Sajadah Terakhir

Sajadah Terakhir
Sujud Terakhir di Sajadah Terakhir


__ADS_3

"Wulan ... Aris mana? Kok sudah terang nggak kelihatan? Sudah ditinggal saja, biar mbak Lastri yang mengurusi ini."


Aku yang tengah menggelar beberapa karpet besar di ruang tamu untuk pengajian nanti langsung melepasnya, kulihat jam besar yang menempel di dinding ruang ini. Aku baru ingat, sudah sekitar satu jam Aris tak terlihat sejak terakhir kutinggalkan sholat subuh tadi.


"Dilihat sana, mungkin habis sholat Aris langsung nerusin hafalannya. Dikasih tahu, Wulan, Arisnya! Jangan kelamaan, nanti kecapek'an."


"Iya, bu."


Dengan cepat ku langkahkan kaki ini menuju ruangan di mana Aris terakhir kulihat. Perasaanku tiba-tiba tak karuan, saat melihat Aris yang masih dengan posisi bersujud di atas sajadah pemberian mas Heru.


"Aris ..." panggilku yang duduk memdekat dengan kedua lututku.


Hatiku semakin gusar, kala Aris tak kunjung menyahut dan bangkit dari sujudnya. Pikiran buruk sudah merayap di kepalaku, membuat hati ini semakin parau.


Buru-buru kupegang Aris sambil memanggil namanya, kucoba goyangkan tubuhnya. Seketika Aris tergeletak tanpa suara dan gerak.


"Aris ...! Aris ...! Kamu kenapa, nak? Bangun, Aris ..."


Aku menangis, menjerit saat kudapati tubuh Aris yang sudah dingin. Kuangkat ia kepangkuanku. Kuciumi wajah pucatnya yang terlihat tenang dan sedikit memperlihatkan senyum dengan mata terpejam. Tak ada lagi nafas yang kurasa seperti saat Aris pingsan dulu. Aris anakku, sudah tiada.


"Astagfirullah ... Aris ... Jangan tinggalkan umi, nak! Umi nggak kuat, nak! Aris bangun, nak ... Aris ..."


"Wulan? Aris kenapa? Astagfirullah!" ibu datang karena mendengar suara teriakanku memanggil Aris.


"Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun," ucapku lirih dengan bibir gemetar.


"Apa maksud ucapanmu, Wulan?"


"Aris sudah pergi, bu. Aris sudah nggak ada."


Tangisku semakin merebak. Air mata yang keluar seperti kucuran air yang deras membanjiri wajah. Laksana terhunus pedang dada ini hingga menembus punggung. Sakit sekali rasanya, melihat Aris yang sudah terbujur tanpa nafas di pangkuanku. Seketika, dunia serasa berhenti berputar.


"Enggak, Wulan. Aris cuma pingsan! Ibu yakin Aris cuma pingsan! Cepat bawa Aris ke rumah sakit, Wulan! Cepat!"


"Bu ... Aris memang sudah nggak ada. Aris sudah meninggal!"


Ibu seperti tak terima mendengar aku mengatakan Aris sudah tiada. Akupun sebenarnya tak percaya ini terjadi, aku ingin Aris tetap membuka mata. Tapi takdir berkata lain, Aris, anak sholeh yang selama ini selalu ku bangga kan telah menghadap illahi. Pergi meninggalkan dunia yang fana ini.


"Aris ... Nenek mohon bangun, nak! Bangun, sayang! Aris ..."


"Bu, ikhlaskan, bu! Ikhlaskan Aris!"


Kugendong Aris. Dengan kekuatan yang masih tersisa, aku berusaha untuk bangkit berdiri. Meski melangkah dengan gontai, kupaksakan kaki ini tetap melangkah membawa Aris yang sudah tak bernyawa. Air mata yang tak bisa kupaksa berhenti, mengiringi langkahku meninggalkan ruangan yang setiap hari disinggahi Aris.


