Sajadah Terakhir

Sajadah Terakhir
Rasa Takut Aris


__ADS_3

"Umi ... Apa besok kita jadi pindah ke rumah nenek?" tanya Aris yang tengah menaruh kopiah di antara Al-Qur'an dan buku-buku koleksi mas Heru yang tersusun rapi di rak.


"Jadi, kebetulan lusa nanti, umi mulai bekerja di kantor tante Mira. Saat Aris umi tinggal bekerja nanti, jaga diri Aris baik-baik, ya! Jangan buat umi dan nenek khawatir."


"Iya, umi. Aku janji nggak akan bikin umi khawatir, apalagi sampai menangis."


"Aris sudah muroja'ah nya?"


"Sudah kok, umi."


"Maaf ya, nak. Umi nggak nemenin Aris muroja'ah malam ini. Umi harus ngepakin baju-baju kita, juga barang-barang yang akan dibawa ke rumah nenek nanti." kataku yang tengah memasukan barang pecah belah ke dalam dusbox.


"Iya, umi. Nggak papa. Aku bisa sendiri kok. Ya sudah, umi, aku sudah ngantuk."


"Ya sudah. Aris mau tidurnya umi temani?"


"Nggak usah, umi. Teruskan saja beres-beresnya. Aku bisa tidur sendiri."


Langkah Aris terlihat gontai. Sepertinya, Aris memang sudah sangat mengantuk.


Seminggu sudah kami tanpa mas Heru. Hari-hari yang ku lewati terasa begitu sepi. Tapi aku berusaha kuat. Aku tak mau Aris melihat kesedihanku. Setiap malam Aris selalu melanjutkan hafalannya seperti yang sudah rutin ia lakukan sewaktu mas Heru masih ada. Sajadah pemberian mas Heru pun selalu ia jadikan alas duduk untuk mengaji.


"Umi ..."


Aku yang tengah berucap salam di sholat sepertiga malam, mendengar Aris memanggilku. Kuselesaikan salam dan mengakhiri sholatku.


"Umi ..." ujarnya yang kembali kudengar.


Sejak Aris sakit, aku selalu menemaninya tidur di kamarnya. Tak tega rasanya membiarkan Aris tidur sendirian di kamar dengan kondisinya yang masih suka melemah.


"Iya, kenapa, nak? Aris haus? Umi ambilkan minum, ya?" kataku sembari melipat mukena yang baru saja kulepas.


"Iya, umi. Badanku lemas sekali, rasanya haus."


"Sebentar umi ambilkan minum, ya."


Kududukkan Aris dengan punggung tetap bersender di kepala ranjang. Gelas berisi air hangat segera kuminumkan padanya. Wajahnya terlihat lelah, sedikit pucat dan berkeringat.


"Umi kenapa nggak tidur?"

__ADS_1


"Umi sudah tidur tadi. Terus kebangun dan nggak bisa tidur lagi. Daripada umi hanya bengang-bengong, lebih baik umi mendekatkan diri dengan Allah. Umi juga bisa sekaligus mendoakan abi yang sudah di surga, juga berdoa untuk kesembuhan Aris."


"Kata abi, itu sholat tahajud, umi. Semua doa akan dikabulkan."


"InshaAllah ... Doa yang tulus, pasti akan dijawab oleh Allah."


Mata Aris kembali kulihat mengernyit. Seperti menahan rasa sakit. Aku semakin khawatir saat wajahnya terlihat semakin pucat.


"Betul, Aris hanya haus?"


Aris mengangguk dan membaringkan tubuhnya kembali dengan kepala beralaskan bantal. Matanya melirik jam yang tergantung di dinding kamar, yang kemudian ia alihkan ke arahku dan perlahan matanya kembali terpejam. Aris sudah tertidur lagi. Kucium lembut keningnya sembari memanjatkan doa yang terbaik untuk Aris.


*****


"Assalamualaikum ..."


"Waalaikumsalam! Umi ... Nenek sudah datang!"


Selesai sarapan dan minum obat, Aris sengaja langsung duduk di teras rumah. Ia sangat menanti kedatangan neneknya untuk menjemputnya.


"Waalaikumsalam. Itu siapa, bu?" tanyaku penasaran setelah mencium tangan ibu mertuaku saat datang dengan dua laki-laki yang tak kukenal.


Aku mengangguk sebagai tanda mengerti. Kupersilahkan ibu mertuaku dan karyawannya untuk memasuki rumah. Aris yang sejak tadi bergelayut manja pada ibu kemudian melepaskan rangkulan tangannya yang tengah melingkar di pinggang ibu.


