Sajadah Terakhir

Sajadah Terakhir
Pemakaman


__ADS_3

Pemakaman diwarnai dengan isak dan haru dari pelayat yang ikut serta mengantarkan mas Heru ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tak terkecuali Aris. Meski kulihat ia menangis dengan isak tertahan, hampir tak ada suara. Tapi air mata yang sudah menganak sungai di pipinya, dan goyangan bahunya akibat segukan yang tak bisa ditahan, memperlihatkan betapa terpukulnya ia kehilangan mas Heru.


Gundukan tanah bertabur bunga dan bertuliskan nama mas Heru di kayu nisan yang telah tertancap, mengiringi langkah para pelayat yang satu persatu meninggalkan makam.


"Tante ... Maaf aku telat! Kirain mas Heru di semayamkan di rumah tante. Tapi mbak Lastri langsung kasih alamat mas Heru dan istrinya mengontrak, pas sudah sampai malah sepi, begitu dikasih tahu tetangga mas Heru dimakamkan di sini, aku langsung ke sini."


Seorang wanita berperawakan tinggi dengan mengenakan kerudung pasmina di kepalanya yang masih terlihat rambut pirang dan poni lentiknya, menghampiri ibu mertuaku. Tak begitu jelas, karena posisinya menyamping dan hampir membelakangiku.


"Nggak papa Mira, kamu sama siapa ke sini?"


'Mira? Mira siapa? Apa Mira yang ku kenal? Mira teman sekolahku? Ahh, mungkin cuma namanya saja yang mirip.'


Aku sempat berfikir kalau wanita yang menghampiri ibu mertuaku itu Mira temanku semasa SMA dulu. Tapi segera kutepis, karena yang bernama Mira, tak hanya satu di dunia ini.


"Umi ... Apa aku boleh memegang kayu itu?" tanya Aris yang membuatku beralih pandang ke sosok mungil yang tengah menunjuk kayu nisan bertuliskan nama mas Heru.


"Tentu boleh, Aris ... Sekalian bacakan doa untuk abi ya, nak!"


Suaraku yang terdengar rupanya membuat wanita itu menengok ke arahku.


"Wulan?" katanya bingung.


Aku pun ikut bingung dibuatnya, sosok wanita dihadapanku benar-benar Mira yang kukenal. Teman semasa SMA yang juga sudah berbaik hati menawariku pekerjaan di kantornya.


"Mira? MashaAllah ... Ternyata benar, kamu? Ya Allah ..."


Ibu mertuaku yang sebelumnya tak tahu aku dan Mira saling kenal menunjukan raut wajah yang juga tak kalah bingung.


"Kalian saling kenal?"


"Iya tante, kebetulan Wulan temanku waktu SMA dulu yang sebentar lagi akan jadi karyawanku." kata Mira sambil tersenyum.


"Umi ... Aku mau pulang. Aku capek, umi."


Belum sempat aku bertanya ada hubungan apa antara Mira dan ibu mertuaku, tiba-tiba Aris merengek memintaku untuk segera pulang. Tak biasanya Aris mengeluh kelelahan. Wajahnya memang kulihat pucat dan berkeringat. Ia tampak begitu lelah. Matanya yang masih sembab, semakin membuat wajah mungilnya terlihat sendu.


"Iya, nak. Sebentar ya."

__ADS_1


Aku yang sedari tadi berdiri di hadapan makam mas Heru, kini beringsut dengan lutut. Kayu nisan bertuliskan nama laki-laki yang sudah 5 tahun menjadi imamku, kuusap lembut, kemudian ku pegang erat. Aku tak kuasa menahan jatuhnya air mata ku saat menatap dan membaca nama yang tertulis di nisan yang kini ku pegang.


'Mas ... Aku yakin kamu termasuk salah satu dari hamba-hamba pilihan Allah. Sejak dulu, disetiap sujud ku, namamu selalu kusebut. Bahkan ketika sekarang kamu telah tiada, aku akan tetap menyebut namamu dalam sujud ku, menyelipkan namamu dalam sebait doaku. Semoga Allah menempatkanmu di sisi terindah-Nya, Mas! Allaahummaghfir lahu, Allaahumma tsabbit-hu, Aamiin Allahumma Aamiin.'


