Sanctuaria

Sanctuaria
Valkyrie Descends


__ADS_3

Demon adalah sebuah ras yang dianggap seluruh manusia di duniaku sebagai sumber kegelapan dan kekacauan yang sebenarnya. Tak sedikit pun terasa tanda kehidupan dari diri mereka, yang ada hanya nafsu, hawa panas, dan keinginan untuk menghancurkan. Menurut sebuah penemuan hasil interogasi kepada seorang demon yang tertangkap, mereka hanya ingin menghancurkan dan mereka menemukan kepuasan yang sebenarnya dari kehancuran itu.


Tanpa perlu adanya kompromi lagi, niat permusuhan dan penghancuran umat manusia jelas tak bisa dibiarkan. Saat itu juga dimulailah perang besar melawan kegelapan yang kami sebut sebagai perang suci mentari terbit. Sebuah perang untuk tujuan suci dan cahaya harapan sehangat mentari pagi.


Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana para demon bisa muncul, bisa terlahir, bisa datang, atau bisa menjadi seburuk itu. Tak ada sejarah yang benar-benar berhasil menuliskannya. Satu hal yang pasti adalah duniaku tiba-tiba tenggelam dalam perang berkepanjangan yang nyaris menghancurkan semua harapan yang ada. Kelahiranku disebut sebagai simbol harapan dan keselamatan, namun bukankah para demon sang simbol putus asa dan kegelapan itu masih ada? Aku tetap menjadi satu, dari sekian banyak kehidupan yang mereka hancurkan.


Grey, seorang demon yang disebut-sebut sebagai terburuk dari yang terburuk, terlicik dari yang paling licik, terganas dari yang paling ganas, dan tercerdik di antara yang cerdik.


Ia sebenarnya bukanlah seorang demon murni. Ia adalah hasil dari perkawinan silang antara demon dengan seorang gadis suci yang harus jatuh dengan tragis dan memilukan di tangan mereka. Aku tak berani membayangkan apa yang terjadi dengan gadis suci itu, tapi yang jelas semua orang membenci Grey karenanya. Namanya pun demikian karena ia adalah campuran dari putih yang paling murni dan hitam yang paling gelap.


Hidup di tengah-tengah manusia, Grey mendapat perlakuan yang tak pernah bisa membuatnya simpatik terhadap manusia. Seakan semua orang sengaja mewarnainya dengan hitam. Aku mengerti dari mana datangnya kebencian mereka pada semua hal berbau demon, tapi aku juga tahu bahwa di dalam diri Grey terdapat sisi putih yang ia dapat dari ibunya. Waktu berselang, entah bagaimana caranya ia bisa bertahan tumbuh dewasa. Grey berhasil meyakinkan orang-orang bahwa ia adalah pembela kemanusiaan lewat kekuatannya untuk membasmi para demon dan mempertahankan kehidupan orang banyak di sebuah kota besar. Pandangan orang yang buruk padanya selama ini telah berubah menjadi sebaliknya. Grey adalah pahlawan dan grey adalah penyelamat. Grey diangkat sebagai orang paling penting di kota tersebut, sebagai mercusuar yang akan menunjukkan harapan.


Akan tetapi… kulit yang indah tak lantas memperlihatkan isi yang busuk.


Betapa hancurnya hati semua orang saat itu ketika Grey mengkhianati umat manusia dengan membiarkan demon menyusup dan melakukan kejahatan sesuka mereka. Grey saat itu mengumumkan kalau itu adalah pembalasan dendam yang selama ini ia tunggu-tunggu kepada umat manusia. Seketika, ia menjadi figur paling berbahaya dari sisi demon.


Dan aku adalah satu dari sekian banyak korban dari penipuan itu.


Posisiku sebagai seorang pahlawan di antara para pahlawan telah membawa malapetaka bagi istri dan anakku. Grey sengaja membunuh mereka di hadapanku tanpa ampun. Dan aku tak kuasa melakukan apa-apa. Hanya bisa meresapi dan merasakan kehancuran hati yang perlahan-lahan melumpuhkanku dari merasakan emosi yang mendalam.


Setelah itu terjadi, aku tak menangis, bersedih berlarut-larut, dan aku juga tak menunjukkan kelemahan di hadapan Grey. Yang kulakukan saat itu hanya menghadapi Grey seakan tak ada yang terjadi, seperti halnya seorang prajurit yang harus menyelesaikan misinya. Pertarungan besar terjadi, di antara pertarungan dahsyatku melawan Grey adalah bergunung-gunung korban dan kebinasaan. Langit pun nyaris ikut hancur karenanya.


