Sajadah Terakhir

Sajadah Terakhir
Ujian Bu Iwan


__ADS_3

"Gimana keadaan Aris, dok? Aris baik-baik saja 'kan, dok?" kataku menatap penuh harap pada seseorang yang usai memeriksa Aris, berdiri di hadapanku.


"Tenang, ibu Wulan. Aris hanya pingsan. Tubuhnya kurang menerima asupan oksigen. Itulah yang membuatnya lemah dan pingsan. Ia hanya butuh istirahat yang cukup saat ini. Nanti ketika Aris sudah sadar, akan langsung segera di pindahkan ke kamar rawat. Kalau begitu, saya permisi. Mau menangani pasien lainnya."


"Oh, iya, dok! Terima kasih."


"Sama-sama, bu. Mari."


Kuanggukan kepalaku dan mempersilahkan dokter Iksan untuk pergi. Langkahnya cepat. Sepertinya, ia memang benar-benar sibuk dengan pasien pasien nya. Kuhampiri Aris yang terbaring seperti tertidur.


"Alhamdulillah ya, Allah ..."


Aku tak tau harus berucap apa. Setidaknya, aku bersyukur dengan keadaan Aris yang tak mengkhawatirkan saat ini. Meski rasa cemasku sedikit menghilang, rasa pedih bercampur iba merasuk dalam hati. Tak sanggup rasanya melihat Aris harus kembali terbaring lemah, ditemani selang infus dan oksigen di hidungnya, menghiasi wajah polosnya yang masih pucat.


"Wulan! Gimana, Aris? Kondisinya gimana?" tanya ibu yang baru datang karena ketika kami diturunkan di depan pintu masuk ruang IGD, ibu masih harus memarkirkan mobilnya terlebih dulu.


"Aris baik-baik saja, bu. Dokter Iksan bilang, Aris hanya pingsan. Tubuhnya kekurangan asupan oksigen. Makanya Aris lemas, dan sampai pingsan seperti ini."


"Umi ..."


Suara Aris saat baru sadar, memanggilku lirih. Seketika aku dan ibu menengok ke arahnya. Kudekati wajahnya dan mengusap kening, seperti tengah menyisir poninya ke atas kepala.


"Iya, Aris. Apa yang kamu rasa sekarang, nak? Aris mau minum? Umi ambilkan, ya?"


"Enggak, umi. Aku mau pulang. Aku nggak mau di sini, umi. Aku mau pulang!"


"Kok Aris ngomongnya gitu? Aris 'kan masih lemas, baru saja sadar, masa mau langsung pulang! Di sini dulu beberapa hari, sampai Aris benar-benar pulih. Nanti nenek yang temani Aris, ya?"


"Aku mau pulang, umi! Pokoknya aku mau pulang!"


"Aris!" ucapku dengan sedikit kutekan dan tertahan.


Aris langsung menunduk melihat wajahku yang mugkin sudah kelihatan memerah menahan amarah. Mendengar dan melihat Aris yang semakin tak bisa kukendalikan, rasanya ingin sekali berucap keras pada Aris yang sulit untuk ditenangkan. Beruntung, aku selalu bisa mengasah kesabaranku pada Aris. Kuhela nafasku, cukup panjang, membuat emosiku perlahan kembali reda.


Kuraih gelas yang hampir penuh terisi air mineral di atas nakas. Dengan hati-hati, gelas yang sudah kupegang, kusodorkan tepat di depan wajah Aris yang masih sendu.


"Minum dulu ya, nak. Biar Aris lebih tenang. Yuk, diminum."


Bibir mungil nya yang terlihat kering, kemudian mendekati sisi gelas yang kupegang. Kubantu mengarahkan gelas di tanganku ke mulutnya. Cukup haus Aris kulihat, ia meminum hampir habis hanya dengan beberapa tegukan.


"Tanggung, sedikit lagi. Habiskan saja."


"Sudah," ujarnya sambil menepis sodoran gelas yang masih menyisakan sekitar 10 mili air.

__ADS_1


"Permisi, selamat malam! Dengan ananda Aris?"


"Ya, suster." kataku ketika suster menghampiri dan menyapa kami.


"Pindah ke kamar rawat, yuk. Sudah turun surat jalan untuk pindah kamarnya. Kebetulan Aris sudah sadar, jadi langsung saja, ya."


"Oh, iya, suster."


*****


"Bu, aku titip Aris dulu, ya, bu? Mau pulang ambil keperluan untukku dan Aris selama di sini."


"Ya sudah, kamu pulang saja. Biar ibu yang jaga Aris. Nanti kalau kamu sudah kembali, baru ibu pulang."


"Iya, bu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati, Wulan!'


Aku mengangguk pelan. Baru saja tubuh ini berbalik membelakangi Aris dan Ibu, dengan kaki yang sudah siap untuk melangkah, Aris memanggilku.


"Umi ..."


"iya, kenapa, nak?" kataku menoleh menatap Aris.


Mendengar Aris meminta maaf dengan suara tangis tertahan, aku berbalik. Kudekati lagi dirinya. Jemarinya kugenggam lembut.


"Maaf untuk apa? Aris nggak salah, umi pun nggak marah. Nggak ada yang perlu dimaafin. Aris jangan terlalu banyak berfikir ya, nak. Umi nggak papa. Umi hanya ingin Aris paham, kalau umi sangat sayang sama Aris. Umi ingin Aris sembuh!"


"Iya, umi, maafin aku."


