
"Allahuakbar ... Allahuakbar ..."
Suara adzan yang dikumandangkan oleh muadzin di masjid yang tak jauh dari rumah ibu mertuaku terdengar samar. Tapi cukup membangunkan ku yang tengah terlelap di peraduan. Kulihat Aris masih terlelap meringkuk dengan memeluk guling. Selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya ku sisihkan perlahan. Ku usap lembut dari kening hingga kepalanya.
"Aris ... Bangun, nak. Sudah subuh."
Tak susah membangunkan Aris disaat subuh. Ia memang sudah terbiasa ku bangunkan untuk ikut melaksanakan sholat subuh. Sewaktu mas Heru masih sehat, Aris tak pernah absen untuk ikut sholat subuh ke masjid dengannya.
"Iya, umi."
Aris menoleh, matanya seperti mencari sosok seseorang. Tapi tak ia temukan.
"Nenek mana? Kok nggak ada, umi?"
Rupanya, sosok yang ia cari, ibu mertuaku. Memang dari awal Aris ingin tidur dengan neneknya. Tapi karena Aris keburu tertidur di sofa, aku yang mengangkat Aris dan memindahkannya, lupa kalau Aris ingin tidur dengan ibu mertuaku.
"Semalam Aris ketiduran di sofa, umi lupa kalau kamu mau tidur sama nenek, jadi langsung umi pindahin Aris ke kamar. Tidur sama umi. Maafin umi, ya!"
"Iya, umi ... Nggak papa kok."
"Sini yuk, Aris bersih-bersih badan dulu. Dokter bilang 'kan Aris nggak boleh mandi dulu. Luka bekas operasinya belum boleh kena air."
Aris mengangguk dan langsung turun dari ranjang kemudian melangkah ke arah pintu kamar.
"Aris mau kemana?"
Langkahnya terhenti saat aku bertanya. Kemudian menengok ke arahku, wajahnya terlihat bingung.
"Ke kamar mandi, umi."
"Nggak usah keluar, kamar ini sudah ada kamar mandinya. Yuk, sini."
Aris semakin bingung, ia melangkah menghampiriku. Beberapa kamar utama di rumah ini memang sudah tersedia toilet yang menyatu dalam kamar. Aris yang terbiasa tinggal di kontrakan yang sangat sederhana merasa bingung dengan adanya toilet di dalam kamar yang ia tempati.
"Rumah nenek bagus ya, umi. Apalagi kamar mandinya. Aris boleh nggak, umi, tinggal di sini terus?"
Setelah masuk toilet, Aris semakin kagum dengan kemewahan rumah ini. Wajahnya seperti tengah mendambakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan.
"Sudah, nanti kesiangan sholat subuh nya. Ngobrolnya nanti saja, setelah selesai sholat."
Kini, Aris sudah terlihat lebih segar. Baju baru yang dibelikan ibu mertuaku sangat pas dikenakan oleh Aris. Raut wajahnya terpancar kebahagiaan. Senyum polos yang mengekspresikan kegembiraannya mengenakan baju baru, membuat aku tertawa dan mencium gemas pipinya.
"Sholeh nya umi keren, ya. Ganteng! Hemm, wangi lagi!" kataku memuji, yang ia balas hanya dengan senyum malunya.
__ADS_1
"Umi, aku mau ke nenek. Mau lihat, sudah bangun apa belum."
"Ya sudah. Kamar nenek di sebelah kamar ini, ya. Umi mau mandi!"
*****
Selesai menunaikan sholat subuh, kami langsung menyegerakan diri untuk ke rumah sakit memberi semangat dan doa ke mas Heru yang mau operasi. Aku berharap, operasi mas Heru dapat berjalan dengan lancar sesuai harapan.
"Gimana, Wulan? Nyaman nggak gamis ibu yang kamu pakai?" kata ibu yang sudah menyalakan mobil mengawali obrolan.
"Alhamdulillah, bu. Sangat nyaman."
"Untungnya postur tubuh kamu sama dengan ibu. Jadi nggak bingung. Gamis-gamis ibu jarang dipakai, nggak betah. Kalau kamu mau, ibu bisa pilihin yang bagus-bagus."
"Nggak usah, bu. Gamisku juga ada di rumah. Kalau berlebih, aku juga bingung nanti memakainya. Karena, apapun yang kita punya, nantinya akan di hisab di akhirat termasuk baju-baju yang selama ini kita simpan."
"Baju pun akan ada hisabnya? Ibu punya banyak baju-baju yang sama sekali tidak pernah ibu gunakan lagi. Karena saking banyaknya, Wulan."
