-baik saja kok, nak. Cuma, kata dokter harus lebih diperbanyak istirahatnya. Jangan terlalu lelah, dan jangan terlalu banyak pikiran. Nggak boleh memendam rasa, apapun itu. Juga, yang semangat minum obatnya. Biar cepet sembuh," kataku dengan mengusap lembut kepalanya.


"Apa Aris masih harus kontrol lagi?" tanya ibu mertuaku yang kemudian kususul langkahnya agar posisinya dekat denganku.


"Masih, bu. Dokter Iksan menyuruh Aris kembali kontrol seminggu kemudian."


"Memang Apa katanya soal kondisi Aris?"


"Nanti saja di rumah kuberi tahu, ya, bu."


Aku mencolek lengan ibu mertuaku. Saat matanya menatap ke arahku yang terlihat seperti bertanya, ku kedipkan langsung sebagai isyarat agar ibu mertuaku mengerti apa maksudku. Secepat kilat ia mengangguk. Mengiyakan isyarat dariku, pertanda ia mengerti.


*****


"Wulan ... Kamu serius mau bekerja di kantor milik Mira?"


Kuhentikan suapanku dan meminum air yang sudah kutuang ke gelas sebelumnya. Rasanya tak mungkin aku berbicara dengan mulut yang tengah terisi makanan.


"Iya, bu. Aku dan Aris 'kan harus terus melanjutkan hidup. Hidup butuh uang, nggak mungkin aku terus-terusan merepotkan ibu."


"Ya sudah kalau itu sudah menjadi pilihanmu. Ibu akan dukung. Nggak usah khawatirin Aris. Ibu pasti akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Aris. Ibu akan dengan sepenuh hati menjaganya."


Aku mengangguk dan melanjutkan suapanku lagi. Sementara Aris, kulihat sangat menikmati sarapannya. Ia memang anak yang pintar dan mandiri. Aku sangat mengaguminya.


"Oh iya, Wulan. Nanti kamu diantar pak Ujang saja. Dari pada harus capek-capek naik turun kendaraan umum. Ke kantor Mira 'kan harus dua kali naik turun angkutan umum."


"Nggak papa, bu. Biarin, aku sudah terbiasa kemana-mana naik angkutan umum. Nggak masalah kalau hanya dua kali harus naik turun angkutan umum."


Aku tersenyum mendengar ibu berbicara. Walau tersenyum, mataku tetap berembun. Rasa haruku dengan sikap ibu mertuaku yang sudah benar-benar melunak, bahkan memutar sangat jauh hingga 180 derajat.


"Ya sudah. Aku mau diantar pak Ujang ke kantor. Terima kasih ya, bu."


*****


"Permisi mbak, selamat pagi." sapaku ketika tiba di kantor Mira, dan langsung ke meja resepsionis.


"Iya mbak. Ada keperluan apa, ya? Apa ada yang bisa dibantu?"


"Saya Wulan, temannya bu Mira. Bisa bertemu dengan bu Mira?"


Aku masih ingat dengan perkataan Mira. Jika aku sudah tiba di kantornya, aku disuruh menyebut namaku dan memperkenalkan diriku sebagai temannya. Alasannya, agar resepsionis dapat segera mempersilahkanku untuk masuk bertemu dengannya.


"Oh, ibu Wulan! Yuk, mari saya antar ke ruangan bu Mira."


"Iya, mbak"


Kuikuti langkah si mbak resepsionis yang cepat itu. Begitu masuk, akupun takjub dengan kemewahan kantor yang ada di bawah naungan Mira. Sambil melangkah mengekori si mbak resepsionis, aku melihat sekeliling, besar dan terlihat kokoh dengan sentuhan desain yang yang simpel namun elegan disetiap sudutnya. Kemudian, langkahnya terhenti di depan salah satu pintu ruangan paling besar yang ada di gedung kantor ini. 

__ADS_1


"Sebentar ya, bu."


