Sanctuaria

Sanctuaria
Grey Hunt


__ADS_3

Sejak aku kecil, di duniaku sebelumnya, hutan adalah tempat favoritku. Bukan karena aku senang sekali menjelajahi tempat penuh pohon tinggi, rimbunan daun, dan satwa liar, melainkan hanya kupandangi saja. Memandangi hutan memang terdengar seperti hobi yang percuma, tapi di dalam benakku muncul berbagai macam imajinasi tentang apa saja yang ada di dalamnya. Ketika imajinasi itu sudah penuh dalam benakku, kemudian aku akan menjelajahi isinya. Hasil dari penjelajahan dan pemetaan imajinatif yang kulakukan dalam kepalaku tentu saja jauh berbeda, nyaris tak ada yang sama. Yang kubayangkan mungkin memang terlalu jauh dari apa yang sebenarnya ada, akan tetapi karenanya aku bisa menemukan lebih banyak kejutan-kejutan yang tidak kubayangkan.


Bagiku, hutan adalah tempat yang penuh dengan keajaiban dan kejutan.


Sekarang, di dunia ini aku menginjakkan kaki di sebuah perbatasan antara hutan abu-abu dan hutan biasa. Aku dan semua orang di desa menyebutnya hutan putih abu-abu karena seperti yang telah disebutkan namanya, hutan ini berwarna putih abu-abu. Mulai dari akar, hingga ke daunnya berwarna putih abu-abu. Tak hanya pohon, tanaman dan tanah di sekitarnya pun terpengaruh. Secara sederhana, saat ini aku seakan masuk ke dalam sebuah tempat dengan satu gradasi warna.


Jika aku tak salah ingat, di duniaku yang seperti ini disebut monokromatik.


Perlu aku sebutkan juga, daun-daun pada pohon-pohon ini akan menjadi semi transparan ketika terpapar sinar matahari. Jika mataharinya terhalang daun, maka daun putih abu-abu itu akan tampak lagi dengan jelas.


Ini luar biasa, dan tentu saja tak ada yang seperti ini di duniaku sebelumnya.


Semakin jauh berjalan ke dalam hutannya, semakin tak ada lagi warna lain selain putih abu-abu. Yang seperti ini jelas membuat siapa pun sulit untuk melakukan navigasi. Aku sudah dilatih oleh ayah bagaimana cara berburu, melihat jejak hewan, mencari tanda-tanda, hingga semua pengetahuan yang aku perlukan hingga kembali ke rumah dengan selamat. Tapi, hutan putih abu-abu ini benar-benar sebuah ujian tersendiri yang unik dan berbeda. Seakan apa pun yang aku pelajari dari ayah tak ada gunanya.


“Oswald, hey Oswald.” Sahut Freya yang sudah ada beberapa langkah jauh di depanku.


“Ya?”


“Apa yang sedang kamu lakukan?”


“Aku sedang mencari jejak rusa abu-abu, apalagi?”


Sejak tadi, aku berusaha mencari jejak-jejak rusa abu-abu di antara tanah yang juga berwarna serupa. Kulihat lagi jejak kaki yang kutinggalkan. Tampak samar warna abu-abu yang lebih gelap dari warna permukaan tanah.


Jika aku menginjaknya lebih dalam, maka tapak bekas abu-abu yang jauh lebih gelap akan tampak semakin jelas.


Tak berlebihan jika aku menyebut ini hutan magis, karena setelah beberapa saat jejak apa pun yang ada di atas tanah hutan ini akan menghilang. Rasanya aku jadi penasaran, apa yang ada di bawah tanah ini? Ataukah justru itu sifat dari warna tanahnya yang berbeda?


“Apakah kamu sudah menemukannya?” Tanya Freya dari atas pohon, langsung membuat kepalaku yang sedang berpikir teralihkan perhatiannya.


