
"Assalamualaikum. Selamat pagi pak Heru! Bisa menjawab salam saya?"
Dokter Maya yang sudah berada dekat dengan mas Heru langsung menyapa untuk mengetahui respon dari mas Heru.
"Waalaikumsalam."
Walau raut wajahnya terlihat masih bingung dan linglung, ternyata mas Heru dengan mudah dan fasih membalas salam dari dokter Maya.
'Alhamdulillah ya Allah ... Mas Heru benar-benar sudah sadar. ini suatu mukjizat! Kuasa dari Allah! Semakin membuatku merasa sangat kecil di hadapan-Nya! MashaAllah ...'
Dokter memeriksa lebih lanjut kondisi mas Heru. Senyumnya yang khas sambil tangannya membetulkan kacamata yang selalu melekat pada wajahnya, memberitahu bahwa kondisi mas Heru sudah benar-benar stabil. Segera dokter Maya menyuruh suster Tania melepaskan alat yang masih terpasang pada tubuh mas Heru, dan mengganti masker oksigen hanya dengan selang yang terpasang di hidung. Kemudian mengijinkan kami untuk bisa menghampiri mas Heru.
"Aris ..." ucapnya dengan suara yang masih sangat lemah dan tertahan, seperti tercekat di tenggorokannya.
"Iya, abi ... Aku di sini."
Begitu mendengar namanya dipanggil, Aris yang berada di sebelah ku dengan cepat mendekati mas Heru. Ia langsung memegang tangan mas Heru yang kemudian ia cium dengan lembut.
"Maafkan abi, nak. Maafkan, abi."
"Maaf untuk apa, abi?"
"Aris baik-baik ya, nak. Jaga umi, jaga nenek, jaga sholat Aris juga. Jadilah anak yang sholeh, yang selalu teguh dengan ajaran-ajaran Allah."
Air mata mas Heru perlahan menetes. Membuatku ikut menitikan air mata.
"Iya, abi. Aris akan selalu ingat kata-kata abi. Aris mau jadi anak yang sholeh. Aris mau bikin abi tersenyum. Abi jangan nangis!"
"Heru ... Kenapa bicara seperti itu? Kamu harus kuat. Kamu pasti sembuh! Kita akan sama-sama saling menjaga. Ibu akan terus berusaha agar kamu mendapat perawatan yang baik. Agar kamu bisa cepat sembuh dan kembali bersama kita!"
"Mas ... Kami semua mengharapkan kesembuhanmu. Kami semua masih membutuhkan sosok seperti kamu! Terutama Aris, mas. Berjuanglah, mas, untuk Aris."
__ADS_1
Mas Heru menatap kami satu persatu. Wajahnya teramat gusar. Buliran bening yang sudah banyak menetes hingga membasahi bantal, semakin menambah pedih hati ini saat membalas tatapannya.
"Ibu ... Maafkan aku, bu. Maafkan aku yang belum bisa membuat ibu bahagia."
"Iya, Heru. Ibu sudah ikhlas dengan semuanya. Justru ibu yang ingin meminta maaf padamu, Heru. Ibu sudah lalai menjadi orangtua. Sudah lalai atas hakmu sebagai anak. Maafkan Ibu yang hanya memikirkan nafsu dunia!"
"Aku titip Wulan dan Aris, bu. Tolong bahagiakan mereka, bu. Jadilah pengganti ku untuk membahagiakan mereka."
"Kita akan bahagia bersama, Heru. Kamu jangan bicara seperti itu terus! Kamu harus kuat!"
"Mas Heru ..." kataku yang tak bisa mengontrol tangis ku. Isakku mulai terdengar.
"Dek ... Maafkan aku! Selama kamu menjadi istriku, aku tak pernah membuatmu senang. Tak pernah memberimu kehidupan yang enak. Makasih, dek. Makasih karena kamu sudah menjadi istri yang sempurna untukku. Menjadi ibu yang sempurna untuk Aris. Maafkan aku yang masih banyak kekurangan menjadi suami. Maafkan aku, dek."
"Umi ... Kenapa semua menangis? Abi kan sudah bangun. Kenapa semuanya malah menangis? Abi, abi kenapa menangis?"
"Aris ... Abi, erghhhhh."
Suara mas Heru seketika terhenti, nafasnya sesak. Saat menarik nafas, ia seperti kesakitan. Sangat sulit dan sakit. Engalan nafasnya sangat terdengar. Berat dan tertahan. Melihat apa yang terjadi, semua panik. Buru-buru aku beranjak untuk memanggil dokter Maya yang sudah kembali ke ruang kerjanya. Baru saja ingin membalikkan badan dan melepas genggaman tangan mas Heru, tanganku tertahan. Mas Heru menahan tanganku, seolah tak mau ku panggilkan dokter Maya.
"Ya Allah, mas ..."
"Abi ... Huhuhu ... Umi ... Abi kenapa, umi?"
"Heru ..."
