Sanctuaria

Sanctuaria
Unexpected Bonding


__ADS_3

Pertemuan aneh itu tak bertahan lama. Banyak sekali yang ingin aku


tanyakan pada Madre dan Lei. Tentang siapa mereka sebenarnya dan bagaimana


mereka bisa berakhir di dunia ini. Pun jika memang benar kalau


mereka adalah orang dari dunia lain sepertiku.


Seorang penjaga yang berbeda memasuki ruangan


terisolasi itu, jelas ia amat terkejut dengan apa yang ia saksikan. Hanya tiga


orang anak laki-laki yang sadar, sementara sisanya hilang kesadaran.


“Ada apa iniiiii?!” katanya tak percaya,


dengan iiiii yang sangat panjang.


Tak lama, ia kemudian memboyong kami bertiga


ke sebuah tempat berisi banyak senjata tanpa ba-bi-bu. Di dalam ruangan itu ada


banyak senjata yang bisa digunakan oleh anak berumur sepuluh tahun. Jenis


senjatanya bermacam-macam, tapi ukurannya sudah dimodifikasi sehingga


proporsional untuk anak sepuluh tahun dengan tinggi rata-rata 140cm.


“Pilih satu senjata, kalian tak punya pilihan


lain!” katanya sambil menutup pintu keras-keras.


Madre yang baru datang tak mengucapkan


apa-apa. Tangannya masih sibuk mengusap-usap dagunya yang tanpa janggut, ya


tentu saja. Tak ada anak berumur sepuluh tahun yang berjanggut... atau mungkin


ada di luar sana yang demikian?


“Oz, apa yang sedang kau pikirkan?” Lei


menghampiriku.


“Memilih senjata, apa lagi?” kutunjukkan


padanya sebuah belati yang aku pilih.


“Kau mahir menggunakannya?”


“Yaa, aku bisa bilang di atas rata-rata.”


“Apakah itu yang kau gunakan di duniamu


sebelumnya? Caramu memegangnya bukanlah cara seorang pemula.”


Aku bahkan belum mengiyakan pernyataan Lei


kalau aku adalah orang dari dunia lain.


“Sudahlah, tak perlu berpura-pura lagi. Aku


juga orang dari dunia lain.” Kata Lei memburu jawaban dariku, di titik ini aku


sudah tak perlu mengonfirmasi apa-apa lagi.


“Senjata adalah keahlianku. Di duniaku


sebelumnya, aku disebut battle master. Kurang lebih artinya bisa menggunakan


apa pun sebagai senjata.”


“Apa pun?”


“Ya, apa pun. Tapi, ada yang aneh di dunia


ini. Di duniaku sebelumnya, aku bisa menjadi seorang battle master karena perlu


sekitar dua puluh tahun untuk mengasah teknik, tubuh, dan kemampuanku secara


menyeluruh.”


“Biar kutebak, di dunia ini kamu bisa mahir


menggunakan senjata begitu saja?”


“Bagaimana kau tahu?”


“Aku juga bisa menggunakan ki yang kumiliki,


meski tidak sepenuhnya sejak aku lahir.”


Sejak lahir. Ini artinya Lei juga terlahir


kembali di dunia ini.


“Orang-orang di dunia ini menyebutnya gift.


Kemampuan khusus pemberian para dewa. Orang yang diberikan gift akan memiliki


kemampuan khusus. Ada yang diberi gift yang sama, ada pula yang sama sekali


berbeda. Unik dibandingkan yang lain.”


Jadi itu sebabnya... itu artinya kemampuanku


selama ini juga adalah gift.


Aku ingat ayahku pernah begitu bahagia ketika


aku bisa begitu saja menguasai sebuah alat padahal itu pertama kalinya aku


mencoba. Dia berkata kalau aku diberkahi dewa, tanpa menyebutkan kalau itu


adalah gift.


“Tapi, aku tak senang dengan ini.”


“Apa maksudmu?”