“Belum. Sulit sekali menemukannya di atas tanah yang warnanya serupa ini.” Matahari yang cerah membasuh semua yang ada di hutan menjadi lautan warna putih. “Aku khawatir kita tidak akan menemukannya malam ini.”


“Hmm... jejak kaki itu apa?”


“Itu jejak kakiku.”


“Kalau yang itu?” tunjuk Freya ke kejauhan.


Segera aku menuju ke arah yang ditunjuk Freya.


“Ugh... Ini langkah kakimu!”


“Ehehe.” Freya terkekeh-kekeh sambil melompati pohon untuk mengejarku, rupanya ketika ia berniat mendarat di dahan pohon tepat di atas kepalaku, Freya kehilangan pijakannya. “U-uwaah!”


“Uagh!”


“Oh, pantatku enggak sakit!” Kata Freya riang.


“Iya, tapi tulang rusukku hampir remuk.”


“Kamu sedang apa tiduran di atas tanah?”


“Minggiiiiir!”


Freya berdiri dan aku bangun sambil menepuk-nepuk sisa tanah putih yang menempel di bajuku.


“Kamu baik-baik saja?” tanyaku pada Freya.


“Hm? Iya, aku enggak apa-apa.”


“Baiklah kalau begitu, sekarang kita lanjut lagi mencari rusa abu-abunya.” Ajakku pada Freya sambil melihat ke sekeliling.


“Ehehe.” Freya tertawa kecil.


“Ada apa kamu senyum-senyum begitu?”


“Oswald baik.” Katanya masih dengan seulas senyuman manis dan pipi merona merah.


Ada sebuah kedalaman lain dari kata-kata yang terlontar dari mulutnya, juga pandangan Freya padaku. Tidak lagi kurasakan kejahilan di setiap kata-katanya, bukan lagi sebuah permainan. Saat ini, aku berharap kalau itu sama sekali bukan yang sedang kupikirkan. Sayangnya tubuhku yang berumur sepuluh tahun ini justru bereaksi jauh berbeda dari yang aku inginkan.


Hatiku berdebar-debar.


“Bicara apa kamu ini, ayo cepat.” Kataku sambil mengalihkan pandangan dan mulai berjalan.


“Ookee.” Balasnya santai.


“Aaah! Oswald!” Freya berteriak sambil menarik kerah bajuku dan membuatku tercekik. “Aku menemukan jejak besar!!!”


“Uhuk! Uhuk! M-mana?”


“Ini! Di bawah kaki kita!!”


“Freya... ini kan bekas tubuhku.”


“Oh, hehe.”


“Sudah, ayo cepat jalan. Mungkin kalau kita berjalan lebih jauh lagi, kita akan dapat petunjuk.”


Aku dan Freya melanjutkan perburuan ke dalam hutan abu-abu lebih jauh, masuk ke lapisan hutan yang lebih lebat dengan jalan yang sama sekali tidak mulus. Kondisi tanahnya tidak landai, aku dan Freya beberapa kali harus mendaki tanah yang kenaikannya tidak konsisten. Acak dan penuh bebatuan yang warnanya tak lain adalah putih abu. Berjalan di jalan seperti ini akan sangat mudah menguras energi dan tenaga. Beruntung aku dilatih oleh ayah, juga melatih tubuhku dalam menghadapi situasi seperti ini. Kalau Freya..., aku tak tahu apakah paman Rodan melatihnya atau tidak, tapi dia sejak tadi berjalan santai saja. Seperti jalan ini tidak ada apa-apanya. Sial, padahal aku sudah mulai berkeringat.


Kamu sudah berjalan cukup lama, tapi tak kunjung menemukan adanya tanda-tanda rusa abu-abu. Tapi, kami menemukan sebuah batas hutan yang belum pernah aku temui. Level permukaan tanahnya langsung naik secara ekstrem, kalau dihitung, mungkin tiga kali ukuran tubuhku atau sekitar 3 melie. Tak ada cara lain selain memanjatnya.


“Oz, kamu mau memanjat?”