*****


"Umi ... Bangunkan aku kalau nanti sudah sampai. Aku nggak mau umi kelelahan menggendongku saat aku tertidur." ujar Aris sembari merebahkan tubuhnya di kursi depan mobil yang sudah di atur sandarannya agar nyaman di tiduri oleh Aris.


"Iya. Nanti kalau sudah sampai, nenek yang akan bangunkan Aris. Aris tidur saja, ya! Biar nanti pas sampai, Aris sudah segar lagi."


Aris mengangguk. Aku tersenyum melihatnya mengangguk dengan mata yang hampir terpejam. Tak lama, kulihat Aris sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya. Saat melihat ibu mertuaku yang tengah fokus dengan kemudinya, aku jadi teringat dengan Mira.


"Bu, maaf. Hubungan ibu dengan Mira itu apa ya? Apa Mira kerabat ibu dan mas Heru?"


Ibu sedikit tersentak dengan pertanyaanku. Aku yang melihat reaksi ibu mertuaku, seketika bingung. Kemudian, mataku beradu dengan mata ibu yang menatapku dari kaca spion di dalam mobil. Tatapannya seperti ingin bercerita banyak, tapi tertahan. Entah apa yang ada dalam pikiran ibu, aku benar-benar dibuat semakin bingung.


"Bu?" tanyaku lagi ketika ibu sudah kembali menatap ke depan jalan.


"Nanti ibu ceritakan di rumahmu, ya. Sekalian kita ngobrol dengan Mira nya juga."


"Dengan Mira? Mira ikut ke rumah?" tanyaku yang kemudian melihat ke belakang.


Rasa penasaranku semakin menjadi. Saat ibu mertuaku hanya mengangguk dan menoleh menatapku dari kaca spion.


"Wulan, nanti seminggu setelah Heru pergi, sehabis gelaran pengajian selesai, kamu dan Aris tinggal sama ibu saja, ya! Ibu mau menghabiskan sisa umur ibu bersama Aris, bersama kamu juga."


Suara ibu mertuaku membuat aku melupakan sejenak rasa penasaranku dengan Mira.


"Ibu kok ngomongnya gitu? Soal umur nggak ada yang tau, bu. Ya, InshaAllah, bu. Aku dan Aris akan ikut dengan ibu. Aris pasti akan sangat senang bisa tinggal bersama ibu, neneknya!"


"Justru karena kita nggak ada yang tau kapan ajal datang ke kita, ibu akan memanfaatkan waktu yang ibu punya untuk terus bersama kalian. Heru ingin sekali membuat kamu dan Aris bahagia. Meski Heru belum mampu, ibu yang akan meneruskan keinginannya untuk membahagiakan kalian. Karena kalian memang pantas untuk bahagia! Maafin ibu ya, Wulan. Maafin ibu yang sudah teramat zolim dengan kalian!"


Ibu mertuaku yang sebelumnya berbicara sambil sesekali menatapku lewat kaca spion, kini kulihat mengalihkan tatapannya ke depan dengan sesekali menunduk. Wajahnya sendu. Mata yang kulihat sudah berkaca, mulai memecah menjadi buliran bening yang perlahan menetes membasahi pipi tirusnya.


"Ibu ... Sudah, bu. Jangan terus-terusan meminta maaf. Jangan nangis lagi. Yang lalu, biarkan saja berlalu. Buat apa menangisi yang sudah terlewat, kalau di depan yang akan kita lalui adalah kebahagiaan? Ibu harus lupakan semua rasa bersalah yang ada di hati ibu. Karena aku, sedikitpun nggak pernah menyalahkan ibu. Sekarang ibu fokus saja menyetir, nggak usah banyak pikiran ya, bu. Aku baik-baik saja kok, bu. Sama sekali nggak pernah merasa terzolimi."


Ia mengangguk. Kulihat tangannya bergantian menyeka air mata yang terlanjur mengalir.

__ADS_1


"Umi ... Haus ..."


