
"Tut. Tut. Tut. Tut. Tut. Tut."
Suara yang terdengar dari bedside monitor membuat dokter dan suster panik. Begitu pun aku dan ibu mertuaku. Kulihat kurva gelombang yang makin tak terkendali. Pikiran ku semakin kacau.
"Ya Allah ... Tolong suamiku, ya Allah! Selamatkan mas Heru ... Aku mohon, ya Allah! Astagfirullah ... Allahuakbar!"
Aris yang melihatku menangis dan menjerit, membuatnya ikut menangis memanggil mas Heru.
"Abi ... Huhuhu ... Abi ... Dokter, tolong sembuhin abi, dokter. Aku mau abi ... Aku mau sama abi ... Umi ... Tolongin abi, mi. Kasihan abi, mi ... Abi ... Huhuhu."
Mendengar tangisanku dan Aris, suster yang membantu dokter Maya menangani mas Heru menghampiriku, memintaku untuk tetap tenang.
"Ibu, adek Aris. Tolong tenangkan diri kalian, ya! Dokter sedang sangat berusaha. Kita sama-sama berusaha, kalian cukup dengan doa, itu sudah membantu kami di sini."
"Tut tut tut tut tut tut tuuuuuuuuuuutttt"
"Suster, tolong ambilkan AED!"
AED adalah Automated External Defibrillator atau biasa disebut alat kejut jantung. Alat yang bentuknya seperti setrika ini sangat mempunyai fungsi yang dapat menolong pasien yang mengalami henti jantung.
Mendengar suara bedside monitor yang tak terjeda lagi, juga kurva yang hanya garis lurus di layar monitor, seketika tangisku menjerit.
"Mas Heru ... Mas ... Ya Allah, mas ..."
"Heru ... Jangan tinggalin ibu, nak!" teriak ibu mertuaku yang tiba-tiba sudah ada di samping ku dan Aris.
Tak buang waktu, dokter Maya yang sudah memegang AED di tangannya langsung menempelkannya tepat di dada mas Heru.
"Bismillahirrahmaanirrahiim."
DEEEGGGG
Seketika tubuh mas Heru terangkat akibat hentakkan setrum yang dikejutkan. Kejutan pertama tak ada reaksi, monitor masih menampakkan kurva garis lurus.
DEEEGGGG
__ADS_1
Tubuh mas Heru kembali terangkat. Kejutan kedua pun tak jauh berbeda, hanya kurva garis lurus yang masih tergores di layar bedside monitor. Membuatku yang sedari tadi menahan nafas, semakin cemas.
DEEEGGGG
Kembali lagi, setrum yang dikejutkan membuat tubuh mas Heru terangkat. Kali ini ada yang berbeda, mulutnya seperti mengeluarkan suara seperti sedang berdeham.
"Tut tut tut tut tut tut tut tut. Tut. Tut. Tut."
Kejutan ketiga membuatku menangis haru. Suara monitor kini menderu dengan terjeda. Kulihat kurva di layar monitor yang sudah kembali bergelombang. Sungguh, saat ini tangisan haru bahagia yang ku keluarkan.
"Alhamdulillah. Suster, segera matikan alat yang sudah tidak diperlukan. Kondisi jantung pak Heru sudah stabil. Setelah itu tolong cek pengaturan normal pada bedside monitor."
"Alhamdulillah ..." ucapku berbarengan dengan Aris dan ibu mertuaku.
Setelah berhasil menolong mas Heru, dokter Maya langsung menghampiriku, ibu, dan Aris.
"Ibu Rani, ibu Wulan, dan Aris. Alhamdulillah pak Heru sudah melewati masa yang sangat kritis. Berhubung sekarang sudah terlalu malam, dan kondisi pak Heru yang masih butuh pemeriksaan lebih lanjut, saya harap kalian mengerti untuk sementara pulang dulu. Karena, jika tidak ada halangan, besok pagi pak Heru akan segera di operasi."
"Iya, dok. Kami mengerti. Tolong beri kabar secepatnya kalau ada berita apapun soal Heru. Subuh nanti, kami akan langsung balik menemani Heru yang mau operasi."
"Tentu, bu. Saya pasti akan segera menghubungi ibu jika ada hal sekecil apapun yang menyangkut soal pak Heru."
"Iya. Sama-sama, bu. Itu sudah merupakan kewajiban dan tanggung jawab saya terhadap pasien saya."