'Aku ikhlas ya, Allah. Jika memang takdirku harus kembali kehilangan dia yang sangat aku cintai di waktu yang sedekat ini. InshaAllah, aku ikhlas! Aku ikhlas!"


*****


Atas saran dan himbauan kiayai dan ustad yang kuundang sebagai pemuka dan pembuka pengajian ini, juga dengan beberapa pertimbangan, aku dan ibu menyetujui pengajian 40 hari mas Heru tetap digelar. Jenazah Aris sengaja diletakkan di tengah ruangan yang di kelilingi jemaah pengajian yang datang. Sambil mendoakan mas Heru, jemaah pengajian yang sekaligus menjadi pelayat Aris ikut mendoakan Aris juga.

__ADS_1


Hingga waktu pemandian jenazah Aris tiba, air mata ini tetap tak bisa berhenti mengalir. Dipandu dengan pemandi mayat atau disebut juga ghassal, tangan gemetar ini memandikan raga Aris yang sudah dingin memutih dan tak lagi bernafas. Wajah dengan mata terpejam, dan bibir menghias senyum, membuat siapa saja yang melihatnya, pasti menyangka Aris hanya tengah tertidur pulas. Tiap sudut dan lekuk tubuhnya yang kusentuh, membuat tubuh ini tak kuat menahan goyangan karena isak tangisku yang semakin sesegukan.


'Umi ... Jangan menangis lagi, umi. Aku janji, aku akan menjadi anak yang sholeh, seperti yang abi inginkan, seperti yang umi banggakan.'


Kata-kata Aris yang dulu terucap, berulang kali terngiang di telingaku. Sangat jelas. Kuhela nafas yang kurasa semakin menyesakkan dada. Buru-buru kuusap air mataku dengan kasar. Kufokuskan kembali meneruskan arahan ghassal untuk ikut memandikan jenazah Aris.


Saat raga mungilnya yang sudah terbujur, dibalut dengan kain putih yang akan dipakai sebagai pakaian terakhirnya. Lagi-lagi hati ini terasa sakit. Sungguh, tak mampu lagi kututupi semua rasa sedih ini. Aku benar-benar sangat kehilangan. Air mata kembali menorehkan kesedihan di wajahku. Aku tersungkur tepat di sebelah wajah Aris yang masih tersisa tak tertutup kain kafan.


"Ya Allah, Aris ... Maafin umi, nak. Maafin umi yang belum bisa bahagiain Aris selagi masih ada. Maafin umi ... Bahkan di hembusan nafas terakhir Aris, umi nggak ada di samping Aris. Maafin umi, nak ... Maafin umi!"


"Wulan ... Sudah! Jangan lagi menangisi Aris. Ibu tahu ini berat sekali untukmu. Tapi kamu harus kuat, demi Aris. Kasihan Aris, Wulan. Dia pasti tak tenang jika kamu terus menangisinya."


"Betul, bu Wulan, nggak baik menangisi mayit terus-terusan. Boleh kita menangis, tapi sewajarnya. Ketika mayit sudah dimandikan, itu waktu untuk kita berhenti menangisinya."


Ustadz yang kuundang pada pengajian 40 hari mas Heru tiba-tiba bersuara saat melihatku yang masih terus menangisi kepergian Aris. Ia menasehatiku dengan suara pelannya namun langsung menusuk ke relung hati.


"Astagfirullahaladzim ..."


Aku beristigfar kemudian cepat-cepat menyeka air mataku. Kupandangi wajah Aris untuk kesekian kalinya. Wajahnya tampak bersih. Meski pucat, namun seperti bercahaya. Menyejukkan mata siapapun yang memandang.


'Maafin umi, nak. InshaAllah umi ikhlas. Aris saja pergi dengan meninggalkan senyum manis di wajah, seharusnya umi juga sekarang tersenyum, karena Aris sudah tak merasakan sakit lagi. Aris, anak sholeh umi. Umi ikhlas, nak'


Kucium wajah Aris untuk terakhir kalinya. Kini, aku sudah lebih bisa mengontrol emosiku. Air mata yang tadi terus keluar, sudah terasa kering, tak lagi menetes.