Hingga akhirnya, pertarungan itu berakhir dengan aku sebagai orang yang berdiri paling akhir. Hal yang membuatku tak habis pikir dan membuatku merasa bodoh melakukan itu semua, adalah ketika Grey mati dalam senyuman. Ia berterima kasih padaku karena ia bisa mati dan menemukan ketenangan.


Lalu, aku?


Barulah setelah Grey menarik napas terakhirnya… semua emosi itu kembali padaku. Namun tetap, semuanya terasa hampa.


Tak ada tangis dan kesedihan di wajahku sampai semua berakhir. Rasa kehilangan yang sungguh membuat hidupku hampa akan arti.


Aku tak pernah menyangka… di kehidupanku yang kedua, aku akan mengalaminya lagi.





Aku baru saja selesai menutup lubang terakhir yang di dalamnya terdapat mayat Ibuku. Tanganku rasanya begitu kebas dan lelah. Bahuku berat dan kakiku punah akan tenaga. Seperti sedang ditopang sebuah kayu yang lunak, aku terjatuh di atas punggungku sendiri. Sebuah langit biru terpampang jelas, tak ada awan sama sekali.


Langit tetap terhampar luas dan tiga buah bulan masih menggantung di atas sana seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi. Saat ini rasannya aku ingin mengeluh dan berteriak, menangis sejadi-jadinya…


“Karena langit… apakah kau tahu? Esok tak ada lagi masakan ibu yang enak, tak ada lagi canda ayah yang garing, tak ada lagi cerita sore ketika matahari terbenam bersama ibu, tak ada lagi berlatih bertarung dengan ayah, tak ada lagi menanam tanaman dengan penduduk desa, tak ada… lagi makan… bersama saat ada… yang berulang… tahun, tak ada lagi… memperbaiki atap… yang bocor, tak ada… lagi memetik buah… bersama penduduk desa…. Tak… ada… lagi… main bola… shalju… tak… ada… lagi… uh… uuuuuuhh…. Senyuman… semuanya… Tak ada lagi… ayah… dan… ibu…… uuh… kenapa, kenapa ini harus terjadi? Kenapa ada takdir ini untukku?? Apa salahku???”


Kata-kata itu keluar dari mulutku begitu saja tanpa aku memikirkannya, tanpa aku benar-benar merasakannya. Realita yang menimpaku saat ini adalah yang harus aku hadapi. Meski aku bersedih, tak sedikit pun kesedihan itu akan membawa semua kembali. Meski aku marah, tak ada amarah itu menghidupkan kedua orang tuaku kembali. Aku bangun dan merasakan angin yang berhembus pelan, kulihat dataran yang naik turun, kemudian hutan lebat, dan gunung-gunung yang berderat hingga lepas dalam lautan horison. Bau wangi dibawa oleh angin dari bunga-bunga yang ada di sekitar pemakaman untuk semua orang desa.


Dalam hati aku berdoa, semoga mereka menemukan ketenangan seperti yang selama ini mereka inginkan.


“Ayah, Ibu, aku harap tidak keberatan untuk aku makamkan di sini. Ini adalah tempat yang indah… dan jika kalian mendengarku sekarang, maka tolong mintakan pada Sang Pencipta untuk selalu menerangi jalanku.”


Setelah mengatakan itu, aku membuat sebuah keputusan yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.


Aku akan meninggalkan desaku.


Desa yang telah kutinggali selama 10 tahun kini telah menjadi butiran-butiran abuyang terhampar luas.


Abu-abu itu adalah sisa-sisa dari semua jottnar yang menyerang desaku. Terbukti dari beberapa sisa abu yang terbentuk seperti zirah yang dikenakan Bor. Aku cukup yakin, ini adalah perbuatan Ibu. Hal terakhir yang dilakukannya itu, pasti sebuah runekraft sangat kuat sehingga bisa memusnahkan semua musuhnya.


Runekraft, sungguh sebuah kekuatan yang dahsyat…


Sekarang, di sudut mataku ada seorang gadis yang terbaring lelap.


Freya.


Sesaat setelah ledakan yang memusnahkan semua jottnar itu, Freya melindungiku dengan memelukku dengan erat. Sejak saat itu, Freya belum juga bangun.


“Aku harap kamu baik-baik saja, Freya.”


Melihat wajahnya, aku tak mungkin tak mengingat satu wajah lain yang aku kenal juga. Paman Rodan.


Amarahku langsung memuncak ketika nama itu terngiang di kepalaku. Perasaanku penuh dengan keburukan, seakan dipenuhi kabut yang tebal dan membuatku tak bisa melihat apa-apa. Aku tak bisa berpikir jernih karenanya.


