
"Aduoh capek nih, divo lu mau kewarung depan ya? Gue nitip donk air es aja satu botol" teriak vindy
"vo!!gue juga donk, tapi teh botol ya! Yang less sugar aja, gue nggak suka yang manis manis" Teriak kelly juga
"oke bos!"
"Vin udah sore ini, ntar lagi gue pulang ya, mau ngurusin marvin, oma mau ke gereja katanya, agak sorean nanti" kata kelly.
"oh iya dah ntar lagi balik duluan aja, eh searah sama alvin kan? Suruh dia anterin aja gih sana" kata vindy
"oh iya ya!, tuh mereka uda datang juga, alvin anterin gue pulang donk!" Teriak kelly
"loe mau pulang sekarang? Boleh dah gua juga mau mandi ini dah asem banget baju gue" jawab alvin sambil ngibas - ngibas bajunya
"ntar kalau dibonceng jangan peluk peluk gue ya bos!" Kata alvin sambil nyengir ke kelly
"enak aja! Siapa juga yang mau peluk peluk lu! Udah baunya asem kayak air bekas cucian gitu!" Jawab kelly sambil memukul tangan alvin, semuanya pun jadi tertawa karena kelakuan kelly dan alvin
"ya udah jadi sekalian bubar nih? Kalau gitu gue pulang dulu, eh vindy! Nitip bola donk! Kan rumah lu paling deket sini, jadi enak besok kalau mau maen lagi tinggal ambil dirumah lu " kata divo
"iya deh bawak sini bolanya, sekalian gue juga mau pulang, dah asem banget bau baju gue" jawab vindy
"ya udah kalau gitu ketemu besok disekolah ya!" Teriak marco
"oke!!" Teriak mereka semua,
"Ah lupa gue kali besok masih di skors," jawab vindy
"hahah ya udah ketemu besok sore aja mau latihan lagi kan?" Tanya divo
"boleh!" Teriak mereka serempak
"ya udah ketemu besok ya!!" dan mereka pun meninggalkan lapangan itu
"eh bentar tumben lu nggak bawak apes Vo? biasanya tiba tiba ujan nggak jelas gitu" tanya Vindy
__ADS_1
"yoi bos, gue udah ikutin saranlu! pengakuan dosa! kebanyakan dosa kemaren" sahut Divo
"ngakak! terus kapan ini rencana lu mau top up dosanya? biar kita waspada kalau dah mulai banyak biar apesnya nggak nular!" jawab vindy
"nggak lah bos!! masih belum buka rekening baru tenang aja!!" jawab divo
"udah ah yuk pulang dulu!! ketemu besok! awas nggak ada kabar lu!"
"siap tenang aka bosss!!"
********
Vindy masuk kedalam rumahnya, dilemparnya tas bola basket milik divo yang dititipkan padanya, dan sepatunya pun dia lepas di teras depan, vindy langsung masuk rumah dan menuju kulkas mengambil air minum.
"dari mana aja kamu sore gini baru pulang?" Tanya mama vindy, yang kebetulan lagi dirumah
"tumben nanyak?, biasanya biar gak pulang juga gak tau" jawab vindy acuh tak acuh dan tak sedikitpun menoleh ke mamanya.
"mama dapet telpon dari sekolahan katanya kamu bolos lagi!, kamu ini niat sekolah apa nggak sih?".
"kamu nggak bisa ya kayak kakak kamu? Nggak pernah bikin masalah selalu berprestasi, nggak pernah bikin malu mama"
brakk... vindy membanting pintu kulkasnya "ya udah mama urus aja sih marshya!, ngapain juga ngurusin aku. aku juga mintak mama urusin aku kok!, lagian kayak mama pernah peduli dan ngurusin aku aja!" jawab vindy dingin.
mamanya baru saja membuka mulut, namun vindy sudah berjalan menuju kamarnya.
"heh!! Vindy mau kemana kamu! mama belum selesai bicara, jangan kurang ajar kamu ya!, mama juga dapet panggilan disekolah ini! Kamu bikin mama malu aja!" Teriak mamanya.
