
Empat hari aku menemani Aris di rumah sakit. Selama itu juga aku tak ke kantor. Beruntung ada Mira yang cekatan menghandle urusan kantor. Sehingga pikiran ini bisa lebih fokus mengurus Aris.
"Aris, sore ini boleh pulang, ya! Tapi, jangan sampai terulang lagi. Kamu nggak boleh terlalu lelah. Banyak-banyak istirahat. Artinya, banyakin berbaring. Ya, bu Wulan, ya! Boleh beraktivitas, asal tetap memperhatikan aspek kesehatan. Terutama aktivitas yang berpengaruh dengan pernafasan, harus dikurangi bahkan diberhentikan."
Dokter Iksan bicara dengan tatapan yang bergantian ke arah Aris kemudian aku. Aris terlihat senang, mendengar kabar baik ini. Wajahnya yang sumringah, dan mulut yang seperti menahan tawa di bibirnya, membuatku tak bisa untuk tak tersenyum. Mata indahnya tampak berbinar, seraya menyiratkan kebahagiaan atas apa yang terjadi saat ini.
"Iya, dok! Tuh, Aris, dengar sendiri kan apa yang dokter katakan?"
Tak bicara, Aris hanya mengangguk dengan senyumnya. Senyum yang selalu ingin kulihat setiap saat.
"Ya sudah, bu Wulan, saya hanya cek kondisi Aris sebelum benar-benar pulang. Alhamdulillah masih stabil. Nanti suster akan datang ke sini untuk melepas selang infusnya. Permisi, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, terima kasih, dok!"
Dokter Iksan mengangguk dan kemudian berlalu meninggalkan ruangan. Dengan gesit, kubereskan barang-barang yang masih tercecer tak bertempat. Kue-kue, roti, buah dan makanan lain yang masih utuh tak tersentuh di masing-masing kotak yang sebelumnya ku letakan pada nakas, kurapikan untuk nantinya kuberikan pada pekerja yang tiap pagi dan sore membersihkan ruangan ini.
"Umi ..." panggil Aris padaku.
"Iya ..." aku menoleh, menghentikan sejenak gerakan tanganku yang tengah merapikan beberapa kotak berisi kue dan roti.
"Besok bisa antarkan aku ke makam abi? Aku kangen, umi."
Kulepas kotak kue yang kupegang, kemudian melangkah mendekatinya. Aku duduk di sisi ranjang, tersenyum memandang wajah Aris yang terlihat sendu.
"Aris ... Bukan umi melarang kamu untuk ziarah ke makam abi. Aris 'kan dengar sendiri apa kata dokter. Umi takut nanti Aris kecapek'an. Umi nggak mau Aris kenapa-kenapa. Selama seminggu sebelum kontrol, Aris harus istirahat total. Nggak boleh ke mana-mana dulu. Nanti kalau Aris sudah benar-benar sembuh, sudah pulih, Aris boleh ke mana saja yang Aris mau. Aris mau 'kan nurut sama umi?"
"Iya, umi. Aku nurut. Lewat sholat saja nanti aku doakan abinya."
"Sholehnya umi yang pintar, jangan sedih lagi dong! Mau pulang ke rumah masa sedih? Senyum, harus semangat! Agar Allah nggak mencabut nikmat sehat yang sudah Ia berikan pada Aris."
Aris tersenyum, "Aku sayang umi!" katanya yang kemudian memelukku.
"Umi apalagi! Sayaaaaaaaang sekali sama Aris! Rasa sayang umi ke Aris, lebih besar dari besarnya dunia ini. Umi bahkan rela jika harus meninggalkan kenikmatan yang ada di dunia ini, demi untuk kebahagiaan Aris."
*****
__ADS_1
Hari-hari setelah Aris pulang dari rumah sakit, memperlihatkan kemajuan pada kesehatan Aris. Bahkan ketika kontrol pertama, kedua, dan ketiga, dokter mengatakan bahwa Aris semakin membaik. Rasa lega bercampur senang memenuhi isi hatiku saat ini.
"Wulan, besok lusa pengajian 40 hari heru, 'kan?" ujar ibu mengawali obrolan ketika kami baru saja selesai menyantap makan malam.
"Iya, bu." kataku yang tengah menyiapkan obat untuk Aris.
"Untuk persiapannya pesan catering saja, nanti ibu yang urus. Kamu fokus saja sama kerjaan di kantor."
"Ya sudah, terima kasih ya, bu. Maaf merepotkan."
"Kamu itu, selalu saja meminta maaf untuk sesuatu yang nggak ada salah sedikitpun. Heru, anak ibu. Sama sekali nggak bikin ibu repot mengurusnya. Ibu justru senang."
"Nenek, umi, aku mau punya kakak dan adik." ucap Aris setelah menelan obay yang kuminumkan.
