Sanctuaria

Sanctuaria
Mercy for The Hero


__ADS_3

Dikisahkan seorang pahlawan berhasil mengakhiri peperangan melawan kegelapan yang telah berkecamuk ratusan tahun lamanya. Sekali pedangnya diayunkan, ratusan musuhnya tumbang. Sekali kakinya dihentakkan, ratusan musuh bergetar ketakutan. Kehebatannya memungkinkan ia untuk membalikkan arus peperangan yang paling sia-sia sekalipun.


Kekuatan sang pahlawan telah menjadi simbol para pembela kebenaran, menggaungkan gema semangat perjuangan agar tidak menyerah pada kegelapan. Masa depan telah menyimpan ruang bagi keberlangsungan hidup sang pahlawan lewat cerita dan nyanyian. Memuji seluruh jasa, kehebatan, dan hidupnya yang begitu cemerlang, namun sedikit orang tahu tentang pengorbanan besar yang dialaminya.


“Hidup matiku ada di dalam medan peperangan.”


Sebuah kalimat yang membuat para dewa menukarkan kemanusiaan, keberuntungan, dan emosinya dengan kekuatan maha dahsyat.


Ia menukar semua kebahagiaan dan berkah dengan kekuatan agar bisa menjadi lebih kuat. Hanya wajah istri dan anaknya yang mati di tangan kekuatan kegelapan yang selalu membuatnya terus maju. Hingga akhirnya ia berhenti menjadi manusia yang seutuhnya.


Ketika akar dari kekuatan kegelapan telah musnah, sang pahlawan baru meneteskan air mata, semua emosinya kembali bersama dengan penyesalan dan kenyataan bahwa apa yang telah hilang darinya tak akan pernah kembali.


Ia menangis, menangis sejadi-jadinya. Tangisan di atas bukit yang berlangsung selama tiga puluh hari lamanya itu menjauhkan semua monster ganas. Tak satu pun berani mendekati. Suara pilu yang begitu menggerogoti hati itu akhirnya sampai ke tempat para dewa.


Sang pahlawan dikasihani ... para dewa mencabut nyawanya dengan lembut.





Satu dari banyak dewa yang mengawasi tempat makhluk hidup tinggal pernah berkata bahwa, “Menjadi hidup adalah kekuatan untuk memilih.”


Para dewa telah mengawasi semua makhluk hidup selama ratusan milenia lamanya. Para makhluk hidup memilih sendiri bagaimana cara mereka untuk hidup, lalu perlahan membawa perubahan, baik ataupun buruk.


Berbagai macam tuntunan telah diturunkan untuk membimbing semua makhluk yang hidup, namun tetap saja pertikaian terjadi kalau bukan malah memperparah. Keadaan yang terus menerus terjadi akibat pertikaian itu melahirkan kekuatan kegelapan yang tak terbendung, bahkan para dewa tak dapat mengendalikannya.


Suratan takdir telah memunculkan seorang pahlawan akibat tragedi kekuatan kegelapan yang terus menerus menelan korban. Seseorang yang dalam hidupnya memilih jalan hanya untuk memusnahkan ketidakadilan, hingga akhirnya kekuatan kegelapan benar-benar musnah.


Kini sang pahlawan berdiri di depan para dewa.


Ia dikelilingi cahaya yang membisikkan kata-kata langsung ke dalam kepalanya.

__ADS_1


Awalnya sang pahlawan yang amat ditakuti kekuatan kegalapan itu merasa ketakutan ketika ia mendengar suara para dewa yang sulit dicerna olehnya.


Bahkan bentuk para dewa yang sedang mengelilinginya pun sama sekali tak bisa ia cerna.


“Tenanglah wahai pahlawan.”


“Jangan engkau merasa takut.”


Sang pahlawan merasa aneh karena kata-kata itu berhasil membuat keraguan dan rasa takutnya hilang.


“Siapa kalian?”


“Kami adalah pengawas yang memberkahimu dengan kekuatan.”


Sang pahlawan melihat kedua tangannya dan berkontemplasi, mengingat kembali seluruh kekuatan yang pernah berada di dalam genggamannya.


“Sudah kuduga itu bukan kekuatanku...”


“Jangan bersedih lagi wahai pahlawan, semua sudah berakhir.”


