Sajadah Terakhir

Sajadah Terakhir
Balasan Untuk Kebaikan Bu Iwan


__ADS_3

Bu Iwan terus menceritakan masalah berat yang tengah ia hadapi. Sampai pada titik di mana Ragil mencoba bunuh diri karena merasa sudah tak berguna, membuat orang tuanya malu, dan kecewa dengan perbuatannya. Ia meminum obat dengan dosis yang tak wajar hingga mengakibatkan overdosis. Beruntung bu Iwan langsung mengetahuinya dan segera ditangani oleh dokter, dan Ragilpun akhirnya bisa diselamatkan.


"Assalamualaikum!" ucapku ketika masuk ke kamar rawat Ragil.


"Waalaikumsalam. Mbak Wulan? Sama siapa, mbak? Sendiri?


Melihatku datang menghampirinya, Ragil mengubah posisi dari berbaring menjadi duduk bersandar di kepala ranjang. Sedangkan bu Iwan yang juga baru saja datang bersamaku, sibuk memotong kue yang ada di box, dan di pindahkan ke piring yang kemudian ia letakkan di atas nakas bersamaan dengan beberapa gelas kemasan berisi air mineral.


"Ayo, dicicipi Wulan."


"Eh, iya, bu. Terima kasih!"


"Ibu tinggal ke toilet sebentar, ya!"


Aku mengangguk, kemudian mencomot kue lapis legit yang baru saja disuguhkan bu Iwan untukku. Sebelum melahapnya, kujawab pertanyaan Ragil yang sempat terjeda dengan omongan bu Iwan yang menawarkan kue padaku.


"Iya, Gil. Aku sendiri, kebetulan tadi ketemu ibu kamu di masjid." kataku yang kemudian melahap kue yang sudah kucomot tadi.


"Loh, memang mbak Wulan ada keperluan apa? Kok bisa ketemu di masjid rumah sakit ini? Siapa yang sakit?"


"Aris, Gil. Tiba-tiba pingsan. Efek paska operasi."


"Ya Allah, kasihan sekali Aris, ya. Anak sekecil Aris harus merasakan sakit yang begitu berat."


Wajah Ragil kulihat sendu. Matanya kini sudah berair. Kemudian ia menunduk. Seperti berusaha menahan tangis. Tak lama, ia kembali mendongakkan wajahnya, menatapku.


"Sampaikan salamku pada Aris, ya, mbak!"


"Iya, nanti kusampaikan ke Aris. Kamu cepat pulih, ya, Gil. Jangan diulangi, kasihan ibumu. Dia pasti sangat terpukul, melihat orang yang ia sayangi, keduanya terbaring di rumah sakit."


"Iya, mbak." katanya kembali menundukkan wajahnya.


"Segera bertaubat! Kembali ke jalan yang diridhoi Allah. Ayahmu butuh doa'mu, Gil. Begitu juga ibumu, sangat membutuhkanmu!"


"Iya, mbak! Aku menyesal mbak. Aku menyesal sudah menjadi seperti ini. Maafkan aku, mbak!"

__ADS_1


"Minta maaf pada ibumu, terutama Allah."


Ragil mengangguk pelan. Kemudian, terdengar suara pintu toilet terbuka. Toilet yang menyatu pada kamar ini. Seketika, ia menyeka dengan cepat dan kasar air mata yang sempat menetes membasahi pipinya.


"Maaf ya, Wulan! Menunggu lama."


"Nggak papa kok, bu. Kalau begitu, aku pamit pulang ya, bu, Ragil? Takut kemalaman, 'kan harus balik lagi ke sini."


"Oh, iya-iya. Ya sudah, salam untuk ibumu dan Aris, ya!"


Aku tersenyum, mengangguk. Meraih jemari bu Iwan yang kemudian kucium lembut.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," ucap bu Iwan dan Ragil hampir bersamaan.


Aku melangkahkan kaki dengan senyum mengembang di wajah. Rasanya senang sekali bisa bertemu bu Iwan di sini dan membalas semua kebaikan yang pernah mereka berikan pada keluargaku. Aku tahu, bu Iwan tak akan mau bila aku terang-terangan ingin memberinya sedikit rejeki, meskipun alasanku ingin mengganti uang yang sudah beberapa kali ia berikan padaku.


Ketika bu Iwan sedang di toilet, dan Ragil meratap sedih dengan menunduk, saat itu juga kuselipkan amplop coklat yang cukup tebal berisi lembaran uang kertas berwarna merah ke laci nakas yang ada di sebelah ku. Tentu saja sebelumnya sudah kutulis nama untuk si penerima, agar tak salah sasaran saat amplop itu mereka temukan, tapi tidak dengan nama pemberinya.


Ya, amplop cuma-cuma yang kudapat juga dari rekan bisnis yang baru saja kuterima tawarannya, saat ia menawarkan kerjasama untuk proyek besar pada perusahaan yang saat ini aku pimpin. Mungkin memang rejeki bu Iwan dan keluarganya, hingga Allah mempertemukan aku dengan bu Iwan di rumah-Nya.


"Assalamualaikum!" salamku ketika membuka pintu memasuki kamar rawat Aris.


