Sajadah Terakhir

Sajadah Terakhir
Luluhnya Ibu Mertua


__ADS_3

"Loh! Kalau bukan kamu, terus siapa yang mesti disalahkan? Ibu?"


"Sekarang bukan waktunya untuk mencari-cari kesalahan seseorang, bu. Bukan saatnya ibu egois memikirkan perasaan ibu! Nggak ada gunanya kita saling berdebat, bu. Tolong! Aku mohon, ibu mengerti kondisi ini. Bantu aku, demi mas Heru! Mas Heru butuh kita, bu. Jangan jadikan aku menantu durhaka hanya karena masalah ini. Ibu orangtua yang sangat aku hormati. Nggak ada sedikitpun terlintas di hati, memusuhi apalagi melawan ibu. Aku minta maaf, bu. Maafin aku yang terlalu mencintai mas Heru. Maafin aku, bu ..."


Nada bicaraku yang semula meninggi, menjadi turun dan melemah. Tiba-tiba saja terlintas wajah mas Heru yang memandang ku dengan penuh harap, seraya memintaku untuk mengendalikan emosiku. Di akhir kata, aku tersungkur di kaki ibu mertuaku. Tangisku memecah keheningan malam. Membuat Aris keluar dari kamar dan langsung memelukku.


"Umi ... Umi kenapa menangis lagi? Nenek! Kenapa umi menangis lagi? Kasihan umi, nek. Jangan buat umi menangis lagi. Huhuhu ... Umi ..."


Ku dengar ibu mertua menarik nafas. Berat. Seperti menahan isakan tangis. Yang kemudian, ia hembuskan dengan sedikit hentakan. Sangat terdengar, hingga aku merasakannya.


"Ibu ke sini cuma ingin memberitahu, Heru sudah sadar. Tapi belum sepenuhnya sadar. Dalam sadarnya, Heru hanya berbicara dengan mata masih terpejam. Ia menyebut nama Aris berulang-ulang. Dokter menyarankan, agar ibu cepat-cepat membawa Aris ke sisi Heru. Supaya dengan hadirnya Aris, diharapkan kondisi Heru akan semakin membaik."


Ibu mertuaku yang biasanya selalu ketus dan keji denganku, kini kurasakan sedikit melunak. Jemarinya merengkuh pundak ku, mengangkatnya agar aku berdiri bersejajar dengannya. Ku tatap matanya yang sudah berembun dan hampir menitikan air mata.


"Kalau kamu dan Aris mau ke rumah sakit, boleh ikut menumpang di mobil ibu. Ibu tunggu di depan!' ucapnya memalingkan wajah sambil berlalu.


Matanya yang barusan ku tatap. Tak bisa membohongiku. Wajahnya begitu sendu. Sangat jauh berbeda saat awal ia datang.


'Ibu ... Apa ini artinya ibu sudah mulai luluh?' batinku berharap.


Ku buyarkan lamunanku dengan segera. Menggelengkan kepala agar tersadar untuk segera menuntun Aris dan mengikuti langkah ibu mertua.


"Iya, bu. Tunggu! Ayo, Aris!"


Di mobil, ibu mertuaku masih terdiam. Ia hanya fokus dengan kemudinya. Aris yang ku dudukan di depan, tepat di samping ibu mertua, memulai obrolan.


"Nenek ... Apa rasa sayang nenek ke abi, sebesar rasa sayang abi dan umi kepadaku?"


Mendengar Aris bertanya, ibu mertuaku langsung menoleh ke Aris.


"Aris kenapa bertanya seperti itu? Ya jelas, nenek sangat sayang dengan abimu! Abimu itu, satu-satunya yang nenek miliki di dunia ini. Kehadirannya begitu berharga buat nenek, buat kehidupan nenek."


"Berarti, aku dan umi nggak memiliki arti apapun buat hidup nenek? Apa kami nggak pantas, nek, untuk di sayang juga seperti nenek menyayangi abi? Aku dan umi sangat sayang sama nenek. Seperti abi yang sangat menyayangi nenek."


Kulihat dari kaca spion dalam mobil. Wajah ibu kembali sendu. Ia seperti terhipnotis dengan kata-kata Aris yang begitu membuat hati siapa saja terenyuh mendengarnya. Perlahan, kulihat tetesan bening dari pelupuk mata ibu terjatuh. Tubuhnya bergoyang mengikuti isak tangisnya yang sesegukan. Aku takjub. Sosok yang biasa kulihat pongah, seketika berubah menjadi wanita yang rapuh. Hatiku berdesir. Ingin rasanya memeluk ibu. Memeluknya untuk kali pertama.


"Nenek. Kenapa nenek malah menangis?"

__ADS_1


Aku hanya bisa menahan air mata ku. Dengan kasar, ku lihat ibu mertuaku menyeka air mata nya yang sudah membasahi pipi.


"Nenek nggak papa, Aris. Nenek hanya ingat dengan abimu."


"Aris ... Sudah, nak. Biarkan nenek fokus dengan setirnya. Jangan ganggu nenek dulu, ya! Aris mau cepat-cepat ketemu abi, kan?"


"Iya, umi. Mau. Maafin aku ya, nek."


Ibu mertuaku menjawab dengan anggukan dan menoleh melemparkan senyum tipisnya ke Aris, yang kemudian pandangannya kembali fokus ke depan.


