
Kegelapan adalah sunyi, senyap, dan diam. Banyak hal yang bisa kita rasakan ketika gelap itu datang, kecuali dengan mata kita. Suara-suara akan terdengar lebih nyaring, kulit akan menjadi lebih sensitif ketika mengenai sesuatu, penciuman akan terus memburu bau yang datang, dan pengecap akan bekerja dua kali lebih kuat. Namun, meski semua di sekitarku adalah kegelapan...
Yang kurasakan hanyalah kelembutan dan rasa sayang yang membuatku rapuh.
Perasaan semacam ini... kapan terakhir kali aku merasakannya? Merasa aman dalam dekapan dan hanyut dalam buaian. Sungguh aku tak perlu melakukan apa pun di sini, tak sedikit pun aku merasa sakit atau merasa lapar. Inikah surga yang selalu dijanjikan para dewa? Jika memang benar ini adalah surga itu, maka aku tak ingin keluar sama sekali dari dalamnya.
Seluruh kegelapan yang menyelimutiku mengalami sebuah pergerakan tiba-tiba, sebuah kejadian yang sama sekali tak aku duga. Keinginanku untuk tetap berada di dalam “surga” ini sepertinya didengar oleh para dewa, dan mereka tak ingin aku berada di dalamnya.
Atau... ini memang bukanlah surga.
Pergerakan kegelapan di seluruh tubuhku jelas mengarah pada satu titik. Sebuah titik yang sama sekali baru kulihat. Titik buram yang perlahan-lahan melebar, seakan membuka jalan bagi pergerakan kegelapan di sekitarku untuk keluar melewati lubang bercahaya itu.
Jika aku bisa melawan, rasanya aku ingin melawan agar tidak keluar. Sayang sungguh sayang, ada tekanan yang begitu kuat yang memaksaku keluar.
Selamat tinggal surgaku...
Keluar dari surga itu, semua kegelapan berganti menjadi pantulan-pantulan cahaya yang sama asingnya dengan titik cahaya yang tadi kulihat. Jumlahnya banyak, terlalu banyak sampai-sampai aku mengerti bahwa kegelapan yang tadi menyelimutiku berganti menjadi cahaya.
Sensasi demi sensasi berdatangan satu persatu, mulai dari kulitku yang merasakan hawa, telingaku yang mulai menangkap suara meski gamang, lalu udara yang masuk dari kedua lubang hidungku. Udara yang belum pernah kurasakan saat aku masih ada di dalam surgaku.
Banyak manusia yang merasa bahwa bernapas adalah hal sepele yang dilakukan begitu saja secara alami, tak perlu sebuah pedoman khusus untuk melakukannya. Tapi yang terjadi padaku saat ini adalah, aku sama sekali kesulitan untuk bernapas. Aku tahu bagaimana sensasi bernapas, tapi aku tak mengerti bagaimana cara untuk memulainya. Begitu saja, kurasakan rasa sakit karena aku tak bisa bernapas sehingga aku berteriak. Aku berteriak karena rasa sakit di dadaku yang tak bisa ditahan.
Aku tak berdaya.
Tangan dan kakiku tak bisa kugerakkan.
Kalau begini caranya, aku butuh bantuan orang lain. Tapi, bagaimana bisa aku meminta? Mulutku saja tak bisa selain berteriak, telingaku pun hanya bisa mendengar suara-suara yang seperti diredam.
Saat itulah, segera kurasakan buaian itu lagi. Kelembutan kasih sayang yang langsung membuatku nyaman dan aman. Secara alami, aku bisa bernapas. Aku tahu bagaimana caranya menarik udara dan mengeluarkannya.
Tak ada lagi rasa sakit.
Yang ada hanyalah tenteram.
...
Setelah kejadian yang hanya bisa kusebut menakjubkan dan ajaib itu, aku tak banyak mengingat apa-apa. Saat ini keadaanku seperti seseorang yang perlahan kesadarannya pulih. Namun, yang kualami sekarang bukanlah sekedar kesadaran dalam artian bangun dari tidur, melainkan kesadaran akan apa yang terjadi padaku sejak ikrarku pada para dewa.