"Ya sudah, umi maafkan Aris. Umi pulang sebentar, ya! Mau ambil keperluan kita. Kalau Aris mau apa-apa, Aris ngomong saja sama nenek, ya!"


Aris hanya diam dan menatapku. Entah apa yang sedang ia pikirkan dan rasakan. Wajahnya terlihat sendu, tapi begitu datar. Sama sekali tak menunjukkan ekspresi rasa sakit. Padahal jelas aku tahu, karena dokter Iksan mengatakan, rasa sakit di dada Aris paska operasi tak bisa dianggap remeh.


"Assalamualaikum," ucapku lagi.


"Waalaikumsalam," ucap Aris dan ibu berbarengan.


Kususuri lorong demi lorong rumah sakit ini. Langit terang telah berganti senja. Kulihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah hampir memasuki waktu maghrib. Aku yang beberapa meter lagi sampai lobi utama rumah sakit yang terhubung dengan pintu keluar, menghentikan langkahku. Beberapa menit lagi pasti adzan maghrib berkumandang. Kubalikkan tubuh untuk kembali ke masjid di perempatan lorong yang baru saja aku lewati.


Setelah selesai mengikuti sholat maghrib berjama'ah, aku merapikan kembali mukena yang kemudian kumasukkan ke dalam tas yang selalu kubawa saat hendak bepergian. Kusegerakan kaki ini berdiri dan melangkah.


"Wulan!"

__ADS_1


Seseorang memanggilku. Suara yang sangat kukenali. Celingukan, kucari asal suaranya. Hingga mataku terpaku pada sosok yang berwajah teduh tersenyum padaku.


"Bu Iwan?" kataku yang langsung menghampirinya.


Kucium tangannya yang serasa hangat wajar. Senyumnya yang selalu merekah membuat hati berdesir haru. Wanita yang sudah kuanggap seperti ibu kandungku. Wanita yang selalu ada untukku saat aku benar-benar butuh sosok penguat.


Pelukan hangat menyelimuti tubuh ini. Bu Iwan memelukku sangat erat. Kurasakan tubuhnya seperti berguncang, disusul isaknya yang sesegukan. Aku tahu bu Iwan menangis. Pelan-pelan, ku lepaskan pelukannya. Kutatap wajahnya yang sudah peluh dengan air mata. Ada rasa sesak menghantam dada ini seketika saat melihat raut wajah wanita renta dihadapanku yang tengah menangis pilu.


"Ibu kenapa? Kenapa menangis, bu?"


Bu Iwan tak menjawab, ia hanya menyeka dengan kasar air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Kita ngobrol dulu di depan sebentar, ya, bu."


Kutuntun tangan bu Iwan agar kakinya melangkah mengikutiku. Aku harus tahu, apa yang terjadi dengan bu Iwan. Sampai-sampai bu Iwan terlihat sesedih dan sekalut ini.


"Ini, bu. Minum dulu, biar ibu sedikit lebih tenang," kusodorkan botol kemasan berisi air mineral pada bu Iwan.


Tak banyak, hanya seteguk kulihat bu Iwan meminumnya. Kudiamkan beberapa detik agar ia lebih rileks.


"Bu Iwan ... Kenapa? Sebenarnya ada apa dengan bu Iwan?"


"Ragil, Lan. Ragil ..."


Bu Iwan kembali menangis, air mata yang tadinya sudah mengering, kini kembali membanjiri wajahnya. Kuusap lembut bahunya yang bergerak naik turun akibat segukannya.


"Kenapa dengan Ragil, bu? Apa sesuatu terjadi pada Ragil?" tanyaku hati-hati.


"Ragil tersangkut masalah narkoba, Wulan! Saat polisi menggrebek dan mencoba menangkapnya, Ragil berusaha kabur. Polisi terpaksa menembak kakinya agar Ragil tak bisa kabur lagi. Ibu nggak menyangka, kalau Ragil selama ini mengkonsumsi dan mengedarkan barang terlarang itu!"


Bu Iwan berbicara sambil menangis. Aku yang mendengarnya, ikut menangis. Tak kusangka Ragil seperti itu. Padahal selama aku bertetangga dengannya, Ragil kukenal begitu baik. Ibadahnya sangat rajin. Rasanya sangat tak mungkin kalau Ragil sampai terjerumus ke rana kriminal. Aku yakin, Ragil pasti salah bergaul hingga membuatnya menjadi seperti ini.


"Astagfirullah ... Yang sabar ya, bu! Saya tahu, ibu pasti sangat terpukul. Terus sekarang, bagaimana dengan keadaan Ragil?"


"Alhamdulillah Ragil baik-baik saja, tapi masih harus di rawat di rumah sakit ini."


"Syukur Alhamdulillah. Kalau bapak gimana kabarnya, bu? Pasti sudah membaik kondisinya, ya?"


Helaan nafas bu Iwan yang panjang dan terhentak, sangat terlihat dan terdengar. Matanya kuliah kembali berkaca.


"Begitu tahu Ragil tersangkut narkoba, penyakit darah tinggi bapak langsung kumat, kemudian bapak pingsan. Pas dibawa ke rumah sakit, nggak tahunya bapak koma. Pembuluh darah di kepalanya tersumbat. Harus masuk ruang ICU."


Kali ini dadaku serasa dihujam belati. Rasanya sangat sakit mendengar kondisi pak Iwan yang mengkhawatirkan. Kupeluk bu Iwan yang sudah menangis. Berusaha menguatkan hatinya yang kurasa telah rapuh. Aku tahu rasanya di posisi bu Iwan saat ini. Sangat tahu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2