
Pertemuan aneh itu tak bertahan lama. Banyak sekali yang ingin aku
tanyakan pada Madre dan Lei. Tentang siapa mereka sebenarnya dan bagaimana
mereka bisa berakhir di dunia ini. Pun jika memang benar kalau
mereka adalah orang dari dunia lain sepertiku.
Seorang penjaga yang berbeda memasuki ruangan
terisolasi itu, jelas ia amat terkejut dengan apa yang ia saksikan. Hanya tiga
orang anak laki-laki yang sadar, sementara sisanya hilang kesadaran.
“Ada apa iniiiii?!” katanya tak percaya,
dengan iiiii yang sangat panjang.
Tak lama, ia kemudian memboyong kami bertiga
ke sebuah tempat berisi banyak senjata tanpa ba-bi-bu. Di dalam ruangan itu ada
banyak senjata yang bisa digunakan oleh anak berumur sepuluh tahun. Jenis
senjatanya bermacam-macam, tapi ukurannya sudah dimodifikasi sehingga
proporsional untuk anak sepuluh tahun dengan tinggi rata-rata 140cm.
“Pilih satu senjata, kalian tak punya pilihan
lain!” katanya sambil menutup pintu keras-keras.
Madre yang baru datang tak mengucapkan
apa-apa. Tangannya masih sibuk mengusap-usap dagunya yang tanpa janggut, ya
tentu saja. Tak ada anak berumur sepuluh tahun yang berjanggut... atau mungkin
ada di luar sana yang demikian?
“Oz, apa yang sedang kau pikirkan?” Lei
menghampiriku.
“Memilih senjata, apa lagi?” kutunjukkan
padanya sebuah belati yang aku pilih.
“Kau mahir menggunakannya?”
“Yaa, aku bisa bilang di atas rata-rata.”
“Apakah itu yang kau gunakan di duniamu
sebelumnya? Caramu memegangnya bukanlah cara seorang pemula.”
Aku bahkan belum mengiyakan pernyataan Lei
kalau aku adalah orang dari dunia lain.
“Sudahlah, tak perlu berpura-pura lagi. Aku
juga orang dari dunia lain.” Kata Lei memburu jawaban dariku, di titik ini aku
sudah tak perlu mengonfirmasi apa-apa lagi.
“Senjata adalah keahlianku. Di duniaku
sebelumnya, aku disebut battle master. Kurang lebih artinya bisa menggunakan
apa pun sebagai senjata.”
“Apa pun?”
“Ya, apa pun. Tapi, ada yang aneh di dunia
ini. Di duniaku sebelumnya, aku bisa menjadi seorang battle master karena perlu
sekitar dua puluh tahun untuk mengasah teknik, tubuh, dan kemampuanku secara
menyeluruh.”
“Biar kutebak, di dunia ini kamu bisa mahir
menggunakan senjata begitu saja?”
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku juga bisa menggunakan ki yang kumiliki,
meski tidak sepenuhnya sejak aku lahir.”
Sejak lahir. Ini artinya Lei juga terlahir
kembali di dunia ini.
“Orang-orang di dunia ini menyebutnya gift.
Kemampuan khusus pemberian para dewa. Orang yang diberikan gift akan memiliki
kemampuan khusus. Ada yang diberi gift yang sama, ada pula yang sama sekali
berbeda. Unik dibandingkan yang lain.”
Jadi itu sebabnya... itu artinya kemampuanku
selama ini juga adalah gift.
Aku ingat ayahku pernah begitu bahagia ketika
aku bisa begitu saja menguasai sebuah alat padahal itu pertama kalinya aku
mencoba. Dia berkata kalau aku diberkahi dewa, tanpa menyebutkan kalau itu
adalah gift.
“Tapi, aku tak senang dengan ini.”
“Apa maksudmu?”
