Sajadah Terakhir

Sajadah Terakhir
Istri Yang Hina


__ADS_3

Ku biarkan keran air terbuka penuh. Kesejukannya sudah kurasa hanya dengan memandangnya. Tak buang waktu, ku segerakan niatku. Ku mangkukkan kucuran air ke tanganku. Aku mulai berwudhu. Tiba saatnya, tumpahan  mangkukkan air menyiram seluruh wajah sembabku. Benar-benar membuat hati ini kembali sejuk, menghilangkan sedikit kecemasanku. Poin demi poin, rukun wudhu ku lakukan dengan penuh penghayatan. Sungguh, meski sering sekali melakukannya, namun kali ini aku ingin berlama-lama berwudhu. Memainkan air yang begitu sejuk melepas dahaga kecemasanku.


Ku kenakan mukena yang telah disediakan di mesjid yang berada di dalam rumah sakit ini.


"Allahuakbar."


Rokaat pertama, masih bisa ku kontrol dengan baik. Namun, saat rokaat terakhir, di akhir sujudku, rasa gundah masuk ke dalam relung hati. Bayang-bayang mas Heru yang bersimbah darah terus menggelayut. Sajadah untuk Aris yang dibelikan mas Heru, terpampang jelas dalam benakku. Bercak darahnya membuatku kembali menangis. Aku tak kuasa menahan tumpahan airmata yang ku tahan agar tak menyeruak.


"Astagfirullah ... Astagfirullah ... Astagfirullah ..."


Aku terus beristigfar dalam sujud, membenamkan wajah cemasku ke atas sajadah. Berharap, rasa cemas akan hal buruk terjadi, seketika lenyap bersama airmata yang meresap dalam sajadah.


"Allahuma innii 'audzubika minalhamma wal hazani wal'ajzi walkasali walbukhli waljubni wa dhzola'iddaini wa gholabatirrojali."


Perlahan kecemasanku pun hilang. Kini, aku sudah kembali khusyu untuk melanjutkan tawaruk, tasyahud akhir.


"Allahuakbar."


Ku lantunkan doa tasyahud akhir dengan bibir bergetar. Tiba saatnya, aku mengakhiri sholat ku dengan salam.


"Assalamualaikum Warahmatullah ... Assalamualaikum Warahmatullah ..."


Bibir terasa gemetar. Berdesir hati ini saat ucapkan salam. Tak ingin lekas beranjak dari kiblatku, ku tengadahkan kedua tangan seraya meminta. Doa-doa tulus untuk kesembuhan mas Heru, ku panjatkan. Saat menyebut nama mas Heru, bibir ini kembali gemetar, kembali lagi wajahku berderai dengan linangan airmata.


"Ya Allah ... Segala yang terjadi pada kehidupanku, aku yakin Engkau yang paling mengetahui isi dalam setiap ujian yang ku anggap sebagai titipan atasMu padaku. Aku hanya hambaMu yang yak pantas menolak apapun titipanMu. Sembuhkan mas Heru ya Allah, sadarkan dia dari tidurnya yang bukan hanya menyakitinya, tapi juga menyakitiku, bahkan anak kami. Hanya Kau ya, Allah ... Hanya Kau yang dapat mengubah apapun yang tak mungkin menjadi mungkin. Aku mohon ya, Allah ... Cukupkanlah kesabaranku atas apa yang sudah Kau kehendaki. Allahuakbar ... Allahuakbar ... Allahuakbar ... Aamiin, Aamiin ya Rabbal Alamin ..."


Ku akhiri dengan mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan yang ku tangkupkan.

__ADS_1


Cukup lama rasanya aku berada di rumah sakit. Tiba-tiba, pikiranku kembali ke Aris yang ku titipkan pada Ragil, anak bu Iwan. Rasanya, aku khawatir dengan keadaannya. Buru-buru ku langkahkan kaki menemui bu Iwan yang berada di ruang rawat pak Iwan.


"Assalamualaikum."


Bu Iwan ku lihat sedang duduk di kursi sebelah ranjang memainkan ponselnya. Sementara pak Iwan, terlelap dengan tidurnya.


"Waalaikumsalam. Wulan, sudah selesai?"


"Sudah, bu. Bu, aku titip mas Heru ya? Aku mau pulang sebentar, melihat keadaan Aris. Kalau ada kabar apapun dari dokter untuk mas Heru. Tolong secepatnya kabari aku lewat Ragil ya, bu?"


"Iya, Wulan. Nanti sesekali, ibu lihat dan tanyakan keadaan Heru dengan dokter. Kamu urus Aris dulu saja, temui dia. Kasihan kalau nanti dia terbangun dan terlalu lama menunggumu."