Dalam benakku, yang terpikirkan adalah paman Rodan merupakan seorang pengkhianat yang menjual informasi tentang keberadaan Admuni pada para Jottnar. Bagaimana bisa aku berpikir demikian? Tentu saja, karena di antara semua mayat penduduk desa, hanya mayat paman Rodan yang tidak ada. Ia hilang entah ke mana.


Mungkin dia sekarang ada di dekat sini dan mengawasiku. Ia tak muncul karena takut menghadapi kemurkaanku atau dia tak menyangka kalau aku masih hidup. Jika suatu saat ia muncul di hadapanku, maka aku pasti bertanya kenapa ia melakukan semua ini. Akan tetapi, saat itu terjadi aku tak yakin bisa menahan emosiku untuk tak membalasnya dengan pembalasan yang setimpal.


Di sisi lain, anaknya… Freya, dia tidak bersalah.


Aku sebenarnya sudah menyadari ada yang aneh dengan Freya di hutan putih abu. Biasanya dia akan jauh lebih berani dan sangat vokal menyuarakan apa pun yang dia ingin utarakan. Tapi, saat itu Freya seperti gadis biasa yang ketakutan akan dimarahi ayahnya.


Ayahnya pun pasti sudah memberitahunya sesuatu tentang kedatangan seorang Jottnar. Di sisi lain, wajah malaikat yang sedang tertidur itu… tak mungkin ia menyembunyikan niat yang busuk.


Segera kuangkat Freya di atas kedua tanganku dan berjalan menuruni bukit ke rumah. Tiap langkah kakiku meninggalkan jejak-jejak setelah menginjak abu-abu putih yang tebal dan masih tersisa. Cahaya matahari yang menimpa abu putih itu membuat semua yang ada semakin terang benderang, nyaris menyilaukan.

__ADS_1


Semakin dekat langkahku ke rumah, cahaya matahari itu tiba-tiba tertutup. Aku langsung menyadari kalau ada sesuatu yang datang dari atas.


Sepasang sayap putih dan perempuan penuh zirah berkilau. Ia turun tepat di depanku, hempasan sayapnya yang terakhir sebelum kakinya menyentuh tanah menghempaskan semua abu putih yang ada di sekitar.


Perempuan yang baru saja mendarat itu tersenyum ramah. Gelagatnya sama sekali tak menunjukkan niat permusuhan.


“Selamat siang Oswald.”


Aku tak menjawabnya sama sekali.


“Aku mengerti…” ucapnya penuh simpatik, ekspresi di wajahnya pun turut sedih. “aku tahu apa yang kamu alami.”


“Apa yang kau inginkan?” kataku sambil mengambil satu langkah mundur.


Perempuan di hadapanku terkejut melihat reaksiku. Mungkin ia berpikiran kalau aku akan terbuka setelah ia menyapaku penuh simpati.


“Oswald Admuni… tidak, namamu sekarang adalah Sol.” Ia mengulangi kata-katanya. “Oswald Sol, aku ingin kamu menyerahkan gadis yang ada di tanganmu itu.”


“Cih, sudah kuduga!” Aku segera melompat mundur, kemudian menempatkan Freya dengan hati-hati, lalu menarik pedangku, bersiap untuk sebuah pertempuran.


Namun, detik berikutnya benar-benar tak kuduga.


Perempuan itu langsung berpindah ke hadapanku. Semua terjadi dalam sekejap sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tangannya kemudian menyentuh tanganku.


Kulihat wajahnya lagi, dan yang kulihat di sana hanyalah simpati yang begitu menyentuh hatiku. Ia membantuku melepaskan genggaman tanganku yang kaku. Tanpa kusadari, ia sudah berada di kedua lututnya dengan pandangan mata yang rata dengan mataku.


“Kamu tak perlu takut lagi…” ucapnya lembut.


Ketika pedang lepas dari tanganku, ia menarik tubuhku dan memelukku erat.


“Tidak apa-apa jika kamu ingin menangis. Tidak apa-apa jika kamu ingin meraung keras. Limpahkan saja semuanya, aku ada di sini untukmu.” Lirihnya.


Semua itu berhasil membuatku luluh.


Dan hal terakhir yang aku ingat adalah ia menyelimutiku dengan sayapnya yang lembut lagi hangat.


Aku menangis sejadi-jadinya.





Aku keluar dari kamarku dan mendapati perempuan yang kemarin meladeni semua tangis dan piluku.


“Apa yang kau lakukan di sini?”


“Oh, selamat pagi Oswald.” Sambutnya dengan senyuman yang cerah.


Perempuan itu berambut putih seputih awan dan matanya bulat berwarna merah muda. Ia juga tak mengenakan zirah, hanya baju biasa dan dilapisi sebuah celemek yang sewarna dengan bajunya.