"Kami permisi, dok. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
*****
"Aris nginap di rumah nenek saja, ya. Rumah nenek kan dekat dari sini. Biar lebih cepat istirahatnya, nenek juga sudah ngantuk kalau mesti anter Aris dan umi ke rumah Aris dulu, nenek jadi bolak-balik. Mau ya, Aris?" ujar ibu mertuaku. Pandangan matanya tetap fokus ke depan dan tangannya asik dengan kemudinya.
Aris yang di tawarkan untuk menginap, langsung menoleh ke arahku. Tatapan matanya seraya bertanya pendapatku. Ku anggukan kepalaku dengan pasti. Sunggingan senyum di bibir Aris terlihat. Ia sangat senang bisa menginap di rumah neneknya. Sejak dulu, Aris memang sangat merindukan sosok sang nenek di hidupnya.
"Iya, nek. Mau. Nanti aku tidur sama nenek, ya? Aku belum pernah tidur sama nenek. Boleh kan, nek?"
__ADS_1
"Boleh. Aris boleh tidur sama nenek kapanpun Aris mau."
Ibu mertua tersenyum, tangan satunya mengusap kepala Aris, sedangkan yang satu lagi tetap memegang kemudi. Aris tertawa sambil memegang kepala nya yang tengah di usap ibu mertuaku.
Ku hembuskan nafas. Terasa begitu bebas. Melihat apa yang terjadi di depan mataku, membuatku tersenyum lepas. Aku bahagia. Bahagia sekali, melihat ibu mertuaku seperti ini. Sangat tak ku sangka, bertahun-tahun yang kulihat sikap angkuh dari ibu mertuaku, kini sirna.
"Tapi, bu. Aku dan Aris kan nggak ada baju ganti untuk besok."
"Kamu pakai baju ibu saja. Ibu punya kok gamis yang bisa kamu pakai. Buat Aris, ibu sudah belikan baju baru tadi sore saat mau ke rumah sakit jenguk Aris. Nggak tau nya sudah pulang Arisnya. Nih, masih ada di tas ibu."
"Ya sudah, bu, kalau begitu."
Sepanjang perjalanan kami mengobrol banyak. Hingga tak terasa mobil yang kami tumpangi sudah tiba di depan pagar besar dan tinggi. Rumah ibu mertuaku memang besar dan mewah. Cuma hitungan jari aku menapakkan kaki ke sini. Saat pertama kali di kenalkan mas Heru sebagai calon istrinya, juga beberapa kali tiap tahun saat hari raya idul fitri. Meski tak pernah di terima, aku tetap memaksakan diri untuk silaturahmi pada saat idul fitri tiba.
"Umi ... Aku haus." kata Aris yang sudah duduk di sofa empuk yang berada di ruang utama rumah mewah ini.
"Sebentar ya, umi ambilkan."
"Nggak usah, Wulan. Kamu istirahat saja. Biar mbak Lastri yang ambilkan. Sekalian sama cemilan buat kalian, pasti capek dan lapar, kan?"
Aku yang sudah berdiri, kembali duduk. Kulihat wajah Aris yang seketika berubah pucat. Nafasnya seperti sesak. Tangannya tak henti memegangi dada. Firasatku mulai tak karuan. Cemasku kembali hinggap. Ku hampiri Aris yang tengah bersandar di sofa.
"Aris ... Kamu kenapa? Muka Aris pucat. Dada nya sakit lagi?"
"Enggak ko, umi. Aku nggak papa. Cuma haus saja."
Bicaranya melemah. Matanya ku lihat berembun. Seperti sedang menahan sakit. Aris pasti berbohong, ia tak mau melihatku khawatir dengan keadaannya.
"Jangan seperti ini, Aris. Kalau sakit, bilang sakit. Jangan ditahan-tahan. Apa Aris mau umi semakin khawatir kalau Aris tiba-tiba harus di rawat lagi karena menahan-nahan rasa sakit? Apa Aris mau buat umi menangis lagi?"
"Enggak, umi ..."
"Loh. Ini kenapa? Wulan? Ada apa? Kenapa Aris kamu marahi?"
"Nggak papa, bu. Aris cuma kecapek'an. Dokter memang menyarankan Aris untuk tidak terlalu memaksa diri jika sudah kelelahan. Mungkin karena kejadian tadi sewaktu di rumah sakit, juga terlalu lelah menangis, Aris jadi sesak seperti ini."
__ADS_1
Kali ini Aris menangis tanpa suara. Air mata nya sudah menganak sungai di pipi. Saat mbak Lastri datang dengan membawa minum. Segera ku minum kan obat pereda nyeri dan sesak untuk Aris. Ku baringkan tubuhnya di sofa. Perlahan matanya terpejam, Aris kemudian tertidur.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=