"Nenek, aku seterusnya 'kan, nek, tinggal di rumah nenek yang besar dan adem itu?"


"Iya dong, Aris! Itu 'kan rumah Aris juga. Aris boleh tinggal sampai kapanpun di rumah nenek. Rumah nenek, rumah Aris juga."


Kulihat senyum Aris merekah, terpancar kesenangan yang mungkin ia dambakan selama ini. Akupun ikut tersenyum melihatnya. Kebahagiaan Aris menjadi kekuatanku untuk terus berusaha membuatnya tersenyum.


"Wulan, hari ini jadi kan kontrol Aris ke rumah sakit?"


"Jadi, bu. Sudah dijadwal sama dokter Iksan hari ini."


"Ya sudah. Kita ke rumah sakit dulu, baru setelahnya ke rumah. Biar nggak bolak-balik. Barang-barang biar nanti Indra dan Randi yang bawa duluan ke rumah."


"Iya, bu."


"Umi ... Ke rumah sakit hanya untuk periksa 'kan, umi? Aku nggak akan menginap di sana lagi 'kan?"

__ADS_1


Wajah Aris terlihat gusar. Matanya sudah berkaca. Aris kelihatan cemas saat mendengar aku akan membawanya ke rumah sakit. Ku dekati wajahnya yang sendu. Tanganku kini membingkai wajah mungilnya yang menatapku lekat.


"Aris ... Nggak usah takut. Nanti dokter Iksan hanya memeriksa kondisi Aris. Masa jagoan umi melempem pas dengar mau di ajak kontrol ke rumah sakit? Yang semangat dong. Aris harus semangat untuk sembuh. Umi yakin Aris pasti sembuh. Aris anak yang kuat!"


Bibir yang semula terlihat datar, kini melengkung dan tertarik. Aris tersenyum, kemudian tertawa memperlihatkan gigi putihnya yang rapi terawat. Membuatku semakin gemas ingin menggigit hidung mungilnya.


*****


"Ananda Aris ..."


"Iya, suster," kataku setelah mendengar nama Aris akhirnya dipanggil juga.


"Silahkan masuk, dokter Iksan sudah menunggu di dalam."


Segera kami berdiri dan melangkah masuk ke ruangan yang bertuliskan "Dokter Iksan - Spesialis Penyakit Dalam" menempel di daun pintu.


"Aris, bagaimana kondisinya? Masih suka sesak? Dadanya masih suka sakit?"


Aris yang duduk di sebelahku tak menjawab ketika ditanya dokter Iksan. Ia hanya menggeleng pelan.


"Aris ... Katakan saja apa yang Aris rasakan. Jangan ditahan, apalagi ditutup-tutupi. Umi nggak mau Aris diam. Kalau sakit bilang sakit, kalau sesak bilang sesak. Biar nanti dokter bisa lebih cepat menangani keluhan yang Aris rasakan."


"Aku sudah sembuh, umi! Aku sudah nggak sakit lagi! Jadi aku nggak mau diperiksa! Aku sudah sembuh! Aku sudah sembuh!"


Nafasku tersendat saat Aris berbicara tegas dan menangis. Wajah gusarnya yang tadi kulihat di rumah, kini kulihat kembali. Kutatap matanya yang memerah dan berair. Sangat terlihat kecemasan di sana.


'Apa yang kamu takutkan, nak? Apa yang kamu rasakan? Apa yang kamu pikirkan? Wajahmu sungguh membuat umi ikut merasa takut. Takut sesuatu yang nggak umi inginkan akan terjadi,' batinku yang tengah menatap mata Aris lekat-lekat.


"Astagfirullah ..." kataku yang kemudian memejamkan mata dan menggelengkan kepala saat tersadar bahwa apa yang harus aku pikirkan adalah yang baik-baik untuk Aris.


"Ibu Wulan, sudah, nggak papa. Biarkan saja. Biar nanti saya yang coba bicara ke Aris saat pemeriksaan."


Dokter Iksan yang juga kaget mendengar Aris bicara keras dan menangis mencoba menenangkanku.


"Sudah, Wulan. Biarkan saja. Kalau Aris bilang nggak kenapa-kenapa, ya sudah. Nanti biar dokter Iksan saja yang periksa. Dokter Iksan akan lebih tau kondisi Aris nantinya bagaimana."


"Iya, bu. Aris ... Maafkan umi, ya. Maafkan umi yang sudah membuat Aris takut dan menangis. Umi percaya sama Aris, Aris pasti bicara jujur."


Aris menunduk. Tak berani menatapku. Tak berani berbicara lagi. Hingga kemudian ia berbaring di ranjang yang tersedia di ruangan dokter Iksan untuk diperiksa.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2