__ADS_1


“Di duniaku sebelumnya, Ki adalah kemampuan


yang harus dilatih dan terus diasah selama puluhan tahun. Itu adalah hasil


kerja kerasku! Bukan gift atau rasa kasihan dewa.” Katanya kesal dengan tangan


mengepal.


“Ngomong-ngomong Lei, kau tak pilih senjata?”


“Aku cukup ini saja.” Kini kedua tangannya


sengaja dikepalkan. “Ini keahlianku.”


“Haha, begitu ya. Kalau begitu mereka


beruntung karena tidak akan kehilangan satu senjata pun.”


“Bisa jadi, tapi mereka juga bisa jadi amat


merugi.” Kata Lei santai.


“Mendengar percakapan kalian, menimbang


situasi yang ada sekarang ini, kurang lebih aku sudah paham kalian siapa.”


Suara yang lain terdengar bersama dengan sebuah perisai seukuran lengan


diangkat. “Tapi, yang masih jadi pertanyaanku, untuk apa kalian ada di sini?”


Dia, Madre, mengangkat sebuah perisai di


tangannya. Sebuah perisai besi yang merefleksikan bayangan wajahnya sendiri.


Dari ketebalannya, aku tak yakin dari bentuk tubuhnya yang kurus, ia bisa


mengangkat besi setebal itu dengan satu tangan. Ia melihat refleksi wajahnya


dan mengamati dengan seksama.


“Kau juga orang dari dunia lain, siapa namamu


tadi? Oh ya, Madre. Aku sama sekali tak menyangka bisa bertemu dengan dua orang


sepertiku, dalam satu hari.” Kata Lei sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Haha, aku malah tak menyangka bisa bertemu


orang dari dunia lain. Saat aku tersadar di dunia ini, tiba-tiba bertemu


biarawati cantik, lalu aku diseret pria besar. Benar-benar mengejutkan.”


Katanya selesai mengamati wajahnya di depan perisai besi itu.


Madre masih belum melihatku dan Lei, ia


kemudian mengambil sebuah pedang bermata dua.


“Baiklah, aku siap.” Katanya yakin.


“Perisai dan pedang bermata dua, tipe


“Perkenalkan namaku Oswald Sol.” Kataku


sambil mengulurkan tangan saat ia mendekat.


“Aku Lei Truden.”


“Kalau begitu sekali lagi, namaku Madre


Ananta.” Katanya tersenyum santai, sementara tangannya aktif menyambut jabat


tangan dariku dan Lei.


“Kau santai sekali ya, rasanya tadi aku


mendengar kalau semua ini terjadi begitu saja.”


“Kurang lebih aku sudah bisa mengerti situasinya


sekarang ini. Atau perlu aku jelaskan pada kalian?” Katanya dengan sikap


menantang.


“Tunggu, tadi kau bilang kau tersadar begitu


saja di dunia ini? Apa yang terjadi padamu?”


“Oh, kita mulai dari situ? Hmm, terlalu


panjang. Singkatnya, aku memasuki sebuah pintu dimensi. Ketika tersadar aku


sudah ada di sini dengan tubuhku saat masih berumur sepuluh tahun.” Jelas Madre


santai, nada bicaranya langsung menyampaikan padaku kalau dia berkata jujur


sejujur-jujurnya.


“Ooh, begitu ya.” Kata Lei sambil mengangguk-angguk.


“Lei, aku tak menyangka kau bisa menerimanya


begitu saja.”


“Fenomena aneh seperti itu sama sekali bukan


hal yang jarang terjadi di duniaku... atau jangan-jangan sihir dan


fenomena-fenomena supranatural tidak ada di duniamu?”


“Ada, tapi tidak sejauh itu.”


“Haha, santai saja. Aku yakin di luar sana


masih banyak hal yang bisa membuatmu terkejut.” Kata Madre tertawa ringan.


“Ngomong-ngomong, aku akan kembali ke pertanyaanku. Apa yang kalian lakukan di


sini? Tidak, apa tujuan kalian ada di sini?”