Kubuka mataku dan kulihat wajah-wajah yang ukurannya jauh lebih besar dari biasanya, awalnya aku berpikir mereka adalah raksasa. Pikiran itu segera musnah kala kulihat bagaimana bentuk tanganku yang amat kecil. Aku tak punya kendali banyak atas tangan dan jari-jariku kecuali mengepal dan melepaskan kepalan, dan sedari tadi memang hanya itu yang kulakukan. Di tengah pikiranku yang masih berusaha mencerna situasi, sebuah jempol masuk di antara telapak tanganku. Raksasa yang menyematkan jempolnya di tanganku itu tersenyum bahagia sambil mengucapkan kata-kata asing. Aku tak mengerti sama sekali apa yang mereka katakan, bahasa yang mereka utarakan jauh berbeda dari yang aku tahu.
Dia yang menyematkan jarinya di tanganku langsung mengambil tubuhku dan memelukku erat, caranya agak kasar tapi aku bisa merasakan energi yang kuat darinya. Aku belum tahu apakah mereka manusia atau bukan, tapi senyuman di wajahnya menyuarakan bahasa universal yang sama, yaitu kebahagiaan.
Ia kemudian mengangkatku ke udara, lagi dan lagi hingga aku merasa mual. Aku berteriak.
Detik berikutnya, seorang yang lain langsung mengambilku, memarahi yang sebelumnya, dan langsung memelukku dengan lembut, penuh kasih sayang. Ia membelaiku lembut dan menciumiku halus.
Ini adalah kasih sayang yang sama dengan yang aku rasakan sebelumnya. Seakan diselimuti oleh segala kebaikan yang pernah ada di segala dimensi dan waktu.
Sampai saat ini aku masih menyangkal bahwa aku adalah seorang bayi dari pasangan suami istri yang sedang mengelilingiku dengan penuh kebahagiaan, hingga akhirnya lapar menyerang. Dengan tubuh yang masih bayi ini, banyak hal yang sulit ditahan. Dan rasa lapar adalah yang paling sulit ditahan setelah buang air.
Sang ibu, wanita yang sejak tadi memelukku erat langsung mengerti bahwa aku lapar.
Dan aku tak bisa menceritakan apa yang terjadi selanjutnya.
...
“Sayang! Oswald bisa bicara!!!” Ayahku berteriak sambil berlari keluar kamar.
Ya, aku sudah menyebutnya ayahku dan aku sudah berdamai dengan kenyataan bahwa aku sekarang adalah seorang balita.
Para dewa sudah menyatakan dengan jelas bahwa aku punya kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua, tapi aku tak menyangka kalau aku harus menjadi seorang bayi dan menjadi bagian dari sebuah keluarga. Bagaimana pun caranya, saat ini aku sudah bisa menerima kenyataannya, lagi pula aku tak punya pilihan lain. Sekeras apa pun aku berusaha meminta kepada para dewa itu, tetap saja aku di sini.
Jika semua ini terjadi karena kendali mereka, aku berterima kasih karena namaku di dunia ini sama dengan namaku di duniaku sebelumnya.
Aku langsung menyapa ibuku ketika ia muncul dari lubang pintu yang letaknya tak terpaut jauh dari tempat tidurku yang dikelilingi ‘pagar’ pelindung.
__ADS_1
“Ya Tuhan, dia benar-benar bisa bicara!”
“Sudah kubilang kan, aku tidak berbohong.”
Yang keluar dari mulutku bukanlah sebuah kata atau kalimat, melainkan suara kata-kata yang menyerupai bahasa yang mereka lontarkan dan setiap hari aku dengar. Kurang lebih, sekarang aku bisa memahami apa yang mereka katakan. Tapi sejujurnya, karena bahasa yang terpatri di dalam ingatanku jauh berbeda dari bahasa yang aku dengar sekarang, sangat sulit untuk bisa mengerti bahasa baru ini.
Aku yakin, jika aku benar-benar seorang bayi yang baru lahir dan tanpa sudah mengenal bahasa apa pun, mempelajari yang seperti ini akan sangat mudah.
“Oswald sayang, kamu bisa bilang ibu? I...BU.”
Aku kemudian mengulangi kata ibu sebisaku dengan mulut bayi ini.
Ibuku terperangah, ia terkejut bukan main. Meski begitu, ia langsung menunjukkan bahwa ia senang karena perkembangan anaknya cepat.
Maafkan aku ibu, karena sebenarnya di dalam tubuh bayi ini ada jiwa seorang pejuang di dunia yang lain.