__ADS_1
“Di duniaku sebelumnya, Ki adalah kemampuan
yang harus dilatih dan terus diasah selama puluhan tahun. Itu adalah hasil
kerja kerasku! Bukan gift atau rasa kasihan dewa.” Katanya kesal dengan tangan
mengepal.
“Ngomong-ngomong Lei, kau tak pilih senjata?”
“Aku cukup ini saja.” Kini kedua tangannya
sengaja dikepalkan. “Ini keahlianku.”
“Haha, begitu ya. Kalau begitu mereka
beruntung karena tidak akan kehilangan satu senjata pun.”
“Bisa jadi, tapi mereka juga bisa jadi amat
merugi.” Kata Lei santai.
“Mendengar percakapan kalian, menimbang
situasi yang ada sekarang ini, kurang lebih aku sudah paham kalian siapa.”
Suara yang lain terdengar bersama dengan sebuah perisai seukuran lengan
diangkat. “Tapi, yang masih jadi pertanyaanku, untuk apa kalian ada di sini?”
Dia, Madre, mengangkat sebuah perisai di
tangannya. Sebuah perisai besi yang merefleksikan bayangan wajahnya sendiri.
Dari ketebalannya, aku tak yakin dari bentuk tubuhnya yang kurus, ia bisa
mengangkat besi setebal itu dengan satu tangan. Ia melihat refleksi wajahnya
dan mengamati dengan seksama.
“Kau juga orang dari dunia lain, siapa namamu
tadi? Oh ya, Madre. Aku sama sekali tak menyangka bisa bertemu dengan dua orang
sepertiku, dalam satu hari.” Kata Lei sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Haha, aku malah tak menyangka bisa bertemu
orang dari dunia lain. Saat aku tersadar di dunia ini, tiba-tiba bertemu
biarawati cantik, lalu aku diseret pria besar. Benar-benar mengejutkan.”
Katanya selesai mengamati wajahnya di depan perisai besi itu.
Madre masih belum melihatku dan Lei, ia
kemudian mengambil sebuah pedang bermata dua.
“Baiklah, aku siap.” Katanya yakin.
“Perisai dan pedang bermata dua, tipe
“Perkenalkan namaku Oswald Sol.” Kataku
sambil mengulurkan tangan saat ia mendekat.
“Aku Lei Truden.”
“Kalau begitu sekali lagi, namaku Madre
Ananta.” Katanya tersenyum santai, sementara tangannya aktif menyambut jabat
tangan dariku dan Lei.
“Kau santai sekali ya, rasanya tadi aku
mendengar kalau semua ini terjadi begitu saja.”
“Kurang lebih aku sudah bisa mengerti situasinya
sekarang ini. Atau perlu aku jelaskan pada kalian?” Katanya dengan sikap
menantang.
“Tunggu, tadi kau bilang kau tersadar begitu
saja di dunia ini? Apa yang terjadi padamu?”
“Oh, kita mulai dari situ? Hmm, terlalu
panjang. Singkatnya, aku memasuki sebuah pintu dimensi. Ketika tersadar aku
sudah ada di sini dengan tubuhku saat masih berumur sepuluh tahun.” Jelas Madre
santai, nada bicaranya langsung menyampaikan padaku kalau dia berkata jujur
sejujur-jujurnya.
“Ooh, begitu ya.” Kata Lei sambil mengangguk-angguk.
“Lei, aku tak menyangka kau bisa menerimanya
begitu saja.”
“Fenomena aneh seperti itu sama sekali bukan
hal yang jarang terjadi di duniaku... atau jangan-jangan sihir dan
fenomena-fenomena supranatural tidak ada di duniamu?”
“Ada, tapi tidak sejauh itu.”
“Haha, santai saja. Aku yakin di luar sana
masih banyak hal yang bisa membuatmu terkejut.” Kata Madre tertawa ringan.
“Ngomong-ngomong, aku akan kembali ke pertanyaanku. Apa yang kalian lakukan di
sini? Tidak, apa tujuan kalian ada di sini?”