__ADS_1


“Sebelum menjawab pertanyaan itu, baiknya kau


jelaskan dulu sejauh apa kamu mengerti situasi yang ada sekarang ini.”


“Baiklah. Sekarang ini kita ada di sebuah


tempat bernama Saint Rose, kemungkinan besar ini adalah panti asuhan. Melihat


dari seragam biarawati yang tadi ada bersamaku.”


“Oke, lalu?”


“Anak-anak yang ada di dalam ruangan


tertutup, pengap, dan tanpa jalan keluar. Yang bisa kupikirkan adalah mereka


korban penculikan, apakah panti asuhan ini melakukannya sendiri? Kurasa tidak,


karena melihat dari perbedaan pakaian yang dikenakan anak-anak yang sekarang


pingsan itu berbeda-beda. Status sosial mereka berbeda. Jadi, kesimpulanku


adalah mereka diculik dan dijual sebuah grup bandit.”


Lei memandang ke arahku terkejut. Aku pun


membalasnya dengan pandangan yang sama. Tak perlu disebut lagi kalau penjelasan


Madre mencengangkan.


“Lalu, untuk apa anak-anak itu dibeli panti


asuhan ini... hmm, aku tak yakin.” Satu tangannya kini menempel di dagunya.


“Ada dua hal. Pertama yang aku yakini, mereka akan dipaksa untuk memproduksi


sesuatu. Dengan kata lain ini adalah eksploitasi anak.”


“Itu juga yang kupikirkan saat melihat mereka


semua diseret ke tempat ini.”


“Kalau begitu, ini cukup menjelaskan kalau kalian


ingin menyelamatkan anak-anak malang yang ada di sini kan?” Kata Madre sambil


menunjuk dengan satu tangannya, seakan baru saja mengenai tepat sasaran.


Aku dan Lei tak menjawabnya.


“Tapi, yang membuatku heran adalah kenapa


kalian tidak segera melakukannya?”


“Hah? Apa maksudmu?”


“Melihat status kalian, aku yakin kalian


sudah bisa melakukan itu sejak awal kalian sampai di sini. Apalagi melihat


bagaimana gift yang kalian miliki begitu luar biasa.”


“Eh?!”


“Gift? Kau bisa melihat gift?!” Lei menyentuh


pundak Madre sambil menggoyangkan tubuhnya dengan kasar.


“E-e-egh? Kalian tak bisa?”


“Tidak mungkin! Yang kutahu, itu cuma bisa


dilakukan oleh Magi tingkat tinggi!” Kata Lei histeris.


“Aman untuk disimpulkan kalau itu adalah


bagaimana penyihir disebut di dunia ini.”


“Aaargh!”


“Lei tenanglah dulu. Madre bahkan belum


selesai bicara.”


“Oh ya, lalu yang kedua... keberadaan dan


tindakan kalian di sini membuatku berpikir kalau ini bukan sekedar eksploitasi


anak. Melibatkan pertempuran...” Mata Madre menelusuri semua senjata yang ada


di dalam ruangan ini. ”prajurit anak? Pasukan berani mati? Bisa jadi. Tapi satu


hal yang membuatku yakin, adalah pertempuran itu merupakan sesuatu yang kalian


cari.”


Satu kata yang muncul di kepalaku hanya satu.


“Sanctuaria.” Kata Lei penuh percaya diri.


Apa yang diucapkan Lei langsung menjelaskan


padaku bahwa dia memiliki tujuan yang sama. Selain menyelamatkan anak-anak itu


dari kemalangan nasib, Sanctuaria juga adalah alasan utama.


“Sanctuaria? apa itu sanc-”


Bruk.


Suara itu muncul di dekat kami bertiga.


Ketika kami menoleh, sudah ada seorang


biarawati bernama Amana yang jatuh di atas lututnya.


“K-kalian... sebenarnya siapa?” katanya


dengan suara bergetar.

__ADS_1



__ADS_2