*****


Setibanya di rumah sakit, entah kenapa hatiku kembali berdesir. Perasaan cemas yang tiba-tiba menyapa pikiran ini seakan membuatku takut untuk melangkahkan kaki lebih jauh lagi masuk ke dalam gedung. Aku berdiri mematung. Entah sudah berapa lama.


"Wulan. Kenapa masih berdiri di sini? Ayo, masuk! Aris, yuk sama nenek dituntun."


Suara ibu mertuaku membuatku tersadar. Suara lembutnya, sedikit menghilangkan kecemasanku. Kali ini, aku benar-benar takjub dengan perubahan sikap ibu mertua denganku.


"I-iya, bu."


"Maafin ibu ya, Wulan. Selama ini ibu memang egois." ujar ibu mertua yang tiba-tiba membuatku menoleh ke arahnya.


"Bu ..."


Baru saja aku mengeluarkan kata, ibu mertuaku sudah memotongnya terlebih dulu.


"Sudah, Wulan. Nggak usah kamu jawab, ibu juga tahu kamu pasti sudah memaafkan ibu, tanpa ibu minta maaf sekalipun. Ibu hanya ingin kamu tahu, ibu menyesal, Wulan! Ibu malu dengan Aris. Di usianya yang masih sangat kecil, jiwanya lebih besar dari ibu. Ibu malu!"


Langkah kami pun terhenti ketika ibu mertuaku tersungkur dan menangis.


"Ibu ... Sudah, bu ... Jangan seperti ini. Setiap manusia mempunyai kekhilafannya sendiri. Sudah ya, bu. Ayo berdiri lagi. Nggak enak di lihat banyak orang. Kasihan Aris juga, Aris jadi kebingungan melihat ibu seperti ini. Bangun, bu!"


Ibu mertuaku pun mendengar apa yang ku katakan. Kami lanjutkan lagi langkah menuju ruang ICU tempat mas Heru terbaring. Di pertigaan lorong, kami memilih ke kanan. Terlihat jelas ruang ICU yang sudah nampak di depan mata.


"Permisi sus, saya dari keluarga pak Heru."


"Ohh. Iya, bu. Sudah ditunggu dengan dokter Maya di dalam. Langsung masuk saja. Dokter Maya ada di ruang pertama dari pintu ini."

__ADS_1


"Baik, sus. Terimakasih."


Aku dan Aris mengikuti ibu yang lebih dulu melangkah. Tibalah kami di depan ruangan yang di dalamnya terdapat dokter Maya yang sedang asik duduk bedsantai dengan ponsel digenggamannya.


"Tok tok tok"


"Ya ... Masuk!"


"Ceklek"


"Permisi, dok."


"Oh ... Ibu Rani. Silahkan, bu. Silahkan duduk."


"Terimakasih, dok"


Kami pun duduk di kursi yang disediakan berhadapan dengan dokter Maya yang terhalang meja kerjanya.


"Ini pasti yang namanya Aris, ya?" tanya dokter Maya dengan tersenyum memandang Aris.


"Iya." Aris mengangguk pelan.


Tak biasanya. Sejak tadi Aris menunduk. Tak bicara jika tak ada yang bertanya. Ditanya pun, hanya ia jawab sekenanya di barengi dengan anggukan atau gelengan.


"Ibu Wulan. Kita sudah ketemu tadi sore, ya. Tapi karena ibu Wulan pingsan. Jadi kita belum sempat mengobrol banyak."


"Iya, dok." kataku mengangguk dan tersenyum.


"Oke. Begini, ibu Rani, ibu Wulan, dan Aris. Saya tidak mau basa-basi lagi, ya. Saat ini, pak Heru kondisinya sangat kritis. Meski sempat sadar dengan hanya mengucap dan memanggil nama Aris, mata pak Heru masih terpejam. Tapi, keadaan ini membuktikan bahwa otak pak Heru masih bekerja dengan baik. Ia bisa merasakan, berbicara walaupun hanya satu kata yang ia ucapkan, bahkan mendengar. Besok pagi pak Heru akan segera di operasi. Untuk mencegah sesuatu yang tidak di inginkan, saya memanggil kalian, keluarganya. Terutama, Aris yang selama ini pak Heru sebut-sebut dalam racaunya. Semata-mata memberikan support dan doa yang langsung bisa di dengar nya, agar ia mampu melewati masa kritisnya saat nanti operasi berlangsung."


Selang beberapa waktu, kami pun sudah mengenakan pakaian khusus untuk menjenguk pasien di ruang ICU. Ruangan yang sunyi hanya dengan suara alat-alat bantu medis menemani mas Heru yang terbaring lemah. Dadaku kembali sesak melihat keadaan mas Heru saat ini.


"Abi ... Bangun, abi ... Aku di sini, abi ... Bangun ...! Maafin aku, abi ... Maafin aku ...!"


Aris yang begitu melihat mas Heru terbaring dengan alat-alat bantu medis memenuhi tubuhnya, seketika langsung berlari memeluk tubuh mas Heru yang lemah. Aris menangis histeris. Suaranya terbata-bata dibarengi dengan isak tangis yang sesegukan. Aku tak sanggup menahan air mata ku. Ibu menghampiri Aris, yang kemudian mencoba menenangkan nya. Ku lihat wajah mas Heru dengan rasa haru. Airmata keluar dari ujung mata mas Heru yang masih terpejam. Membuatku semakin merasakan sesak yang tak tertahan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2