"Maaf ya, bu. Bukan aku bermaksud menggurui ibu. Cuma sekedar saran, lebih baik baju-baju yang jarang ibu pakai bahkan sudah tak lagi di gunakan, ibu hibahkan saja. Akan jauh lebih banyak manfaatnya dibanding hanya disimpan menjadi pajangan di lemari."
"MashaAllah, Wulan ... Kamu benar, nak. Ibu sampai tak terfikir akan hal itu. Selama ini yang ibu pikirkan hanya hal duniawi saja. Bahkan ibu sudah terlalu lama jauh dari ajaran-Nya. Astagfirullah ..."
"Tak apa, bu. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali."
"Terimakasih, bu. Tapi jangan terlalu memujiku berlebihan. Aku takut pujian yang berlebihan akan menjadi kan aku sombong karenanya. Aku yang beruntung memiliki mas Heru, aku seperti ini karena dia mendidik ku menjadi istri sebenar-benarnya istri."
Ibu mertuaku tersenyum, dengan mata menatapku melalui kaca spion yang terpasang di dalam mobil.
'Alhamdulillah ya, Allah ... Saat-saat seperti ini yang sangat aku rindukan sejak dulu. Terimakasih telah menjawab doa-doaku selama ini.'
"Umi ... Sajadah yang abi belikan untukku, apa sudah umi cuci?"
Aris yang melihatku sudah selesai bicara dengan ibu mertuaku, tuba-tiba bertanya.
"Sudah kok. Saat Aris ke masjid dengan om Ragil, umi langsung mencucinya di rumah om Ragil. Umi sengaja menumpang mencuci sajadahnya memakai mesin cuci nenek Iwan yang ada pengeringnya. Niatnya agar bisa cepat kamu gunakan saat subuh tadi. Memangnya kenapa?"
"Nggak papa, umi. Aku cuma teringat sama abi."
"Itu artinya, abi juga sedang memikirkan kamu. Aris berdoa saja ya, agar nanti operasi abi berjalan lancar."
"Iya, umi. Nek ... Apa masih ada waktu kalau aku pulang mengambil sajadah kecilku yang dibelikan abi? Aku mau ambil sajadahku, nek."
"Masih, tadi sebelum sholat subuh, dokter menghubungi nenek, katanya operasi di undur satu jam. Jadi Aris masih punya waktu untuk pulang ke rumah dulu."
__ADS_1
"Terima kasih, nek."
"Ya, sama-sama, nak!"
*****
"Dokter. Bagaimana kondisi Heru, anak saya"
"Masih stabil kok, bu. Sekarang masih jam 6, satu jam lagi jika tak ada halangan, pak Heru akan masuk ruang operasi."
Kami bertiga sudah berada di ruang dokter Maya yang hanya berselisih dua pintu dari kamar rawat mas Heru.
"Wulan, lebih baik kita sarapan dulu sebelum Heru masuk ruang operasi. Aris juga kan harus minum obat."
"InshaAllah aku puasa, bu. Ibu dan Aris saja, yuk aku antar."
"Ya sudah. Maaf dok, kami tinggal sarapan dulu. Dokter sudah sarapan?" tanya ibu mertua ketika pamit.
"Iya, bu, silahkan. Saya sudah sarapan kok."
Dokter Maya menjawab dengan tersenyum. Baru saja kami hendak berdiri, suara ketukan pintu terdengar.
"Tok tok tok"
"Ya ... Masuk!"
"Ceklek"
Pintu terbuka, ternyata suster Tania yang datang. Suster sekaligus asisten dokter Maya yang juga merawat mas Heru.
"Kenapa, sus?"
"Maaf dok, mau kasih update'an kondisi pak Heru. Saat ini, pak Heru sudah siuman. Matanya sudah terbuka."
Kami yang saat itu masih terduduk, seketika berdiri mendengar kabar baik dari suster Tania.
"Alhamdulillah ..." kata kami serentak.
"Ini satu kemajuan yang sangat baik. Kebetulan di sini ada keluarga pak Heru. Yuk, ikut saya melihat kondisi pak Heru saat ini."
"Iya, dok." kataku yang sambil menuntun Aris mengikuti langkah dokter Maya menuju kamar rawat mas Heru.
'Alhamdulillah ya, Allah ... Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kesembuhan mas Heru. Semoga mas Heru segera pulih tanpa perlu melakukan operasi yang sangat beresiko itu. Aamiin ya, Allah ... Aamiin ya Rabbal Alamiin!'
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=