“Ada cara lain?” Aku balik bertanya pada Freya, yang tak dijawabnya.


Kondisi tanahnya yang empuk dan elastis membuatku sulit untuk menemukan pijakan yang kokoh dan tepat. Ketika aku bisa memanjat cukup tinggi, maka tanahnya akan terurai sehingga aku kembali turun ke bawah. Melompat pun, aku hanya bisa mencapai ketinggian setengahnya, setelah itu tanahnya akan longsor lagi.


“Sepertinya sulit untuk dipanjat, Freya, kita aka- hmm?” kulihat ke belakang tak kutemukan Freya di mana pun. “Freya!? Kamu di mana?!”


“Aku di sini!” suara Freya terdengar dari atas, aku mundur dua langkah dan melihat kepalanya yang menyembul. “Kemarilah!”


“Bukankah itu yang sejak tadi aku lakukan? Hmm... tunggu, kamu naik dari mana?”


“Di sebelah sana!” ia menunjuk ke arah kanan. “Ada pohon tumbang.”


Hanya perlu dua langkah ke kanan sampai aku bisa melihat pohon tumbang yang disebutkan Freya. Rasa malu langsung menggerayangi sampai ke wajahku. Bagaimana bisa aku melewatkan pohon besar yang menjadi jembatan ke atas itu?


“Cepat naik!”

__ADS_1


“Iya sabar.”


Sampai ke atas, kulihat sebuah kondisi hutan putih abu-abu yang sedikit berbeda. Kali ini hutannya lebih lebat, jarak antar pohon juga semakin rapat, dan yang paling penting banyak bagian-bagian hutan yang rusak.


Kerusakan yang aku maksud adalah bekas-bekas luka pada badan pohon, bekas-bekas tanah yang tidak rapi, dan bekas-bekas lain yang menunjukkan kalau di sekitar sini ada sebuah aktivitas yang tidak biasa. Kalau kulihat lagi, pohon jembatan yang tadi kulalui adalah tumbang karena serangan monster. Dilihat lebih detail, maka aku bisa melihat bekas aneh yang tertancap di sana.


“Bekas luka ini, tak lain adalah tanduk rusa abu-abu.” Terangku pada diriku sendiri. Untuk sekedar meyakinkan. Tapi, setelah kulihat lagi jejak-jejak di sekitarnya, aku semakin yakin. Sayangnya jejak-jejak itu pun sudah pudar, aku tak bisa menebak ke mana perginya rusa abu-abu yang menyebabkan ini terjadi.


Ukuran rusa abu-abu memang cukup besar. Aku tak akan mengada-ngada kalau ukurannya tiga kali ukuran tubuhku. Benar-benar besar. Tak heran kalau ia bisa menumbangkan pohon yang diameternya setebal ini.


Namun, pertanyaan lain muncul dalam benakku...


Rusa abu-abu seharusnya adalah binatang yang damai dan hanya akan menjadi kasar dan liar jika ada yang menyerangnya. Apakah ini artinya ada yang menyerang rusa tersebut?


“Oswald, apa yang kamu lakukan?”


“Sepertinya kita harus bersiap untuk keadaan terburuk.”


“Apa maksudmu?”


“Area ini berbahaya, Freya. Aku dan ayah belum pernah sejauh ini masuk ke dalam hutan putih abu-abu. Aku juga baru pertama kali melihat keadaan semacam ini di sini.”


“Jadi, kita harus pulang?”


“Hmm, sejujurnya aku masih ingin mencari.” Karena aku sudah berjanji pada ayah dan ibu untuk membawa hasil. “Bagaimana kalau kamu pulang sendiri, Freya?”


“Kalau begitu, aku tidak berulang tahun.”


“Tenang saja, aku kan berburu untuk kita berdua.”


“Hehe, tidak mau. Aku tetap ikut.”


“Baiklah, tapi kita harus tetap bersama dan saling melindungi, ya?”


“Oke!”