*****


Taburan bunga yang terjatuh di atas gundukan tanah merah yang masih basah, mengiringi langkah para pelayat yang dengan ikhlas ikut mengantarkan Aris ke peristirahatan terakhirnya, meninggalkan area pemakaman. Satu persatu langkah kaki mereka semakin menjauh.


"Wulan ..."


Kudengar suara yang tak asing lagi di telinga, memanggil namaku. Aku menoleh, ingin memastikan siapa pemilik suara itu.


"Bu Iwan?"


Kami berpelukan. Bu Iwan terlihat sangat terpukul dengan kepergian Aris. Seketika tangisnya memecah telingaku.


"Maafkan ibu ya, Wulan! Maaf kalau ibu baru ke sini. Kamu yang sabar! Semua sudah suratan takdir dari-Nya. Ibu yakin, kamu pasti lebih paham. Ketimbang ibu."


"Iya, bu. InshaAllah aku sudah ikhlas, Aris pergi. Aku ikhlas dengan semua takdir-Nya."


Kulepaskan pelukan bu Iwan. Lalu kuusap air mata yang baru saja ia keluarkan. Aku tak mau, ada air mata lagi yang menangisi Aris.


"Gimana keadaan bapak, bu? Apa sudah ada kemajuan?" tanyaku mencoba mengalihkan bu Iwan.


"Alhamdulillah, sudah, Wulan. Bapak sudah sadar dan pulih. Sudah satu minggu bapak dibolehkan pulang. Sekarang pun kondisinya semakin membaik. Tapi belum bisa beraktivitas seperti dulu."


"Alhamdulillah! Sabar ya, bu. Kita doakan saja terus, agar bapak bisa seperti dulu lagi."


"Aamiin ..."

__ADS_1


Melihat aku dan bu Iwan semakin terlibat dengan obrolan. Ibu menghampiriku, mengajakku untuk segera pulang.


"Wulan ... Pulang, yuk! Ngobrolnya di lanjutkan di rumah saja."


"Iya, bu. Sebentar," kataku yang kemudian berjongkok mendekati kayu nisan bertuliskan nama Aris.


'Aris ... Umi sudah mengikhlaskan kepergian Aris. Aris anak yang sholeh, Aris anak yang selalu membuat umi tersenyum bangga, bahkan menangis bahagia karena memiliki Aris. Umi juga nggak akan kesepian, karena umi akan penuhin janji umi ke Aris, bahwa umi akan mengangkat anak untuk menemani umi di dunia ini. Doa umi akan selalu menyertaimu, nak. Tak akan terputus. Umi tinggal ya, nak. Assalamualaikum.'


***


Tiba di rumah. Tanpa Aris yang mengikutiku. Tanpa Aris yang selalu ribut tentang hal- hal baik yang ingin dia tahu. Tanpa Aris yang merengek manja bergelayut pada gamis yang kukenakan. Aku melangkah, memasuki rumah yang masih menyisakan luka kehilangan. Kuteruskan langkah menuju ruangan di mana Aris kutemukan tak lagi bernafas. Keadaannya masih sama seperti terakhir kali kutinggal.


Pintu yang masih dibiarkan terbuka. Kudekatkan diri melangkah hingga masuk ke ruangan yang setiap harinya digunakan Aris untuk mendekatkan diri pada sang Illahi. Kini, terasa begitu sunyi saat Aris sudah tak lagi ada. Sajadah pemberian mas Heru yang selalu ia jadikan alas disepanjang munajatnya, menjadi sajadah terakhir yang ia gunakan. Sajadah terakhir disujud terakhirnya. Sajadah terakhir yang mengantarkannya pada Allah.


*****


"Azzam, Raisa, Intan, Sadam. Cepat, nak! Nanti kesorean, keburu gelap!