“Apakah rasa sedih itu penting untukmu wahai pahlawan?”


“Jika para dewa yang memberiku kekuatan, para dewa juga pasti yang membawa semua emosiku...” Mata sang pahlawan menatap ke depan, ia masih tak melihat bagaimana bentuk para dewa kecuali cahaya putih tanpa cela, tapi pandangannya begitu tajam seakan ia melihat ke arah mereka. “... rasa sedih adalah yang membuat kebahagiaan berarti, kesepian juga membuatku menghargai rasanya menemani dan ditemani.”


Para dewa tak menyela perkataan sang pahlawan sekalipun. Mereka mendengarkan dengan seksama, sekaligus mengingat kembali semua hal yang telah dilalui sang pahlawan.


“Tentu saja, semua emosi itu penting bagiku.”


Tak ada jawaban atau tanggapan apa pun dari para dewa, seakan mereka sedang berdiskusi sebuah masalah penting yang tak boleh diketahui orang lain. Sementara itu, sang pahlawan hanya diam menatap ke dimensi putih tanpa ia bisa melihat ujungnya.


“Tahukah engkau pahlawan, menjadi hidup adalah kekuatan untuk memilih.” Suara itu datang tiba-tiba setelah beberapa saat tak ada suara.


“Kekuatan untuk memilih? Apa yang para dewa inginkan?”

__ADS_1


“Semua yang engkau alami di dunia telah membawamu pada penderitaan yang menggetarkan tempat para pengawas seperti Kami.”


“Bahkan Kami tak punya wewenang dalam urusan kekuatan kegelapan, urusan para makhluk hidup.”


“Semua aturan itu telah ditentukan oleh kekuatan yang lebih tinggi dari Kami, pun dengan takdir yang engkau alami.”


“Takdir...” Kali ini tak hanya memori tentang peperangan, kekuatan, dan kepedihan hatinya, tapi seluruh memorinya terbersit begitu cepat seperti bintang jatuh. “Apakah kematianku juga sekarang takdir?”


“Betul, tapi ini adalah sebuah takdir yang Kami mohonkan kepada kekuatan yang maha dahsyat.”


“Kami menawarkan kepadamu kehidupan kedua.”


“Kehidupan kedua ....”


“Engkau akan terlahir kembali di sebuah dunia baru yang umurnya sudah jutaan tahun melampaui dunia yang telah engkau tempati.”


“Kami tak akan memberitahu apa pun yang berdiri di atasnya. Engkau berhak untuk berjalan dan memutari dunia itu sesukamu.”


Sang pahlawan kehilangan kata-kata, ia tiba-tiba saja diberi pilihan untuk melanjutkan hidupnya sebagai orang lain. Padahal beberapa saat yang lalu, ia masih merasakan sensasi perihnya mata yang terus menerus menangis, tenggorokan yang nyaris terbakar karena terlalu banyak berteriak, juga amarah bercampur sedih yang membuatnya tak karuan.


“Apakah ini juga termasuk kekuatan untuk memilih?” Tanya sang pahlawan lirih.


“Tentu saja wahai pahlawan, engkau telah banyak berjasa dan engkau tak akan Kami tinggalkan.”


“Akan tetapi wahai pahlawan, tentu saja ini adalah kekuatan untuk memilih. Engkau berhak untuk menerima dan menolak. Kami akan menghormati semua keputusanmu.”


“Kalau begitu, biar aku bertanya sekali lagi.” Tatapan mata sang pahlawan kini berubah tajam. “Apakah ini termasuk suratan takdir?”


Tak ada jawaban.


Hening.


Menunggu hingga kapan pun tak ada jawaban.

__ADS_1


Sang pahlawan rela jika ia harus berdiri di situ selamanya asal ia bisa mendapat jawaban, namun sekian tahun lamanya jawaban itu tak kunjung tiba.


“Baiklah para Dewa sekalian, aku mengerti. Terima kasih telah memberiku waktu untuk berpikir. Aku mengerti bahwa para Dewa mengasihani jiwaku yang rapuh ini.” Ia mengepalkan tangannya, kepalan tangan yang kuat dan keras, lebih keras dari gunung sekokoh apa pun. “Aku terima tawarannya.”


__ADS_2