“Tapi sayang...” kata-kata itu langsung terucap kala ibu berhenti tersenyum riang.
“Kenapa?”
“Oswald baru berumur 6 bulan, dia sudah bisa duduk dan bicara.”
Mereka berdua langsung menatapku dengan tatapan yang membuatku tak nyaman. Seakan mereka baru saja menangkap basah seseorang yang berbuat curang, dalam kasus ini adalah aku menggunakan ingatanku untuk melakukan sesuatu lebih dari kemampuan bayi berumur 6 bulan.
“Sayang, apakah ini ada hubungannya dengan kelu-”
“Ssh, hentikan.” Ayahku memotong kalimat ibuku dengan lembut. “Kita tak boleh membicarakan hal itu di depan anak kita, sayang.”
Ayahku yang biasa menggendongku dengan kasar, kali ini mengangkat dan memelukku lembut.
“Maafkan aku.”
“Aku mengerti, sayang. Seorang ibu tak akan pernah berhenti mengkhawatirkan anaknya sampai kapan pun.”
“Apakah yang kita lakukan percuma?” Tanya ibuku lirih setelah mencium kepalaku.
“Sayang, saat ini aku hanya ingin bersyukur karena anak kita bisa terlahir dan sehat.” Ucap ayahku dan tangannya masih mendekapku erat. “Anak ini adalah keturunanku, dan aku akan melakukan apa pun untuk melindunginya.”
Nada yang ia gunakan ketika mengatakan itu sangat lembut, seakan aku sedang tidur dan tak ingin membangunkanku. Di dalamnya ada keyakinan dan keteguhan yang nyata.
Percakapan yang baru saja terjadi membuat ekspresi mereka yang biasanya penuh bahagia dan tenang berubah, meski hanya sedikit tapi justru itu yang membuatku menyadarinya. Aku yakin ibuku mengatakan kata ‘keluarga’ sebelum ayah memotong kalimatnya.
Ada apa dengan keluarga ini?
Apa pun yang terjadi, saat ini bukan saatnya memikirkan hal yang lain karena...
“Hmm? Bajuku terasa basah.” Kata ayahku menyadari sesuatu. “Oz kecil pipis.”
Mereka berdua kemudian tertawa ringan, melepaskan semua tensi yang tadi menutupi pikiran mereka layaknya kabut.
Ayah pergi mengganti bajunya sementara ibu mengganti baju dan membersihkan tubuhku. Setelah semua selesai, ia menaruhku di tempat tidur sambil terus mengelus-elus pipiku.
“Oswald, sayang.” Ibu menatapku lembut. “Lahirnya kamu ke dunia ini adalah sebuah anugerah yang diberikan Tuhan padaku, tapi nama keluarga ini mungkin akan terlalu berat untukmu.”
“Selby...” Ayah muncul dari lubang pintu dengan baju yang lain.
Ekspresi yang sedang ditunjukkan oleh ibu membuatku tak nyaman. Aku harus tahu apa yang membuatnya begitu.
Dengan caraku sendiri, aku berusaha bertanya pada ayah, namun sepertinya ayah cuma menganggap kalau apa yang sedang aku lakukan adalah permainan. Ayah malah mendekat sambil bermain-main dengan kedua tanganku.
“Ulrik, apa yang harus kita lakukan?”
“Selby, kita sudah terpisah jauh dari mereka.“
“Tidakkah kamu mengerti Ulrik, terpisah bukan berarti melepaskan ikatan.”
“Bola salju perlahan akan menjadi besar seiring ia berputar menuruni gunung salju abadi. Meski sedikit, ada takdir yang bisa kita ubah.” Ayah menjawab kegelisahan istrinya dengan tenang. “Ini adalah langkah kita untuk mengubah semua itu.”
Garis mukanya memang tenang, tapi ada sebuah ketegangan yang tersalurkan padaku. Ya, aku bisa merasakannya.
“Apa yang kamu pikirkan, Ulrik?”
“Bukankah kita belum menentukan nama keluarga ketika kita sampai di sini?”
__ADS_1
“Apakah dengan mengganti nama bisa menyelesaikan permasalahan ini?”
“Langkah kecil, Selby. Langkah kecil.” Ayah berusaha meyakinkan ibu. “Apakah kamu sudah memikirkan sebuah nama?”
“Aku selalu berdoa agar anak ini bisa menaklukkan takdir, bagaimana kalau Skuld? Masa depan.”