Aku dan ibu saling bertatap. Permintaan Aris rupanya tak sekedar kata yang terucap di bibirnya. Ini kali kedua Aris memintanya. Ia terlihat bersungguh-sungguh ingin memiliki kakak dan adik angkat. Wajahnya begitu memelas memandang kami bergantian, kemudian menunduk.
"Nenek sih boleh-boleh saja. Tapi 'kan semua keputusan ada di umi kamu. Karena ke depannya nantinya, umi kamu yang akan mengurus mereka."
"Aris serius, mau umi mengangkat anak?" kataku mengusap lembut pipi yang kemudian ku turunkan ke dagu kecilnya yang terbelah, kuangkat wajahnya agar tak menunduk.
"Ya sudah, umi akan turutin permintaan Aris yang sangat mulia sekali. Sini, lihat umi."
Didongakkan kepalanya, menatap dalam penuh harap ke kedua mataku. Bibir mungilnya sedikit tertarik, seperti menahan senyum.
"Umi yakin, ada hikmah dibalik permintaan Aris yang satu ini. Anak umi memang anak yang sholeh. Semoga setelah umi mengangkat anak dari panti asuhan, rumah ini akan terasa ramai dan yang utama, penuh keberkahan. Aamiin." kataku yang kuakhiri dengan kecupan sayang di hidungnya.
"Aamiin! Nenek pasti dukung apapun itu, selagi masih dalam hal kebaikan. Setelah selesai acara pengajian 40 hari Heru, kita langsung saja ke panti asuhan yang sudah menjadi penerima tetap donasi dari ayahnya Heru, kakeknya Aris. Nggak jauh kok."
"Terima kasih ya, umi, nenek!"
"Iya, sayang. Selama umi bisa menuruti apa yang kamu ingin, pasti akan umi lakukan. Buat umi, kebahagiaan Aris itu yang nomor satu."
Kami tersenyum, bahkan tertawa bersama. Menikmati kebersamaan di malam yang kurasa sangat lambat berputar. Waktu seakan tahu dengan isi hatiku, yang ingin kebahagiaan ini terus bermain-main di sekelilingku.
*****
__ADS_1
Tiba waktunya pengajian 40 hari mas Heru akan digelar. Sekitar jam 9 pagi nanti. Sengaja kubuat waktunya pagi hari, agar selesai sebelum waktu dzuhur tiba. Karena setelah itu, aku ingin mengunjungi panti asuhan yang ditunjuk ibu, dan berniat mengangkat anak dari panti asuhan tersebut. Subuh ini, beberapa asisten rumah tangga sibuk menyiapkan berbagai keperluan untuk kepentingan acara. Tak terkecuali aku, yang ikut sibuk membantu menyiapkannya.
"Umi, sudah subuh, kenapa umi belum sholat?"
"Umi sudah, nak. Maaf umi nggak nunggu Aris, ya. Umi buru-buru soalnya mau ikut bantu yang lain." aku yang tengah mendapat tamu bulanan terpaksa berbohong pada Aris.
"Ya sudah, umi. Nggak papa, aku sholat dulu ya, umi."
"Iya, kalau sudah Aris istirahat saja lagi, ya. Jangan capek-capek!"
Bukan pergi untuk sholat, Aris justru memdekatiku dan kemudian memeluk erat tubuhku. Aku terkesiap menerima pelukan Aris yang tiba-tiba.
"Umi, janji ya! Apapun yang terjadi, umi akan terus melanjutkan permintaanku. Aku ingin umi dan nenek ada yang menemani. Maafin aku, umi. Maafin aku!"
Air mataku menetes, entah kenapa keluar begitu saja di pelupuk ini. Seperti enggan kulepas, pelukan Aris kurasa semakin erat. Kuusap kepalanya dengan lembut.
"Aris ... Sini, lihat umi, sayang."
Perlahan pelukan kami terlepas. Aris menatapku dengan air mata yanh sudah berrlinang.
"Iya, umi janji akan mengangkat anak yang nanti jadi kakak dan adik Aris, tentu juga yang akan menemani hari-hari Aris saat umi sibuk di kantor."
Aris tak menjawab, matanya masih mengeluarkan buliran bening yang membuatku sesak saat menatapnya. Kuusap lembut air mata yang sudah mengalir membasahi pipi.
"Aris kenapa, sayang? Kok malah menangis? Katanya mau sholat?"
"Nggak papa, umi. Maafin aku!"
"Iya, jangan nangis lagi, ya. Sekarang Aris sholat, berdoa supaya nanti dapat kakak dan adik angkat yang baik dan sholeh seperti Aris. Apa mau umi temani?"
"Nggak usah umi, aku sendiri saja."
"Ya sudah."
Aris melangkah menuju kamar khusus tempat dia sholat saat tak berjama'ah. Ruangan itu juga yang sering ia habiskan waktu untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur'an. Kubalikkan tubuhku ketika Aris sudah memasuki ruangan untuk menunaikan sholat subuhnya. Aku melangkah meninggalkannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=