Tiba-tiba saja Aris terbangun meminta minum dengan mata masih separuh terpejam. Tangannya terus mengucek mata yang sepertinya masih sulit ia buka. Sementara ibu mertuaku dengan sigap mengambil air mineral yang sebelumnya sudah ia siapkan di sela pintu mobilnya.


"Nih, Wulan. Dibukain, Ibu susah bukanya." katanya sembari menyodorkan air kemasan botol ke arahku.


Kubuka langsung segel tutup air kemasan botol yang kemudian kusisipkan sedotan sebelum kuberikan ke Aris. Wajahnya yang masih nampak pucat tersenyum sambil menyedot air yang melepas dahaganya.


"Belum sampai ya, nek?"


"Belum, sebentar lagi. Setelah lampu merah berikutnya, ambil kiri terus masuk ke persimpangan, itu kan sudah gang rumah Aris, lurus sedikit sampai deh. Kenapa? Aris ingin cepat-cepat istirahat, ya?"


Aris hanya mengangguk sembari menyerahkan botol kemasan berisi air yang sudah hampir separuhnya ia minum.


*****


Ketika sampai, masih ada beberapa pelayat tengah menyantap hidangan yang tersedia. Memang sudah menjadi kebiasaan para tetangga dan kerabat di sini, menyantap hidangan yang sudah tersedia setelah ikut memakamkan. Tapi bukan keluarga yang berduka yang menyiapkannya, melainkan pengurus Rukun Tetangga dan kerabat-kerabat dekat yang biayanya diambil dari kas RT setempat.


Baru saja aku mengantarkan Aris ke kamarnya untuk istirahat, Mira menghampiriku dengan memelukku erat.


"Wulan ... Maafkan aku!"


"Ehh, kenapa meminta maaf, Mir? Salahmu apa? Apa yang harus dimaafkan?"


Aku tak mengerti apa maksud permintaan maaf dari Mira. Pelukannya yang erat dan begitu hangat, membuatku ikut terlena dalam diamnya. Cukup lama kami berpelukan, hingga ia melepaskan sendiri pelukannya.


"Kenapa, Mir?"


"Maafkan aku, Lan. Aku benar-benar nggak tahu kalau dulu calonnya mas Heru itu, kamu. Aku nggak tahu kalau selama ini yang menjadi istri dari mas Heru itu, kamu. Kalau saja aku tahu, aku pasti sudah merayu tante Rani untuk merestui kalian."


"Maksudmu, kamu itu ...?"


"Iya, Wulan. Mira itu wanita yang dulu mau ibu jodohkan dengan Heru. Karena kekaguman dan kecintaan ibu dengan Mira selama ini, kamu harus menelan pahit dari sikap ibu yang selalu membenci kamu. Tapi percayalah, Mira tak jahat seperti ibu, saat ibu memaksa Mira untuk ikut berusaha menggoda Heru yang sudah menjadi suamimu, Mira dengan tegas menolaknya. Walau ibu tahu, Mira sangat mencintai dan menginginkan Heru menjadi pendamping hidupnya. Ia berusaha mengikhlaskannya. Sampai sekarang Mira memilih tetap melajang, karena rasa cintanya terhadap Heru tak bisa ia hilangkan."


"Tante ... Sudah. Jangan dibahas lagi."


Mendengar kebenaran yang diungkap ibu mertuaku, rasanya dada ini seperti tercekat sesuatu yang membuat aku berhenti bernafas beberapa detik. Mira, temanku, ternyata wanita yang selama ini ibu banding-bandingkan denganku. Pantas jika ibu mertuaku tak memerimaku, Mira jauh berada di puncak, sedang aku tertinggal di dasar lumpur. Seketika aku menangis. Menangis karena mas Heru lebih memilih wanita sederhana tak menarik sepertiku ketimbang Mira yang punya segalanya. Wajah cantik Mira pun kuyakin tak ada laki-laki yang bisa menolaknya. Tapi mas Heru, laki-laki kebanggaanku, dengan tegas menolaknya demi bisa hidup bersamaku.

__ADS_1


'Mas Heru ... Aku semakin mencintaimu, mas. Aku semakin merasa benar-benar kehilanganmu!'


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2