__ADS_1
“Sebelum menjawab pertanyaan itu, baiknya kau
jelaskan dulu sejauh apa kamu mengerti situasi yang ada sekarang ini.”
“Baiklah. Sekarang ini kita ada di sebuah
tempat bernama Saint Rose, kemungkinan besar ini adalah panti asuhan. Melihat
dari seragam biarawati yang tadi ada bersamaku.”
“Oke, lalu?”
“Anak-anak yang ada di dalam ruangan
tertutup, pengap, dan tanpa jalan keluar. Yang bisa kupikirkan adalah mereka
korban penculikan, apakah panti asuhan ini melakukannya sendiri? Kurasa tidak,
karena melihat dari perbedaan pakaian yang dikenakan anak-anak yang sekarang
pingsan itu berbeda-beda. Status sosial mereka berbeda. Jadi, kesimpulanku
adalah mereka diculik dan dijual sebuah grup bandit.”
Lei memandang ke arahku terkejut. Aku pun
membalasnya dengan pandangan yang sama. Tak perlu disebut lagi kalau penjelasan
Madre mencengangkan.
“Lalu, untuk apa anak-anak itu dibeli panti
asuhan ini... hmm, aku tak yakin.” Satu tangannya kini menempel di dagunya.
“Ada dua hal. Pertama yang aku yakini, mereka akan dipaksa untuk memproduksi
sesuatu. Dengan kata lain ini adalah eksploitasi anak.”
“Itu juga yang kupikirkan saat melihat mereka
semua diseret ke tempat ini.”
“Kalau begitu, ini cukup menjelaskan kalau kalian
ingin menyelamatkan anak-anak malang yang ada di sini kan?” Kata Madre sambil
menunjuk dengan satu tangannya, seakan baru saja mengenai tepat sasaran.
Aku dan Lei tak menjawabnya.
“Tapi, yang membuatku heran adalah kenapa
kalian tidak segera melakukannya?”
“Hah? Apa maksudmu?”
“Melihat status kalian, aku yakin kalian
sudah bisa melakukan itu sejak awal kalian sampai di sini. Apalagi melihat
bagaimana gift yang kalian miliki begitu luar biasa.”
“Eh?!”
“Gift? Kau bisa melihat gift?!” Lei menyentuh
pundak Madre sambil menggoyangkan tubuhnya dengan kasar.
“E-e-egh? Kalian tak bisa?”
“Tidak mungkin! Yang kutahu, itu cuma bisa
dilakukan oleh Magi tingkat tinggi!” Kata Lei histeris.
“Aman untuk disimpulkan kalau itu adalah
bagaimana penyihir disebut di dunia ini.”
“Aaargh!”
“Lei tenanglah dulu. Madre bahkan belum
selesai bicara.”
“Oh ya, lalu yang kedua... keberadaan dan
tindakan kalian di sini membuatku berpikir kalau ini bukan sekedar eksploitasi
anak. Melibatkan pertempuran...” Mata Madre menelusuri semua senjata yang ada
di dalam ruangan ini. ”prajurit anak? Pasukan berani mati? Bisa jadi. Tapi satu
hal yang membuatku yakin, adalah pertempuran itu merupakan sesuatu yang kalian
cari.”
Satu kata yang muncul di kepalaku hanya satu.
“Sanctuaria.” Kata Lei penuh percaya diri.
Apa yang diucapkan Lei langsung menjelaskan
padaku bahwa dia memiliki tujuan yang sama. Selain menyelamatkan anak-anak itu
dari kemalangan nasib, Sanctuaria juga adalah alasan utama.
“Sanctuaria? apa itu sanc-”
Bruk.
Suara itu muncul di dekat kami bertiga.
Ketika kami menoleh, sudah ada seorang
biarawati bernama Amana yang jatuh di atas lututnya.
“K-kalian... sebenarnya siapa?” katanya
dengan suara bergetar.
__ADS_1