"Iya, umi ..." ucap mereka serentak.


Mereka merupakan anak-anak angkatku yang sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Dari sekian banyak anak di panti asuhan, kuambil masing-masing yang mempunyai huruf nama depan berurutan membentuk nama "ARIS".


Azzam merupakan anak tertua, usianya sudah 14 tahun. Raisa berusia 3 tahun lebih muda dari Azzam, usianya 11 tahun. Intan berusia 6 tahun. Terakhir Sadam, usianya baru menginjak 3 tahun. Mereka anak-anak yang luar biasa. Anak-anak yang sholeh dan sholeha. Membuatku semakin bersyukur atas rahmat yang kuperoleh. Semakin belajar dengan tingkah mereka yang tak satupun sama.


"Sebelum ke makam Aris dan abi, kita mampir ke yayasan panti asuhan dulu, ya. Tepat 1 tahun kepergian Aris, umi mau kita berbagi sedikit rejeki pada mereka."


"Baik, umi." kata mereka serentak.


"Siap, ibu bos!" kata Ragil yang duduk di kursi depan setir.


Ragil sudah 6 bulan mengabdi di perusahaan yang kupimpin. Aku senang karena hubungan kekerabatan aku dan bu Iwan berlanjut seperti keluarga. Aku juga senang melihat Ragil yang optimis akan masa depannya kala dulu terpuruk dengan kesalahannya.


"Wulan, kamu nggak mau mencarikan ayah untuk anak-anakmu ini?"


Ibu yang duduk di depan, tepatnya sebelah Ragil yang tengah menyetir, tiba-tiba berbicara yang membuat aku menoleh. Aku tak menyangka ibu mempunyai pikiran yang sama sekali tak aku duga. Ibu sendiri tahu perasaanku terhadap mas Heru. Meski mas Heru telah tiada, hari-hari yang kulalui, disetiap sujud terucap namanya, semakin hari semakin membuat hati ini merindukan sosoknya. Aku semakin mencintai mas Heru yang sudah lebih dulu ke syurga Allah.


"Iya, mbak Wulan. Kalau memang ingin mempunyai pendamping lagi, mbak Wulan sudah boleh. Ini sudah lebih dari satu tahun kepergian mas Heru. Barangkali mbak Wulan merasa sepi dan butuh teman hidup." timpal Ragil dengan mata fokus ke depan jalan dan tangan tengah mengendalikan setir.


"Bu, Ragil ... Aku mampu merawat mereka. Walau masih harus dibantu mbak Lastri, juga ibu yang mengurus mereka. Aku tak sanggup berkhianat. Aku tak sanggup jika harus menjalani kehidupan dengan pendamping selain mas Heru. Aku yakin, mas Heru dan Aris menungguku di sana. Di syurga yang juga aku nantikan." kataku sedikit sedih.


"Alhamdulillah, ibu senang mendengarnya, Wulan. Ibu bangga sama kamu. Ibu benar-benar beruntung memiliki menantu sepertimu. Terutama Heru. Dari kamu, ibu belajar keikhlasan, ibu belajar kesederhanaan, ibu belajar tawakal, dan karena kamu, ibu bisa menjadi muslimah yang utuh dengan berhijab."


Aku tak mampu berkata, air mata yang tertahan di pelupuk, membuat bibir ini hanya mampu tersenyum memandang ibu. Kalau pun harus bicara, aku akan berkata, ibu segalanya untukku saat ini. Dengan dia, akan kurajut asa di dunia ini bersama putra-putriku menuju indahnya akhirat kelak. Menuju syurga yang dinanti mas Heru dan Aris untuk kembali berkumpul bersama. Menuju syurga yang dinantikan setiap insan.


TAMAT


\=\=\=\=\=


Terimakasih kasih sudah mau review sampai bab terakhir ini. Nantikan karya-karyaku selanjutnya, ya!

__ADS_1


__ADS_2