“Sekarang masalahnya, bagaimana kita akan mencarinya? Jejak-jejak yang ada di sini sudah terlalu lama dan saat ini malah sudah menghilang sama-sekali.”


“Hmm, ke sana!” kata Freya, lagi-lagi sambil menunjuk dengan jari mungilnya.


“Bagaimana kamu tahu?”


“Aku mencium bau yang aneh.”


Ah, aku lupa kalau penciuman Freya sangat mengerikan.


Karena itu satu-satunya petunjuk, tak ada cara lain, selain mengikuti petunjuk yang samar-samar itu.


“Ngomong-ngomong, Freya. Bagaimana bisa penciumanmu seperti itu?”


“Hmm?” gumamnya sambil menunjuk hidungnya sendiri. “Aku tak tahu, pokoknya ayah juga punya penciuman yang tajam.” Katanya polos.


“Kamu bisa membedakan wangi?”


“Bisa! Misalnya, wangi bibi Selby itu sangat manis dan nyaman, wangi paman Ulrik itu seperti bulu singa yang dijemur matahari.”


“Bagaimana dengan ayahmu?”


“Umm...” Freya sempat kebingungan, sepertinya dia bingung bagaimana mengatakannya. “Datar?” katanya yang justru malah terdengar seperti pertanyaan.


“Mana aku tahu.”


“Tapi tapi tapi,”


“Ya ya ya.”


“Ada satu bau yang paling aku suka.”


“Hmm? Oh, bisa membandingkan bau seperti itu pasti kamu punya selera yang spesifik ya.”


“Kamu bicara apa? Aku enggak ngerti.”


Ugh, aku harus pakai bahasa yang lebih sederhana kalau bicara dengan Freya.


“Jadi, kamu suka bau seperti apa?”


“Hmm...” Mulut Freya sudah terbuka lebar, lalu kemudian ia berpikir keras sampai-sampai menghentikan langkah kakinya. “Aku enggak tahu...”


“Tenang saja pikirkan baik-baik, aku akan menunggu.”


“Umm..., wanginya sangat baik...”


Wah, aku penasaran bagaimana wangi sangat baik yang ia sebutkan itu.


“perhatian, lembut, berani, dan tegar.”


“Kamu sedang mendeskripsikan wangi, atau orang sih?”


“Tapi..., ada kesedihan dan pahit... kegelapan yang dalam juga di dalamnya.”


Ketika Freya mengatakan itu, entah kenapa hatiku seakan tengah ditusuk-tusuk. Semua memori pahit dari duniaku sebelumnya langsung mengalir bak sungai yang deras.


“Meski begitu.., aku tetap suka wanginya.” Kata Freya penuh keyakinan di setiap kata-katanya.


“Begitu ya.” Balasku dengan senyum. “Lalu, wangi apa itu?”


“Hehe, rahasia.” Jawabnya dengan pipi merona merah.


“Terserah kamu saja, Freya.”


Setelah melewati bagian paling padat di dalam hutan, akhirnya kami berada di sebuah tempat terbuka. Dari suhu dan pemandangan yang terpapar di hadapanku sekarang, jelas ini adalah sebuah tebing. Suhunya dingin dan berjalan sedikit ke sana adalah jurang yang dalam.


Di titik ini aku merasa kalau mencari rusa abu-abu lebih lanjut akan percuma. Apalagi pendengaranku sedikit terhalang karena angin yang berhembus kencang.


“Rusa abu-abunya enggak ada sama sekali ya?”


“Sepertinya begitu. Aku sangat ingin bisa memburu satu saja, karena aku sudah berjanji pada ayah.”


“Kalau begitu, kita cari sebentar lagi.” Ucap Freya sambil menyentuh tanganku. “Jangan menyerah.” Lanjutnya lembut.

__ADS_1


“Iya, tinggal sedikit lagi. Jika sampai matahari benar-benar di atas tak ada juga, kurasa kita harus menyerah pulang.”


“Kalau begitu ayo.” Freya menarik jalanku ke satu arah.