“Indah dan berani. Aku suka bunyinya, tapi aku apa yang kulihat dari anak ini adalah cahaya. Harapan yang bisa memberi cahaya pada sekitarnya.”
“Jika kamu membayangkan sebuah lilin, hentikan saat ini juga, Ulrik.”
Seperti sebuah lilin yang sedang berpendar di dinding, ia hanya menerangi sekitarnya tanpa menjadi cahaya untuk dirinya sendiri. Mengorbankan diri untuk semua orang, tanpa memedulikan diri sendiri. Bagaikan tersapu air bak penuh memori, aku bisa mengingat dengan jelas tentang siapa aku di dunia sebelumnya. Persis seperti sebuah lilin. Aku terus menerangi, hingga akhirnya membuat diriku sendiri hancur.
“Mana mungkin, oh istriku yang cantik karena rambut indahnya.”
Ayah menggenggam tangan ibu, dan berjalan ke luar.
“Ini akan jadi hari pertama Oz kecil melihat dunia luar, ini hari pertama musim semi, kita tak boleh menyia-nyiakannya.”
Pintu rumah dibuka, hawa dingin mengecup kulitku.
Ayah langsung menutup pintunya kembali sambil berkata kalau dinginnya masih menusuk.
Ibu kemudian membawa sebuah selimut yang ia gunakan untuk membungkus kami bertiga.
Pertahanan terhadap hawa dingin sudah siap, pintu dibuka kembali.
Ayah dan Ibu berjalan ke luar rumah perlahan. Aku langsung disuguhi oleh pemandangan alam yang belum pernah kulihat sebelumnya, deretan gunung dan hutan yang berwarna-warni.
Langit masih gelap, tapi di ujung horizon sudah tampak cahaya kuning perlahan merebak.
“Aku membicarakan itu, sayang.”
“Aah, ya. Aku mengerti.”
Matahari menunjukkan rupanya yang masih malu-malu di antara sela-sela deretan gunung.
“Aku ingin Oz menjadi cahaya terang benderang yang cahayanya terus menyala sampai akhir. Sol, Matahari.”
“Oswald Sol, pemberani yang terang benderang. Aku suka itu.”
Tak hanya ibu, aku juga suka. Seorang anak tak akan pernah tahu maksud dari nama mereka ketika mereka sendiri bertanya atau ketika mereka berada pada umur yang tepat. Tapi aku, mengetahuinya sejak hari pertama aku dinamai. Aku mengerti betapa berharganya nama itu, dan aku juga berjanji akan terus berbakti pada mereka. Ya, ini adalah janjiku sebagai seorang ksatri-
Perutku berbunyi. Rasa lapar langsung menerjangku seperti hantaman benda besar dan berat.
Aku menangis.
“Oz kecil lapar.”
“Kemarikan anakku.”
Segera ibu mendekapku hangat.
Dan aku tak bisa menceritakan kelanjutannya.
...
Aku tak pernah membayangkan bagaimana rasanya jadi balita, bahkan menyangka ini semua akan terjadi pun tidak. Tapi, kehidupan sebagai seorang balita benar-benar membosankan. Yang kulakukan hanya buang air, menangis, makan, tidur. Terus saja seperti itu.
Secara biologis, kebutuhan itu jelas harus dipenuhi karena pada dasarnya aku masih bayi, akan tetapi ada saja saat-saat ketika energi di tubuhku justru berlebih. Aku tak bisa tidur meski sudah memejamkan mata. Berusaha menguras semua energi itu dengan berguling-guling di tempat tidur dan merangkak pun tak ada gunanya. Energi di tubuhku masih tersisa sangat banyak.
Saat itulah aku menyadari bahwa tubuhku bukanlah tubuh biasa.
Apakah ini ada hubungannya dengan nama keluarga yang repot-repot orang tuaku ganti? Aku bahkan tak tahu apa nama keluargaku sebelumnya.
Aku masih terlalu kekurangan informasi tentang dunia ini.
Untuk itulah, malam ini saat kedua orang tuaku tertidur pulas.
Aku memutuskan untuk melarikan diri!
__ADS_1
...
Tentu saja bukan dari rumah, aku akan pergi ke perpustakaan ibu. Kuharap aku bisa mendapatkan banyak informasi di sana. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana caranya aku keluar dari tempat tidur ini?