"Ya sudah, bu. Aku pulang ya. Assalamualaikum."


"Sebentar, Wulan!"


"Ini ada sedikit pegangan buat kamu. Mudah-mudahan bisa mencukupi keperluan buat di rumah juga di sini. Diterima ya!"


"Ya Allah, ibu. Yang kemarin saja aku belum bisa membalasnya, ini sudah di beri lagi."


"Loh, ibu nggak nyuruh kamu mengganti, apalagi membalasnya. Ibu berikan ini ikhlas, Wulan. Lillahi ta'ala. Nggak perlu kamu pikirin membalasnya di kemudian hari. Nggak perlu!"


"Terimakasih banyak, bu. Aku seperti memiliki orangtua dengan adanya ibu. Dari dulu, ibu selalu menolong aku. Padahal sama sekali, aku belum bisa membalas kebaikan ibu."


Aku memeluk erat tubuh bu Iwan. Tetesan airmata mulai jatuh kembali. Saking terharunya dengan kebaikan bu Iwan selama ini. Kebaikan tulus yang tak pernah aku lupakan. Rupanya, isakku terdengar oleh bu Iwan. Seketika, ia mengusap-usap punggungku yang masih di pelukan nya.


"Sudah ... Jangan nangis lagi. Cepat pulang! Aris sudah menunggumu. Jangan buat Aris semakin cemas karena menunggumu."

__ADS_1


"Iya, bu. Assalamualaikum," ucapku sembari menyeka airmata yang terlanjur menetes.


"Waalaikumsalam ... Hati-hati, Wulan!"


Anggukanku mengakhiri pandangan mataku ke bu Iwan. Aku berlalu meninggalkannya. Ku lewati lorong demi lorong rumah sakit. Cukup jauh untuk mencapai pintu keluar. Rumah sakit ini memang sangat besar, milik pemerintah, dan merupakan pusat dari semua rumah sakit yang ada.


"Wulan!"


Aku dikejutkan dengan suara teriak memanggil namaku. Wajahku menoleh ke arah suara.


"Ibu?"


Ku lihat sosoknya yang tergesa-gesa semakin mendekat menghampiriku.


"Ibu tau darimana mas Heru di bawa ke rumah sakit ini?"


"Ibu barusan ke rumah mau jenguk Aris yang katanya sudah pulang. Tetanggamu yang sedang menjaga Aris, memberitahukan hal ini. Kenapa Heru bisa sampai kecelakaan? Kamu membiarkan dia keluar? Dimana Heru sekarang?"


"Ibu salah paham, bu. Aku nggak tahu saat mas Heru keluar rumah. Pas aku dan Aris pulang, mas Heru sudah nggak ada di rumah. Mas Heru di rawat di ruang ICU" kataku dengan sangat hati-hati dan takut.


"Itulah sialnya kamu! Ibu lihat, Heru nggak pernah merasakan kebahagiaan sejak menikah denganmu! Banyak sekali masalah datang sejak kamu menjadi istrinya! Apa kamu nggak sadar juga? Kamu itu biang sialnya! Semua berdampak ke Aris dan Heru. Heru sampai seperti ini, karena sial menikah denganmu!"


Hatiku sakit. Perkataan ibu mertua menghujam hati ini seperti pedang. Buliran bening tak terasa menetes. Dadaku sesak hingga sulit sekali bernafas. Isakkan tangis ku tak bisa ku tahan. Aku menangis di depan ibu mertuaku.


"Nangis saja yang kamu bisa! Ibu nggak rela ya, kalau Heru sampai kenapa-kenapa! Kamu yang harus disalahkan atas ini semua. Heru satu-satunya anak ibu. Membangkang sejak kenal denganmu. Heru satu-satunya anak ibu. Menjadi pembangkang demi bisa menikahimu. Sekarang, dia yang sudah membelamu mati-matian, terbaring lemah tak berdaya! Apa kamu bisa membalikkan semuanya? Membalikkan putraku yang sehat dan penurut seperti dulu sebelum mengenalmu? Aku benci denganmu, Wulan. Sangat membencimu!"


Ibu mertua berlalu meninggalkanku yang menangis dan terpaku. Sementara orang-orang di sekelilingku melihatku dengan tatapan iba, juga tak sedikit yang menatapku aneh. Aku malu. Ibu begitu tega memarahi dan menghina ku di depan khalayak ramai. Aku seperti Wanita yang tak punya harga diri. Wanita sampah yang pantasnya dibuang. Menantu yang tak pernah diperlakukan layaknya menantu.

__ADS_1


'Sehina inikah manjadi istri dari anak yang ibunya tak pernah memberi restu sedikitpun hingga sekarang?'


__ADS_2