"Waalaikumsalam. Kok lama, Lan? Macet, ya?"


Kulihat Aris yang sudah terlelap dalam tidurnya. Wajahnya begitu tenang, manis dan membuat hangat hati ini.


"Enggak, bu. Sebelum pulang, aku sholat maghrib dulu di masjid persis di depan perempatan lorong. Terus nggak sengaja ketemu bu Iwan, tetanggaku sewaktu mengontrak dulu, yang pernah aku ceritakan pada ibu."


"Oh ... Bu Iwan. Memang ada urusan apa dia di rumah sakit ini, Wulan? Keluarganya ada yang sakit?"


"Iya, bu."


Kuceritakan semua masalah yang tengah dihadapi bu Iwan pada ibu. Begitu juga soal uang hadiah dari klien besar yang kuhibahkan untuk bu Iwan. Tak kusangka, ibu mengerti dan membenarkan keputusan yang sudah kuambil. Bahkan ibu menyuruhku, untuk mempekerjakan Ragil, ketika sudah pulih dan terbebas dari hukuman, di kantor yang kupimpin.

__ADS_1


"Jangan sampai karena dia susah mencari kerja akibat pernah tersangkut narkoba, semakin membuatnya terpuruk dan memilih kembali lagi ke dalam pergaulan yang salah."


"Benar sekali, bu. Aku pasti akan terus berusaha membantu keluarga bu Iwan, semampu yang kubisa!"


Ibu tersenyum, menghampiriku, kemudian memelukku. Ku balas pelukan hangat darinya, walau aku tak tahu maksud dari pelukannya padaku.


"Ibu sangat beruntung punya menantu sepertimu!" ucap ibu pelan dekat telingaku.


"Aku yang beruntung saat ini, bu. Memiliki ibu mertua, yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri."


"Ya sudah, Wulan. Ibu pulang ya! Besok ibu ke sini lagi," kata ibu setelah melepas pelukannya.


"Iya, bu. Ibu hati-hati, ya!" kataku yang langsung mencium tangannya.


Ibu mengangguk kemudian mengambil tas yang sebelumnya ia letakkan di atas nakas.


"Assalamualaikum," ucapnya saat hendak melangkah meninggalkan aku dan Aris.


"Waalaikumsalam."


Kuantar ibu sampai depan pintu kamar rawat Aris. Langkahnya membuat sosok paruh baya yang memiliki rambut hitam dan lurus sebahu itu semakin menjauh, hingga kemudian lenyap di persimpangan lorong. Buru-buru aku masuk untuk segera beristirahat. Rasanya, tubuhku sudah benar-benar lelah. Kuhempaskan ragaku ke sofa yang ada di kamar rawat Aris. Mataku menerawang ke langit-langit. Tak ada pikiran apapun yang menggelayut. Entahlah, yang kurasa kosong. Mungkin karena tubuh dan pikiran ini sudah terlalu lelah, dan harus segera di ajak istirahat sejenak.


"Drrrttt ... Drrrrttt ..."


Baru saja mata ini mulai terpejam, suara dering pesan masuk di ponselku. Membuat mata ini kembali terbuka. Kuraih ponsel yang masih berada di dalam tas yang kuletakkan di atas meja dekat sofa.


'Nomor siapa ini?' gumamku saat membuka kunci layar di ponsel dan melihat nomor tak kukenal mengirimkan pesan. Penasaran, kubuka isi pesan yang masuk di aplikasi berwarna hijau.


['Assalamualaikum. Maaf menganggu istirahatmu. Walaupun kamu nggak menulis siapa nama pemberinya, ibu tau itu kamu, Wulan! Terima kasih atas kebaikan kamu. Tapi ini besar sekali, Wulan? Berpuluh kali lipat dari yang pernah ibu berikan ke kamu. Ibu malu, rasanya nggak pantas ibu mendapatkan ini semua.']


Rupanya nomor bu Iwan. Sebelumnya, ketika tengah berbincang di depan masjid, bu Iwan memang meminta nomor ponselku. Tapi aku lupa menyimpan nomor ponsel bu Iwan saat itu.


Aku tersenyum, kubalas segera pesan dari bu Iwan yang barusan kubaca.


['Waalaikumsalam, bu!. Bu Iwan pantas mendapatkannya. Sangat pantas! Aku ikhlas memberikannya. Bagiku, tak ada yang kebetulan. Sudah garis dari-Nya aku dipertemukan bu Iwan dalam rumah-Nya. Dia yang menuntunku, Dia yang mempertemukan kita, Dia juga yang menolong bu Iwan melalui perantaraku. Dialah Allah, sebenar-benarnya pemberi rizki. Itu semua nggak ada apa-apanya dibanding ketulusan bu Iwan sewaktu dulu menolong keluargaku. Tolong diterima ya, bu. Aku akan sangat bahagia jika ibu ikhlas menerima pemberianku.']

__ADS_1


Ketika tengah mengetik balasan pesan untuk bu Iwan, air mataku tak terasa menetes hingga membasahi layar ponsel. Rasanya begitu haru, saat mengucap kata melalui pesan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2