Semua panik. Semua menangis. Aku yang tak ingin mas Heru kenapa-kenapa, kini mencoba pasrah. Mungkin memang sudah waktunya mas Heru harus pergi. Aku membungkuk. Ku dekatkan wajahku di samping wajahnya, dengan tangan kiri mengusap keningnya , sementara tangan kananku menggenggam erat jemari mas Heru yang kurasa sudah mulai mendingin. Kubisikkan lembut di telinga kanan mas Heru.
"Mas ... Kalau memang sudah waktunya kamu harus pergi, aku ikhlas, mas! Aku ikhlas! Beberapa hal yang harus kamu tahu, mas. Aku sangat mencintai kamu! Tak ada rasa menyesal sedikitpun sudah menikah denganmu. Aku sangat beruntung bisa berjodoh denganmu, mas. Aris, akan menjadi penerusmu. Aku akan berusaha menjadikannya seperti yang kamu inginkan. Kamu sudah berhasil mendidik Aris menjadi anak kebanggaanku, mas. Pergilah, mas. Aku ikhlas. Jangan khawatir soal ibu, aku akan menjaga ibumu. Baktiku untukmu, akan ku terus kan pada ibumu, yang sudah menjadi ibuku sejak kita menikah. Lepas saja, mas. Demi Allah, aku ikhlas, mas!"
Mas Heru semakin sulit untuk bernafas. Ia seperti diam beberapa detik, lalu kembali bernafas dengan hembusan nafas seperti dihentak. Berulang-ulang.
__ADS_1
"Mas ... Ikuti aku ya, mas. Laa Ilaaha Illallah."
Lidahnya berucap tanpa suara. Tapi aku tahu, mas Heru mampu melafalkannya walau tanpa suara.
"Lagi ya, mas. Laa Ilaaha Illallah ..." suaraku kali ini dengan bibir yang gemetar.
Mas Heru sudah mulai menghabiskan tarikan dan hembusan nafasnya. Aku yang melihat dan merasakan hembusan-hembusan nafas terakhirnya, serasa ikut sulit untuk bernafas. Rasanya tercekat di pangkal leher. Perlahan, kulihat matanya mulai terpejam. Leher yang tadinya masih kuat menahan tengadah kepalanya, kini terkulai lemas. Tak ada lagi hembusan nafas yang terengal. Tak ada lagi suara nafas yang tersendat. Mulut yang tadinya terbuka seketika mengatup. Bibirnya seperti tertarik, menorehkan senyum di wajah pucat yang terasa dingin kupegang.
"Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun. Mas Heru ..."
Ku ciumi wajahnya yang memutih seperti kapas. Laki-laki yang luar biasa hebat. Kini pergi meninggalkanku selamanya. Pergi menghadap Illahi.
"Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun," ucap ibu mertuaku yang langsung memeluk dan menciumi mas Heru yang sudah terbujur.
"Umi, abi kenapa, umi? Kenapa abi tidur lagi, umi? Huhuhu, abi bangun ... Lihat, aku membawa sajadah yang abi belikan untukku. Bangun, abi ..."
Kutekan tombol khusus untuk memanggil suster atau dokter dalam keadaan darurat. Cukup lama menunggunya datang ke kamar ini. Sebenarnya aku lebih memilih memanggil langsung ke ruangan dokter ketimbang memanggil lewat tombol khusus pemanggil ini. Apa daya, kakiku terasa kaku dan tubuhku sangat lemah, tak kuat rasanya jika harus berjalan bahkan berlari untuk sekedar memanggil dokter Maya.
"Aris ... Sini umi bilangin, nak. Abi sekarang sudah bersama Allah, abi sudah nggak merasakan sakit lagi. Aris harus paham, ya. Ini semua sudah jalan dari Allah. Abi sudah nggak ada di dunia ini. Aris harus ikhlas. Ya, nak!"
"Apa itu artinya abi sudah meninggal, umi? Jadi abi akan dikubur? Kasihan abi, umi. Abi ... Abi bangun, abi ..."
"Aris mau kan, abi masuk syurga? Aris mau kan, abi bangga sama Aris? Aris juga mau kan, umi nggak nangis lagi?"
Aris mengangguk, air mata nya masih terus menetes. Sesekali tubuhnya bergoyang karena sesegukan. Pedih sekali rasanya, melihat wajah Aris yang penuh linangan air mata. Kali ini, kutahan tangis ku demi Aris.
"Kalau begitu, Aris jangan menangis lagi. Ikhlasin abi ya, nak. Cukup berdoa untuk abi, agar abi tersenyum di syurga sana. Aris paham, kan?"
"Iya, umi,"
Air mata yang menetes, ia usap dengan mengelapnya menggunakan baju yang ia tarik ke atas mendekati wajah. Aris kemudian memelukku yang tengah berdiri dengan lutut.
__ADS_1
"Aku akan ingat pesan abi, untuk selalu menjaga umi dan nenek. Umi jangan menangis lagi!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=