“Hei, kamu enggak asal ambil arah jalan kan?”


“Hehehe.”


“Ayolah Freya, seriuslah sedikit.”


“Kamu harusnya tanya diri sendiri. Kamu pikir kamu sedang serius, tanpa membawa alat-alat berburu?”


“Hehehehehe.” Begitu saja mulutku menyengir diikuti kekeh yang tak terkendali. Lagi, aku akan menyalahkan tubuhku yang masih belia karena aku tak bisa menahan sikapku. “Tentu saja aku membawanya.” Lanjutku dengan wajah yang sangat kusadari sangat tampak menyebalkan.


“Aku paling enggak suka wajah sombong kamu, Oz.” Katanya sembari menjauh karena jijik. “Terus, kamu sejak kapan jadi pembohong?”


“Ckckck, sayang sekali aku tidak berbohong. Kamu lihat di lenganku, aku punya ini!”


“Gelang?”


“Bukan gelang biasa.” Sebuah busur dan panah muncul di genggaman tanganku seiring kata-kata itu keluar dari mulutku.


“Eh?? Sejak kapan Oz bisa wisekraft?!”


“Tidak, Freya. Aku tidak bisa wisekraft. Gelang ini membuatku bisa menyimpan apa saja di dalamnya.” Jawabku sambil memasukkan panah dan busur ke dalam penyimpanan dimensi, lalu mengeluarkannya lagi berulang kali. “Begitu, cara kerjanya.”


“Eeeh, aku juga mau.”


“Hehehe, ini hadiahku. Kamu enggak bisa memilikinya.”


“Aah! Aku mau!”


“Enggak.”


“Pokoknya aku mau!” Freya langsung datang menyerang dengan niat mengambil gelangku begitu saja, tapi aku membiarkannya karena Freya tidak benar-benar serius.


Karena kalau dia serius, tanganku pasti sudah patah karena ia begitu kuat.


“Uuh, aku ingin.”


“Sudah-sudah, jangan sedih. Memangnya ayahmu tidak memberimu apa-apa?”


Freya hanya menjawabku dengan menggeleng kecil.


“Kalau begitu, biar aku yang memberi kamu hadiah. Bagaimana?”


“Benarkah?” tanyanya dengan mata berbinar.


“Aku kan bukan pembohong. Tapi, kamu harus menunggu. Karena hadiahmu kutinggalkan di rumah, hehe.”


Mendengar kata-kataku kedua bola mata Freya yang sudah bulat cantik, kini matanya jauh lebih berbinar dan seakan membesar. Rupanya dia benar-benar sangat berharap hadiah dariku. Aku pun tidak berbohong, aku memang sudah menyiapkan sebuah hadiah berupa kalung yang kubuat saat membantu ayah di bengkelnya. Kalungnya terdiri dari sebuah tali yang kuanyam sendiri, hasil ajaran ibu. Sementara pendulumnya adalah perak yang kubuat serupa kupu-kupu.


Freya adalah gadis yang tak akan pernah berhenti berlari meski ada pemandangan indah di sekitarnya, akan tetapi seekor kupu-kupu berhasil membuatnya berhenti dan memandangi kupu-kupu itu untuk waktu yang lama. Faktanya, banyak sekali kupu-kupu yang hinggap di tubuh terutama hidungnya ketika ia ketiduran di luar.


“Baiklah, aku akan menunggu!” ujarnya semangat. “Ngomong-ngomong, apa yang kamu mau berika-” kata-kata Freya langsung terhenti.


“Freya?”


Ia berdiri mematung, pandangan matanya mengikuti sesuatu yang ada di hutan. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia meyakini sesuatu ada di balik hutan itu, namun belum juga bicara. Ia kemudian membuka mulutnya sesaat untuk mengatakan sesuatu. Namun, sepertinya kata-kata yang akan ia lontarkan tertahan begitu saja di tenggorokannya, disusul warna wajah yang memucat.