"Eh, iya, mbak."


"Tok tok tok!"


"Ceklek."


"Permisi, bu. Ada bu Wulan." katanya dengan tangan masih memegang gagang pintu yang terbuka hanya separuh dan kemudian ia mengangguk pasti dengan tersenyum.


Pintu yang tadinya hanya terbuka separuh, kini ia buka lebar-lebar.


"Bu Wulan, silahkan. Sudah ditunggu bu Mira di dalam."


"Iya, mbak. Terima kasih, ya!"


Si mbak resepsionis mengangguk dengan senyum tipisnya dan kemudian berlalu.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam! Wulan ... Sini-sini, duduk!"


"Terima kasih, Mir. Hebat kamu, ya! Kantormu besar sekali. Bangga sekali aku denganmu, Mir.


"Ahh kamu, bisa saja kalau memuji! Gimana? Sudah siap bergabung menjadi bagian dari pemegang saham di kantor ini?"


"Apa, Mir? Pemegang saham? Maksudmu?"


"Kamu itu hanya tinggal menandatangani surat ini, dan saat itu juga posisi kamu sudah menjadi pemegang saham di kantor ini! Nih buru, ditandatangani. Nanti ku tunjukkan ruangan untukmu."


Wajah Mira terlihat serius dengan sesekali tersenyum melihatku yang tengah bingung dengan semua ini. Aku benar-benar tak mengerti apa maksudnya.


"Kamu tuh, Mir. Jangan berlebihan becanda nya!"


"Siapa yang becanda, Wulan? Kamu tahu, perusahaan ini berdiri dengan kepemilikan atas nama aku dan tante Rani. Dikelola dibawah naunganku. Tante Rani pemilik saham yang terbesar. Dia atasanku. Tapi di kantor ini, aku atasannya. Saat kamu nanti sudah menandatangani persetujuan menerima pengalihan saham dari tante Rani atas nama kamu, itu berarti kamu yang akan jadi atasanku."


Mendengar Mira bicara, aku tak mampu mengeluarkan kata dari bibirku yang sudah gemetar menahan tangis. Aku tak menyangka, ibu mertuaku berani mempercayakan ini padaku. Aku yang hanya seorang ibu rumah tangga, tak punya gelar apapun, hanya bermodalkan ijasah SMAku, tapi ibu dengan mudah mempercayakan perusahaannya padaku. Rasanya aku tak sanggup menerimanya. Ini sungguh di luar kemampuanku.


"Tapi, Mir. Aku hanya lulusan SMA! Mana mungkin aku mampu menggantikan posisimu dalam menaungi dan mengelola perusahaan ini? Resikonya sangat besar, Mir. Aku tak mau menerimanya!"


"Wulan ... Kamu bisa belajar, sedikit-sedikit. Lama-lama aku yakin kamu pasti bisa melebihi kemampuanku. Ini hanya soal waktu. Aku tahu sekali kemampuan mu, Wulan. Kamu bisa meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi untuk dapat diterima dikalangan pengusaha. Aku harap kamu segera menandatanganinya. Jangan buat tante Rani kecewa."


Kumantapkan hatiku untuk menandatangani surat pernyataan menyetujui dan menerima pengalihan saham nama ibu menjadi atas namaku. Aku berharap, suatu ketika aku mampu membuat ibu mertuaku bangga atas hasilku dan tak menyesali apa yang sudah ia relakan untukku walau dengan resiko yang begitu tinggi. Aku tak mau menyia-nyiakan kepercayaannya.


"Bismillah ..."


Sekejap, selembar kertas bermaterai dengan kop surat asli dari perusahaan sudah kutandatangani.

__ADS_1


'Ya Allah ... Aku percaya akan takdirMu yang sudah membuatku berada di posisi sekarang ini. Aku bersyukur telah dikelilingi dengan orang-orang baik yang Kau pilih berada di dekatku.'


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2