
"Wulan ... Ya Allah ... Assalamualaikum!" teriak bu Iwan sambil berlari masuk ke rumahku.
"Waalaikumsalam. Bu Iwan? Ada apa, bu?"
Aku yang tengah panik dengan menghilangnya mas Heru, kini semakin panik dikejutkan dengan kedatangan bu Iwan yang terlihat tergesa-gesa dan seperti menangis.
"Wulan ... Astagfirulllah, lan ... Bapak sama Heru sekarang di rumah sakit! Katanya kecelakaan!"
"Astagfirullah! Benar, bu? Ya Allah ..."
Tubuhku seperti kain yang dijatuhkan, lunglai tak bertenaga. Mas Heru yang sedang sakit, dan masih butuh perawatan, kini mengalami kejadian yang berulang. Firasat ku sudah beraduk dengan lelehan airmata yang mendesak keluar membanjiri pipi. Nafasku kembali sesak. Aku yang sudah tersungkur, serasa tak mampu untuk berdiri.
"Sudah, Wulan. Ayo, kita lihat ke rumah sakit."
"Tapi Aris? Gimana dengan Aris, bu? Aris sendirian di sini."
"Aris di bawa ke rumah saya saja, ada Ragil nanti yang menjaganya. Ayok!"
Ragil, anak dari bapak dan ibu Iwan. Ia anak kedua sekaligus bungsu. Ragil sudah kuliah. Oleh karena itu, aku berani dan percaya jika Aris di jaga olehnya.
"Iya, bu. Sebentar ku panggil Aris dulu."
Aku melangkah menuju kamar Aris. Ketika tiba di pintu kamarnya yang hanya bersekat gorden, kulihat Aris yang bersedekap sajadah tertidur pulas dengan sesegukan yang masih tersisa.
Aku tak tega membangunkannya. Kubiarkan Aris meneruskan tidurnya. Agar ia bisa melepas lelah di hati juga tubuhnya.
'Ku suruh Ragil saja nanti yang ke sini menemani Aris.' batinku dan berlalu meninggalkan Aris.
*****
__ADS_1
Di ruang IGD. Aku segera bertanya ke petugas di mana mas Heru dan pak Iwan di tangani. Tak banyak basa-basi, petugas pun langsung menunjuk ke arah ranjang mas Heru dan pak Iwan yang tengah terbaring menahan sakit. Cepat-cepat ku tarik bu Iwan mengikuti langkahku menghampiri mereka.
Aku terbelalak melihat kondisi mas Heru yang teramat parah. Seluruh tubuhnya berlumuran darah merah yang segar. Nafasnya seperti tersengal. Padahal sudah di bantu oksigen menggunakan masker khusus yang di pasang pada mulut dan hidung. Matanya pun tak henti mengeluarkan airmata. Pasti karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Seketika aku menangis. Tangisku memecah ruang IGD yang sangat kental dengan sibuknya lalu-lalang dokter-dokter dan keluarga pasien.
"Mas Heru ...! SubhanAllah, mas ... Kamu kenapa mas ... Kenapa bisa seperti ini, mas."
"Maaf, bu. Dengan ibu siapa? Apa ibu keluarganya pak Heru?" kata dokter yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.
Buru-buru ku usap kasar airmatku. Ku coba mengontrol diri ini agar bisa berbicara dan menjawab pertanyaan dokter.
"Iya, dok. Saya Wulan, istrinya."
"Baik, bu Wulan. Sekarang ibu bisa ke bagian administrasi untuk melengkapi pemberkasan, dan menandatangani persetujuan, untuk segera dilakukan tindakan operasi pada pak Heru. Ada pendarahan di otak, yang menyebabkan pak Heru saat ini kehilangan fungsi dari bekerjanya otak, sehingga pak Heru sekarang koma. Karena kondisi pak Heru sangat kritis. Kami akan memasang alat bantu pada pak Heru terlebih dahulu, sebelum operasi dilakukan. Mari saya antar!"
Ku rasakan rumah sakit ini mendadak runtuh, dan runtuhannya langsung menimbunku. Aku sulit untuk bernafas. Makin lama nafasku kian terasa sesak.
*****
"Maafin aku, dek. Maafin aku yang belum sempat membahagiakanmu. Bangun, dek! Bangun! Aris butuh kamu! Aku butuh kamu untuk menjaga Aris! Bangun!"