"Nggak usah dateng toh! Beres kan! Kaya selama ini pernah dateng aja kalau dipanggil kesekolahan!" Jawab vindy sambil tetap berjalan ke kamarnya.
"Aku pulang!" Teriak Marshya dari depan, namun dia terkaget melihat suasan tegang di ruang makan
"ada apa ini ma, kok ribut - ribut?" Tanya marshya.
"nah tuh anak yang nggak pernah bikin masalah dan selalu berprestasi dah dateng, mendingan mama urusin dia aja daripada, sok baek ngurusin aku, sekalian tanyain tuh.. darimana aja kok baru pulang, barangkali habis pacaran dulu" kata vindy sambil masuk ke kamarnya.
__ADS_1
"vindy kamu ngomong apa sih!" Teriak Marshya.
Tanpa memperdulikan omongan marshya vindy pun menaiki tangga dan masuk ke kamarnya "bruaakk" vindy membanting pintunya.
"Ada apa lagi sih ma? Kenapa kok mama marah marah gitu?" Tanya Marshya
"adek kamu ituloh bikin mama malu aja, tadi mama dapet telepon sama surat panggilan disekolah, katanya dia bolos lagi sama temenya!" Jawab mama vindy sambil mengelus elus kepalanya sendiri karena pusing memikirkan vindy.
"hm.. udah ma biarin aja ma, emang si vindy agak susah diatur anaknya, yang penting dia nggak sampek dikeluarin dari sekolah aja" jawab Marshya.
"gimana ya cara mama ngatur anak itu? Tambah besar tambah susah diaturnya, diomongin pelan pelan nggak bisa, di kerasin juga tambah berontak, kenapa mama punya anak beda beda sifatnya, coba kalau dia penurut dan gampang diatur kayak kamu!" Kata chintya mama vindy
"ya nanti aku coba ngomong sama dia ma" jawab marshya.
Marshya melihat tas vindy dan bola basket yang berserekan di depan teras, lalu marshya mengambilnya dan membawanya ke kamar vindy, dia mengetuk pintu kamar vindy
"vind tasmu ketinggalan di depan ini" kata marshya
"nggak usah sok baik ,nggak usah sok perhatian taruh aja disitu nanti gue ambil sendiri!" Jawab vindy dari dalam kamarnya.
Marshya hanya bisa menghela nafas panjang, yah dia menyadari kalau vindy memang membenci dirinya, karena semua perhatian mama dan papanya memang lebih banyak tercurah ke marshya "ya udah aku tinggal di depan kamarmu ya" jawab marshya sambil masuk ke kamarnya.
memang seluruh perhatian orang tuanya tertuju pada marshya yang dianggap anak baik dan penurut , namun semua itu didapatkan marshya dengan susah payah, dia belajar dengan giat setiap harinya,
Vindy yang tidak mampu menyaingi marshya dalam hal akademik pun akhirnya terabaikan oleh orang tuanya,
padahal vindy sangat berprestasi dalam olahraga dan kemampuan seni,
kristanto gunawan dan chintya gunawan hanya menganggap vindy hanya sebagai pengacau yang sering mencari perhatian dengan membuat masalah.
Tetapi kristanto melihat ada jiwa pemimpin dalam diri vindy yang bisa digunakan dalam memimpin perusahaanya nanti.
Marshya selalu dipuji karena hasil raport yang bagus disekolahnya, namun, biarpun vindy dapat juara satu basket dan karate orang tuanya tidak pernah memuji dirinya "emang buat apa sertifikat basket dan judo, nggak membantu buat masa depan juga nantinya, mendingan kamu belajar ekonomi dan bisnis biar bisa pimpin perusahaan papi nanti, tapi karena marshya lebih pintar, kamu nanti bisa jadi wakilnya marshya yang memimpin bawahanmu" itu jawaban mereka, vindy menganggap ayahnya adalah orang yang gila hormat dan selalu memikirkan soal uang dan perusahaanya.
oleh karena itu vindy sangat membenci keluarganya karena merasa tidak pernah dianggap dan dihargai dikeluarganya
__ADS_1