“Hei, ada apa?”


“Aa..h... i...”


“Apa yang kamu takutkan? Apa yang kamu lihat di sana?”


Freya tidak menjawabku, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.


Ketakukan Freya sama sekali baru bagiku. Setahuku Freya adalah gadis paling kuat yang bisa melawan dua tiga orang dewasa di desa. Melihatnya ketakutan, aku benar-benar tak habis pikir.


“Aku akan pergi ke sa-”


“Tunggu!” Freya menghentikanku dengan menggenggam tanganku erat, ia kemudian menggelengkan kepalanya berkali-kali.


“Ada apa? Kamu seperti ketakutan begitu.”


“Bukan, Oswald. Jangan pergi. Berbahaya.” Lirih Freya dengan nada yang goyah.


“Ceritakan padaku, Freya.” Ia hanya menggeleng tanpa henti, menolak untuk mengatakan apa pun.


Sampai titik ini, aku nyaris berniat untuk meninggalkannya sendiri karena perasaan tidak tega melihatnya ketakutan seperti itu. Aku merasa aku harus mengetahui dan jika memungkinkan, menghilangkan apa yang membuat Freya takut.


Tak lama, aku bisa mendengar suara di balik hutan yang sangat sepi ini.


Jika Freya percaya diri dengan penciumannya, maka aku juga percaya diri dengan pendengaranku. Aku bisa membedakan manusia dari langkahnya, mengetahui berapa berat dan tinggi badan dari berat langkahnya, ke mana arah datangnya, dan jika aku sedang sangat fokus, aku bisa membayangkan dengan jelas sumber suaranya seperti apa.


Kali ini, suara yang kudengar bukanlah suara makhluk liar.


Seorang pria bertubuh dua kali lebih besar dariku, dari langkahnya yang lambat dan berat, ia mengenakan baju zirah yang tebal lagi berat. Belum lagi, ia membawa sebuah senjata yang tak kalah beratnya. Aku cukup yakin, dari atas kepala hingga ke ujung kakinya ditutupi baju zirah.


Seiring langkah kakinya, ada juga suara gesekan yang konstan. Ia sedang menyeret sesuatu yang besar. Entah apa itu. Dari arahnya berjalan, hingga suara yang terus mendekat itu, aku yakin dia sedang berjalan ke arah sini.


Naluriku sungguh berkata kalau ia datang dengan niat buruk, sialnya aku sangat meyakini itu.


“Freya, berdirilah di belakangku.”


Segera kulepaskan anak panah ke arah itu, setelah membidik dan mengukur arah, sasaran, dan kekuatan lepasan panah yang tepat untuk sampai tepat ke lubang mata pada helm zirahnya.


Namun, apa yang terjadi selanjutnya sungguh membuatku tak habis pikir.


Sebuah gelombang tekanan udara tiba-tiba terhempas, diikuti beberapa pohon di hadapanku dan Freya yang langsung terpotong bersih. Semua itu menyibakkan sesosok pria bertubuh besar dalam zirahnya yang serba hitam. Di dada zirahnya terdapat sebuah simbol yang begitu kentara, seakan ingin memamerkan sebuah nama yang besar dan agung.


“Oi oi, anak zaman sekarang tidak sopan sekali pada yang tua.” Suara yang berat dan dalam terdengar. “Belum apa-apa, sudah ada panah yang nyaris mengenai mataku.”


“Siapa kau!?”


“Aku? Hah, aku bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang ingin merayakan hari yang baik.” Ia kemudian melemparkan sesuatu yang besar ke depanku dan Freya dari tangan kirinya, tak perlu menunggu hingga apa yang dilemparnya itu sampai ke tanah. Kami sudah tahu kalau itu adalah mayat seekor rusa abu-abu. “Selamat ulang tahun. Hahahaha!”


Aku segera mengetahui, keberadaannya saat itu bukanlah untuk sesuatu yang baik.

__ADS_1


__ADS_2