"Mas Heru!" kataku yang tiba-tiba sudah terbaring di suatu ruangan dan kemudian terduduk dibangunkan oleh mimpi mas Heru.
"Wulan. Kamu sudah sadar? "
"Bu Iwan? Aku kenapa, bu? Kenapa aku di sini? Mas Heru mana?"
"Kamu tadi pingsan, Wulan. Heru sudah di pindahkan ke ruang ICU, sebelum tindakan operasi di lakukan."
"Keadaan pak Iwan gimana, bu? Apa baik-baik saja?"
__ADS_1
"Alhamdulillah, bapak hanya bocor sedikit di bagian kepala. Kata bapak, Heru bisa seperti itu karena kepalanya terbentur aspal sangat kencang, dan sebagian tubuh bagian kirinya terlindas mobil yang tiba-tiba melintas saat kecelakaan terjadi."
"Allahuakbar! Mas Heru ..."
"Setelah kamu menghubunginya kalau Aris mau pulang, Heru sangat senang mendengarnya. Ia teriak-teriak, ngesot di depan teras rumah kalian. Memanggil nama bapak. Setelah bapak menghampirinya, Heru minta di antar ke toko alat sholat yang dekat dengan pasar di pinggir jalan. Katanya, dia ingin membelikan sajadah kecil buat Aris. Tapi na'as, pas arah pulang kecelakaan itu terjadi."
Dengan mata berair, bu Iwan kembali menceritakan apa yang diceritakan oleh pak Iwan. Membuatku, semakin tak kuasa menahan kepedihan di hati. Kini, buliran bening yang terbendung, telah menyeruak dari pelupuk mataku. Aku menangisinya.
"Wulan ... Ini sajadah yang sudah Heru belikan untuk Aris. Sebelum kecelakaan, bapak melihat mas Heru yang sedang dibonceng mengeluarkan sajadah untuk Aris, kemudian ia terus memeluk erat sajadah ini. Sambil bicara seperti berbisik, (Aris, abi sudah belikan apa yang Aris mau. Sajadah kecil ini akan menemanimu di setiap sujudmu. Abi bangga dengan anak abi yang sholeh sepertimu, Aris). Tak lama kecelakaan itu pun terjadi, tapi Heru saat tersungkur dan bersimbah darah, ia tetap memeluk erat sajadah yang dibeli nya untuk Aris."
Bu Iwan menangis sesegukan. Bibirnya kulihat gemetar menahan tangis.
"Ya Allah, mas ..."
Jantungku berdegub kencang. Mas Heru dengan kondisi yang seperti itu, ia masih memaksakan diri, semua semata-mata untuk Aris. Anak yang selama ini ia didik dengan sepenuh hati, yang katanya kelak akan memberi syurga untuknya. Tangis ku semakin menjadi. Aku tak bisa mengontrol diriku.
"MAS HERUUUUU!"
Aku menjerit dengan tangisan. Tangis ku memecah, memekakkan telinga siapa saja yang mendengar. Kupeluk sajadah bersimbah banyak darah yang masih basah, sajadah kecil dengan motif sangat mirip dengan sajadah yang Aris beli denganku ketika perjalanan pulang. Ya, sajadah yang dibelikan mas Heru untuk Aris. Sama persis.
Di ranjang, aku duduk bersimpuh. Melanjutkan tangis ku yang enggan untuk berhenti. Sakit sekali rasanya, memeluk sajadah bersimbah darah. Darah mas Heru. Laki-laki yang mengajarkanku makna hidup yang sesungguhnya. Laki-laki yang membuat aku menjadi wanita sebenar-benarnya wanita, istri sebenar-benarnya istri. Suami dan Ayah yang selalu menjadi panutan istri dan anaknya.
"Astagfirullah, mas ... Bertahan, mas ... Demi Aris, mas. Demi aku dan Aris! Aku masih butuh kamu, mas! Bertahan ..."
"Sudah, Wulan. Sudah ... Mengirim doa akan lebih dinanti oleh Heru. Jangan terus-terusan menangis sampai lupa dengan Allah. Sebab doa dari kita lah yang bisa merubah semuanya. Bukan tangisan!"
Kata-kata bu Iwan membuatku terdiam seketika. Benar apa yang dikatakannya. Mas Heru tak butuh tangisanku. Mas Heru butuh doa dariku.
\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1