“Oh, aku memasak.” Jawabnya masih ceria, setelah ia menyadari kalau ia belum menjawab pertanyaanku.


“Egh, bukan itu yang aku tanyakan.”


“Tapi, kamu bertanya apa yang sedang aku lakukan di sini kan?”


“BUKAN! Maksudku, kenapa kau ada di sini!?”


“Hmm?” gumamnya bingung. “Karena aku merawatmu, jadi aku membuatkan sarapan.”


“Bukan itu! Ugh…” Kenapa aku seperti sedang bicara dengan Freya… “Ah! Di mana Freya?”


“Dia sedang tidur di kamar itu.” Tunjuknya ke kamar orang tuaku.


Segera aku membuka pintu kamar dan melihat sendiri Freya yang tertidur lelap.


“Syukurlah…”


“Aku tidak berbohong kan?”


“Apakah ia terus seperti itu sejak kemarin.”


“Iya, Freya tetap seperti itu.”


“Apa yang terjadi padanya?”


Ia hanya menjawab pertanyaanku dengan sebuah senyuman.


“Hei, ja-”


Gruuuk~

__ADS_1


Begitu saja, perutku berbunyi begitu keras.


Wajahku langsung memanas karenanya.


“Sarapan dulu yuk. Setelah ini, aku ingin berbicara denganmu.”


“…”


“Apakah kamu masih belum bisa mempercayaiku?”


“Aku bahkan tak tahu siapa kau sebenarnya.”


“Oh, benar juga. Aku belum memperkenalkan diri ya? Hehe.”


“Jangan bilang, kau benar-benar lupa.”


“Oswald Sol, perkenalkan. Namaku Agatha, aku adalah seorang valkyrie.”


“Valkyrie…?”


“Betul, sebenarnya aku tidak boleh mengatakan ini di depan siapa pun. Termasuk kepada seseorang yang kami belum resmi menjadi companion-nya. Tapi, dewi kami Frigga telah memberi pengecualian padamu.”


“Pengecualian? Apa yang sedang kamu katakan ini, aku tak mengerti.”


“Betul dewi Frigga melihat apa yang terjadi padamu, sehingga ia merasa kasihan.”


“Lalu, ia mengutusmu untuk menemuiku?” kepalaku langsung mengingat apa yang dia katakan setelah ia menyapaku. “tidak, kau kemari untuk Freya.”


“Itu tujuan utamaku. Tapi, sesungguhnya aku juga tak tahan jika harus meninggalkanmu sendiri.”


“Apa maksudmu?”


Ia tersenyum.


“Karena kamu sudah mendengarnya sampai sejauh ini, aku akan segera mengatakan dan membuatnya resmi.”


Ia mengambil tanganku.


“Oswald Sol, Aku Agatha, seorang Valkryie telah diberi kesempatan untuk melayanimu seumur hidupku.” Ucapnya pelan, kemudian mencium punggung tanganku. “Dengan begini, aku adalah companion Oswald.”


“Tunggu… tunggu… aku tak mengerti.”


“Apanya?”


“Semuanya.”


“Hmm, valkyrie adala-”


“Stop, aku penasaran valkyrie itu apa, tapi sepertinya kau perlu jelaskan apa itu companion.”


“Dalam bahasa makhluk yang tinggal di edelsphere, companion adalah teman. Dalam bahasa kami, companion adalah kekasih hidup dan mati. Jika Oswald mati, aku pun akan mati bersama Oswald.”


“Apa kamu bilang? Kekasih?!”


“Dari apa yang pernah kudengar dari senior-senior valkyrie yang lain, ada yang dijadikan budak atau paling baik istri.”


“Eeh?! Tunggu, kamu bahkan belum mengenalku.”


“Tentu saja sudah, karena aku sudah memperhatikan Oswald sejak awal dari Valhalla sana.”


“T-tapi, a-a-aku m-masih 10 tahun!”


“Hehe, tentu saja. Aku akan kembali lagi untukmu ketika kamu sudah berumur 15 tahun.”


Oh iya, di dunia ini 15 tahun sudah dianggap dewasa.


“Aku harap, saat itu kita bisa benar-benar meresmikan ikatan ini.” Katanya dengan pipi merona merah.


Apa maksudnya meresmikan ikatan saat aku dewasa?!


Uh, tidak… aku sedang tidak berpikir yang kotor. Tidak tidak tidak.


“Oswald, kamu kenapa?” tanya Agatha cemas.


Oh Tuhan, terlalu banyak yang terjadi padaku hingga aku pusing memikirkannya.


Gruuuk~


Perutku berbunyi lagi.


“Sarapan dulu yuk.” Ajaknya sumringah.


"U-um. Ayo makan."

__ADS_1


__ADS_2